
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Jika kamu bisa memimpikannya, maka kamu juga bisa melakukannya....
πΈπΈπΈπΈπΈ
SATU MINGGU TELAH BERLALU.
Setelah pertimbangan yang cukup matang, akhirnya Allura memutuskan untuk menemui tuan Smith. Allura membawa mobilnya menuju kediaman Smith. Sore ini, senja mulai memperlihatkan keindahannya. Allura sengaja membuka kaca mobilnya dan melemparkan tatapannya keluar. Sejenak hening, terdiam, entah apa yang Ia pikirkan?
Dan kemudian ia menatap lurus fokus ke arah jalan. Melihat senja yang mulai akan tengelam meninggalkan terang dan akan mendatangkan malam. Ele sekilas menatap jam yang ada di tangannya. Sudah pukul enam sore.
Waktu tidak terasa berlalu begitu cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan begitu juga hari berganti minggu. Semenjak pembatalannya pernikahannya dengan Alvin. Sudah dua bulan lebih waktu itu telah berlalu. Ingatan itu kembali lagi saat tuan Smith menghubunginya dan mengatakan Alvin telah pergi meninggalkan apartemennya. Allura frustasi, semua impiannya menyandang status nyonya Smith hanyalah angan belaka. Kini kehamilannya menjadi alasannya kembali menemui tuan Smith.
Allura berhenti di depan kediaman Smith. Ia menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobilnya. Tiba-tiba kepalanya pusing. Perutnya mual. Mungkin ini efek karena ia terlalu stres. Walau hanya sebatas mual saja dan tidak sampai muntah.
Allura menarik napasnya dalam-dalam dan menatap sejenak rumah mewah itu. Ia membenamkan wajahnya di setir mobil, kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan. Ia menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir dalam hatinya. Matanya seketika berkaca-kaca. Kenangan bersama Alvin kembali menari-nari di dalam otaknya. Tak terasa air matanya terjatuh membasahi pipinya.
TOK TOK TOK
Allura tersadar ketika seorang mengetuk kaca mobilnya. Ia memalingkan kepalanya dan dengan cepat menyeka air matanya yang terus tergelincir. Allura dengan cepat menurunkan kaca mobilnya.
"Permisi nona, sudah lima belas menit mobil anda parkir di depan kediaman Smith, apa anda tersesat, atau sedang mencari alamat?" Kata seorang lelaki bertubuh tegap dengan ramah.
"Maaf pak, saya..." Allura tiba-tiba gugup. Ia tidak mengenal pria itu.
"Anda mencari siapa nona? siapa tau saya bisa membantu anda." Kata pria itu lagi.
Allura melepaskan senyumannya dan kemudian berbicara dengan tenang. "Saya mencari kediaman Smith, apa benar ini rumah pak Lukas?" Astaga... tiba-tiba pertanyaan bodoh itu lolos dari mulut. Bagaimana bisa Allura pura-pura tidak mengenal rumah ini. Sementara Alvin sudah pernah membawanya ke sini saat acara ulang tahun ibunya.
"Ya, benar nona. Anda mencari tuan Smith?" Tanya pria itu menatap heran kepada Allura. Baru kali ini seorang gadis muda mencari tuannya.
"Ohhh ..Jadi ini benar rumahnya?" Kata Allura dengan pertanyaan konyolnya.
"Benar. Ini adalah kediaman Smith. Masuk saja nona."
"Oh, Ia." Jawab Allura dengan canggung.
"Mobilnya bisa langsung masuk, nona." Ucap Pria itu menimpali.
"Tidak perlu pak. Biar mobil saya parkir di sini saja." Allura akhirnya keluar dari mobilnya.
"Silakan, nona!" Pria itu mempersilakan Allura masuk.
"Terima kasih..." Ucap Allura dengan seulas senyum.
__ADS_1
Sebelum melangkah Allura melakukan ritualnya, menghembuskan napasnya lewat mulut, mencobanya menenangkan dirinya. Akhirnya Allura memantapkan langkahnya. Ia berjalan memasuki kediaman Smith. Berjalan melangkah menyusuri taman kecil. Allura mengedarkan pandangannya. Menatap rumah mewah yang di desain modern itu.
Rumah ala Eropa ini, tersaji dengan dinding-dinding terbuat dari kaca dan terlihat berkilau dengan lampu-lampu yang memantul dari luar. Terdapat beraneka ragam bunga Cemara sekaligus membentuk pagar pendek.
Allura tersenyum penuh arti, wajahnya datar dan terus melangkah dengan langkah-langkah kecilnya menyusuri taman.
Allura tersenyum sambil meraba perutnya dengan lembut. "Sayang, kita akan bertemu kakek dan nenekmu. Apa pun akan mommy lakukan agar kau di terima keluarga Smith. Ibu akan memperjuangkan hakmu sayang. Bantu mommy, agar bisa mengatakannya dengan baik." ucapnya dengan tarikan napas panjang.
Allura berhenti tepat di depan pintu teras rumah. Sebelum menekan bel, Ia menarik napasnya dalam-dalam. Bersiap dengan apa yang dihadapi. Allura mengumpulkan keberanian. Perlahan ia mengangkat tangannya, lalu menekan bel yang ada di sebelah kanan pintu itu.
TING NONG....TING NONG...!
TING NONG....TING NONG...!
Belum ada reaksi seseorang dari dalam untuk membuka pintu untuknya.
Kembali Allura menekan bel. Ia berharap orang yang dicarinya ada. Merasa belum ada respon, ia kembali menekan bel rumah itu.
TING NONG.... TING NONG...!
Pintu mulai terbuka pelan. Muncul seorang wanita paruh baya dari balik pintu.
Seketika Jantung Allura berdetak kencang ketika pintu itu terbuka sempurna.
"Selamat sore," Sapa Allura dengan sopan.
"Selamat sore juga nona, mau mencari siapa?" Ucap wanita paruh baya itu memandang Allura dari atas sampai ke bawah. Sepertinya ia mengenal wanita ini, tapi dimana? Ia lupa. Wanita paruh baya itu mengamati bagian perut Allura yang membesar.
"Saya mau mencari tuan Smith." ucapnya dengan pelan sambil meremas tangannya sendiri.
"Maaf. Saya mau mencari tuan Smith, apa beliau ada?" Tanya Allura mulai gerah melihat wanita itu. Matanya tak bisa berbohong. "Apa pembantu sialan ini merendahkanku?" Geramnya dalam hati.
"Maaf, tuan Smith tidak ada di rumah. Beliau sedang perjalanan bisnis keluar kota." Jawabnya.
Allura menarik napas singkat. Ia tersenyum untuk menutupi rasa kesalnya. "Bagaimana dengan nyonya Smith. Apa beliau ada di rumah?"
"Kalau nyonya ada di rumah."
"Saya ingin bertemu dengan beliau?"
"Tapi saya bertanya dulu, apa dia bersedia bertemu dengan anda."
Allura mengepalkan tangannya, ia mulai jengah dengan sikap wanita yang tidak tahu diri ini. Baru juga pembantu, gayanya sudah melebihi nyonya besar.
"Katakan saja Allura ingin bertemu dengan nyonya Smith. Aku rasa beliau tidak ada akan menolaknya."
Mendengar nama Allura, wanita itu terkejut. "Bukankah anda calon istri tuan Alvin?"
"Iya, saya Allura calon istri Alvin Smith. Ada lagi yang ingin anda tanyakan?"
"Maaf nona, saya tidak tahu bahwa anda calon istri tuan Alvin."
"Saya tidak perduli. Sekarang pertemukan saya dengan nyonya Smith."
__ADS_1
Wanita itu langsung menundukkan kepalanya. "Ba-baik nona! Silakan masuk," Wanita itu mempersilahkan Allura masuk.
Allura tersenyum kecut, "Lihat saja, jika aku sudah masuk ke rumah ini. Kau orang pertama yang akan aku pecat." Umpat Allura dalam hati
Allura melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Matanya memicing pada foto keluarga yang ukurannya lumayan besar itu. Ada gambar Alvin di sana. Allura berusaha menarik napasnya dalam-dalam. Matanya kembali berkaca-kaca. Lelaki yang pernah hadir dalam hidupnya, kini pergi meninggalkannya. Ia tidak tahu kenapa Alvin bisa meninggalkan di saat pernikahan mereka tinggal hitungan jam. Allura menguatkan hatinya, tujuannya hanya ingin menemui tuan Smith.
TOK TOK TOK.
Wanita paruh bayah itu mengetuk pintu kamar sebanyak tiga kali, lalu berbicara agar nyonya besarnya yang di dalam bisa mendengarnya.
"Permisi nyonya." ucapnya dengan sopan dari balik pintu.
"Masuk saja Elia." Kata Maria dari dalam. Ia masih sibuk mencari informasi tentang anaknya yang hilang.
Elia membuka kenop pintu. Ia mendorong ke arah dalam dan melihat Maria lagi asyik menatap laptopnya. Beliau sedang menggunakan kacamata dan rambutnya digulung asal sampai ke atas.
"Ada apa Elia?" Maria menurunkan sedikit kacamatanya, dan menatap Elia yang hanya diam terpaku di tempatnya.
"Maaf nyonya, saya tidak pernah melihat wajah anda serius ini. Biasanya anda terlihat santai. Bahkan kepada saya saja anda selalu humoris dan selalu melemparkan senyum terbaik anda kepada siapa pun. Tapi kali ini berbeda, mungkin inilah yang membuat anda selalu awet muda. Bahkan anda terlihat santai, walau saya tahu pikiran ada sedang kalut saat ini."
Maria tersenyum. "Jadi kamu terpesona Elia?" Maria menangkup pipinya sendiri.
"Hahahaha bisa dikatakan seperti itu nyonya. Jadi saya lupa mengutarakan maksud dan tujuan saya yang sebenarnya." ujar Elia dengan wajah seriusnya.
"Hahahaha," Maria ikut tertawa, tentu saja perkataan Elia menghiburnya. Kesedihannya hilang seketika. "Maafkan saya Elia, saya memang terlalu serius mencari informasi tentang Alvin. Apa ada yang penting?" Maria tersenyum dengan menopang dagunya, menatap Elia dengan senyum teduhnya.
"Ada seseorang yang ingin menemui anda." Kata Elia akhirnya.
Maria menaikkan pupil matanya, berpikir sejenak siapa kira-kira tamu yang datang di jam seperti ini.
"Siapa Elia?" tanya Maria memicing ke arah Elia. Seingatnya ia tidak mempunyai janji untuk bertemu dengan seseorang. Apalagi jika tamu itu datang hanya menanyakan keberadaan anaknya. Tentu saja Maria menolaknya. Ia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Apalagi jika itu wartawan.
"Maaf nyonya, beliau adalah Allura, kekasih tuan Smith."
Maria terjengkit dari duduknya. "Apa? Allura?" Ia membuka kaca matanya dan meletakkan dengan asal.
"Benar, beliau adalah nona Allura."
Maria menarik napasnya dalam-dalam. "Baiklah. Siapkan minuman untuknya. Saya akan keluar sebentar lagi."
"Baik nyonya."
Elia pun keluar dari kamar itu dan mempersiapkan minuman untuk Allura.
Maria mengembuskan napasnya yang begitu berat. Kejadian menyedihkan itu masih terus mengikuti di belakangnya. Hingga saat ini, jika ia mengingat anaknya yang hilang tentu saja membuat Maria menangis. Ia tahu Allura akan sakit jika diungkit masalah itu lagi. Tidak ada resep atau obat tradisional khusus yang bisa menyembuhkan lukanya dan itu bukanlah perkara mudah. Terkadang, luka itu lebih sulit sembuh. Allura memang harus berjuang untuk membangkitkan perasaan positif yang ada di dalam dirinya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^