LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
PERCAYA DAN TERUS BERDOA


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Biarlah rasa ini bersemayam dalam hati. Dan jika kau kembali lalu bertanya padaku lagi, rasa ini masih sama dan masih menunggumu kembali....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


DUA JAM SEBELUMNYA.


Alvin terbangun sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tangannya di tarik ke atas. Melewati kepala dan menyelusup di sela-sela bantal sambil dikencangkan ke atas. Tidurnya sangat lelap karena hari ini benar-benar melelahkan. Alvin menyipitkan mata dan melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Hmm, jam sembilan malam?" Mata Alvin membelalak. Lumayan lama ia tertidur. Alvin menyentuh perutnya dan menyadari ia belum makan malam. "Pantas saja perutku lapar." Ia meringis sambil menarik napas panjang.


"Dimana Marvel? Apa dia sudah tidur?" Gumam Alvin sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Biarkan saja dia, banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya."


Alvin kembali merenggangkan otot-ototnya. Tubuhnya masih malas, Ia segera bangun dari tidurnya dan melangkah ke arah lemari pendingin yang ada di kamar hotel. Air mineral diteguknya tanpa sisa. Alvin mengembuskan napas sambil meletakkan kembali botol kosong itu.


Setelah ia memesan layanan kamar. Alvin langsung menuju kamar mandi mewah di kamar hotelnya. Ia menyalahkan shower. Setelah 20 menit berlalu dia keluar dari kamar mandi. Alvin keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Wajahnya sudah terlihat segar. Tetesan air di ujung-ujung rambutnya masih terjatuh. Otot-ototnya yang bidang terlihat menonjol dan sedikit basah. Sepertinya air nakal dari rambutnya belum ingin lepas dan mengalir dari pelipis hingga ke dada. Alvin menggunakan pakaian yang telah disiapkan Marvel.


Sembari menunggu pesanannya, Alvin membuka tabletnya. Ada sesuatu pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tiba-tiba terdengar bunyi sapaan dari staff hotel yang membunyikan bel pintu dengan lonceng tradisional sebagai penanda pesanan makan malam sudah sampai. Alvin melangkah membuka pintu.


"Permisi tuan, saya membawa pesanan anda." Pria berpakaian rapi itu tersenyum ramah kepada Alvin.


"Silakan!" Tangan Alvin mengulur memberikan jalan kepada lelaki itu.


Pelayan itu mendorong trolly makanan. Pelayan segera mengatur makanan tersebut di atas meja khusus yang terletak di kamar hotel itu. Warna-warni kontras terlihat di sana dan lengkap dengan kue ulang tahun juga.


"Selamat menikmati, tuan."


"Terima kasih," Alvin tersenyum dengan posisi tangan ia masukkan ke dalam kantong celananya.


"Jika anda memerlukan sesuatu, anda tinggal menghubungi kami."


"Hmm."


Setelah selesai petugas hotel pun langsung pamit undur diri. Alvin menatap makanan yang sudah tersaji di atas meja. Ia menarik napas panjang sambil mengambil kue ulang tahun yang ia pesan. Tak lupa Alvin menaruh lilin kecil di atasnya. Alvin menarik napasnya yang terasa berat. Matanya berkaca-kaca. Tapi dengan cepat Alvin memasukkan kembali air bening itu. Ia tidak mau menangis di hari ulang tahun Ele. Alvin melepaskan senyumannya dan mulai bicara.


"Selamat ulang tahun sayangku, Eleku." Saat mengatakan sayang, Alvin tersenyum sendu. Ia menghela napas singkat dan kembali melanjutkan kalimatnya.


"Di hari ulang tahunmu tak ada suara merdu, menyanyikan happy birthday untukmu. Tak ada nyala lilin keramaian, tak ada riuh renyah orang, sahabat yang mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Tidak ada simpul kasih yang membuat dirimu merasa ada. Tapi, di sini aku tetap ingat hari bahagiamu. Biarlah di hari bahagiamu aku merayakan dalam kesunyian. Dirayakan hanyalah seorang diri di sini." Lagi-lagi Alvin menarik napas dengan mulut terbuka. Sejenak ia diam, agar bisa melanjutkan kalimatnya dengan baik. Alvin tersenyum,


"Ele, apa aku bisa jujur?" Alvin berkata lirih dan menjeda kalimatnya lagi. Ia menatap kue yang ada di tangannya.


"Jujur, tiga bulan terakhir tak terhitung berapa kali aku merasakan betapa hampanya hidupku." Alvin mengembuskan napasnya. "Huh, bodohnya dari sekian banyak kehampaan yang aku alami, hanya dua puluh persen dari keseluruhan aku tahu alasannya. Bagian besar dari kehampaan yang kujalani sehari-hari tujuh puluh persennya tanpa aku ketahui alasan pastinya. Aku merasa seperti seorang pria pecundang yang berjuang seorang diri untuk menahan rindu ini." Alvin tertawa kecil sambil mengalihkan pandangannya.


"Kepedihan yang luar biasa, Ele. Aku seperti lelaki bodoh. Mengapa tidak? Aku tak pernah berhasil menemukanmu. Kau tahu, untuk pertama kalinya aku membenci hujan. Pertama kali dalam hidupku, aku tidak suka keramaian. Hati ini terasa hampa, terluka." Alvin tersenyum di ujung kalimatnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam.

__ADS_1


"Tapi kali ini aku percaya, jika Tuhan berkehendak, suatu saat kita akan bertemu kembali. Sekali lagi aku ucapkan selamat ulang tahun untukmu Ele. Aku tetap mencintaimu. Sampai detik ini, aku selalu mencintaimu." Alvin mengakhiri kalimatnya sambil meniup lilin yang ada di depannya.


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Setelah melakukan perayaan kecil di hari ulang tahun Ele, Alvin melangkah mengambil tablet yang ia letakkan di atas nakas. Ada pekerjaan yang harus di noted. Takutnya ia lupa. Layarnya masih menyala, menunjukkan gambar grafik dan angka. Alvin benar-benar serius menangani project ini.


Alvin kembali duduk di kursi untuk makan. Ia pun mulai menikmati makanannya sambil membuka halaman-halaman yang dikerjakannya. Alvin nampak serius melakukan swipe, marking dan scroll pada tabletnya. Ia kembali menyuapkan makanan ke mulut sambil terus menatap layar tablet. Ia bahkan bekerja sambil makan.


Alvin tiba-tiba menghentikan kunyahannya. "Bukankah Raymond ingin minum bersamaku?" Alvin teringat saat pertemuan mereka di lobby. Raymond berjanji setelah makan malam bersama temannya, ia akan datang menemuinya.


Alvin meletakkan tablet ke atas meja dan mengambil handphonenya untuk menghubungi Raymond. Bibirnya mengulas satu kali senyuman saat menekan tanda panggil.


Dddrrrttt... Dddrrrttt...


Terdengar suara getaran dari handphone Raymond. "Alvin?" Ia berbicara tanpa bersuara. Raymond tersenyum saat melihat panggilan itu ternyata dari sahabatnya. "Aku angkat dulu, ya?" ucap Raymond berbisik kepada Ele.


Ia segera melangkah panjang untuk menghindari kebisingan saat Raymond mengangkat panggilan dari Alvin.


"Hai, dude!"


"Dimana?" tanya Alvin sambil mengunyah makanannya.


"Aku lagi di karaoke."


Dahi Alvin mengerut. "Di karaoke? Apa kamu sedang bersama wanita malam?"


"Haaaaa." Raymond tertawa renyah. "Aku bersama wanita yang aku taksir. Wanita yang sering aku ceritakan, Alvin."


"Cih..." Alvin berdecak, sudut bibirnya melengkung ke atas. "Bukankah kau berjanji untuk minum denganku?"


"Heuh? tidak bisa? kenapa?" Tanya Alvin menatap sekilas handphonenya.


"Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Aku ingin mengatakan perasaanku."


"Kau curang." Alvin mend*sah diujung kalimatnya.


"Maaf dude, bukannya aku tidak mau, tapi untuk kali ini, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini lagi."


"Bukankah kau mengatakan dia sudah punya kekasih?"


"Ya. Dia pernah mengatakan itu. Tapi sepertinya dia membohongiku, Alvin."


"Maksudmu?"


"Sampai sekarang, aku tidak pernah melihatnya jalan dengan pria."


"Hah? Apa jangan-jangan dia lesbi?" tebak Alvin.


"Hahahaha," Raymond tertawa awkward. Dia geli sendiri mendengar perkataan Alvin. Bagaimana mungkin Ele seorang lesbi. Raymond menggeleng cepat. " Tidak mungkin dude, dia wanita normal."


"Kamu sendiri yang katakan, dia tidak pernah jalan dengan pria."


"Tapi bukan berarti dia lesbi, Alvin?"


"Jadi bagaimana, kamu datang atau tidak? aku sudah memesan wine terbaik untuk kita."

__ADS_1


"Maaf dude, aku tidak bisa."


"Baiklah, kamu punya utang janji untukku."


"Kamu memang teman terbaik."


"Aku memaafkanmu, karena kau temanku."


Raymond mengerti maksud Alvin. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dude. Andai saja aku tahu tujuan Arlo ingin menghancurkan sahabatku. Dari awal aku sudah keluar dari komplotan itu."


"Aku tidak mau membahas itu lagi." Potong Alvin cepat.


"Sorry... sorry dude. Aku mengerti."


"Oke, semoga berhasil. Jangan lupa perkenalkan kepadaku."


"Siap dilaksanakan."


Alvin tersenyum dan mengakhiri panggilannya. Ia tidak berselera lagi. Alvin menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya pelan. Ia menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir dalam hatinya. Rasanya sangat menyesakkan untuk sekarang. Tiba-tiba Alvin merasa hampa. Lagi, ia melepaskan napas panjang dan memandang Wine yang ada di atas meja.


"Sepertinya kau adalah teman terbaik untuk saat ini." Alvin tertawa miris diujung kalimat.


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Malam mulai meranggas, desa Mulia terasa hening. Alvin melangkah ke arah balkon kamar hotel. Dari lantai lima, matanya menatap lurus ke arah rumah model desain yang bahannya dari kayu. Kayu yang natural membuat tampilan rumah terkesan unik. Belum lagi, pilihan kayu tertentu dengan corak yang bervariasi bisa membuat tampilan rumah terasa berkarakter. Kayu itu diukir sesuka hati sesuai dengan kreativitas bisa menjadi dekorasi yang menarik.


Beberapa orang masih saja terlihat melintas, walau jam mulai menapaki di angka pukul 23.00 malam. Suara gorden jendela terkibas tertiup angin. Udara dingin menusuk tubuhnya. Alvin kembali mengendarakan pandangannya. Matanya memicing, menatap ke arah wanita yang sepertinya sedang bersedih, wanita itu menatap ke atas langit.


"Apakah dia sedang menghitung bintang di atas langit?" Alvin terkekeh.


Namun, saat wanita itu berbalik, tiba-tiba senyum Alvin hilang. Ekspresi wajahnya berubah. Matanya membelalak. Napasnya berhembus tidak stabil. Suara bahkan napasnya tertahan di dada.


"Ele?"


Alvin menghembuskan napas terbata-bata. Tidak beraturan dari mulutnya. Ia terdiam sesaat. Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan. Alvin mengucak matanya. Seakan memastikan bahwa yang di depannya bukanlah khayalan. Sosok itu benar-benar Ele. Ele yang selama ini dirindukannya.


Jantungnya berdetak kencang di dalam rongga dadanya. Tanpa berpikir panjang Alvin langsung berlari dari kamarnya. Sampai ia tidak sadar, Alvin tidak menggunakan alas kaki.


"Ele, aku mohon tetaplah di sana." Suara Alvin tercekat di leher.


Di mulutnya hanya terus terucap. "Ele..jangan pergi. Aku mohon tetaplah di sana. Aku mohon!"


Alvin terus berlari sekuat tenaga menyusuri koridor hotel agar langsung sampai ke lantai bawah. Mata Alvin berkaca-kaca, napasnya sesak, pendek-pendek dan terengah.


"Kenapa lama sekali, cepatlah... cepatlah! " Lift belum terbuka, Alvin mengepalkan tangannya dengan gelisah. Jantungnya terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul dan,


TING!


BERSAMBUNG.....


^_^


๐Ÿ”ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜


๐Ÿ”ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2