
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Semakin rendah menilai orang lain maka akan semakin merendahkan kedudukan kita dihadapan orang tersebut....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Elia tersenyum ramah melangkah menuju ruang keluarga sambil membawakan baki di tangan yang berisikan teh hangat dan cemilan ringan. Elia maju perlahan dan meletakkan teh dan cemilan ringan di atas meja.
"Silakan di minum, nona."
"Terima kasih." jawab Allura dengan wajah dingin dan datar.
"Nyonya Smith, meminta anda menunggunya sebentar. Anda bisa menikmati makanan dan minuman ini sambil menunggu nyonya Smith keluar dari kamarnya."
"Astaga, dia ngajarin aku?" Umpat Allura menggeram.
"Saya tinggal dulu, nona." Elia membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
Allura hanya mengangguk tanpa memandang wanita itu. Ia kembali mengedarkan pandangannya. Matanya tak berhenti memandang setiap sudut ruangan itu. Selama berhubungan dengan Alvin. Lelaki yang sudah menjadi kekasihnya itu, tak pernah membawanya ke rumah utama. Alvin selalu menolak, jika Allura memintanya.
"Huufttt!" Allura mengembuskan napas. Ia mencoba mencari ide di sana.
"Apa yang harus aku katakan kepada aunty Maria? Apa dia akan percaya bahwa aku mengandung anak Alvin?"
"Apa aku harus menangis saja, untuk mencari simpatiknya?"
"Atau aku harus bersujud di depan wanita itu?"
Allura nampak gelisah di sana. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, menjepit bibir, bahkan sampai menggigit jarinya untuk melepas kegundahan hatinya. Allura menarik napas panjang. Bayangan uncle Lukas yang menolak untuk menemuinya saat pembatalan pernikahan diumumkan secara langsung. Ingatan itu semakin jelas, saat Allura diminta untuk hilang sementara saat awak media begitu gencar menggali informasi tentang pembatalan pernikahan mereka.
Allura semakin meremas tangannya sendiri karena begitu geram saat itu. Ia memijit pelipisnya berulang-ulang. Alisnya melengkung sedih.
CEKLEK!
Suara pintu di tutup begitu jelas terdengar di sana. Jantung Allura tiba-tiba terpukul kencang. Langkah kaki aunty Maria semakin terdengar jelas. Ia mulai gugup. Dari kejauhan, wajah cantik dan memiliki mata teduh seperti Alvin itu terlihat jelas. Ia tidak berubah sama sekali. Penampilannya yang anggun, benar-benar menunjukkan bahwa ia wanita berkelas. Allura menelan salivanya. Rasa percaya dirinya yang sejak tadi dibangunnya, hilang begitu saja.
Kini, Alvin benar-benar pergi meninggalkannya, dan sekarang Allura mengandung anak dari Alvin. Mata Allura berkaca-kaca. Rasa sesak itu kembali lagi. Ia menunduk menyeka air matanya yang terjatuh di pipinya.
"Allura, kamu datang sayang?" Kata Maria tersenyum sambil berjalan ke arahnya.
Allura kembali mengangkat wajahnya, menatap aunty Maria yang semakin mendekat.
Belum juga Maria duduk. Allura bangkit dari duduknya dan menjatuhkan lututnya di hadapan Maria, dia bersimpuh seraya menangis di sana. Allura sampai mencengkram kedua kakinya karena tidak sanggup menahan segala gejolak di dalam hatinya.
"Maafkan aku aunty, aku tahu ini sudah terlambat dan sangat terlambat. Aku minta maaf atas semuanya...." Allura tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Allura apa yang kau lakukan?" Maria terkejut dan sangat terkejut melihat tindakan Allura. "Jangan seperti ini." Maria memegang ke dua lengan Allura dan mencoba membantu Allura duduk di sofa. Namun Allura menolaknya.
"Biarkan aku seperti ini aunty." Tangisan Allura semakin pecah di sana.
"Aunty mengerti apa yang kau rasakan sayang. Tapi berdirilah! aunty tidak ingin melihatmu seperti ini. Aunty tidak suka kau merendahkan dirimu seperti ini, sayang."
"Aunty tidak membenciku?" Ucapnya dengan tatapan sendu.
"Aunty tidak pernah membencimu sayang. Aunty bahkan merasa bersalah, karena sampai saat ini kami tidak bisa menemukan Alvin." Nada suara Maria terdengar bergetar.
"Aku merindukannya aunty, aku merindukan Alvin."
__ADS_1
Maria mengusap lengan Allura dengan lembut. "Hmm, aku tahu itu. Tapi aunty tidak mengerti kenapa Alvin melakukan ini. Kau wanita baik dan cantik? kenapa Alvin begitu bodoh meninggalkan kamu."
Allura hanya bergeming dengan tatapan sayu. Ia hanya diam dan menunduk.
"Sekarang, bangunlah! kita duduk di sofa. Hmm."
"Sebenarnya aku ke sini karena tidak sanggup menahan semua ini aunty."
"Hmmm, aku mengerti. Aku tahu itu dan aku juga ikut bersalah sayang atas kejadian ini." Ucap Maria untuk menenangkan Allura.
"Tapi saat ini aku tidak bisa aunty."
"Apa maksudmu sayang?" Kata Maria merasa heran.
"Aku sedang mengandung anak Alvin." akhirnya kata-kata itu berhasil ia ucapkan.
Waktu terasa berhenti. Maria merasakan keheningan yang mencekam. Ia begitu shock dengan apa yang baru saja di dengarnya. Maria terduduk lemas sambil memegang dadanya, Ia begitu terkejut saat Allura mengatakan sedang mengandung anak Alvin. Maria hanya diam membeku dan menatap ke satu titik tanpa melihat ke arah Allura.
Air mata Allura kembali tergelincir bebas membasahi pipinya. Ia dengan cepat memegang tangan Maria. "Maafkan aku aunty, aku baru mengetahuinya satu bulan yang lalu. Aku merasa kuat bisa menjalaninya sendiri. Ternyata aku tidak mampu. Aku tidak bisa menyembunyikan ini." Ucap Allura sesenggukan.
Maria menarik napas singkat dan tersenyum lembut. "Jangan menangis sayang. Bukankah ini kabar baik. Seharusnya Alvin juga harus tahu kabar ini. Maafkan aunty sayang, kau harus melaluinya sendiri." Ucap Maria memeluk Allura dan ikut menangis di sana.
Saat melihat respon aunty Maria. Allura kembali menangis. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan perasannya saat ini. Antara bahagia, atau merasa menang. Allura juga tidak tahu. Sementara Maria hanya bisa menenangkan Allura yang terus menangis.
Elia hanya diam di sana, sekarang ia tahu apa yang terjadi sebenarnya di rumah ini.
"Elia, tolong ambilkan air hangat." ucap Maria saat melihat Elia berdiri tidak jauh dari mereka.
"Baik nyonya." Elia melangkah cepat menuju dapur dan mengambil air hangat dan memberikan kepada Maria. "Nyonya, ini minumannya."
"Ah..terima kasih Elia." Maria berbalik dan mengambil gelas yang berisi air putih hangat dari tangan Elia. Ia kemudian mengarahkannya kepada Allura. "Minumlah dulu,"
Allura masih diam dan terus menangis.
"Allura..." panggil Maria lagi.
"Kita duduk di sofa ya," kata Maria dengan lembut.
Allura mengangguk lemah.
"Biar aku bantu." Kata Maria lagi. Ia memegang ke dua bahu Allura dan menuntunnya duduk di sofa. Kakinya tak berdaya. Beberapa kali ia hampir terjatuh saat berjalan. Beberapa kali pula Maria menahan lengan Allura dengan rangkulan dari belakangnya. Mereka duduk di sofa, Maria kembali menguatkan Allura. Agar tidak stres di usia kandungannya yang masih muda itu.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Ini sudah malam Allura. Kau bisa tidur di sini. Aunty tidak akan mengizinkanmu pulang sendiri." Kata Maria saat Allura memaksa harus pulang malam ini.
Akhirnya Allura memilih mengalah, ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Aunty, keluar sebentar, ya. Elia, tolong antar Allura ke kamarnya."
"Baik, nyonya."
"Jika kau butuh sesuatu, kau bisa panggil Elia."
Lagi-lagi Allura hanya menganggukkan kepalanya. "Hati-hati aunty."
"Oke sayang," Ucap Maria melangkah meninggalkan ruangan itu.
Setelah Maria menghilang dari tembok dinding. Senyum Allura tiba-tiba hilang. Wajahnya tiba-tiba datar dan dingin.
"Silakan ikut saya non." ucap Elia dengan sopan. Ia melangkah lebih dulu dan Allura mengikutinya.
"Aku ingin ke kamar Alvin." Kata Allura tanpa menoleh.
"Boleh, kamar tuan Alvin ada di atas."
__ADS_1
Mereka berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Alvin.
"Silakan, masuk nona, ini adalah kamar tuan Alvin." ucapnya membukakan pintu.
Allura masuk ke dalam dan tersenyum singkat saat masuk ke dalam kamar itu. Elia menutup pintu itu kembali.
Allura diam sejenak sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
KLEK!
Pintu sengaja di kunci Allura. Ia tersenyum melangkah kecil sambil mengedarkan pandangannya. Ia benar-benar menikmati suasana ini. Selama ini, ia harus berpura-pura memasang tampang sedih di depan banyak orang, termaksud itu sahabatnya sendiri.
Allura memejamkan matanya sesaat. Melihat ke setiap sisi ruangan dengan sorot mata sendu. Ia berjalan pelan ke arah tempat tidur Alvin. Menyentuh setiap ujung kasur dengan dagu ke atas sambil memejamkan matanya. Ia terus melangkah membiarkan jari-jarinya menari di atas permukaan dan beberapa barang di sana. Allura merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menarik napasnya sambil menatap langit-langit kamar itu.
Setelah merasa puas menyatu dengan kamar Alvin. Ia melepas lamunannya. Ia baru teringat sesuatu. Allura ingin memberi pelajaran kepada wanita tidak tahu malu itu. Ia keluar dan menutup pintu itu kembali. Allura langsung menemui Elia di dapur.
Saat melihat Allura tiba-tiba muncul di dapur, Elia terkejut. "Nona, apa anda butuh sesuatu?"
Allura tersenyum angkuh sambil membengkokkan bibirnya. "Hmm. Aku butuh sesuatu."
"Apa itu non, agar aku bisa mempersiapkannya."
"Aku butuh kamu,"
"Heuh? Saya non?" Elia menunjuk ke dirinya sendiri.
"Iya, aku ingin menyadarkan kamu, bahwa kamu hanyalah seorang pembantu di sini."
Deg!
Perasaan Elia tiba-tiba tidak enak saat melihat wajah Allura. Ia tampak berbeda dihadapan nyonya Smith. Tapi sesungguhnya wanita ini adalah seorang monster yang menakutkan.
"Menyandarkan apa maksud anda nona?" ucap Elia dengan suara terbata.
Allura bersedekap dan menatap sinis ke arah Elia. Ia menyandarkan bokongnya di meja panjang yang ada di dapur. "Aku ingin mulai detik ini, jaga setiap ucapanmu. Kau sudah tahu, bahwa aku adalah bagian dari keluarga ini. Jangan sampai aku pecat kamu!"
"Pecat bagaimana maksud anda non?" Elia semakin ketakutan.
"Cih..hari ini juga aku bisa memecatmu."
"Anda tidak berhak melakukan itu, majikan saya adalah Tuan Smith dan istrinya. Bukan anda nona."
"Kau tahu, aku tidak ingin mengulang ucapanku lagi."
"Saya juga tidak terima nona, tiba-tiba anda datang dan menyalahkan saya. Sementara saya tidak mempunyai kesalahan apa-apa."
Allura begitu kesal saat melihat sikap Elia yang tidak tahu diri itu. Dengan emosi ia mengambil air dan...Gyyyyyyuuuurrrrrr!
Tubuh Elia sudah basah oleh air. Elia terkejut ketika mendapati tubuhnya basah.
"Kau terlalu banyak bicara." Ia menggeram dengan mata menyalang tajam.
"Apa yang anda lakukan nona? anda benar-benar gila."
"Aku bisa melakukan lebih dari ini. Jadi jangan bicara, apalagi membantahku. Kau mengerti!" Ancam Allura. "Dan ingat satu hal lagi, masalah ini hanya aku dan kamu yang tahu. Jika sampai aunty tahu, kau akan tahu akibatnya." Setelah mengatakan itu Allura meninggalkan Elia yang terpaku di sana.
Elia menelan salivanya begitu susah. Baru kali ini, ia mendapat perlakuan tidak enak selama bekerja dua puluh lima tahun di kediaman Smith. Bahkan seluruh keluarga ini menganggap Elia seperti keluarganya sendiri.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^