LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
KAU?????


__ADS_3

💌 LOVE OF FATE 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


...Aku titipkan rasa pada asa. Saat malam dalam hampa. Pada akhirnya, waktulah yang menyapa tentang rasa yang aku punya. Sebuah rasa yang aku sebut itu luka....


🔸🔸🔸🔸🔸


Satu persatu semua orang beranjak meninggalkan cafe. Kecuali seorang pria yang duduk di kursi yang memang sengaja dibuat pemilik cafe di sana. Di malam hari, jalanan sudah terlihat tumpukan salju dan berjatuhan tepat di kaca cafe. Hanya berselang 3 detik salju itu akan terjatuh karena kuatnya hembusan angin di luar.


Kedua pelayan cafe termaksud itu Ele sedang berberes di dalam. Mereka sudah menggantungkan tanda close di kaca tepat di depan pintu.


"Jane, aku penasaran siapa lelaki yang duduk di sana. Apa bapak tua itu tidak kedinginan?" Tanya Ele.


"Dia seorang pelanggan setia,"


"Pelanggan setia? Tapi kenapa bapak itu tidak pernah duduk di dalam?"


"Bos memang melarangnya duduk di dalam, kecuali di kursi luar."


"Kenapa seperti itu? Bukankah dia pelanggan setia?"


Jane menghela napas panjang. "Pria itu pemabuk, Ele. Dia bisa melakukan apa saja jika sudah mabuk. Kursi bisa terbalik dan parahnya, dia bisa naik ke atas meja sambil membuka bajunya."


"Apakah karena itu bos meminta kita mengawasinya?"


"Hmm. Pria tua itu bisa saja pergi tanpa membayar."


"Apa dia tidak memiliki keluarga?"


“Saya kurang tahu. Tapi satu bulan yang lalu ia pernah mencoba bunuh diri,”


“Heuh? bunuh diri?" Ele tak bisa menutupi rasa terkejutnya. “Kenapa?” tanyanya lagi. Rasa ingin tahunya tiba-tiba mencuat.


“Katanya dia putus asa.”


“Soal apa?”


“Entahlah, kurasa masalah kecil.”


Ele menatap ke arah luar, mengamati pria tua itu. “Kau tahu dari mana kalau dia tidak punya masalah besar dalam hidupnya yang membuatnya ingin bunuh diri?”


“Kan uangnya banyak.” ucap Jane enteng.


Ele menarik napas dan memilih duduk di dekat kaca yang langsung menghadap ke arah luar. Ia bisa melihat jelas pria tua itu. Jane ikut duduk di sana. Semua meja telah kosong, kecuali meja di mana si pria tua sedang duduk. Udara dingin dan turunnya salju tak mengurungkan niat pria tua itu untuk beranjak pergi.


Seorang lelaki yang sedang patroli melintas di jalan. Cahaya lampu jalan bersinar terang dan membuat rantai kuningan yang tersemat di kerah seragam polisi itu terbias mengkilap.


“Petugas keamanan akan menahannya,” kata Jane kemudian.


Ele melemparkan tatapannya ke arah jalanan. “Dia lebih baik meninggalkan tempat ini. Jangan sampai petugas keamanan menahannya. Mereka baru saja lewat lima menit yang lalu.” ucap Ele khawatir.


Si pria tua yang tengah duduk di sana mengetuk-ngetuk piringnya dan sengaja membuat kegaduhan. Jane langsung keluar dan Ele mengikutinya. Ia pun segera menghampiri.


“Apa yang anda inginkan, pak?”

__ADS_1


Si pria tua menatap ke arah Jane. “Segelas brandy lagi.”


“Nanti anda mabuk,” kata Jane menatap malas. Si pria tua tak berkedip menatap lawan bicaranya. Hingga Ele berinisiatif mengambilkan pesanan pria itu.


Jane langsung menarik tangan Ele. "Kau mau kemana?"


"Mengambilkan pesanan bapak ini?"


"Kamu gila? dia akan duduk di sana sepanjang malam, kamu mau menemaninya?” Mata Jane melotot. “Tiga puluh menit lagi kita akan tutup. Sekarang saja aku sudah mengantuk. Aku tidak mau melayani pria tua itu."


"Heeekkk ..." Ele menahan napas dan terdiam.


"Daerah ini bukan seperti kampung halamanmu. Mau jam berapa, masih tetap aman. Tapi tidak di sini. Kau mau diganggu pria iseng tengah malam hanya karena mengurusi pria tua itu?"


"Tapi Jane?"


"Oke, ini terakhir kali dan habis itu kita tutup." Kata Jane tegas.


Ia melangkah mengambilkan sebotol brandy dan piring kecil dari atas konter di dalam cafe sebelum berjalan menghampiri meja si pria tua di teras. Kemudian, dia menuang isi botol ke dalam gelas kosong dan meletakkan piring kecil ke atas meja.


“Seharusnya anda mengakhiri hidupmu saja,” kata Jane kesal.


Si pria tua justru menunjuk ke arah gelas dengan jarinya. “Sedikit lagi,” katanya.


"Astaga...aku bisa gila." Jane berdecak sambil kembali menuang isi botol brandy ke dalam gelas, tapi kali ini hingga cairan beralkohol itu tumpah dan membasahi batang gelas serta tatakan piring kecil di bawahnya.


“Terima kasih,” ujar si pria itu. Jane melangkah masuk ke dalam cafe dan melewati tubuh Ele yang diam terpaku di sana. Ada rasa kasihan saat melihat wajah pria tua itu memelas. Setidaknya keluarga memperdulikannya. Ele dengan cepat menarik napasnya yang terasa berat. Sebelum Jane kesal, ia pun masuk dan membersihkan cafe itu.


Tiba-tiba suara handphone milik Jane berdering. Ele kembali melakukan tugasnya dengan menyusun kursi-kursi sambil membersihkan meja.


"Ele," Panggil Jane dari arah dapur. Ia sepertinya tergesa-gesa dan wajahnya terlihat panik.


"Aku duluan ya. Aku mendapat telepon, ibuku dilarikan ke rumah sakit." Jane memasukkan handphonenya ke dalam tas dan melangkah mendekat ke Ele.


"Pergilah, tunggu apa lagi?"


"Maaf Ele, aku tidak bisa membantumu."


"Gak apa-apa, aku bisa menyelesaikannya."


"Terima kasih Ele." Kata Jane tersenyum.


"Hati-hati, Jane."


"Hmm." Jane melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Ele seorang diri di sana.


Ele menarik napas panjang sambil menatap keluar. Dahi Ele mengernyit saat melihat pria tua itu sudah tidak ada di sana.


Sontak Ia menghentikan kegiatannya dan menengok ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari pria itu. Namun, sudah tidak ada orang di sana, kecuali Ele sendiri.


"Heuh, kemana dia?" Matanya bahkan menyusuri setiap sudut jalan. Tidak ada siapa-siapa.


"Apa pria itu sudah di jemput keluarganya?" Batin Ele.


Beberapa detik kemudian, Ele mengembalikan pikirannya. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain.


Satu jam setelah Jane pergi dan meninggalkannya sendirian, Ia mulai merasa suhu ruangan semakin dingin.


"Tidak mungkin suhu ruangan ini dingin, bukankah ruangan ini menggunakan penghangat?" Ele tak perduli, ia melanjutkan tugasnya.

__ADS_1


Di tengah kebingungannya, entah kenapa, secara otomatis ia memandang ke arah kaca dimana pria tua itu sedang duduk. Terlihat tidak ada orang. Ele termenung beberapa saat. Mencoba mengacuhkan semuanya dan berusaha untuk fokus kembali menyelesaikan tugasnya. Namun, pikirannya sudah meracau kemana-mana.


"Ah.... Aku harus fokus..." Ucap Ele dengan cepat membersihkan semua ruangan itu.


Setelah selesai membersihkan, Ele mengambil tas ranselnya. Kemudian mematikan lampu dan penghangat ruangan. Ele langsung keluar dan mengunci pintu.


Hawa dingin diluar mulai menyerang. Ele mendongak ke atas, melihat salju jatuh bebas dari atas langit. Ele menggesek-gesek kedua telapak tangannya, berusaha menimbulkan rasa hangat. Coat yang dikenakannya tak cukup untuk menghangatkan tubuhnya.


🔸🔸🔸🔸🔸


Ele berhenti sejenak, kedua tangannya ia masukkan ke dalam Coat warna coklat yang di kenakannya. Ia tertunduk sambil menatap kedua kakinya. Tatapan hampa, sepi dan tidak karuan. Ia menarik napas dalam-dalam sampai bahunya pun ikut terangkat.


Lagi-lagi ia tidak bisa menepis rasa rindunya kepada Alvin. Apalagi ia benar-benar sendiri di sini. "Aku rindu semua tentangmu, Alvin." ucap Ele dengan tarikan panjang. Ia mendongak ke atas membiarkan salju mengenai wajahnya.


Cinta ini tidak hanya membuatnya merindukan Alvin. Tapi ia juga merindukan setiap momen yang telah di lewati bersama. Sayangnya, semua itu sudah menjadi lembaran memori yang ada di masa lalu. Kadang Ia berpikir, apakah perpisahan mereka hanya bersifat sementara? Atau mungkinkah perasaan ini menandakan bahwa mereka memang seharusnya dipersatukan kembali?


"Kamu akan selamanya hidup di dalam hatiku. Kamu adalah orang yang paling istimewa bagiku, Alvin. Tapi kamu tidak lagi milikku. Maafkan aku terus memikirkanmu."


Saat mengatakan itu, satu tetesan air mata terjatuh di pipinya.


Ele berharap segera menemukan kebahagiaannya, seperti yang pernah Alvin ucapkan kepadanya dulu bahwa kebahagiaannya adalah kebahagiaan Alvin juga.


"Jadi, biarkan aku merindukanmu untuk saat ini. Aku janji hanya untuk hari ini saja!" Kata Ele tersenyum sambil membuat gerakan jari membentuk 'V'.


Ele benar-benar terlihat konyol hari ini. Ia melangkah dengan semangat. Namun saat memasuki gang kecil menuju apartemennya. Tiba-tiba tasnya di tarik oleh seseorang. Ele terkejut dan menyadari bahwa ia dijambret.


"Jambret.....!" Teriak Ele.


Sementara itu, Arlo sedang menyetir mobilnya dan meninggalkan Raymond menyelesaikan sisa pekerjaan dengan investor yang baru ditemuinya.


Saat rapat tadi, Arlo tak bisa konsentrasi. Ia terus memikirkan wanita si pembuat kopi pahit itu. Ia membawa mobilnya membelah jalan. Arlo memilih kembali ke hotel dan beristirahat. Hari ini benar-benar melelahkan.


Tiba-tiba pandangannya tertuju kepada seorang wanita yang sedang berteriak minta tolong. Arlo langsung memutar mobilnya dan mengejarnya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan pria itu. Dan berhasil, Arlo menginjak rem dengan terburu-buru. Ia langsung keluar saat preman itu berlari ke arah mobilnya. Sontak pria itu mendadak berhenti.


"Berikan tas wanita itu!" Ucap Arlo santai dengan tangan bersedekap.


"Siapa kau, berani beraninya....." ucap lelaki itu menggantungkan kalimatnya, ia mendekat ingin menghajar pria itu.


Namun dengan cepat Arlo memberikan beberapa pukulan hingga membuat pria itu tersungkur, ia tidak berani berkutik lagi. Tanpa membalas, pria kulit hitam itu langsung berlari dan meninggalkan tas itu.


"Belum apa-apa, sudah kabur." Arlo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Ia pun mengambil tas itu dan berniat mengembalikannya. Matanya memicing ke arah gadis yang sedang berlari ke arahnya. Dahi Arlo mengerut saat menyadari siapa wanita itu. Ia diam di posisinya, ketika wanita itu berhenti tepat di depannya.


"Taassku....tasssku...." Napas Ele tersengal. Ia membungkukkan badannya sambil memegang lutut. Ele mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat.


Arlo tersenyum, sudut bibirnya naik ke atas.


"Kembalikan tasku?" Ele menegakkan badannya kembali. Sepersekian detik, wajah Ele berubah. Ia tidak bisa menutupi rasa terkejutnya saat melihat siapa lelaki yang berdiri di depannya.


"KAU?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2