
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Semua orang pasti ada bagian yang tidak baik-baik saja, tetapi tidak selamanya hidup akan seperti itu....
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Oke, kita istirahat dulu, satu jam kemudian kita lanjutkan kembali." Tutur lelaki bertubuh gempal mengakhiri seminar untuk siang ini.
Para peserta lain keluar dari ruangan. Sementara Merissa dan Allura memilih tetap di dalam ruangan.
Allura membuang napasnya sekaligus. Ia memijit pelipisnya. Wajahnya terlihat frustasi. Ia lalu mengangkat wajahnya dengan mata terpejam. Lagi-lagi Allura tidak bisa konsentrasi mengikuti seminar. Padahal ini sudah hari ke tiga. Allura menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya.
Allura memang sengaja mengikuti seminar ini, menyibukkan diri untuk melupakan kegundahan hatinya. Allura butuh waktu sendiri, sekaligus menghindari Arlo yang semakin gencar mencarinya. Allura semakin takut, Arlo bahkan mengirimkan anak buahnya untuk berjaga di setiap sudut apartemennya. Dalam arti kata Arlo memang sengaja melakukannya. Ini benar-benar membuatnya gila. Ia bahkan sengaja tidak mengaktifkan nomor teleponnya. Karena Arlo pasti akan menghubunginya. Allura hanya menggunakan handphone yang khusus digunakan hanya untuk keperluan kantor saja.
Hidupnya benar-benar berantakan setelah Alvin menghilang. Allura tak tentu arah dan hari-harinya semakin berat tanpa Alvin. Rindu ini semakin membuatnya gila. Ia bahkan menangisinya dalam diam. Allura bahkan ingin sekali mendengar suaranya. Ia benar-benar tidak sanggup melewati ini semua. Allura benar-benar sendiri di sini.
"Aku bisa gila Alvin. Kemana kamu menghilang?"
Allura seperti wanita putus asa. Ia berharap Tuhan berbaik hati mengembalikan Alvinnya. Semoga ada jalan agar bisa bertemu dengan lelaki yang dicintainya itu.
Merissa dapat menangkap sikap perubahan dari Allura. Ia menopang dagu dan menatap ke arah mata Allura yang sejak tadi mengembuskan napas panjang.
"Hei, Lura! Dari awal seminar sampai ke detik ini, kau sama sekali tidak konsentrasi. Kau bukan seperti Allura yang aku kenal. Kau biasanya profesional dan bisa menyelesaikan tugasmu dengan baik. Tadi pak pembimbing bertanya saja, kau tidak bisa menyelesaikan jawabanmu. Apa kau sakit?" tanya Merissa yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Allura. "Atau jangan-jangan Arlo datang mengancammu lagi?"
Allura hanya menunduk lemah, mulutnya mengatup tanpa bersuara.
"Dan lihat, badanmu juga kurusan. Kau tidak makan dengan baik dan kau tidak banyak bicara. Bahkan, hanya sekedar jalan ke mall saja, kau lebih memilih tidur di hotel. Ada apa denganmu. Kau benar-benar membuatku cemas. Apa semua ini ada hubungannya dengan Arlo?"
Mendengar nama Arlo, Allura membuang napas kasar dan melemparkan tatapan tajamnya ke arah Merissa. "Aku sudah bilang, jangan sebut nama Arlo di sini. Aku tidak suka." ucapnya datar tanpa ekspresi.
"Jadi kau itu kenapa, aku lihat dari bahasa tubuhmu, kau itu seperti wanita yang putus asa. Tak ada gairah hidup. Bukankah keluarga Smith sudah berusaha mencari Alvin. Tapi titik terakhir Alvin dimana saja, mereka tidak bisa melacaknya."
Allura kembali menggeleng, ia memejamkan matanya. Merasakan sakit pada bagian dadanya.
__ADS_1
Lagi-lagi Merissa berdecak kesal, ia meletakkan penanya dengan kasar. Merissa menatap Allura dengan tatapan serius. "Aku mengenalmu Lura, sangat mengenalmu. Semuanya aku tahu tentangmu. Dari raut wajahmu aku bisa tahu kau menyimpan masalah. Jadi kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu kepadaku. Jadi sekarang, ceritakan semuanya, kau tak perlu menyembunyikannya!" Desak Merissa dengan sorot mata tajam.
Allura menunduk sedih, perasaan tidak menentu. Antara rindu atau memilih pasrah saja. Tapi jujur Allura mengakui bahwa ia sangat merindu. ia menahan rindu yang sangat menyakitkan ini. Dua bulan tidak bertemu, tidak melihatnya langsung dan tidak bisa mendengar suaranya. Membuat Allura benar-benar gila. Allura semakin tidak sanggup. Apalagi Allura sedang mengandung anak Alvin. Bagaimana ia harus mengatakan kepada keluarga Smith.
Ia takut dan sangat takut jika keluarga Smith hanya menganggapnya sebagai perempuan yang tidak tahu diri. Allura bisa membayangkan seperti apa sakitnya. Kehilangan Alvin saja sudah sesakit ini, apalagi tidak dianggap sama sekali. Allura benar-benar tidak siap. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan napas lelah.
"Allura? Apa kau mendengarkanku? Hei?" Merissa mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Allura yang menatap lurus dengan pandangan kosong.
Allura menunduk sedih. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak bisa menutupi segala yang bergejolak di dalam dadanya. Semuanya campur aduk. Dan ia benar-benar tidak siap mengatakan kepada Merissa.
Setelah tarikan napas panjang, akhirnya Allura mengatakannya. "Se-sebenarnya aku hamil, Merissa." Bahu Allura mulai bergetar. Ia terus menunduk dan memejamkan matanya.
Merissa diam membeku, alisnya melengkung dalam. Ia menatap Allura dengan kerutan bingung. "Apa maksudmu, hamil? siapa yang hamil?" tanya Merissa dengan mata terbelalak sambil menyentuh lengan Allura agar menghadap ke arahnya. Merissa bahkan menggoncang tubuh Allura. "Jawab aku, siapa yang hamil?"
Allura menggeleng lemah, Ia mengangkat wajahnya menatap ke arah Merissa dengan pandangan sayu. Matanya kembali berkaca-kaca dan air bening itu menetes di pipinya. "Maaf Merissa, aku tidak pernah mengatakannya kepadamu. Aku mengandung dan anak ini adalah anak Alvin."
Merissa terkejut. "Apa?" Ia mencoba meyakinkan pendengarannya. Siapa tahu saja, Allura sedang berhalusinasi karena merindukan Alvin.
Bahu Allura semakin bergetar menahan isak tangisannya. "Aku hamil dan sekarang aku bingung harus melakukan apa. Aku bisa gila, Merissa." Tangisan Allura pun pecah di sana.
Mata Merissa membulat sempurna. Ia menutup mulutnya karena tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. "Tunggu dulu! " Merissa mengangkat tangannya. "Apa itu artinya kau melakukannya sebelum...?" Kalimat Merissa menggantung. Ia tak sanggup melanjutkannya. Yang ia tahu, Alvin diculik sebelum pernikahan berlangsung.
Allura hanya mengangguk lemah.
"Sudah, tiga bulan."
"Kau serius, benar-benar hamil?" Merissa lagi-lagi tak percaya dengan semua yang di dengarnya.
Allura lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya. Air matanya kembali tergelincir membahasi pipinya.
"Apa keluarga Smith sudah tahu bahwa kamu hamil?"
Allura menggeleng lemah, "Mereka sama sekali tidak tahu."
"Sekarang tunggu apa lagi. Kau harus berterus-terang kepada mereka. Katakan kau mengandung anak Alvin."
"Tapi aku takut, mereka menolaknya." Ucap Allura dengan suara terbata.
"Bagaimana mereka bisa menolak? Anak yang kau kandung itu adalah cucu mereka."
"Aku tidak tahu, Merissa. Aku takut!" Allura menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. Ia tidak bisa menguasai air matanya. Beruntung hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Merissa mengembuskan napas lesu. "Dimana Allura yang aku kenal? Kenapa kau jadi bodoh seperti ini? Kita tidak tahu dimana Alvin. Apakah dia masih hidup, kita tidak tahu. Sekarang yang kau pikirkan masa depan anakmu." Ucap Merissa mencoba menyadarkan Allura.
"Aku masih takut."
"Tarik napas dalam-dalam. Pelan-pelan saja. Kau harus tetap tenang demi anakmu. Nanti setelah kau siap, ceritakan semuanya. Mereka juga harus tahu semua ini dan setidaknya mereka bertanggung jawab untuk hidupmu."
"Apa kau yakin mereka menerima anak ini."
"Iya, pastilah! Jika mereka tidak menerimanya, kau lapor ke polisi."
"Kamu gila!" suara Allura menggema di dalam ruangan.
"Ya aku ikut gila karena kamu, walau aku tahu kamu tidak akan sanggup melawan mereka. Tapi tunggu dulu, bukankah mereka menyukaimu?"
Allura menarik napas panjang sambil menundukkan kepalanya. "Iya aku tahu. Aku masih benar-benar bingung."
"Jika mereka mencintai Alvin, mereka pasti menerima anak itu. Dan aku rasa keluarga Smith seperti itu. Mereka keluarga terpandang dan dihormati. Lebih baik coba dulu. Jangan putus asa seperti ini."
"Aku takut, aku sangat takut!" Allura semakin menangis tersedu. Perasannya benar-benar kalut. Bingung, khawatir dan takut.
"Cih..Dasar bodoh, Sudah jangan menangis lagi. Apa karena itu, kau tidak mau makan." Kata Merissa menebak yang ada di dalam pikiran Allura.
"Tidak, ini memang bawaan." kata Allura jujur.
"Sudahlah, aku sudah mengenalmu, Allura."
"Aku serius." Kata Allura membela diri.
"Ya sudah, sekarang jaga kesehatanmu. Kamu jangan pernah menangis lagi. Kau harus tetap semangat demi anakmu."
Allura mengangguk lemah sambil sesenggukan, Ia mengumpulkan dengan energi yang tersisa dari tubuhnya. Menarik napasnya satu per satu. Ia beruntung mempunyai sahabat seperti Merissa. Kehadirannya bisa membuatnya tenang. Setelah merasa baik, mereka kembali melanjutkan seminar.
Selama ini Allura telah menyia-nyiakan waktu dan kehidupannya. Ia terlalu egois dan selalu berpikir hidup ini hanya untuk bersenang-senang. Tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia tak akan selamanya merasakan kebahagiaan dan kesedihan akan selalu mencari celah untuk masuk di kehidupannya. Hidup ini seperti pohon, itu yang selalu ibu katakan kepadanya. Tiap bagiannya mempunyai arti khusus yang tak bisa diuraikan satu persatu, tapi akan ia berikan satu diantaranya, yaitu daun. Mereka akan tumbuh, lalu berguguran dan berganti lagi dengan yang baru, itu seperti orang yang lahir, pergi dan akan ada lagi yang baru. Dan di sini, Allura telah menemukan arti dari kehidupan itu yang sebenarnya.
Kini setelah apa yang terjadi, apa yang ia lihat, di dengar dan rasakan. Allura mulai mengerti tentang hidup. Bahwa sebenarnya hidup ini adalah berjuang, ya berjuang untuk bisa mencapai titik yang diinginkan. Entah itu kebahagiaan atau keberhasilan, dan sekarang tak akan Ia biarkan kebahagiaan itu hilang dari hidupnya. Allura akan berjuang untuk mendapatkan kedudukan di dalam keluarga Smith. Terserah, apa Alvin masih hidup atau tidak, yang jelas anaknya harus mendapatkan haknya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^