LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
KE KOTA LAGI?


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Kau mengetahui dengan sadar bahwa di langit sana masih luas. Perjalanan hidup kita masih panjang. Aku hanya ingin melaluinya bersama kamu....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Pagi hari, bahkan matahari belum beranjak dari peraduannya. Ele sudah bersiap-siap dengan penampilannya. Hari ini Ele akan membawa Alvin kembali menikmati suasana kota.


"Kita mau kemana Ele?"


Ele tersenyum membawa kotak makanan untuk mereka makan di jalan. "Kita mau ke pantai. Aku ingin menikmati senja sore bersamamu."


"Kenapa tiba-tiba? Apa karena itu, kamu mempersiapkan ini semua?" Alvin menatap ke arah kotak makanan yang dipegang Ele.


Ele mengangguk antusias sambil mengangkat wadah makanan yang ada di tangannya. "Iya. Ini semua makanan kesukaanmu." Ele tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya ke arah Alvin. Hidungnya agak mengerut sesaat. Senyumnya terlihat menyeringai dan bersemangat.


Ele melangkahkan kakinya keluar dari rumah lebih dulu. Sementara mengedipkan matanya dengan cepat, menyadari Ele sudah lewat mendahuluinya. Alvin segera mengikutinya dan menutup pintu. Alvin masih tampak bingung dengan perubahan sikap Ele. Sedikit banyaknya Alvin tahu tentang Ele.


"Apa dia ada masalah? apa semua ini ada hubungannya dengan Harry?"


"Alvin, ayooo buka pintunya!"


Alvin mengerjap melepaskan lamunannya. Dengan tarikan napas panjang ia pun melangkah mendekat ke arah Ele dan segera membuka pintu untuk Ele. "Silakan masuk, sayang."


Ele hanya diam melihat ke arah Alvin.


Alvin mengerutkan dahi dan kembali berkata. "Ele, silakan masuk."


"Berikan kuncinya!"


"Heeeh????"


"Berikan kuncinya Alvin!" Ele menadahkan sebelah tangannya. "Biarkan aku menyetir yang untukmu."


Alvin masih tampak bingung, Ia diam tak menjawab.


"Astaga Alvin, berikan kuncinya!" ucap Ele lagi.


Huffft! Alvin menarik napas panjang dan menghembuskannya sekaligus. "Aku tak mengizinkanmu menyetir."


"Tidak masalah Alvin, berikan saja kuncinya."


"Tidak boleh." ucap Alvin tegas.


"Aku sudah terbiasa menyetir sendiri. Nanti, kita bisa gantian menyetir." Kata Ele meyakinkan Alvin.


Lagi-lagi Alvin mengembuskan napas panjangnya. Namun kali ini diikuti putaran bola matanya karena melihat tingkah Ele. Tanpa pikir panjang Alvin meraih pergelangan tangan Ele, ia mengarahkan Ele untuk masuk masuk ke dalam mobil dan duduk.


Bruk! Alvin menutup pintu mobil di sisi Ele. Seketika Ele mengerjap. Alvin memutar tubuhnya dan duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


"Alvin biar aku yang menyetirnya...." Ele tak juga menyerah.


Alvin tak memberikan ekspresi. Ia mendekat ke arah Ele. Alvin menatap tajam sambil meraih sabuk pengaman di sisi Ele.


"Jangan pernah berpikir untuk menyetir untukku Ele. Aku yang seharusnya melakukan itu. Kau mengerti?"


Deg!


Ele terdiam tidak dapat menjawab. Tatapan Alvin menusuk sampai ke batinnya.


"Apalagi berpikir untuk berpisah dariku." Ucap Alvin tak melepaskan tatapannya sama sekali.


Klik! Sabuk pengaman milik Ele terpasang. Perlahan Alvin mundur dan membebaskan Ele dari kuncian tatapannya. Ele melirik Alvin beberapa kali, wajah Alvin tetap datar memandang ke depan sambil memasang set beltnya.


Alvin pun mulai menginjak pedal gas. Membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana pagi masih begitu sepi. Angin diam, seperti tertahan. Bulir-bulir embun yang jatuh dari langit pun beku di atas daun-daun yang berjatuhan menguning kering. Alvin menatap lurus, memandang ke arah jalan. Sebagaimana pagi-pagi biasanya, terlihat adanya lalu-lalang para manusia menjalani takdir kehidupan. Sebagian dari mereka mengejar rejeki untuk memenuhi kehidupan mereka.


Ele menatap Alvin. "Maafkan aku, Alvin." ucap Ele dalam hati sambil meremas tangannya sendiri.


"Kenapa menatapku seperti itu sayang? Ada yang ingin kau tanyakan?"


Ele memalingkan wajahnya ke depan lalu menunduk. "Tidak ada, Alvin."


"Kau tidak merencanakan sesuatu, kan?"


Glek! Ele menelan salivanya. "Aa-apa maksudmu? Aku ingin ke pantai. Tidak ada yang salahkan?"


"Hee!" Alvin hanya membuang napasnya dan tak menjawab Ele. Ia hanya menginjak pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya. Mereka hanya diam menikmati suasana perjalanan yang tenang.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Mereka sampai di rumah yang di desaign indah langsung menghadap ke pantai. Tempatnya nyaman dan tenang. Ele duduk merentangkan tangan dan menikmati setiap angin yang berhembus, menatap indahnya senja di sore hari.


Tempat ini seolah di desain sedemikian rupa mengisyaratkan untuk mereka agar tak beranjak dari tempat ini. Tak perlu berucap, tak perlu kau sentuh tapi isyarat ini diterima oleh alam. Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Alvin merasa cukup bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini. Alvin tidak menginginkan apa-apa. Ia berharap bisa bersama dengan Ele selamanya dan bisa membahagiakan wanita yang dicintainya itu.


β€œEle, apa kau lihat apa yang ada dibalik awan-awan itu?” sahut Alvin dengan sedikit membalikkan badannya untuk menatap Ele yang ada di sampingnya.


Ele mengetuk dagunya sambil membuat gestur berpikir. Alvin menunggu Ele berucap beberapa patah kata.


β€œApa iya? Awan itu sama, putih, hanya seperti coretan dan tampak sama seperti hidupku.”


β€œTidak! Coba kau lihat lagi. Apa aku pinjamkan mataku saja kepadamu.” Sahut Alvin sembari mendekatkan jari tangannya ke Ele seolah jari tangannya membentuk bulat.


Alvin tersenyum dan melanjutkan penjelasannya. β€œKau bisa melihatnya? Bukankah indah? kau tidak perlu sedih melihat masa lalumu. Kau mengetahui dengan sadar bahwa di langit sana masih luas. Perjalanan hidup kita masih panjang. Aku hanya ingin melaluinya bersama kamu. Jangan pernah berpikir untuk berpisah dariku Ele.” Sahut Alvin kemudian.


Ele hanya membisu. Tak sepatah kata pun terlontar dari bibir mungilnya. Alvin mengamatinya dengan perlahan. Kemudian mengambil tangan Ele dan menciumnya. β€œJangan kau tanggung semuanya sendiri. Berbagilah denganku. Segigih apapun kau tutup semua, aku dapat melihatnya di sini.” Sembari menunjuk ke hatinya.


Ele terdiam, matanya berkaca-kaca. Hatinya kembali sesak. "Apakah Alvin tahu rencananya?" Tak ada percakapan lagi di antara mereka.


Setelah lama terdiam, Alvin kembali membuka suara. "Kau tidak pernah cerita kepadaku, Harry datang lagi menemuimu. Apa Harry masih mengancammu Ele?"


Ele tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa Alvin, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya."


"Benarkah?" tanya Alvin dengan wajah was-was.


"Hhhmmm. Aku mengenal Harry, dia tidak akan berani membunuhku."


Alvin menghela napas panjang. Ia menatap Ele begitu dalam. "Aku juga berharap begitu." ucap Alvin tersenyum. Walau hatinya tak bisa berbohong. Perasannya benar-benar tidak enak. Ele berubah dua hari terakhir ini. Tapi Alvin mencoba menepisnya. Mereka sudah berjanji, akan tetap menjaga cinta ini.

__ADS_1


"Dari pada memikirkan masalah hidup, sekarang ikut aku!" Ele bangun dari duduknya.


"Heuh? kita mau kemana lagi, Ele?" Alvin ikut tegap mengikuti Ele.


"Ikut saja, kita akan bersenang-senang." Kata Ele menarik tangan Alvin.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


"Kita ke sini?" Alvin mengerutkan keningnya, menatap mall terbesar yang ada di depannya.


Ele tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Buat apa Ele, mau belanja lagi?" tanya Alvin menyatukan kedua alisnya sambil menatap ke arah Ele.


"Aku mau ke area permainan Timezone Alvin."


"Heuh?" Alvin lagi-lagi mengernyit heran. "Kau serius? Timezone itu untuk anak-anak,"


Ele terkekeh saat melihat ekspresi wajah Alvin. "Ia sayang, aku serius. Sekarang kita masuk. Kita akan bersenang-senang." kata Ele tersenyum merangkul tangan Alvin.


Alvin menggeleng, ia tak bisa berbuat apa selain menuruti kata-kata Ele.


"Kita main itu ya Alvin," pekik Ele heboh saat sudah berada di atas tempat permainan. Ia menarik tangan Alvin.


"Ele, kamu serius mau bermain ke sini?" Tanya Alvin lagi.


"Aku isi kartunya dulu ya," kata Ele memilih tak menjawab Alvin. Sepertinya Ia sudah tidak sabar untuk mencoba permainan yang ada di sini.


"Hmm, Aku menunggu di sini." Ucap Alvin menatap punggung Ele.


Ele sudah berada di antrian kasir untuk mengisi saldo kartunya. Setelah mengisi saldo kartunya, Ele menghampiri Alvin kembali.


"Kau mau main yang mana?" tanya Ele lembut.


"Terserah kamu saja." Jawab Alvin dengan pasrah. Demi Ele, ia terpaksa mengikuti permainan konyol itu.


"Kita main itu yuk," tunjuk Ele.


Alvin mengikuti arah telunjuk Ele. Lagi-lagi tingkah Ele membuat Alvin tak habis pikir. Itu jelas permainan untuk anak kecil usia di bawah sepuluh tahun. Komedi putar dengan segala bentuk hewan-hewan lucu yang naik turun dan berputar riang. Lagi-lagi Alvin hanya menurut saja saat tangannya di tarik ke sana. Ia menggeleng menahan tawa melihat tingkah kekasihnya itu. Setelah melakukan permainan itu, mereka berpindah ke area permainan bola ring.


"Siapa yang banyak memasukkan bola keranjang, jika aku yang menang, kau harus setuju dengan permintaanku. Apapun itu! dan begitu juga sebaliknya. Jika kamu yang menang. Kau bisa meminta apapun dariku. Bagaimana?"


Alvin mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu seraya berpikir. "Oke, mari kita mulai."


Mereka pun berdiri di depan ring. Mata mereka fokus menatap lurus ke arah ring. Sedikit memicing untuk beberapa saat. Ekspresi wajah tampak serius seperti petarung yang siap mengalahkan musuhnya.


"Satu....dua... tiga.......!!!!!"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2