LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
KITA DAN KENANGAN


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Kelabu. Langit hari ini abu, hembusan angin sejuk, dan rintik hujan mungkin turun membawa pesan damai dan rindu. Tarikan napas yang dalam dan hembuskan dengan perlahan. Tersenyumlah, karena ketenangan hati, serta alam meringankan bebanmu....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


"Berhenti di sini saja, pak." Pinta Ele.


"Di sini?" Lirik supir taksi bingung.


"Iya pak," Ele tersenyum. "Saya ingin menikmati malam hari di kota yang indah ini."


"Oh, begitu." Supir taksi mengangguk paham. "Suasana di sini memang sangat menyejukkan, nona. Baiklah, saya akan menepi."


Supir taksi pun menepikan mobilnya. Ele melirik argo sebentar, kemudian mengulurkan uang dua lembar Pound Sterling.


"Terima kasih, pak." ucap Ele ramah sambil tersenyum.


"Sama-sama nona cantik."


Ele pun turun dari mobil setelah mengambil Kembaliannya. Ia menghela napas panjang. Ele memang sengaja turun di sini untuk mengurangi argo meter yang semakin membengkak.


Saat mobil taksi benar-benar pergi, Ele mulai melangkah sambil menarik koper mengikuti langkah kakinya. Ia menikmati lampu jalan yang menyoroti jalanan dan sebagian pohon di sekitarnya. Jalanan mulai sepi malam ini. Ele larut dalam pemikirannya. Meski menggunakan sarung tangan. Namun Ele tetap memasukkan tangannya ke dalam kantong coat hitam yang dikenakannya.


Suhu dingin membuat napas terlihat seperti asap yang mengepul. Ele tersenyum sambil mendongak ke atas memainkan kepulangan napasnya. Ia berjalan santai. Terus dan terus berjalan menikmati semuanya dengan damai sebelum ia meninggalkan kota ini.


Ele berhenti di jembatan, menikmati suasana malam dari atas jembatan yang ditopang oleh dua menara yang bisa menyala menjadi warna biru pada malam hari, serta dihiasi dengan lampu lainnya di sepanjang jembatan.


kelap-kelip lampu yang menerangi sepanjang jembatan, serta dua kawat besar yang berada di sisi kanan dan kiri pun juga ikut menyala.


Ia menatap Air yang mengalir, berharap dengan pergi ke tempat ini bisa membuat pikirannya tenang dan melupakan semua kesedihannya. Ele memejamkan matanya. Hatinya begitu hampa, ia hidup seorang diri di sini.


"Hati ini terlalu merindukanmu. Hari berganti hari, mendungku masih seperti kemarin Alvin, Aku mencoba menepis semua tentangmu, tapi tidak bisa. Apa yang harus aku lakukan?" Ele menarik napasnya yang tiba-tiba sesak.Tak terasa buliran air mata telah jatuh membasahi pipinya.


Dua bulan lebih bagi Ele seperti seribu tahun dilaluinya tanpa Alvin.


"Aku tak lagi melihat senyummu di saat pagi hari yang indah. Aku tak lagi melihat rambutmu yang basah sehabis kau mandi. Bahkan semua tentang kamu." Mata Ele langsung berkaca-kaca. Napas mengepul keluar dari mulutnya yang terbuka


"Aku merindukanmu? selama ini aku selalu merindukanmu. Semuanya terasa berat tuk dilewati sendiri di sini."

__ADS_1


Ele menunduk. "Aku sepi. Aku sendiri. Aku hampa."


Air mata itu tergelincir lagi. Bagaimana ia tidak merindukan Alvin? Di saat ia sedih, Alvin selalu memberi semangat untuknya.


"Apa aku harus merengek dan mengatakan aku sangat merindukanmu? Cih..bagiku itu tidak mungkin dan aku tak bisa melakukan itu. Karena kau sudah memiliki Allura." ucap Ele tersenyum sendu. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Tapi rindu ini semakin membuatku gila. Aku bahkan menangisimu dalam diam. Aku bahkan ingin sekali mendengar suaramu. Salahkah aku?? Semenjak kepergianmu malam itu, aku tak tentu arah, jarak semakin memisahkan kita. Aku bahkan tidak tahu harus menanyakan pada siapa. Bagaimana kamu, sedang apa kamu dan dimana kamu. Ingin sekali aku menanyakan itu semua, tapi rasa takut ini telah lebih dulu menggerogoti tubuhku hingga terkulai lemah. Aku benar-benar tidak sanggup melewati ini semua. Aku benar-benar sendiri di sini. Aku bisa gila, Alvin. Ini memang konyol, bagaimana aku bisa merindukan lelaki yang sudah memiliki istri." Saat ini Ele benar-benar seperti wanita putus asa. Masalah yang terlalu berat ini membuatnya lemah. Ia butuh tempat untuk mencurahkan semua kegundahan hatinya.


"Aku rindu semua tentangmu, tentang kita. Bahkan aku merindukan sentuhanmu." Ele memenjamkan matanya saat mengatakan itu. Tanpa sadar ia tertawa sambil menangis.


"Aku bisa gila," Ele menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ele benar-benar tidak tau harus berbuat apa untuk mengobati semua sakit yang dirasakannya. Ia telah mencoba untuk bersikap tegar. Tapi ternyata Ele tidak sekuat itu. Ia tidak sanggup jika terus membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa Ia tak lagi membutuhkan Alvin. Ele lemah dengan cinta ini. Ia sangat lemah...dan Tuhan tahu itu.


"Aku titipkan rinduku kepada angin yang berhembus. Alvin, aku berharap kau merasakan rinduku." Ele menunduk, tatapannya kosong.Matanya kembali berkaca kaca, air bening itu kembali menetes di pipinya.


Ele kembali melakukan ritualnya. Mengembuskan napas lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya dan juga menenangkan diri. Ia pasti bisa melalui semua ini. Ele kembali menguatkan hatinya.


Angin malam yang dingin menelusup ke dalam Coat yang dikenakannya. Ele mulai sedikit menggigil kedinginan. Jam di tangannya menunjukkan pukul delapan malam. Ele melangkah menuju cafe kecil yang ada di pinggir jalan. Alunan musik klasik langsung terdengar memenuhi ruang cafe seolah berdansa dengan nyala lilin yang bergoyang-goyang tertiup angin.


Setelah mendapatkan pesanannya, Ele terdiam menikmati hari terakhirnya di sini. Ia meneguk minuman hangat sekali lagi.


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


DI SISI LAIN.


Kedua kaki Harry ditembak, saat ia memberikan keterangan palsu. Alvin marah dan murka. Setelah puas memukul Harry sampai babak belur. Ia langsung memerintahkan kartel Los menembak kedua kakinya. Alvin pastikan Harry tidak bisa berjalan dan menikmati dunia malam yang selama ini digilainya. Itu balasan yang setimpal setelah apa yang dilakukannya kepada Ele. Sampai saat ini, Alvin masih berusaha mencari keberadaan Ele. Ia berharap segera dipertemukan dengan wanita yang dicintainya itu.


Alvin berjalan memasuki lift untuk naik ke atas kantornya. Marvel dengan setia mengikutinya. Tetap berdiri di posisi belakang tuannya. Sudah beberapa hari ini suasana hati Alvin tak menentu. Ia terkadang marah dan memaki karyawannya yang tak bekerja sesuai yang ia harapkan.


"Apa agendaku hari ini, Marvel?" tanya Alvin kembali berjalan ketika pintu lift sudah terbuka.


Marvel langsung membuka note kecil yang selalu di bawanya ke mana-mana. Untuk mencatat jadwal penting dari bosnya itu.


"Pada pukul 09.00 - 11.00 pimpinanย menghadiriย rapat REI , kemudian anda melakukan kontrak kerjasama dengan Kantor Pemerintahan dan langsung penandatanganan kontrak. Kemudian pada pukul 15.00 anda langsung melakukan kunjungan kerja ke perusahaan anak cabang dan pada malam hari perusahaan A mengundang anda makan bersama di restoran." Jelas Marvel dengan cepat dan tegas tanpa ada kesalahan.


Alvin duduk di kursi kekuasaannya. Ia duduk sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia mendongak ke atas menatap langit-langit ruangannya. Alvin memejamkan matanya. Menarik napasnya pelan. Teringat kembali perkataan Harry, lelaki sialan itu.


"Ele sudah dijual ke lelaki pengusaha kaya. Ele dibuat menjadi wanita pemuas nafsunya setiap saat. Jadi jangan harapkan untuk mendapatkan Ele lagi."


Sungguh bagai tamparan keras buat Alvin. Kemarahannya langsung tersulut saat itu.


"Tuan!" panggil Marvel dengan suara terendahnya.


Alvin tersadar, ia membuka matanya perlahan, Ia kembali ke duduk dengan posisi tegap dan menghadap ke arah Marvel.


"Ada apa, Marvel?" tangan Alvin membuka beberapa laporan yang belum ditanda tanganinya.

__ADS_1


"Ada surat, nama pengirimnya dari London." ucap Marvel memberikan amplop coklat kepada bosnya itu.


Alvin mengernyitkan keningnya. "Surat dari London? Apa surat ini ditunjukan ke kantor Smith?" ucapnya pelan dan meraih amplop yang diberikan Marvel.


"Benar tuan, alamat ini lengkap dengan alamat kantor kita." Ucap Marvel dengan yakin.


"Kau bisa keluar, Marvel."


"Baik, tuan." Marvel langsung membungkukkan badannya dan segera berbalik keluar dari pintu ruangan.


Alvin menarik napas dalam, lalu kembali mengernyit menatap amplop coklat yang ada dihadapannya. Ia mengangkat lalu membalik-balik untuk melihat kemasan luarnya, mencari petunjuk siapa pengirimnya. Tapi benar hanya stiker resi dan jelas itu dari London.


Alvin pun membuka amplop itu dengan penasaran. Ia menyobek bagian atas dan mengintip ke dalamnya. Alisnya mengernyit saat melihat kertas putih yang memang sengaja ditulis.


"Aiden? jadi pengirim amplop ini adalah Aiden?" Alvin bergumam pada dirinya sendiri. "Kenapa ia tidak langsung menghubungiku saja." Ucap Alvin tersenyum kecil.


Alvin pun membuka kertas itu dan membacanya.


"Maaf tuan, saya terpaksa menyelipkan tulisan ini di dalam amplop coklat. Karena saya tidak bisa menulis nama saya sebagai pengirim. Dan untuk menghubungi anda, saya juga tidak bisa melakukannya karena panggilan saya langsung disadap. Saya tidak tahu siapa mereka, pada saat mencari tahu nama pemilik cafe itu, mereka mencariku, tuan. Di dalam amplop ini, lengkap nama pemilik cafe itu. Semoga bisa membantu anda, Tuan."


Sepanjang membaca, alis Alvin mengerut. Ia langsung membuka kertas dan langsung membaca nama pemilik cafe itu. Di sana lengkap dengan tanggal pembeliannya.


DEG....


Jantung Alvin seketika langsung terpukul. Matanya terbelalak.


"Arlo????"


Tangan Alvin terasa dingin, seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya, saat membaca nama itu berulang-ulang. Ia berusaha menenangkan debaran jantungnya.


"Jadi yang melakukan semua ini adalah Arlo?"


Alvin langsung berdiri dan keluar dari mejanya, Ia berlari keluar dari pintu ruangannya. Sontak membuat Marvel dan Feli terkejut.


"Tuan..." Panggil Marvel.


"Apa yang terjadi pak, kenapa pak direktur begitu panik?" tanya Feli tak bisa menutupi wajah tegangnya.


Marvel tak menjawabnya, ia segera melangkah masuk ke ruangan pak direktur. Marvel melihat kertas amplop yang diberikannya tadi. Ia meraih dan membaca kertas putih yang masih berada di atas meja.


"Arlo?????"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2