
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
...Rindu ini telah jauh mengembara bersama angin. Bersama camar yang melangkahi hari-hari dengan nyanyian kapaknya. Bersama daun-daun bergemerisik menyapa. Seolah mengantarkan kerinduan padanya....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Alvin terus berlari sekuat tenaga menyusuri koridor hotel agar langsung sampai ke lantai bawah. Mata Alvin berkaca-kaca, napasnya sesak, pendek-pendek dan terengah.
"Kenapa lama sekali, cepatlah... cepatlah! " Lift belum terbuka, Alvin mengepalkan tangannya dengan gelisah. Jantungnya terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul dan,
TING!
Alvin segera berlari keluar dari lift. Ia langsung menuju pintu utama hotel.
TAP TAP TAP!
Napas Alvin terengah-engah. Derap langkah cepatnya terus berlari mengejar cinta sejatinya di parkiran mobil. Wanita yang selalu dicintainya. Pikirannya berkecamuk, ia takut Ele sudah tidak di sana.
"Aku mohon Ele, tetaplah di sana!"
Perasaan Alvin saat ini campur aduk. Tapi yang jelas, Ia begitu bahagia, akhirnya bisa menemukan Ele. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Sambil terus melangkahkan kakinya.
Alvin terus berdoa dan memohon di dalam hati. Ini adalah ibarat penantian panjang yang membuahkan hasil.
Ahhhhh! mungkin benar, cinta memang bodoh. Sebab sekarang, ia merasa bodoh harus terus menerus menunggunya. Ele selalu selalu berhasil mengganggu pikirannya. Ele benar-benar telah berhasil masuk ke dalam hatinya.
Dentuman irama jantungnya seakan mengejeknya.
TAP TAP TAP
Langkahnya semakin melambat, Alvin berhenti di tempat parkiran. Celengukan mencari-cari sosok Ele. Menoleh ke kiri dan ke kanan.
Alvin membungkuk dan memegang lututnya, mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat karena berlari tadi. Ele tidak ada di sana.
"Ele, kamu dimana?"
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
SEMENTARA ITU.
Ele berjalan pelan menyusuri taman belakang yang ada di hotel. Setiap jalan setapak akan memanggil kenangan di memorinya. Desa Mulia mengubah hidupnya. Ele menjadi wanita sukses yang mandiri. Modal utamanya tentu saja kerja keras serta pantang menyerah. Dengan tetap konsisten dan yakin bahwa kesuksesan akan bisa diraihnya.
Ele berjalan pelan, bibirnya tersungging dengan senyuman manis. Tangannya berdiam hangat di dalam kantong coat yang dikenakannya. Daerah pegunungan yang siapa pun akan kedinginan. Karena tempat ini berada di atas bukit yang tinggi. Angin sejuk berembus membawa bau pepohonan yang banyak tumbuh di sekitarnya. Hijaunya pepohonan rindang benar-benar memanjakan mata. Ele menikmati suasana yang tenang ini. Sesekali ia mendongak, melihat ke arah langit dan menarik banyak-banyak udara segar ke dalam paru-paru. Mengembuskan lewat mulut dan benar-benar merilekskan.
Langkah demi langkah ia susuri dengan tarikan napas panjang. Ele kembali memutari jalan yang dulu pernah dilaluinya bersama dua suster penyelamat hidupnya. Hingga kakinya melangkah keluar pagar hotel. Niatnya ingin berjalan santai sambil mencari jagung bakar. Ele memutuskan untuk menginap di hotel saja. Takut kejadian satu tahun yang lalu terulang lagi.
Aroma jagung bakar yang nikmat dan gurih seketika tercium di hidungnya, hingga tak terasa Ele menelan salivanya. Tak sabar Ele ingin cepat-cepat membeli jagung bakar itu. Sambil terus berjalan perlahan di pinggir jalan. Banyak penjaja jagung dadakan membuat Ele bingung harus memilih yang mana.
__ADS_1
"Dari mana saja para pedagang ini mendapat bahan dagangannya, sehingga dalam satu waktu barang dagangannya hampir sama?" Benaknya bertanya-tanya.
Dari pada kelamaan berfikir Ele memutuskan untuk memilih salah satu pedagang yang terlihat barang dagangannya paling bagus menurutnya.
"Jagungnya non, bisa dipilih dan langsung dibakar sendiri." Kata pria paruh baya itu menawarkan.
"Jagung apa pak?" Tanyanya sopan.
"Jagung manis dong, non. Apalagi jika dibakar bersama teman-teman, nikmatnya jauh lebih enak." Si bapak penjual sudah barang tentu mempromosikan dagangannya dengan kalimat yang baik-baik.
Ele terkekeh. Ia teringat saat Ele teriak-teriak promosi di depan cafenya. "Tapi saya hanya pesan satu saja pak, saya ingin membakarnya sendiri."
"Silakan non." bapak paruh baya itu antusias menganggukkan kepalanya.
"Baiklah pak aku pilih dulu ya pak," sambil aku memilih jagung yang ukurannya besar dan montok agar aku puas memakannya nanti.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Ele tak perduli. Ia hanya ingin menikmati malamnya di sini. Ia seperti enggan meninggalkan tempat ini. Ele memulai mengupas jagung. Bapak itu mulai menyalakan bara api, menusuk jagung dengan sebilah bambu yang sudah disiapkan lelaki itu.
Ele mulai mengipasi jagung tadi, dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya sambil terus mengolesi mentega yang ditambahkan dengan bumbu saos. Bara api membakar pelan. Bunyi gemerisik dan asap mengepul sesuai arah kipas.
"Sepertinya sudah bisa di nikmati, non."
"Benarkah?"
Pria itu mengangguk tersenyum dan memberikan jagung bakar buatan pembelinya sendiri. "Hmmm, sepertinya enak pak." sambil tersenyum menatap jagung buatannya sendiri.
"Anda tidak langsung memakannya?"
"Nanti. Di hotel saja, pak." Kata Ele mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan memberikannya kepada lelaki itu.
Mata pria itu terbelalak saat menerima uang sebanyak itu. "Ini kebanyakan non," tangannya mengulur mengembalikan uang itu kembali.
"Terima kasih non, semoga Tuhan membalas kebaikan anda."
Ele tak menjawab, ia hanya membalasnya dengan lambaian tangan. Ele pun kembali berjalan sambil menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napasnya sekaligus. Melakukan ritual yang biasa ia lakukan.
Ele tersenyum saat bisa membantu orang lain. Ele memang bukan siapa-siapa dan belum apa-apa saat ini. Namun satu hal yang sudah tertanam dalam benaknya adalah ia ingin selalu memulai, memulai menjadi yang terbaik dan berguna bagi orang lain, terutama bagi dirinya sendiri. Karena di tempat baru inilah, Ele mulai mengenal kata-kata yang selalu disebutkan oleh seseorang yang memiliki semangat yang luar biasa yaitu,
"Indahnya perjuangan."
Dan Ele percaya bahwa Ia memiliki potensi di dalam dirinya untuk melangkah maju. Ele hanyalah sebuah titik untuk memulai dan memulai terus menerus. Dan sekarang semua bisa ia lalui dengan baik. Ele tersenyum lalu meninggalkan tempat itu. Ia kembali berjalan menyusuri jalan dan kembali ke hotel.
TAP TAP TAP
TAP TAP
TAP
Langkahnya begitu pelan. Ia kembali larut dalam pikirannya. Dingin menyapa, membuat segumpal tetesan darah menjadi beku di malam hari. Rindu kini menggeliat datang, Ele kembali membayangkan sosok Alvin lagi.
Huuuuuffff Ele kembali mengembuskan napas panjang.
Memang, rindu ini telah jauh mengembara. Bersama angin. Bersama camar yang melangkahi hari-hari dengan nyanyian kapaknya. Bersama daun-daun bergemerisik menyapa. Seolah mengantarkan kerinduan padanya.
Benar, cinta itu sederhana lebih sederhana dari embun yang sanggup membuat daun terpesona di kala fajar. Cinta itu diam, dia sanggup melebamkan kata menjadi bisu.
__ADS_1
Cinta itu segalanya, ia ada dari sebelum, sejak, dan setelah dunia ini ada. Tapi cinta juga bisa membawa pergi dia dan tak meninggalkan jejak. Cinta juga kadang luka. Luka yang menghunus dia yang menanti, menanti dia yang tak kunjung kembali. Kenangan tentang cintanya yang hilang dibawa ombak entah kemana, sudah satu tahun tak pernah melihat sosoknya. Rindunya terus mengalun memecah malam yang sunyi.
Suhu dingin membuat Ele memeluk dirinya sendiri. Ia tersenyum sambil sesekali menengadah ke atas dan berjalan ke arah menuju ke hotel. Ele tidak langsung masuk, ia kembali ke parkiran untuk mengambil pakaian yang selalu ia siapkan di mobil. Kembali ke rencana awal, Ele akan menginap di hotel ini. Karena kebetulan juga besok adalah hari libur.
Ele menutup kembali mobilnya, tiba-tiba panggilan masuk berbunyi dari handphonenya. Ele dengan cepat mengeluarkan handphonenya dari tas, namun panggilan itu sudah mati. Ternyata panggilan itu dari Raymond. Tapi Ele tak menghubunginya kembali.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Alvin putus asa karena tidak bisa menemukan Ele. Ia menunduk menatap kedua kakinya yang tidak menggunakan alas kaki. Alvin tersenyum sendu, ia kembali berjalan meninggalkan parkiran mobil.
TAP TAP TAP
TAP TAP
TAP
Alvin menyadari sesuatu. Langkahnya mulai pelan dan tiba-tiba berhenti. Ia memastikan kembali penglihatannya dan wanita yang berdiri di depannya adalah Ele.
Deg...deg...deg....Jantungnya memukul kencang dan sangat kencang. Napas Alvin semakin tertahan di dada saat menyadari Ele ada di depannya. Wanita itu belum menyadari. Ia masih berjalan menunduk dengan posisi tangannya, ia masukkan ke dalam kantong Coat yang dipakainya.
Alvin menatapnya dengan pandangan nanar. Perlahan Alvin kembali memajukan langkahnya. Napasnya keluar terbata dan benar-benar tidak stabil. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Mungkin ia akan lebih sulit bernapas lagi setelah ini. Alvin pun menghentikan langkahnya.
"Kenapa susah sekali menemukanmu, Ele." Ucapnya parau dan gemetar.
Dan wanita itu yang awalnya hanya memandang ke bawah tiba-tiba mengangkat wajahnya karena menangkap suara yang begitu dikenalnya.
DEG!
Jantung Ele langsung terpicu cepat. Memukul kencang! Sangat kencang, saat melihat sosok yang ada di depannya. Ele masih terdiam menatap Alvin dengan penuh kerinduan yang sangat mendalam. Rasanya ingin berlari memeluknya. Tapi ia menyadari bahwa lelaki itu bukan lagi miliknya.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku hampir gila karena itu? apa kau tahu itu, Ele?"
Ele masih bergeming di tempatnya, napasnya keluar dengan terbata. Tanpa di undang air matanya menetes ke pipinya bahkan tanpa mengedip. Ia terdiam dengan mulut yang terbuka. Jarak mereka menyisakan sepuluh meter.
"Apa kau sengaja menyiksaku? Aku sangat merindukanmu, Ele." Mata Alvin berkaca-kaca.
Ele semakin tidak sanggup mendengar perkataan Alvin. Hatinya sakit. Tapi ini tidak mungkin. Mereka tak bisa bersama.
"Kenapa kau mencariku? kenapa kau merindukanku? Bukankah kau sudah punya Allura? Kau seharusnya melupakanku, Alvin." Ucap Ele dengan tegas, tapi bibirnya gemetar. Hatinya sesak. Semua bertolak belakang dengan ucapannya.
Alvin menggeleng cepat. "Kau salah Ele. Allura hanyalah masa lalu, kami tidak pernah menikah dan anak itu bukanlah anakku."
"Jangan seperti ini Alvin, aku mohon! Kita tidak bisa bersama." Suara Ele parau dan gemetar.
"Tidak bisa bersama? tapi aku tidak bisa. Aku tak sanggup jika harus berpisah darimu lagi....."
Alvin tak tahan lagi dengan segala gejolak di dalam dadanya. Alvin memajukan langkahnya. Mendekat ke arah Ele, dan....
BERSAMBUNG.....
^_^
๐ธ Maaf my readers, lagi-lagi terlambat mengirimnya. Anak-anak pada ulangan ๐คญ Harus ekstra pengawasan mamanya. Kalau bapaknya gak bisa diandalkan. Tugasnya cukup melayani masyarakat dan negara ๐ฅฐ
๐ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐
__ADS_1
๐ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^