
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia....
🔸🔸🔸🔸🔸
TIGA BULAN KEMUDIAN.
Mentari pagi menyinari alam semesta, membuka cakrawala dengan hangat, membuat rasa semakin bersemangat. Dua insan yang sedang dilanda kerinduan yang membara, kini mereka dipertemukan kembali.
"Amira....." Ele berteriak dan melompat di tempat. Ia melambaikan tangannya agar Amira melihatnya.
Amira tersenyum balas melambaikan tangannya. "Ele," Teriak Amira di sana. Tanpa perduli jika semua mata memperhatikan mereka.
Ele memajukan langkahnya mendekat ke arah sahabatnya itu. Amira keluar dari pintu kedatangan. Ele semakin mempercepat langkahnya dan tersenyum kepada Amira. Ele tidak sabaran, Ia langsung berlari dan,
BRUKK
Ele memeluk tubuh Amira. Pelukannya begitu erat sampai membuat Amira tak bisa bernapas.
"Astaga Ele, aku tidak bisa bernapas. Apa kau ingin membunuhku?" protes Amira.
"Biarkan seperti ini, Amira. Aku terlalu merindukanmu." keluh Ele dengan suara parau.
Amira mengerti, ia membalas memeluk sahabatnya itu.
"Kamu ingkar janji, kau tidak pernah mengabariku setelah satu minggu aku tinggal di London."
Amira terkekeh. "Maafkan aku Ele, tapi keadaan yang membuat seperti itu. Lihat, sekarang kau sudah menjadi wanita sukses. Kau tambah cantik lagi."
Ele tak terima maaf Amira begitu saja, ia mencubit lembut lengan Amira. Sampai membuat Amira mengeluh kesakitan.
"Kau jauh lebih sukses. Lihat, ini bukan penampilan Amira yang aku kenal. Amira yang biasanya memakai kaos polos. Kini stylenya melebihi Britney Spears."
"Hahaha." Amira tak bisa menahan tawanya. "Kita sukses karena siapa?"
"Karena kerja keras kitalah."
"Anak pintar." puji Amira.
"Hiks... hiks.. hiks.." Tiba-tiba Terdengar suara tangisan dari Ele.
Tubuh Amira membeku, ia merasakan tetesan air mata Ele basah mengenai bajunya.
"Kamu menangis?" Tanya Amira dengan dahi mengerut. Ia mendorong pelan bahu Ele hingga pelukan mereka terlepas, ia menatap wajah Ele.
"Siapa yang menangis. Aku kelilipan. Aduh..." Ele dengan cepat menghapus air mata di ujung pelupuk mata. Ele membuka mulut menarik napas dan mendongak ke atas. Mencoba sekuat tenaga menahan air matanya.
Amira tersenyum sendu. Ia kembali memeluk Ele. "Maafkan aku, Ele. Sahabatku, teman baikku."
__ADS_1
Tangisan Ele akhirnya pecah juga. "Aaahhhh....aku pikir kita tidak akan bertemu lagi."
"Maafkan aku," ucap Amira ikut menangis di sana. "Baiklah, dari pada kita bersedih. Bagaimana kalau kita makan dulu sambil melepaskan rindu. Habis itu kita bisa bersenang-senang. Hmmm kamu setuju?" usul Amira dengan tatapan berbinar.
Ele tersenyum dan mengangguk. "Dan aku ingin memberikan tugas penting untukmu."
"Ha? tugas penting?" Dahi Amira mengerut. "Tugas apa?"
"Nanti kamu tahu sendiri. Sekarang ikut aku!"
"Oke, siapa takut."
Mobil mereka melaju meninggalkan Bandara. Ele hari ini menjadi supir pribadi Amira. Mereka menuju restoran mewah Jepang yang ada di kota A. Hari ini Ele membawa Amira menikmati makanan shabu-shabu. Mereka duduk berhadap-hadapan, memandang wajah satu sama lain sambil tersenyum. Amira bergumam dalam hati, ‘tak ada satu pun yang berubah darimu, Ele’. Dia tetaplah sahabatnya yang ramah, antusias dan cukup filosofi dalam menjalani setiap tantangan dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Sebelum Amira mulai bercerita, dia sudah mulai dengan antusiasme yang tak kunjung padam.
"Sudah pernah makan ini?" Ele mencondongkan tubuhnya, setengah berbisik kepada Amira.
Amira hanya menggeleng, dia hanya serius melihat Ele menata setiap bahan-bahan makanan dipinggir kompor. "Tugas apa maksudmu Ele? aku sudah tidak sabar mendengarnya?"
Ele tersenyum kecil di sana. "Sepertinya ada yang tidak sabaran nih. Masalah itu, nanti kita bicarakan. Kita makan dulu, oke!"
Amira tidak menjawab, ia hanya menatap Ele yang tampak sibuk memasukkan bahan-bahan makanan. Ia tidak berani mengungkit masalah Alvin. Karena Alvin adalah masa lalu yang menyakiti hati sahabatnya itu. Ya… Mungkin terlalu banyak kekecewaan yang harus diceritakan, Ele pasti berusaha menyimpan topik itu sampai perlu dibahas suatu saat nanti, jika perlu tak usah diungkit-ungkit agar hidup Ele lebih tenang. Tanpa sadar Amira mengembuskan napas di sana. Ia menatap wajah sahabatnya itu.
"Apa sepedih itukah cerita cinta kami berdua?" Pertanyaan itu terngiang-ngiang di telinganya.
"Kamu tahu, aku menyukai semua makanan yang ada di sini."
"Benarkah?"
"Ehmmm." Ele mengangguk antusias.
Amira menelan salivanya, ia mulai tertarik ingin mencoba shabu-shabu buatan sahabatnya itu.
"Apa sudah bisa dinikmati?" Tanya Amira tanpa berkedip, saat Ele memasukkan bahan makanan ke dalam panci yang berisi kaldu. Tangannya bergerak maju ingin mengambil makanan itu.
Ele menghentikan tangan Amira dengan sumpit yang ia pegang. "Sabar, kita bisa menikmatinya sepuluh menit lagi."
Ele kembali memainkan tangannya, agar semua makanan itu masak merata.
"Sekarang kita sudah bisa menikmatinya. Jangan lupa celupkan ke saus tare dan yakumi." ucap Ele tersenyum.
Saat Amira tengah asyik menikmati shabu-shabu. Tangan Ele mengulur memberikan sesuatu kepada Amira. "Ambil ini!"
"Apa ini?" Amira meraih undangan pernikahan berdesain anggun yang diberikan Ele kepadanya. "Bukankah ini undangan pernikahan?" Tanya Amira membolak-balik undangan itu. Matanya sibuk mengikuti lengkung-lengkung rangkaian huruf centeria nan indah bertinta perak yang menghias lembar undangan beraroma bunga melati itu.
Ele hanya menahan senyumnya saat melihat ekspresi Amira yang tiba-tiba seperti orang bodoh itu. Raut wajah Amira tiba-tiba berubah saat membaca nama itu jelas nama sahabatnya. Ia tak kalah terkejut saat nama mempelai pria adalah Alvin Smith.
"Ini serius undangan pernikahanmu?"
Ele melipat tangannya dan tersenyum elegan di depan Amira. "Bulan depan aku akan menikah, Amira."
Amira menutup mulutnya dengan tangan. Ekspresi wajahnya begitu terkejut di sana. "Astaga, Ele. Kamu menikah dengan Alvin?"
"Iya. Aku akan menikahi pria yang aku cinta, Amira."
"Oh my God. Rencana Tuhan indah pada waktunya. Sumpah, ini kejutan luar biasa, Ele. Selamat sayangku." Amira memeluk tubuh Ele sambil menggoyangkan tubuh mungil itu.
"Tapi aku memintamu sebagai wedding planner dan wedding organizernya."
__ADS_1
Amira melepaskan pelukannya dan tersenyum mengangguk. "Tentu saja, aku akan mempersiapkan sebaik mungkin untuk sahabatku."
Dengan cekatan Amira menerangkan apa saja yang akan mereka lakukan selama satu bulan ke depan dari konsep, tempat, acara, pakaian, katering, dan semua hal-hal yang bersangkutan dengan acara pernikahan sahabat terbaiknya itu.
Ini sudah gelas kedua mereka memesan coffee latte untuk menemani perbincangan mereka yang terhitung berjam-jam. Dia memesan segelas minuman bersoda ukuran large, katanya kangen dan Ele sudah lama sekali tak minum, minuman bersoda.
Amira tipe orang yang sangat menggemari perbincangan, diskusi ringan, dan menikmati hal-hal yang menurutnya lucu. Bukan berpikir terlalu dalam, tapi mereka senang sekali perbincangan yang cukup berkualitas. Bukan gosip, bukan juga membicarakan masalah orang lain. Tapi lebih berbagi hal-hal ajaib yang pernah Ele rasakan dan yang sahabatnya rasakan.
"Jadi apa yang sekarang sedang kamu kerjakan?" tanya Amira.
Ia tersenyum memperlihatkan giginya yang rapih. "Aku membuka cafe strawberry yang aku geluti dua tahun lalu." jawab Ele.
Amira mengangguk mengerti, Ia tahu itu adalah keinginan Ele sejak dulu. Dan terbukti Ele sangat menyukai buah berwarna merah yang rasanya manis dan asam itu. "Kau tidak berubah Ele, kamu tetap Ele yang senang dengan perkebunan strawberry."
"Aku melakukan ini bukan sekedar untukku, tapi juga untuk Tuhan. Jika Tuhan masih mau aku disini, aku akan terus berjalan di jalannya. Aku suka profesiku dan itu sudah keinginanku sejak lama."
Amira terhenyak sebentar, ia sedang mencerna kalimat yang baru saja Ele ucapkan. Tentunya Ele sedang serius mengatakannya bahwa Ele bekerja untuk Tuhan.
Ele tersenyum melanjutkan meneguk cola yang dipesannya tadi dan memandangi Amira, "Kamu juga gak berubah, apa kamu masih mengerjakan hal yang sama, seperti yang kau lakukan di desa?"
"Iya." kata Amira sedikit tertawa. "Bagiku mereka cukup menghibur dan aku sering mengunjungi mereka di panti asuhan. Satu-satunya yang bisa membuatku bertahan adalah bertemu dengan anak-anak."
"Benarkah? Bagaimana jika aku membawamu bertemu anak-anak. Aku sering mengunjungi panti asuhan juga. Kau akan menyukai mereka. Kau memang cocok di dunia anak-anak. Itu membuatmu tampak ceria selalu. Aku percaya anak-anak itu memberimu energi positif."
"Benarkah?" tanya Amira antusias.
"Hmm. Aku akan membawamu ke sana. Tapi tunggu tugasmu selesai dulu."
"Ha? kamu curang." protes Amira.
Mereka pun tertawa, burger pesanan kedua mereka dilahapnya tanpa sisa. Ele memberikannya kentang goreng, tapi Amira menolaknya. Rasanya perutnya sudah tak sanggup menampung semua makan itu.
Ele tersenyum sambil melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul enam sore. Perbincangan dari pagi sampai sore hari.
“So what will we do next?” tanya Ele siap-siap berdiri dari bangku sofa merah.
"Kita tunggu Alvin, aku penasaran dengan calon suamimu itu. Apakah wajahnya berubah? atau bagaimana?"
"Hahahaa… Ya sudah kuduga, aku juga butuh Alvin hari ini. Sekaligus mau minta pendapatnya mengenai persiapan pernikahan kami." katanya tertawa dan bersandar kembali di sofa.
Mereka melanjutkan perbincangan selanjutnya. Entah hal apa yang mereka bahas. Terlalu banyak. Tapi menurutnya semua cerita memiliki sudut pandang yang berbeda. Tergantung bagaimana mereka memahami sesuatu, sesuatu yang selalu memiliki makna pembelajaran hidup.
🔸🔸🔸🔸🔸
Setelah melalui percakapan yang panjang dengan sahabatnya itu. Hari-harinya benar-benar disibukan dengan rencana pernikahan sahabatnya Ele. Amira pun mulai mencatat semua poin-poin penting. Ia sendiri dipercayakan Ele memilih souvenir yang akan mereka gunakan.
Amira ingin menciptakan konsep design pernikahan yang romantis, mulai dari denah lantai dan design pencahayaan hingga bunga, furnitur, ornamen, dan pakaian, serta mengawasi anggaran vendor dekorasi. Amira melakukan semaksimal mungkin mewujudkan konsep pernikahan seperti yang Ele inginkan. Ia memiliki mata artistik untuk membuat konsep keseluruhan acara dan benar-benar mengubah ruang menjadi pernikahan impian.
BERSAMBUNG
^_^
🔸Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
🔸Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1