
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Ketika rasa sakit bertemu dengan dendam. Maka benci adalah jawabannya....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alvin menarik napasnya yang terbata-bata. Matanya seketika berkaca-kaca, hidungnya perih, dadanya sesak. Pikiran Alvin langsung kacau, Ia benar-benar blank saat ini.
"Jadi yang melakukan semua ini adalah Arlo?"
Alvin berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas sesaat. Saat mengetahui Arlo adalah lelaki yang membuat Ele dikeluarkan dari kampus, diusir dari apartemen dan diberhentikan dari pekerjaannya.
Alvin mengusap wajahnya dengan kasar. Ele pasti sedih. Mata Alvin membulat nanar. Terdiam sesaat. Dadanya sesak seketika. Sulit bahkan untuk menarik napas pun ia tidak mampu.
"Aaargggggg!!!!"
BRAKKK!!!!
Alvin meninju meja kerjanya, hingga bagian kacanya pecah dan bahkan melukai tangan Alvin. Tangannya meremas kertas itu sampai remuk. Seremuk hatinya saat ini. Terkoyak dan hancur. Tubuh Alvin gemetar dan jari-jarinya terasa dingin. Ia menarik dasinya dan mencengkram kepalanya. Melepaskan semua emosinya.
"Apakah kau memang sengaja melakukan ini?"
"Aku tak akan membiarkanmu merebut Ele dariku." Alvin tersenyum kecut di ujung kalimatnya. "Apa kau begitu menyukai apa yang aku miliki?" Desis Alvin begitu marah.
Napasnya naik turun begitu cepat karena menahan emosi. Rahangnya mengencang kuat. Sorot matanya memancarkan kebencian.
"Aku tidak akan membiarkan ini lagi,"
Alvin langsung meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
TUT TUT TUT!
Panggilan tersambung.
"Hallo tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu anggota kartel Los menjawabnya.
"Cari tahu keberadaan Arlo. Dalam waktu 10 menit, kau harus menemukannya. Terserah kau mau menggunakan alat pelacak atau apapun itu. Aku harus bertemu dengannya. Kau mengerti?" Perintah Alvin dengan penuh amarah.
"Baik tuan,"
"Dan satu lagi, persiapkan pistol terbaik untukku. Saya ingin Edric yang mengantarnya langsung kepadaku."
"Siap tuan." Jawab pria itu dengan cepat.
TIT
Alvin mematikan panggilan dengan sepihak. Ia berbalik dan mengambil papan nama yang bertuliskan direktur utama itu. Dengan penuh emosi Alvin melemparnya,
PRANG!
Benda itu rusak mengenaskan. Serpihan-serpihan tajam yang berterbangan dan berserakan di atas lantai putih. Ruangan itu kedap suara hingga siapa saja yang mendengar suara keributan dari dalam ruangan tak terdengar oleh siapapun.
Emosi Alvin tak juga membaik. Napasnya masih tersengal karena menahan emosi. Ia menarik napas marah. Alvin mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal kuat.
"Kita memang harus bertemu, Arlo. Aku ingin lihat apa yang akan kau lakukan setelah melihatku. Selama ini kau hanya berani di belakangku saja. Ini tak bisa dibiarkan. Kau pantas hidup di jalanan."
Alvin mencoba menstabilkan napasnya dan mengembalikan pikirannya. Ia melangkah keluar dari mejanya, Ia berlari keluar dari pintu ruangannya. Sontak membuat Marvel dan Feli terkejut.
"Tuan..." Panggil Marvel.
"Apa yang terjadi pak, kenapa pak direktur begitu panik?" tanya Feli tak bisa menutupi wajah tegangnya.
__ADS_1
Marvel tak menjawabnya, ia segera melangkah masuk ke ruangan pak direktur dan melihat ruangan itu sudah berantakan. Marvel melihat kertas amplop yang diberikannya tadi sudah tak berbentuk lagi. Ia meraih dan mencoba merapikan kertas yang sudah remuk itu. Marvel pun membacanya. Dahinya mengerut dan wajahnya berubah panik.
"Arlo?????"
Marvel terkesiap sambil meremas kertas itu. Ia mencoba menghubungi pak direktur. Tapi dialihkan. Marvel tidak mungkin membiarkan Alvin menyetir sendiri, karena beberapa hari ini, beliau tidak bisa tidur. Ia pun berlari menyusul bosnya itu.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara Alvin berlari menuju tangga darurat. Ia tidak sabar menunggu lift terbuka yang ada dipikirannya saat ini ingin bertemu dengan Arlo.
Saat pintu lift terbuka. Marvel berlari sekuat tenaga menyusuri koridor kantor. Jasnya sampai melambai ke belakang karena kecepatan berlarinya. Bahkan sepatunya terdengar menggema di kantor itu. Marvel tidak perduli, ia harus bisa menemukan bosnya itu.
"Tuan...." panggil Marvel saat melihat Alvin berlari ke arah mobil.
Alvin dengan cepat masuk ke dalam mobilnya. Tak perduli dengan panggilan Marvel. Ia menginjak pedal gasnya dengan terburu-buru hingga menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal.
Marvel tak bisa menghentikan tuannya. Lagi-lagi mobil itu sudah melaju pergi.
SEMENTARA ITU.
Alvin memukul setir mobilnya. Napasnya mulai terengah-engah, ia teringat dengan kejadian yang membuat emosinya semakin meledak.
"Anak tidak tahu berterima kasih." Alvin mencengkram stir mobilnya. Ingatannya kembali, saat Arlo pertama kali menginjakkan kakinya ke kediaman Smith. Arlo mulai berani mengambil makanan dari piringnya. Saat itu Alvin tidak terlalu memikirkannya, dalam benaknya, Arlo hanyalah anak lelaki yang ditelantarkan dan tidak pernah menikmati makanan seperti yang di makannya. Alvin tersenyum saat itu, ia bahkan memberikan semua makanannya dengan senang hati.
"Selama ini, apa yang aku sukai kau ambil begitu saja. Dari mainan, tas, sepatu, bahkan mobil yang dihadiahkan ayah sekali pun itu. Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Kini dari Allura dan sekarang ke Ele?" Alvin menangguhkan kalimatnya. Ia tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Kini ia sadar, bahwa Arlo tidak patut dikasihani. Ia harus diberi pelajaran, bahwa ia hanyalah anak jalanan yang serakah.
Dddrrrttt..... Dddrrrttt....!
Panggilan masuk, Alvin melirik sekilas. Ternyata panggilan itu dari anggota kartel Los yang dihubunginya tadi.
"Bagaimana?"
"Saya sudah mengirimkan alamatnya yang terbaru tuan, saat ini ia berada di kota A."
"Baiklah, terima kasih."
Panggilan itu langsung dimatikan Alvin. Ia menepikan mobilnya untuk membaca pesan yang diterimanya dari anggota kartel Los. Alvin langsung menyetting GPS di mobilnya dan kembali membawa mobilnya dengan kecepatan penuh.
Alvin keluar dari mobilnya dan berjalan menuju sebuah gubuk yang ada di pinggiran jalan. Edric sudah menunggu kedatangannya dan tersenyum saat melihat Alvin sudah datang.
"Hei dude, apa kabar?"
"Dimana pistolnya?" Tanya Alvin to the point.
Edric tersenyum dan langsung menyerahkan pistol terbaiknya kepada Alvin.
Alvin tersenyum smrik menerima pistol itu dari tangan Edric. "Apa pistol ini aman?"
"Tentu saja, pistol ini salah satu koleksi terbaikku, dude." Edric tersenyum memberitahu.
Sudut bibirnya langsung melengkung ke atas. Edric memang selalu bisa diandalkan, baik dalam hal apapun, Ia bisa membantunya dengan cepat dan kapan saja saat dibutuhkan.
"Terima kasih." ucap Alvin tersenyum, lalu menyelipkan pistol itu ke pinggangnya. Ia tidak perlu berlama-lama di sana. Alvin melanjutkan perjalanannya lagi.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Tidak butuh lama Alvin sudah sampai di depan pagar kokoh itu. Alvin menarik rem tangan.
"Benarkah ini alamatnya?" Alvin memperhatikan GPS dan alamat yang diterimanya dari kartel. Ia tetap berdiam di mobil dan memantau keadaan rumah itu.
Rumah mewah seperti gaya minimalis modern di Afrika. memadukan unsur kayu dan kaca sebagai bahan utama. Rumah itu di jaga ketat. sudut bibirnya Alvin melengkung ke atas. Ia tersenyum sinis.
"Dari mana kau menghasilkan uang sebanyak ini Arlo? Apakah ini hasil dari pencucian uang yang selama ini kau lakukan di kantor Smith?"
Alvin mengamati keadaan rumah itu. Rumah ini memang sengaja dipilih Arlo, karena jauh dari pemukiman masyarakat.
Alvin memilih keluar dari mobilnya dan mendekat ke arah bel yang ada di sana.
TING NONG
__ADS_1
TING NONG
TING NONG
Alvin berulangkali menekan bel itu. Agar orang yang di dalam mendengarkannya. Ia sengaja membuat keributan.
"Arlo, buka pintunya! aku ingin bertemu denganmu, brengsek!"
Nampak empat orang berpakaian lengkap melangkah mendekati pagar utama. Suara pintu pagar dari besi kokoh itu terbuka. Lelaki tegap dan lengkap berkacamata itu langsung menghadang Alvin yang ingin masuk.
"Jika Anda membuat keributan lagi. Anda saya laporkan ke pihak berwajib karena telah membuat keributan di sini."
Alvin tersenyum sinis, mengunci tatapannya kepada pria angkuh itu. "Apa aku tidak salah dengar? Kau tidak pantas mengatakan itu. Sekarang dimana Arlo? Saya ingin bertemu dengannya."
"Anda tidak diizinkan masuk." Ucap salah satu dari mereka dengan tegas.
"Apa?" Alvin memutar bola matanya. Ia sudah sangat kesal.
"Apa anda tuli? anda tidak diizinkan masuk, apalagi membuat keributan di sini."
"Jangan membuatku marah. Aku bisa mematahkan semua tulangmu."
"Seharusnya kami yang mengatakan itu tuan. Kami bisa mematahkan tulangmu jadi beberapa bagian. Jadi pergilah sebelum kesabaran kami habis."
Alvin menatap tajam kepada keempat lelaki itu. Belum apa-apa sudah membuat isi kepalanya meledak karena menahan amarah. Kesabarannya sudah mulai habis. Ia memejamkan matanya beberapa detik. Lalu Alvin maju beberapa langkah dan menendang bagian perut lelaki yang berdiri hadapannya.
Mereka adu jotos. Tiga anak buahnya dengan cepat memberikan pukulan kepada Alvin. Namun Alvin bisa menghindar dengan baik.
Cih... Alvin berdecak. "Aku sudah bilang jangan bermain-main denganku. Rasakan ini. Aaargggggg..." geram Alvin memberikan beberapa pukulan lagi.
Pertarungan satu lawan empat tidak membuat Alvin takut. Emosi yang menguasainya mampu melumpuhkan mereka. Lima menit mereka bertarung sengit dan membuat keempat pria itu terjatuh.
Alvin menarik napas panjang. Ia mengusap keningnya dan tersenyum smrik. "Sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan peluruku kepada orang seperti kalian. Tapi maafkan aku! " Alvin menggeram sampai menggertak giginya. Tanpa pikir panjang, Alvin menargetkan ke arah kaki salah satu di antara keempat pria itu.
DOR...DOR...
Dua peluru bersarang di paha pria itu.
"Aaarggghh....! Apa yang kau lakukan?" Wajah pria itu tampak kesakitan.
Sementara ketiga temannya langsung kabur meninggalkan tempat itu.
Alvin tersenyum lagi. Ia berjongkok dan menatap ke arah pria itu. "Dimana Arlo?"
"Tuan Arlo tidak di sini."
"Dimana Arlo?" tanya Alvin mengeraskan rahangnya. Matanya mendelik tajam.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tuan Arlo benar-benar tidak di sini, tuan."
"Jangan bohong! Dimana Arlo?" Teriak Alvin mengarahkan pistol ke pelipis pria itu.
Pria itu mundur dan ketakutan. "Jangan tembak aku." Ia menggeleng sambil mengibaskan tangannya.
"Aku tidak akan membunuhmu. Sekarang katakan dimana Arlo?"
"Beliau ada di dalam bersama wanita, tuan."
Dahi Alvin mengerut. "Bersama wanita, apakah dia Ele?"
Tanpa pikir panjang. Alvin langsung berlari masuk ke dalam rumah itu. Hatinya masih bertanya-tanya apakah Ele bersama Arlo?
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^