LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MENCARI TAHU


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Setiap masalah pasti ada solusinya. Beberapa hanya butuh waktu lebih lama untuk mengetahui bagaimana keluar dari masalah itu....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Alvin mematikan panggilan dengan sepihak. Ia berdiri dan keluar dari mejanya. Setengah berlari keluar dari pintu. Feli sampai dibuat terkejut karena hempasan pintu yang cukup kuat.


"Sekarang hubungi Dave. Secepatnya! Taruh mobilnya di depan gerbang! Katakan aku menyetir sendiri." Ucap Alvin membentak Feli


"Tapi pak, hari ini kita akan bertemu klien."


"Hubungi klien itu dan atur kembali pertemuan dengannya."


Feli kaget mengelus dada kerena mendengar suara teriakan itu. "Ba-baik pak, saya akan menghubungi beliau."


Alvin tidak menjawab, ia sudah begitu cepat berlalu dari hadapan Feli. Punggung tegap Alvin sudah menghilang di balik tembok koridor kantor.


"Apa yang terjadi, kenapa pak Alvin begitu panik? Apa keluarganya sakit?" Feli mengembalikan pikirannya. Ia secepatnya menghubungi pak Dave.


Setelah itu, Feli langsung melakukan panggilan kepada klien yang akan mereka temui hari ini. Feli menyampaikan permohonan maaf dari pak direktur dan mengatakan pak direktur tiba-tiba ada urusan khusus yang sangat mendesak yang tidak bisa ditinggalkan. Feli mengatur kembali jadwal pertemuan mereka. Ia tersenyum lega saat klien tersebut memakluminya. Feli kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Alvin langsung melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang dikirim Marvel.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


"Apa aku masih hidup?" Harry mengigau di sana.


Tiba-tiba Harry mencengkram bagian kepalanya. "Aaargggggg..." Ia merasakan pusing yang sangat luar biasa. Pelan-pelan Ia pun membuka matanya lagi. Seluruh tubuhnya sakit, kakinya terluka. Karena beberapa kali berusaha kabur dari anggota kartel Los.


Harry mengernyit karena merasakan pergerakannya terbatas. Kakinya terasa berat. Ia berusaha menarik kakinya untuk melepaskan diri.


"Shittt.." Umpat Harry menggeram karena kakinya dirantai.


Matanya menyusuri setiap sudut kamar itu. Mencoba menemukan sesuatu, tapi semuanya gelap.


"Bau apa ini?" Bau amis langsung tercium di hidungnya.


Kamar ini terasa pengap dan lembab, membuat Harry tak nyaman. Tidak ada jendela untuk keluar dari sana. Hanya ada satu pintu dan jelas dia tahu pintu itu pasti terkunci. Cuaca begitu dingin, sampai menembus kulit tubuhnya yang tidak beralaskan apa-apa.


"Kemana mereka membawaku? Apakah ini ruang bawah tanah?" Bayangan tentang akhir kehidupan semakin jelas dibenaknya. Apalagi posisinya kaki di rantai seperti ini, membuatnya tak bisa kabur lagi.


Hening yang panjang. Sangat panjang. Harry tidak tahu sudah berapa lama ketika ia rasakan dingin angin menusuk ke kulitnya. Perutnya lapar, belum juga ia menikmati malam panjang bersama wanita yang benar-benar membuatnya jatuh hati itu.


"Apakah dia salah satu anggota kartel Los?"


"Sebenarnya apa salahku, kenapa aku diperlakukan seperti tahanan?"


"Baru kali ini, aku berurusan dengan kartel Los. Ini benar-benar hari terburuk dalam hidupku." Harry mengembuskan napas frustasi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa jangan-jangan ini perbuatan Arlo?"


"Ahhhhh.....tidak mungkin. Arlo saat ini sedang jatuh cinta."


Harry masih bertanya-tanya. "Jadi siapa sebenarnya dibalik ini semua? Aku bisa gila!" Harry mengacak rambutnya dengan asal.


Bunyi kunci pintu dibuka. Harry tetap waspada, matanya memicing tajam dan terus memperhatikan pergerakan pintu.


BRAKKKK

__ADS_1


Pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar.


Sontak Harry mengerjap karena begitu terkejut. Pria bertubuh besar lengkap dengan tato kepala ular dilengannya, tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu dan menghidupkan saklar lampu. Mata Harry memicing dan menyesuaikan cahaya yang masuk.


Saat lampu menerangi sekitarnya. Harry spontan berteriak ketakutan. Jantungnya terpukul kencang. Ia menahan napas sesaat. Bau amis yang sejak tadi tercium olehnya ternyata dari mayat ini. Ada lima pria mati mengenaskan di sana dan diletakkan satu ruangan bersamanya.


Jack tertawa puas, saat melihat bagaimana ekspresi terkejut dari pria itu.


"Kau tahu itu hasil perbuatan siapa?" Ucap pria itu santai dan tenang.


Harry diam menatap pria itu dengan tajam.


"Kelima pria ini saksi kunci, saat kami membopong tubuhmu ke mobil. Sebelum mereka melakukan suatu, kami terpaksa menghabisi nyawanya."


Tidak ada rasa bersalah, ketika Harry melihat ekspresi wajah itu. Senyum di bibirnya melengkung ke atas. Harry tidak bisa takut, Wajahnya bahkan dibuat lebih menantang lagi. "Aku tidak takut ancamanmu, sekali pun kalian membunuh ratusan orang."


Jack tersenyum sinis, Ia memberikan kode kepada temannya yang membawa satu piring nasi berisi lauk untuk sarapan Harry. Meletakkan piring itu di lantai dan ia dengan sengaja menendang pelan piring itu, hingga tergeser sampai ke kaki Harry.


"Aku masih berbaik hati memberikanmu makan, besok hari terakhirmu di sini. Sebaiknya kita berdamai dan jangan mempersulit keadaan, aku tidak ingin kau memancing amarahku. Mengerti! " kata Jack menekan setiap perkataannya.


"Cih... Mempersulit keadaan? Bagaimana dengan entengnya kau mengatakan itu. Sementara aku tidak pernah berurusan dengan kartel Los. Kalian menangkapku dan mengurungku di bawah tanah."


"Kami hanya menjalankan tugas."


"Siapa yang membayarmu, apa dia seorang yang aku kenal?"


"Hahahaha..." Terdengar tawa ejekan di sana. "Kau penasaran?"


"Tentu saja, Aku ingin tahu siapa yang membayarmu. Dan berapa kamu dibayarnya, aku bisa membayar lebih dari itu."


"Hahahaha....kamu bisa membayarnya?"


"Iya. Aku bisa membayar kalian, asal kamu melepaskan aku."


"Kamu pikir, aku tidak tahu siapa kau? Utangmu dimana-mana, tapi masih bisa berlagak sombong."


"Aku tidak ingin berdebat denganmu. Sekarang makan ini!" Jack kembali menendang piring itu dengan kasar agar mendekat di kaki Harry. "Makan yang banyak, sebelum malaikat maut menjemputmu."


"Aku sudah bilang, tidak takut mati. Siapapun yang membayarmu suruh saja berhadapan denganku."


Emosi Jack meluap. Dipukulnya Harry dengan hantaman yang sangat keras. Harry mengerang kesakitan.


"Kau terlalu banyak bicara."


"Arrrrggggghhhh...."


Jack tak perduli, ia terus memberikannya pukulan demi pukulan. Dan ketika sudah berakhir, Harry tersungkur dan mengerang kesakitan.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Alvin disambut oleh anggota kartel Los saat melihatnya turun dari mobil. Mereka menunduk sopan, saat mengetahui siapa lelaki yang membayar mereka dengan harga tiga kali lipat dari pembayaran biasa yang mereka terima.


Alvin tak menggubrisnya, ia melangkah tegas dengan wajah datar dan dingin. Mereka mengikuti langkah Alvin dari belakang, menuju ruangan khusus. Harry sudah dipindahkan setelah mengetahui kedatangan Alvin.


Marvel langsung memberikan kursi kepada Alvin dan mempersilakannya duduk di sana.


"Silakan duduk, tuan." ucap Marvel sedikit membungkukkan badannya. Lalu menunduk dan mundur beberapa langkah tidak jauh dari Alvin.


Alvin menarik napas dalamnya lalu menatap Harry yang terus menunduk. Ia bersedekap sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.


"Aku tidak ingin membuang waktuku dengan sia-sia. Dimana Ele?"


DEG!


Saat mendengar kalimat itu, jantung Harry terpukul kencang, dengan perlahan ia mengangkat wajahnya. Waktu terasa berhenti sejenak. Suasana seakan melingkupi atmosfer ruangan itu. Hening, suara detak jantungnya bahkan bergemuruh di dalam rongga dadanya begitu cepat. Ia shock saat melihat siapa lelaki yang duduk di depannya.


"Jadi yang melakukan semua ini adalah suami Allura?" Harry menutupi rasa terkejutnya, sebisa mungkin ia tetap bersikap tenang.

__ADS_1


"Kenapa kau menanyakan Ele? bukankah kau suami Allura."


Alvin tersenyum smirk. Menatap tajam ke arah Harry. "Yang aku tanya dimana Ele?"


"Soal Ele, aku tidak tahu." jawab Harry ketus.


Tangan Alvin mengepal kuat. "Kau tidak tahu dimana adikmu?"


"Dia bukan adikku."


Alvin tidak tahan lagi. Matanya terbakar dengan kemarahan, Ia segera bangun dari duduknya dan melangkah ke arah Harry,


Dan....


BRUKKK!


Satu pukulan kuat mendarat di pipi Harry. Tak cukup hanya sekali. Alvin kembali mengangkat kerah baju Harry dan memukul wajahnya lagi. Bibirnya sampai berdarah dan pelipis di bawah matanya terasa keram.


"SETELAH APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA ELE, KALIAN BAHKAN TIDAK MENGANGGAPNYA ADIK. DASAR BRENGSEK!" Alvin sudah di kuasai amarah yang siap membakar Harry hidup-hidup.


Harry merasa pusing dengan pukulan telak dari Alvin.


"Dimana Ele?" tanya Alvin kembali. Rahangnya mengencang, napasnya naik turun begitu cepat.


Harry tersenyum sinis, tatapannya mengunci ke arah Alvin. "Kau masih mencintai Ele, wanita sialan itu benar-benar bisa mencuri hatimu. Dimana hati nuranimu saat Allura hamil, kau berani-beraninya mencari Ele." Hal itu semakin membuatnya berani menatap Alvin. Sorot matanya semakin menantang.


"Kau tidak tahu perbuatan Allura?"


"Apa maksudmu?"


Alvin kembali duduk dan mencondongkan tubuhnya membungkuk dengan siku yang terpangku di atas lutut. "Aku tidak pernah menikah dengan Allura dan anak itu bukan anakku."


Harry tertawa hambar. Ia menarik salah satu sudut bibirnya dengan tatapan sarkastik. "Tidak mungkin, jangan mengarang cerita. Anak itu jelas-jelas anakmu."


Alis Alvin menukik tajam. "Aku tidak mau membuang waktuku hanya menjelaskannya hal yang tidak penting. Jika kau penasaran, tanya sendiri kepada Allura, bagaimana ia bisa menjalankan kebohongannya dengan sempurna. Sekarang, yang aku tanyakan dimana Ele?"


Harry tersenyum sambil mengeluarkan decakan. "Aku tidak tahu dimana Ele, setelah kami menjual rumah dan perkebunan strawberry, Ele pergi meninggalkan desa itu."


Alvin menarik napas dengan mulut terbuka. "Siapa yang membeli rumah dan perkebunan itu?"


"Tanyakan kepada Allura, dia yang menjual tanah dan perkebunan itu."


Alvin menarik napasnya dalam-dalam, mengunci pandangan kepada Harry yang nampak begitu tenang tanpa ada beban itu. Percuma ia menanyakan kepada lelaki ini. Ia tidak akan mendapatkan apa-apa.


"Mungkin uang ini, kau bisa mengatakan dimana keberadaan Ele sekarang." Alvin memberi gestur kepada Marvel untuk membawakan uang yang sudah disiapkannya.


Harry melangkah dan mendekat ke arah Alvin dan membuka koper berisikan uang itu.


Harry tersenyum penuh kemenangan, sudut bibirnya melengkung ke atas.


"Sekarang dimana Ele?" tanya Alvin mengunci tatapannya kepada Harry.


"Kau benar-benar akan memberikan uang itu?"


"Tentu saja, uang ini akan menjadi milikmu jika kau mengatakan keberadaan Ele."


Harry menarik napasnya dalam-dalam, "Sebenarnya Ele ....."


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2