
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Dikala hening, bunyi itu seakan mengancam jiwa. Yang sewaktu-waktu berubah menjadi sebuah kesunyian yang nyata....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamar Ele. Gorden yang tidak di tutup rapat membuat cahaya bebas masuk ke dalam kamar sederhana itu. Burung-burung berkicau ribut seolah ingin memberi tahu pada dunia jika hari ini sudah pagi. Para kawanan tupai pun tak mau kalah, mereka berlari dengan sangat kencang dari satu pohon ke pohon lainnya. Mulai terdengar suara kendaraan orang lalu-lalang dan para tetangga sibuk melakukan kegiatannya.
Eleanor mengulat lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tangannya di tarik ke atas. Melewati kepala dan menyelusup di sela-sela bantal sambil dikencangkan ke atas. Tidurnya sangat lelap karena ia tidak tahu pukul berapa tertidur tadi malam. Ele tersenyum sambil berkhayal. Terus membayangkan apa yang diterimanya tadi malam. Masih terbayang nyata. Ele membiarkan dirinya tersipu malu mengingat kejadian malam itu.
Aaahhhhhhhhh... Ele menghentikan khayalannya. Ia pun bangun dari tidurnya. Ele memejamkan matanya sesaat, tubuhnya masih malas. Ia pun mengambil gelas yang berisikan air putih yang ada di samping tempat tidurnya sambil menatap ke arah luar.
"GLEK... GLEK...GLEK..." Air putih diteguknya tanpa sisa. Ele mengembuskan napasnya sambil meletakkan kembali gelas kosong itu di samping tempat tidurnya.
Dengan cekatan Ele merapikan sekaligus membersihkan seprai dan menutupi permukaan kasurnya. Ia lalu merapikan posisi bantal. Boneka yang selalu menemaninya, di susun dengan rapi dan Ia letakkan di sisi kanan paling ujung. Ele tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih. Ia mengedarkan pandangannya dan menganggukkan kepalanya tanda ia puas dengan hasil kerjanya.
Tiba-tiba senyuman manis terulas di bibirnya hanya karena memikirkan Alvin, "Apa dia masih tidur?" Ele tersenyum sambil menjepit bibirnya. Ia pun mengambil kalung yang menghiasi lehernya, menciumnya dengan gemas. Ia sendiri sudah terjebak dengan sikap Alvin yang selalu membuatnya nyaman.
Terbesit dalam pikirannya untuk mengejutkan Alvin. Ele berjalan mengendap. Pagi-pagi jantungnya sudah terpicu cepat saja hanya karena memikirkan Alvin. Ele memegang kenop pintu dan membukanya. Ia pun keluar dari kamarnya.
Sepersekian detik matanya membeliak. Ruang tamu, berantakan seperti medan perang seolah ada dua negara yang sedang merebutkan sebuah pulau. Banyak barang yang tidak pada tempatnya. Botol minuman soda yang berserakan di lantai, padahal tempat sampah hanya berjarak selangkah kaki darinya. Meja dipenuhi kertas-kertas, dengan lampu luar yang masih menyala. Jangan ditanya dengan dapur.
Ele berkacak pinggang dan tak percaya dengan kekacauan ini. βApakah harus sekotor ini, Amira. Astaga!" keluh Ele sambil mengusap keningnya
Iya, Amira memang mempersiapkan kejutan ini di rumahnya. Ele mengembuskan napas dengan pipi mengembung. "Oh! Aku tidak bisa membedakannya lagi. Aku harus mulai dari mana,"
Ele kemudian menatap pintu Alvin yang masih tertutup, itu tandanya Alvin belum bangun. Biasanya jika Alvin sudah keluar dari kamar, ia akan membiarkan pintunya terbuka sampai ke malam.
Ele membuka tirai jendela dan melihat ke arah luar. Benar saja, hari sudah sangat pagi. Matahari sudah tinggi. Burung-burung tak lagi berkicau, karena mereka sudah terbang ke segala penjuru arah mencari makan. Dan tupai yang awalnya berlari, sekarang duduk rapi menikmati pepaya yang tadi mereka curi dari kebun tetangga sebagai sarapan paginya.
Suasana sejuk di pagi hari menjadi hal yang paling menyenangkan baginya. Karena ini momen untuknya, bisa merelaksasikan tubuh. Udara segar yang ia hirup serasa membuat seluruh tubuhnya di Charge ulang.
Sejauh mata memandang Ia disuguhkan oleh hijaunya perbukitan yang membentang dari timur sampai ke barat. Hijaunya sawah-sawah petani juga tak berujung. Seakan semuanya ini adalah persembahan alam untuk orang-orang yang begitu bersahaja di desanya.
Gemercik air dari sungai juga tak kalah hebatnya. Airnya mengalir deras dari sumbernya. Rasanya ingin menyentuh air jika sudah di sana. Hal itu sayang untuk di lewatkan. Tubuhnya mengajak ingin merasakan segarnya air tersebut. Air murni asli di desanya yang disaring langsung dari alam, bukan air saringan yang banyak menggunakan bahan-bahan kimia agar terlihat jernih. Ini benar-benar murni dari air pegunungan dari desanya.
Ele terpaku ke arah jalan. Masih banyak orang yang lewat, berjalan cepat seolah dikejar sesuatu yang tak kasat mata.
βApa yang mereka lakukan? Bukannya sekarang hari Minggu? Seharusnya mereka berada di rumah, menghabiskan waktunya dengan keluarga, bukan malah berkeliaran tidak jelas seperti itu? Ahhhhh....seharusnya hari minggu mereka menyisihkan waktunya ke kapel.β Ele menggeleng.
Dan kemudian menarik napas dalam-dalam, udara pagi begitu menenangkan pikirannya. Sepertinya nyawa Ele sudah kembali ke badan. Ia memutuskan untuk merapikan ruangan ini. Tidak ada salahnya, karena sekarang hari libur. Pagi yang tenang. Ele tak ingin mengeluh soal pagi. Ia bersyukur karena masih bisa bertemu dengan pagi, Ia ingin menyambutnya dengan hati ikhlas. Ele yakin hari ini akan lebih baik lagi.
__ADS_1
Tapi seketika Ele bingung dari mana Ia harus memulai. Setelah berpikir panjang, Ele pun mulai dengan merapikan meja. Ia merapikan kertas-kertas yang berserakan menjadi satu tumpuk dan membuangnya ke dalam ke tempat sampah.
Tidak ingin berlama-lama, Ele langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan mereka berdua. Setelah itu, Ele mandi dan persiapan untuk pergi ke kapel. Ia tidak menyadari, Alvin sudah berdiri di sana. Alvin tersenyum, ia masih mencoba mengamati wanita yang dicintainya itu. Ia menyandarkan salah satu bahunya dengan kedua tangan bersedekap di dekat pintu.
Saat ingin membalikkan tubuhnya, Ele sangat terkejut saat melihat Alvin tersenyum di sana.
DEG!
Jantung Ele terpukul kencang dan sangat kencang. Ele bahkan membuka mulutnya saat melihat Alvin berdiri begitu tegap.
"Selamat pagi, Ele!" Sapa Alvin begitu merdu di telinga Ele.
Ele salah tingkah sambil mengulum senyum karena begitu malu, ini sapaan selamat pagi, setelah Ele sudah menjadi kekasih Alvin. Ele bersikap tenang dan membalas sapaan itu.
"Selamat pagi, Alvin."
"Maaf aku terlambat bangun." Alvin mendekat.
Ele melepaskan senyuman tipis. "Tidak apa-apa, aku juga terlambat bangun." Kata Ele menimpali.
"Aku ingin ke kapel bersamamu. Tapi hanya berdua saja."
"Heuh?" Ele mengerutkan keningnya, merasa heran. "Ber-dua?"
"Hmm." Alvin mengangguk cepat. "Aku berdoa untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, karena telah menciptakan wanita cantik seperti kamu."
Ele lagi-lagi dibuat tersipu. Ia memalingkan wajahnya sambil menjepit bibirnya. Kupu-kupu bermacam-macam spesies langsung berterbangan dari hatinya.
Ele berdehem, mengembalikan pikirannya. Menatap ke arah Alvin yang sedang menunggu jawabannya. "Boleh. Aku mau."
"Habis itu kencan."
Mata Ele terbelalak lagi saat mendengar satu kalimat itu. "Ke-kencan?"
"Hmmm. Ada yang salah?"
"Tidak juga sih,"
"Aku ingin membawamu ke tempat yang membuatmu bahagia." jawab Alvin datar dengan senyum smirk. Dan sialnya senyum itu membuat Ele semakin gemas.
"Kemana itu?"
"Kau akan tahu setelah kita ke sana." Alvin Mengulum senyum sambil mendekat ke arah Ele.
Glek!
Eleanor menelan salivanya. Menyadari Alvin semakin mendekat. Jantungnya seketika terpicu kencang. Akhir-akhir ini, Alvin selalu berhasil mengaktifkan mode jantungnya. Ini masih pagi, tapi tubuhnya sudah berkeringat.
DEG DEG DEG...
__ADS_1
Alvin semakin mendekat, jarak mereka sudah dekat. Napas Ele semakin tertahan di dada. "Kenapa mendebarkan seperti ini. Ini benar-benar menegangkan?" Ele berteriak dalam hati.
"Aku mencintaimu Ele," Bisik Alvin begitu lembut. Kemudian ia melangkah meninggalkan Ele yang terdiam terpaku dengan wajah merah seperti buah cherry.
πΈπΈπΈπΈπΈ
SEMENTARA DI SISI LAIN.
DOR...DOR...DOR....!
Arlo menembak asal segala ruangannya. Ia murka karena sampai saat ini, anak buahnya belum menemukan siapa pelaku yang membuat keributan di kediamannya dan sampai menewaskan anak buahnya sendiri. CCTV rusak parah dan tidak bisa menemukan siapa pelakunya. Tidak puas, Arlo mengambil botol wiski melemparkannya ke arah dinding.
" Praaangggg!!! "
Gelagar suara botol pecah, menghantam dinding membuat Steven memejamkan mata yang hanya bisa diam di sana.
Arlo masih mengatur napasnya untuk menghentikan debaran jantungnya karena begitu marah. Ini pertama kali Arlo kecewa. Anak buahnya tahu dengan kondisi seperti ini, jika Arlo kecewa ia lebih memilih diam beberapa jam untuk menenangkan hatinya. Perasaan itu tak juga membaik sampai pagi ini.
Steven hanya bisa menunggu, ia tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Ia lebih baik menunggu hingga perasaan Arlo membaik.
Arlo mengepalkan tangannya begitu kuat. Rahangnya mengencang, sorot matanya memancarkan emosi. Deru napasnya memburu, naik turun begitu cepat di sana. Tak ada suara, yang tertinggal hanya rasa keheningan yang mencekam. Sorot matanya yang tajam seakan mampu menembus jantung siapa saja yang berada di sana. Detik jam dinding terus berbunyi. Dikala hening, bunyi itu seakan mengancam jiwa. Yang sewaktu-waktu berubah menjadi sebuah kesunyian yang nyata dan menakutkan di situasi seperti ini.
Cukup lama Arlo terdiam, ia terus memandang keluar dinding kaca yang menyajikan pemandangan keindahan kota pagi ini. Matanya menatap lurus tanpa ekspresi. Rahangnya mengeras, kaku dan dingin.Tak ada yang bisa Steven lakukan selain menunggu.
"Steve, kira-kira siapa yang kau curigai di sini?" akhirnya Arlo berbicara setelah satu jam menatap ke arah luar.
Steven mengangkat wajahnya, maju beberapa langkah dan menegakkan badannya. "Saya tidak mencurigai siapa pun, tuan."
Arlo tersenyum sinis, "Apa menurutmu itu Lukas?"
"Saya rasa tidak tuan, tuan Lukas sibuk mencari anaknya."
"Bagaimana dengan anak buahnya? Aku rasa Lukas tidak bodoh, bisa jadi ia mengirimkan anak buahnya datang ke markas."
Steven menundukkan kepalanya, "Saya akan periksa tuan."
"Jika anak buah Lukas macam-macam, aku sendiri yang akan membunuh mereka." Arlo meremas tangannya lagi. "Segera cari tahu, aku ingin masalah ini cepat selesai."
"Baik, tuan." Steven sedikit menunduk sebagai bentuk konfirmasi.
"Sekarang, kau bisa keluar." ucap Arlo dingin.
"Baik, tuan." Steven merapatkan kakinya dan menunduk dengan sopan untuk memberi hormat. Ia pun lalu keluar dari ruangan itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^