
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Cinta memang tak bisa dipertahankan jika hanya satu sisi yang berjuang. Tapi mungkin ini adalah cara yang lebih baik dari pada tidak sama sekali. Aku akan berjuang sendiri, untuk cinta yang ku punya....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Pandangan Allura kosong. Ia merunduk di antara ke dua tangannya yang memegang stir mobil. Ia memukul dahinya ke stir mobil dengan pelan.
"Aaarrrrgggg...." Allura berteriak melepaskan kekesalannya.
"Kamu kemana Alvin?" Saat ini ia merasa bodoh, tidak menemukan jawaban dimana keberadaan Alvin yang sebenarnya.
Perasaannya tidak bisa tenang. "Tiga hari tak pulang? kunjungan kerja apa itu? Kau bahkan tak mengabariku. Huffft..!" Allura bernapas putus asa.
Ia mendongak ke atas lagi, memejamkan matanya sambil memukulkan bagian belakang kepalanya ke sandaran kursi. Perasaannya kembali, mencoba menstabilkan napas yang semakin naik turun. Ia tidak bisa diam seperti ini. Ia harus menemui Harry. Apakah Alvin benar-benar tahu masalah penjualan rumah dan perkebunan strawberry itu?
Tanpa menunggu lama Allura langsung menjalankan mobilnya dan menghubungi seseorang.
PANGGILAN TERSAMBUNG.
"Hallo, pak Antonio? Tolong kirimkan alamat tempat persembunyian Harry, sekarang!" Perintah Allura dengan cepat. Ia mematikan handphonenya, lalu melepas earphone wireless yang terpasang di telinganya.
Mobil Allura melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan aspal di kota A. Sesekali ia menyalip di antara mobil yang lain. Ia sama sekali tak perduli jika kondisinya saat ini sedang mengandung.
TING!
Satu pesan masuk ke handphone Allura. Dengan cepat ia membuka. Beruntung Allura tahu lokasi itu. Ia meremas stir mobilnya dengan kuat. Menancap gas mobilnya berlari mengejar waktu. Kini ia menyadari sesuatu. Bahwa Alvin benar-benar menghindarinya. Allura yakin, Alvin tahu soal penjualan rumah dan kebun itu. Semua itu ia lakukan, agar Alvin tak pernah menemui Ele lagi. Karena ia tahu, Alvin sangat mencintai wanita siluman itu.
Kini hatinya hancur melihat perubahan Alvin. Ia tidak mau diabaikan seperti ini. Anak yang dikandungnya butuh seorang ayah. Ia butuh keluarga yang selalu memberikan perhatian kepadanya.
Dalam sekejap ia sudah sampai ke tempat tujuan. Allura memarkirkan mobilnya lalu turun dengan terburu-buru.
BRAKKKK!!!
Allura membanting pintu itu dengan cepat. Lalu berjalan dengan jantung yang terus memicu dengan kencangnya. Dalam hati ia memohon semoga yang ia pikirkan tidak benar. Ia tahu siapa Alvin, jika dia marah, sangat sulit untuk memaafkannya. Alvin akan memilih berdiam diri dan tak ingin bicara. Allura berulang kali mengembuskan napas lewat pipi yang mengembung. Ia menjepit bibirnya untuk menenangkan perasaannya.
TING!
Pintu lift terbuka.
Langkahnya semakin lambat saat ia sudah berada di depan rumah tempat Harry bersembunyi. Ia bergeming. Terdiam menatap pintu itu cukup lama. Ia menatap jam di tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang.
"Semoga saja apa yang aku pikirkan tidak terbukti. Tidak apa-apa jangan takut, Allura." Allura menguatkan hatinya.
Sebelum menekan bel, ia menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar saat menyentuh bel yang di pasang di dekat pintu itu.
Ting nong!
Ting nong!
Ting nong!
Belum ada respon, pikirannya mulai berkecamuk. "Kemana dia?"
Hidungnya mulai merah karena menahan tangisnya. Ia sungguh takut berpisah dari Alvin. Allura tetap memilih diam di depan pintu. Bersabar sampai Harry membukakan pintu untuknya.
Karena belum ada respon, Allura kembali menekan bel, ia menekannya berulang kali. "Harry buka pintunya!" Teriak Allura.
Pintu mulai terbuka pelan.
__ADS_1
Harry terkejut. " Allura?" Ia masih tak percaya jika Allura datang ke tempat persembunyiannya.
Bukannya menjawab, Allura masuk begitu saja. Bahkan mendorong tubuh Harry sampai membuat lelaki bertubuh tegap itu terhuyung ke belakang.
Harry mengusap wajahnya dengan kasar. Kebiasaan Allura, ya seperti ini? Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Harry memilih memaklumi. Ia menutup pintu kembali dan melangkah mengikuti Allura.
Allura membuka sweater rajut yang ia gunakan dan melemparnya dengan asal. Allura mendesah kesal. Ia masih berdiri di tengah ruangan dengan posisi berkacak pinggang.
Harry mengernyitkan keningnya. Suasana seperti ini membuat ia bingung. Ia menarik napas dan mulai berbicara untuk mencairkan suasana, karena sedari tadi Allura hanya diam. Tak tertebak oleh Harry.
"Apa yang membuatmu jauh-jauh datang ke sini, Allura? Apalagi melihat keadaanmu yang seperti ini? apa ada yang ingin kau bicarakan?"
Mendengar itu, Allura membuang napasnya dengan kasar. Ia berbalik mengunci tatapannya ke arah Harry.
"Sekarang katakan, apa Alvin sudah tahu siapa yang menjual rumah dan perkebunan strawberry itu?" Tanya Allura dengan tegas dan menekan perkataannya.
"Heuh?" Alis Harry bertautan. "Alvin tak pernah tahu soal penjualan rumah dan kebun itu. Ia sengaja mengarang cerita, agar Allura mau memberikannya uang." Harry tampak bingung.
"Sekarang jawab aku? apakah Alvin sudah tahu semua itu?" Allura menekan intonasi bicaranya.
"Apa terjadi sesuatu? kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?"
Allura langsung menarik napas dan menelan salivanya, berusaha bersikap tenang. Namun, rahangnya mengencang. Allura lanjut bertanya. "Yang aku tanya, apakah Alvin tahu soal penjualan tanah itu?"
"Maafkan aku Allura, sebenarnya Alvin tidak tahu soal penjualan tanah itu."
"Apa?" Mata Allura terbeliak kaget.
"Aku sengaja mengarang cerita agar kamu mau memberikanku uang."
Napas Allura naik turun begitu cepat menahan emosi. "Untuk apa? untuk bayar utang?" Teriak Allura di sana. Matanya menyorot tajam menatap ke arah Harry.
"Maafkan aku Allura." Hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini.
"Aku sudah tidak tahan menghadapi sikapmu seperti ini. Kau sengaja membohongiku hanya untuk mendapatkan uang? Apa sebenarnya maumu, Harry?"
"Utang lagi? Sampai kapan kamu seperti ini? Bunuh saja aku Harry! Kau bisa menjual bagian tubuhku."
"Maafkan aku, Allura."
"Aku bisa gila karena kau. Aku muak melihat sikapmu seperti ini."
"Aku sudah minta maaf, apa kurang cukup!" Harry mulai kesal. Suaranya terdengar tegas di sana.
Allura histeris saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Harry. "Kau tidak pernah berubah Harry. Kau ingin aku mati, bukan?"
"Aaaarrrrrgggghh..!" Teriak Allura meluapkan kemarahannya.
PRANG! PRANG! PRANG!
Botol wiski yang sudah kosong yang ada di atas meja ia hempas begitu saja. Serpihan-serpihan tajam berterbangan dan berserakan di atas lantai putih. Emosinya tak juga membaik. Napasnya masih tersengal karena menahan emosi.
Harry shock saat melihat ekspresi marah Allura. "Apa yang kau lakukan Allura?"
Tak cukup puas, Ia melangkah panjang untuk mengambil lampu yang ada di atas nakas. Dan beberapa detik kemudian lampu itu dihantamnya ke dinding ruangan itu.
"Cukup Allura, jangan menyakiti dirimu!"
Allura tidak perduli, semua gelas yang ada di atas meja pecah tanpa sisa. Harry mencoba menghentikannya. Namun apa daya, ia tidak bisa melakukannya.
"Cukup Allura, kau bisa membahayakan anakmu."
"Aaargggggg." Allura kembali histeris.
Harry terdiam dengan mulut terbuka. Ia pasrah saat melihat rumahnya berantakan. Allura menarik napas marah. Rahangnya mengencang kuat. Sorot matanya bersinar tajam.
Allura melangkah mendekat ke arah Harry. Namun langkahnya mendadak berhenti.
__ADS_1
"Ssssshhhhh.. Aaahhhhhhhhh...." Allura meringis kesakitan.
Harry shock dan melangkah mendekat ke arah adiknya. "Kau tidak apa-apa?"
"Ssssshhhhh.. Aaahhhhhhhhh...." Allura kembali meringis kesakitan.
Tiba-tiba perut Allura keram. Allura terduduk dilantai saat sakitnya kembali lagi. Allura menegakkan punggungnya. Mengatur napasnya agar sakitnya hilang. Ia melakukan berulang-ulang dan berhasil, sakitnya telah berkurang setelah Allura memberikan usapan lembut di bagian perutnya yang semakin membesar.
"Allura, maafkan aku."
"Kau sudah puas menyiksaku seperti ini?"
"Maafkan aku," Hanya itu yang keluar dari mulutnya. "Apa yang terjadi? kenapa kau semarah ini?"
Mata Allura berkaca-kaca saat mengingat Alvin lagi. Ia akhirnya menangis. Allura hanya menutup mata dengan kedua tangannya, ia tidak menjawab pertanyaan Harry. Isak tangisnya semakin terdengar begitu kuat hingga membuat Harry terdiam terpaku sambil memeluk adiknya.
"Tolong jawab aku, Allura? ceritakan kepadaku?" Kata Harry menepuk pundak Allura dengan lembut. Tidak ada jawaban yang terdengar hanya suara tangisan saja.
Perasaan Allura campur aduk, ada rasa marah, kesal dan takut. Bagaimana pun ia tidak ingin jika Alvin berubah dan tidak mencintainya. Itu bagai mimpi buruk buat Allura.
"Kau tidak mau cerita?"
"Alvin sudah tiga hari tak pulang, ia bahkan tidak datang di acara ulang tahunku." Allura semakin menangis.
"Kenapa?" Harry nampak bingung, Ia melepaskan pelukannya meminta jawaban lebih.
"Jika aku tahu, aku tidak akan datang ke sini. Tadi aku sempat berpikir Alvin sudah tahu mengenai penjualan rumah itu."
"Kau sudah bertanya kepada orangtuanya?"
"Mereka juga tidak bisa menghubungi Alvin."
"Bagaimana dengan asistennya? Aku rasa ia tahu kemana Alvin pergi."
"Marvel hanya mengatakan, Alvin perjalanan dinas."
"Ya sudah, apa yang kau takutkan. Alvin perjalanan dinas, mungkin ia tidak mau diganggu."
"Aku tahu siapa Alvin. Aku sudah lama mengenalnya. Ponselnya tidak pernah aktif. Itu artinya ia memang tidak mau bicara." Kata Allura kesal.
"Itu hanya perasaanmu saja, Allura." Harry berusaha memberikan pengertian kepada adiknya itu.
"Aku takut Harry, Alvin akan meninggalkanku. Aku tidak mau!" Allura menggeleng pelan, air matanya kembali tergelincir begitu saja.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Kau percaya denganku."
"Apakah jangan-jangan Alvin pergi menemui wanita j*lang itu?"
Harry tersenyum sinis. "Ele sudah pergi jauh, Alvin tidak akan pernah bisa menemukan Ele lagi. Ele sudah jatuh miskin."
"Apa kau yakin? sejauh ini aku sudah melakukan semua ini, Aku tidak mau berpisah dari Alvin." Allura mengusap air matanya dan terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.
"Tidak mungkin Alvin meninggalkanmu. Kau mengandung anaknya dan anak ini adalah senjatamu yang kuat untuk tetap bertahan."
"Apa kau yakin?" Allura masih tak bisa tenang. Pikirannya berkecamuk.
"Aku yakin sekali. Percayalah kepadaku."
Allura mengangguk tersenyum puas dengan jawaban Harry. Ya! Anak ini adalah kekuatannya. Keluarga Smith tidak akan mengabaikan anak ini.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^