
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
..."Mencintai seseorang terkadang itu adalah hal yang bahagia, namun aku fikir, mencintai seseorang yang mencintaiku, itu jauh lebih bahagia. Dia kekasihku, jelas aku katakan, dia kekasihku! Aku baru sadar, kau hadir ke bumi, mungkin hanya untuk membuatku bahagia atau memang kau diciptakan hanya untukku? Mungkin saja, karena itu harapanku."...
🔸🔸🔸🔸🔸
Alvin dan Ele menghadiri acara selamatan di desanya. Acara ini merupakan sebuah tradisi ritual masyarakat yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah dan karunia yang diberikan Tuhan. Acara syukuran ini mengundang beberapa masyarakat desa. Termaksud itu Ele dan Alvin. Setelah melakukan doa bersama. Semua warga yang berkumpul di sana menikmati makanan yang sudah disediakan. Acara selamatan pun selesai. Mereka tidak langsung meninggalkan acara itu, mereka berbincang-bincang dengan warga yang ada di sana. Setelah itu, Alvin dan Ele pun langsung meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti acara selamatan tadi?" tanya Ele tersenyum melihat ke samping. Mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan. Semenjak ada Alvin, Ele lebih suka berjalan. Mereka bisa menikmati waktu bersama sambil berbincang-bincang. "Kau suka?" tanyanya lagi.
"Hmm," Alvin mengangguk. "Aku menyukainya. Ini pertama kali untukku, acaranya unik dan membuat kita penasaran." ucap Alvin antusias.
"Hmm. Kalau di kota, kita tidak menemukan tradisi seperti itu lagi. Jadi hanya desa kita yang melakukan ritual seperti itu. Acaranya dilakukan sekali enam bulan. Itu bentuk ucapan syukur penduduk desa atas hasil panen yang diterimanya." Kata Ele memberitahu. "Aku akan sering mengajakmu ke acara-acara seperti ini."
Alvin tersenyum simpul lalu menganggukkan kepalanya. Ia menarik tangan Ele dan menciumnya.
"Kita mampir kesitu yuk!" kata Ele menunjuk jalan yang tidak jauh dari rumahnya.
"Heuh, di sini?" Dahi Alvin mengerut. "Bukankah ini kantor desa?"
"Hmm, tapi kita bisa masuk ke sana."
"Apa tidak masalah?" tanya Alvin meyakinkan Ele.
"Tidak! siapa yang akan marah? kantor Desa ini bebas untuk siapa saja, asalkan jangan merusak fasilitas yang ada." Kata Ele berjalan lebih dulu. "Ayo! tunggu apa lagi?" Ele mendekat ke arah Alvin dan menarik tangannya.
"Tapi pagarnya tertutup."
"Kita bisa lompat."
Mata Alvin terbeliak. "Kamu serius?"
"Hahahaha." Ele tertawa awkward. "Pagarnya bisa dibuka sayang."
"Sa-sayang?" Alvin membulatkan matanya dan berkedip pelan.
Ele tersenyum tanpa memandang Alvin. Ia menelusupkan tangannya ke samping meraih tangan Alvin dan menggenggam tangan itu agar semakin dekat dan mulai melangkah. Alvin masih salah tingkah. Ia berjalan sambil memiringkan kepalanya dan mengedip, mengulang kata-kata itu dalam benaknya.
Sayang?
Sayang?
Apa tadi dia mengatakan sayang?
Semenjak Alvin amnesia, jiwa lugunya tiba-tiba keluar. Seharusnya Alvin yang mengucapkan kalimat itu lebih dulu. Namun Alvin tidak berani, takut jika Ele marah dan menganggapnya terlalu berlebihan.
__ADS_1
Ele tersenyum sambil memejamkan matanya. Ia menghirup udara malam yang menerbangkan sebagian rambutnya. Layaknya pasangan normal, mereka saling melempar senyum. Mereka memasuki kantor Desa. Di sana ada permainan anak-anak yang memang khusus disediakan untuk warga. Ele mengambil duduk di tempat ayunan yang ada di sana.
"Kau tahu, tempat ini disediakan untuk anak-anak termaksud aku."
Mendengar itu Alvin terkekeh. "Apa Eleku sudah berubah menjadi anak-anak lagi?"
Mata Ele berubah sayu. "Eeehmmm. Aku ingin kembali seperti anak-anak lagi."
"Kenapa seperti itu?"
"Anak-anak tidak ada beban hidup, mereka bisa tertawa lepas dan bisa bermain sepuasnya tanpa memikirkan apapun."
Alvin menatap wajah Ele dengan lekat, ia bisa merasakan perubahan wajah kekasihnya itu. "Apakah hidupmu terlalu berat Ele?" Tanya Alvin dengan suara terendahnya.
Ele tersenyum teduh, sambil bergerak mengayunkan tubuhnya. "Hmm. Sangat berat, hingga aku pernah meminta kepada Tuhan untuk mengambil nyawaku."
Alvin terdiam. Jantungnya terpukul kencang. ujung-ujung tangan tiba-tiba terasa dingin. Ele pasti begitu terluka sampai ia meminta kepada Tuhan untuk mengambil nyawanya. Selama ini ia terlihat kuat. Tapi nyatanya tidak! Alvin bisa merasakannya.
"Kau bisa ceritakan semuanya Ele,"
Ele memperlambat kecepatan ayunannya. Ia menatap Alvin lagi. "Bukankah kau sudah mendengar semuanya."
"Iya, aku mendengar semuanya." Kata menimpali. "Tapi kau bisa ceritakan lagi."
"Aku malu, seharusnya kau tidak mendengar semua itu dari mulut Harry."
"Tidak masalah Ele, aku tidak mempermasalahkannya dan kenapa kau harus malu? sekarang kau sudah menjadi kekasihku." Alvin mengacak rambut Ele.
Ele tersenyum sendu. "Sekarang aku jadi wanita percaya diri. Ada lelaki yang baik hati yang bersedia melindungiku." Kata Ele dengan senyum haru.
“Apa harapanmu?” Tanya Ele merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan Alvin.
“Bersamamu.” balas Alvin melihat sekilas ke arah Ele.
“Bila kau pergi?” Tanya Ele balik menatap Alvin.
“Tidak, itu tidak mungkin. Karena Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tuhan menciptakanmu, untukku.” jawab Alvin penuh percaya diri.
Ele hanya tersenyum mendengar jawaban Alvin. “Coba kau tebak, apa yang aku inginkan?” tanya Ele balik bertanya.
“Mmm.. wafle? Ice cream? Atau mungkin, moccacino?”
“Bukan, coba tebak lagi?” Kata Ele dengan nada protes.
"Apa iya?"
“Ahh, Ayo dijawab!” kata Ele terus mendesak.
Alvin tertawa kecil saat melihat ekspresi lucu Ele. Ia pun mencoba berpikir keras.
“Ah… kamu, Itu saja tidak bisa menjawab. Aku hanya menginginkan kamu.” Ele memukul dada Alvin dengan lembut.
“Kamu ini.” Alvin tersenyum dan mencubit pipi Ele dengan lembut.
__ADS_1
Mereka saling menatap dengan penuh cinta, penuh kagum, dan juga sayang. Ele menjatuhkan kepalanya dan bersandar di bahu Alvin dengan nyaman. Jari-jari tangannya membuka lalu mencengkeram erat tangan Alvin. Sementara Alvin tersenyum merapatkan pelipisnya di puncak kepala Ele. Ia melapisi tangan Ele yang menggenggamnya, mengusapnya dengan pelan dan lembut.
Tiba-tiba lengannya terasa basah. Alvin diam membeku ketika merasakan cairan hangat itu semakin terjatuh di tangannya.
"Ele?" panggil Alvin dengan khawatir. Sambil menurunkan pandangannya, mencoba melihat wajah Ele.
"Bisakah kita menikah?"
"Heuh?" Alvin menatap bingung dengan ekspresi terkejut. "Bukankah mereka baru pacaran? Kenapa tiba-tiba Ele minta menikah?"
"Aku ingin menikah denganmu Alvin." Ucap Ele lagi dengan ucapan yang sama.
"Apa kau baik-baik saja Ele, kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Semuanya akan baik-baik saja, kan?"
"Kenapa Ele, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Alvin dengan lembut. Ia merasa Ele sedikit berbeda. "Apa penduduk di sini mengatakan sesuatu?"
Ele menggeleng pelan. Bibirnya terasa keluh untuk bicara. Ele menguatkan hatinya dan berkata. "Aku takut, kau berpaling dariku Alvin. Aku takut kau pergi meninggalkanku, aku takut..." Ele tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Hatinya terasa sesak saat ini. Ia semakin mencengkram kuat tangan Alvin. Tangisannya perlahan mulai terdengar.
Alvin terdiam, ia menarik napas panjang. Melepaskan genggaman tangannya dan membuka rangkulannya. Alvin menarik bahu Ele dan masuk ke dalam dekapan yang hangat.
"Apa kau meragukanku? Aku sudah katakan, aku sangat mencintaimu dan itu tidak akan berubah. Untuk meninggalkanmu? Itu tidak akan terjadi. Tidak...tidak, untuk memikirkannya saja aku tidak ingin."
Ele menarik napasnya yang terasa berat. "Aku bermimpi Alvin, mimpi ini datang berturut-turut. Kau dibawa seseorang dan pergi meninggalkan desa ini."
Alvin tersenyum kecil. "Itu hanya mimpi Ele, bunga-bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan."
"Mimpi itu terasa nyata Alvin, kau bahkan tidak mengucapkan apa-apa dan pergi begitu saja." Ele menunduk, membayangkannya saja begitu sakit, apalagi jika itu benar-benar terjadi. "Aku takut saat ingatanmu kembali. Kau pergi dan menganggap hubungan kita tidak pernah ada."
"Ele, aku sudah pernah katakan, aku tulus mencintaimu dan aku tidak akan bisa berhenti mencintaimu. Jika ingatanku kembali itu tidak merubah apa pun. Jadi aku mohon Ele, jangan pernah meragukan cintaku lagi. Hmmm." Alvin mengecup erat puncak kepala Ele. Dia tahu kegelisahan hati Ele.
Mendengar perkataan Alvin, Ele semakin tersedu-sedu. Seketika hatinya menghangat dan tenang. Rasa khawatirnya sejenak menghilang. Ia hanya terdiam, semakin memeluk erat tubuh Alvin. Begitu juga dengan Alvin, membalasnya dengan pelukan erat sambil memejamkan mata.
Setelah Ele merasa tenang. Alvin melepaskan pelukannya. Menatap sendu ke arah Ele. "Jangan pernah meragukan cintaku lagi. Kau harus tetap percaya itu,"
Ele hanya mengangguk pelan. Alvin menatapnya dengan sayang. Tak ada keraguan, Ia langsung memajukan wajahnya. Walau ini pertama kali untuk Ele, Ia berusaha melakukannya dengan baik. Alvin mulai mengecup bibir ranum yang manis itu. Kecupannya pelan dan sangat ringan. Lmatannya lembut dan tidak menyakiti. Ia memperlakukan Ele seperti porselen yang gampang pecah.
Alvin menarik wajahnya lagi dan mencium bibir Ele semakin dalam. Mata mereka saling terpejam, merasakan kelembutan satu sama lain. Ele terhanyut dan terus merasakan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Alvin terus membelai dengan tempo yang lambat. Ia seakan menenangkan Ele lewat ciumannya. Membuat Ele benar-benar merasakan cintanya yang tulus. Agar Ele tetap tenang dan lebih damai.
Kecupan dengan napas memburu akhirnya berakhir. Alvin melepaskan tautan bibirnya. Mata mereka perlahan-lahan terbuka. Ia tersenyum tipis sambil melihat ke arah Ele.
Alvin kembali mendekap tubuh Ele masuk ke dalam pelukannya.
Ele memejamkan matanya. Alvin berhasil menenangkan hatinya. Perasaan takut itu hilang seketika. Ia tidak tahu mengapa begitu besar rasa cintanya untuk Alvin. Jujur, baru pertama kalinya Ele merasakan hal seperti ini. Ele berharap bahwa Alvin adalah jodohnya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^