
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Jangan pernah biarkan kesedihan masa lalumu, membuatmu merusak kebahagiaan saat ini....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Cukup lama mereka menikmati suasana sendu ini. Ele melepaskan pelukannya, ia menatap lurus ke depan tanpa memandang Alvin. Ele menarik napas singkat dan mendongak, menatap bintang-bintang yang ada di atas langit. Ia tidak ingin gegabah dengan hubungan ini. Ele hanya tidak ingin, Alvin merasa iba dan kasihan kepadanya. Ele bahkan tidak membutuhkan simpatik itu. Ia sudah terbiasa dengan kehidupannya seperti ini.
Suhu udara mulai dingin, Alvin merapatkan duduknya dan langsung merangkul bahu Ele. Memberikan kehangatan dalam pelukannya. Ia menatap Ele dengan penuh cinta, penuh kagum, dan juga sayang. Alvin benar-benar tidak menduga cintanya terbalaskan.
Alvin menarik kepala Ele dengan lembut, agar bersandar di bahunya. Jari-jari tangannya membuka lalu mencengkeram erat tangan Ele. Alvin tersenyum lalu merapatkan pelipisnya di puncak kepala Ele. Ia melapisi tangan Ele yang menggenggamnya, mengusapnya dengan pelan dan lembut.
Tubuh Ele, seketika menegang, rasa takutnya tiba-tiba datang saat dipeluk seperti ini. Ele menarik napas sambil memejamkan matanya. Jantungnya berdetak kencang dari rongga dadanya.
"Kenapa aku takut?" batinnya.
Lagi Ele mengatur pernapasannya yang tak kunjung tenang itu. Alvin bisa merasakan itu, Ia menarik napas panjang. Melepaskan genggaman tangannya dan membuka rangkulannya. Alvin duduk menghadap Ele.
"Aku bisa merasakan jika tubuhmu tegang, saat aku memelukmu Ele. Apa kau masih takut?" Tanya Alvin menatap Ele begitu dalam.
Deg!
Ele menghapus sisa-sisa air matanya dan menarik napasnya, menguatkan kembali untuk pembicaraan yang menyentuh perasannya itu. Ele pun mulai berbicara untuk menghilangkan kecanggungan itu.
"Alvin, aku masih ragu." ucapnya pelan sambil mencengkram erat tangannya.
Dahi Alvin mengerut, "Ragu? Kenapa kau masih ragu, Ele? Bukankah tadi sudah jelas?"
Ele terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Sejauh ini, Ele memang melihat Alvin selalu memberikan perhatiannya. Tapi semua itu tidak cukup. Ele tidak tahu masa lalunya, bagaimana kehidupan Alvin. Ditambah Ia mempunyai kenangan buruk, yang bahkan dirinya sendiri pun sulit untuk menerimanya.
"Ele, apa yang kau ragukan?" tanya Alvin menatap Ele dengan sendu, mengambil tangan Ele dengan lembut, ia berusaha menyakinkan Ele dengan tatapannya.
Ele benar-benar gugup dengan situasi ini. Alvin menatapnya begitu dalam. Iris matanya merekah di tambah sorot lampu mengarah ke mereka. Ele dapat melihat pantulan wajahnya di mata Alvin. Akhirnya Ele memberanikan diri mengatakan yang ada di dalam hatinya.
"Aku hanya tidak mau dikasihani seperti ini, Alvin. Aku takut kau menyesal telah mencintaiku."
"Menyesal? kenapa aku harus menyesal?" Kejar Alvin.
"Aku hanya seorang pembunuh yang di benci semua orang, Alvin! apa kau sadar itu?" Ele menunduk, bahunya gemetar lagi. "Aku hanya takut disaat aku mencintaimu, kau pergi meninggalkanku. Kau tidak layak mencintaiku." Ele memalingkan wajahnya, kemudian menutup mulutnya dengan tangannya.
Alvin memegang ke dua bahu Ele. "Sekarang lihat aku!" Ucap Alvin dengan lembut. Ia menghela napas berat, mengejar mata Ele yang terus menunduk. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." ucapnya mencoba meyakinkan Ele. Sungguh ia mencintai Ele. Semua perasannya terhadap gadis sederhana ini, tidak pernah bohong.
Ele mengangkat wajahnya, menatap Alvin. "Kenapa kau bisa yakin itu. Aku tidak tahu siapa dirimu? Seperti apa kehidupanmu? Saat ini, Kau hanya seorang lelaki yang hilang ingatan. Apa kau bisa yakin hanya mencintaiku? Apa kau yakin masa lalumu tidak pernah berhubungan dengan wanita?"
__ADS_1
Saat itu juga Alvin melepaskan tangannya dari bahu Ele. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap Ele dengan tatapan penuh arti. "Aku bisa memegang janjiku Ele. Jika semua yang kau katakan itu benar, aku tidak ingin kembali ke masa laluku. Sekarang aku fokus pada kehidupanku sekarang."
"Bagaimana dengan statusku? Iya, saat ini kau bisa menerimaku. Bagaimana dengan keluargamu? Apa kau bisa yakin tidak akan kembali kepada keluargamu?" Tanya Ele lagi.
Alvin mengusap wajahnya dengan kasar, ia begitu frustasi dengan semua pertanyaan yang diberikan kepadanya. Bagaimana Ele bisa tidak yakin dengan dirinya, sementara mereka sudah hidup satu rumah beberapa bulan terakhir ini. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan kemudian berbicara.
"Soal status, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Masalah keluargaku, aku bisa mengurusnya sendiri. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku bisa memegang janjiku. Percayalah! Aku mencintaimu Ele, aku bahagia saat bersamamu dan aku bahagia dengan kehidupanku saat ini."
Heeeeeee... Ele membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Dia juga tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.
"Baiklah, aku pegang janjimu." ujar Ele bangun dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Alvin lebih dulu.
Sementara Alvin masih berusaha mencerna perkataan Ele. Ia berlari mengejar Ele. Dia yakin wanita itu telah menerimanya. Tanpa memandang Ele, Alvin menelusupkan tangannya ke samping meraih tangan Ele. Menggenggamnya dengan erat.
Ele tersenyum samar, ia membiarkan tangannya digenggam oleh Alvin. Mereka berjalan beriringan dan sejajar. Orang-orang sudah mulai bubar dari acara pertunjukan Festival Desa. Angin malam berhembus membelai wajah dan rambut Ele yang menjuntai indah.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Mereka melangkah menuju mobil pickup yang terparkir jauh dari panggung festival. Ia tersenyum saat mengingat Alvin bernyanyi memberikan kejutan untuknya. Kesedihannya hilang terbawa angin malam. Ia berharap Alvin benar-benar bisa mengisi hatinya yang kosong.
Dengan cepat Alvin membuka pintu mobil untuk Ele. Ele terbelalak saat melihat hal itu.
"Silakan masuk putri cantik." Alvin mempersilakan Ele masuk.
Wajah Ele bersemu merah saat mendengar kalimat itu. Ele dengan cepat menoleh ke kiri dan ke kanan. Takut jika ada yang melihat tindakan Alvin. Sungguh ini benar-benar memalukan.
"Apa kata orang? baru juga mobil butut seperti ini. Astaga...." Wajah Ele mengerucut di sana.
Ele mengembalikan pikirannya, "Oh, I-iya." Jawabnya gugup dan terbata. Ia pun masuk ke dalam mobil.
BRUKKK!
Alvin menutup pintu mobilnya. Ia tersenyum sambil melihat Alvin mengitari mobil bagian depan untuk sampai ke sisi kemudi. Mata Ele mengikuti sosok itu sambil tersenyum, lalu Alvin pun duduk di sampingnya.
"Aku sudah bilang, akan memperlakukanmu dengan baik, Ele." Kata Alvin menghidupkan mesin mobilnya.
Ele lagi-lagi dibuat tersipu. Ia melempar pandangannya ke samping sambil menjepit bibirnya. Kupu-kupu bermacam-macam spesies langsung berterbangan dari hatinya. Hari ini bisa dikatakan ia sangat bahagia. Bagaimana perasaan yang dirasakannya selama ini, ternyata itu adalah cinta. Ele kembali menegakkan badannya untuk mengatur posisi duduknya. Pandangannya menghadap ke depan.
"Sekarang kita pulang," Ucap Alvin mulai menyetir. Ia merasa bersalah saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Amira pasti sudah menunggu, jangan-jangan ia sudah tertidur.
Dalam perjalanan tenang, Alvin melarikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ditemani dengan alunan musik country yang dinyanyikan Luke Combs yang berjudul She Got the Best of Me. Sesuai dengan perasaannya saat ini.Β Ia tersenyum dan terus menatap Ele dengan sayang.
Mereka menyusuri jalanan yang benar-benar menenangkan. Jalanan pegunungan yang sepi dengan pemandangan pepohonan hijau yang sejuk,membuat Ele menikmati suasana jalan yang mampu merilekskan pikiran. Setiap lampu memerangi jalan yang mereka lalui. Ele sesekali menatap keluar jendela dan Alvin tersenyum melihat ke arah Ele.
Tak beberapa lama, mereka pun tiba di rumah sederhana yang sudah lima tahun ditempatinya itu. Lagi-lagi Alvin sudah lebih dulu keluar dan membukakan pintu untuk Ele.
"Terima kasih, Alvin."
"Tidak perlu berterima kasih Ele, sekarang kau adalah kekasihku. Aku akan memulai dari hal kecil untuk membuatmu bahagia."
Ele tersenyum lembut seraya menganggukkan kepalanya. Mereka pun melangkah menuju pintu rumah.
__ADS_1
CEKLEK!
Tepat saat pintu terbuka. Ele mengangkat wajahnya.
"SELAMAT ULANG TAHUN, ELE SAYANG!" Ucap mereka bersamaan.
Hamburan pita dari konfeti yang berwarna warni mengkilap memeriahkan tempat itu dibarengi dengan sorak-sorai dari teman-teman Amira yang ikut meramaikan acara ulang tahun Ele.
Karena kejutan itu berhasil membuat Ele tercengang, Ia terkejut dan sangat terkejut. Mulutnya membulat sempurna dan ia tersenyum bahagia. Matanya berkaca-kaca penuh haru.
"Amira, bukankah kau..." Ele tak dapat melanjutkan kalimatnya.
Semuanya tertawa bahagia termaksud Alvin yang ikut merencanakan kejutan ini. Soal berantakan urusan nanti, yang penting bahagia dulu.
"Kau jahat, Amira!" Ele menahan haru, hampir saja ia ingin menangis. Ele tak bisa melukiskan perasannya saat ini.
Amira melangkah mendekat ke arah Ele. "Terserah jika kamu mau marah Ele. Aku tahu kau gak suka kejutan seperti ini. Apalagi untuk hal-hal seperti ini. Kau menganggapnya konyol." Amira terkekeh.
"Maafkan aku, Ele. Aku ingin di hari ulang tahunmu kali ini, kau bahagia memiliki sahabat seperti kami. Selamat ulang tahun Ele, aku bahagia memiliki sahabat sepertimu. Berbahagialah! Jangan pernah menangis lagi. Hhmmm." Amira memeluk Ele beberapa detik dan kemudian melepaskannya.
"Ini untukmu," Ucap Amira menyodorkan hadiah yang dibungkusnya dalam kotak.
Wajah Ele mengerucut menahan tangisannya, Ia mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah boneka lucu dan tentunya bukan hanya itu saja. Boneka itu bisa bicara.
"Ini bagus sekali, Amira. Terima kasih." Ele langsung memeluk Amira lagi.
"Sekarang, giliranku!" Ucap Alvin membawa kotak persegi panjang pipih.
"Ini untukku?"
"Hmm. Bukalah!" Kata Alvin tersenyum.
Ele pun membuka kotak persegi panjang pipih itu. Isinya kalung liontin yang berbentuk hati. Jelas sekali kalung itu sepasang, satu untuk pria dan satunya untuk wanita.
Amira pun mengerti itu, ia langsung heboh dan meminta Alvin memakaikan langsung kepada Ele. "Cie...cie...yang sudah jadian. Ayo Alvin, tunggu apa lagi!" Cicit yang diikuti suara tawa dari teman-teman Amira lainnya. Semua pada heboh, melebihi pasar obral.
Wajah Ele merona merah, ia menarik napas gugup. Sementara Alvin menatap Ele begitu dalam dan penuh cinta. "Biarkan aku yang memasangnya." Kata Alvin.
Ele mengangguk dan memberikan kalung itu untuk dipasangkan ke lehernya. Kalung sepasang yang berbentuk hati sudah dipasangkan ke Ele, satunya juga sudah dipasang Ele ke leher Alvin.
Ele tersenyum bahagia. Ternyata benar, di balik semua yang terjadi. Ada rencana Tuhan lebih indah yang sudah di sediakan Tuhan untuknya. Semoga kebahagiaan ini, tidak hanya untuk hari ini saja. Melainkan besok, lusa dan bahkan sampai seterusnya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1