LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MENYIBUKKAN DIRI.


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Waktu serasa berjalan menderu cepat. Satu pekan sudah berlalu. Buka mata, tutup mata. Tanah basah lagi, tanah kering lagi. Rumput hijau lagi, rumput menguning lagi. Alam meradang. Perputaran waktu yang tidak terasa....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


DELAPAN JAM SEBELUMNYA DI KANTOR SMITH.


Alvin berhenti sesaat saat tiba di perkantoran Smith. Angin sejuk berhembus menerpa wajahnya sore itu. Sang fajar sudah siap untuk menutup hari lelah itu, begitu banyak yang dia lewati untuk hari ini. Semuanya hampa. Alvin hanya melamun dan terdiam saat mengikuti rapat tadi. Ia merasa sesak dan tak berdaya.


"Pak?" panggil Feli saat Alvin tidak juga melangkah.


"Hmmm." Alvin bergeming tak menoleh ke arah Feli. Sekretaris baru yang dipilih oleh Marvel beberapa hari yang lalu. Setelah sekretaris lama ternyata terlibat korupsi bersama wakil direktur.


"Apa perlu saya persiapkan sesuatu, atau baju ganti mungkin?" Kata Feli sedikit ragu dengan ucapannya.


"Tidak usah. Persiapkan saja untuk rapat sore ini. Ada beberapa kendala yang harus kita selesaikan." ucapnya datar tanpa menatap wanita itu.


"Ah, baik pak. Kalau begitu saya permisi." Feli sedikit menunduk lalu melangkah pergi.


Alvin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kembali berjalan memasuki kantornya. Alvin meminta Marvel untuk tidak ke kantor sebelum menemukan Harry. Pikirannya kalut dengan berbagai pertanyaan dan asumsi. Kini Alvin sepenuhnya sadar. Bahwa Allura dan Harry terlibat dalam penjualan rumah dan perkebunan milik Ele.


Ahhhhhhh... Alvin tidak bisa menutupi rasa sesak di dadanya. Ia semakin merindukan Ele. Sudah tujuh hari berlalu, semenjak kepulangannya dari London. Harry sangat sulit ditemukan. Semua itu karena tempat tinggalnya yang sering berpindah-pindah.


Alvin terus melangkah menuju ruangannya. Wajahnya terlihat kusut dan berantakan. Ia begitu frustasi. Saat tiba di ruangannya, Alvin melempar jasnya dengan asal. Ia memilih mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar lelah hari ini.


Tok tok tok!


Belum juga Alvin tidur, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


"Permisi pak," Feli mengintip di ujung pintu.


"Hmmm, masuk." ucap Alvin merubah posisinya menjadi duduk, Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Saya siapkan kopi untuk anda." Feli melangkah mendekat ke arah meja kerja dan meletakkan kopi itu.


"Bagaimana soal rapat yang aku minta?" tanya Alvin menatap ke arah Feli.


"Hah?" Tiba-tiba Feli gugup saat pandangan mereka bertemu. "Ma-maaf pak, saya belum mempersiapkannya."


Alvin mengembuskan napasnya. "Rapatnya kita tunda besok. Saya tidak bisa memimpin rapat dalam keadaan seperti ini. Tolong sampaikan pada manager HRD agar menyiapkan ini." Alvin memberikan flashdisk kepada Feli.


"Baik pak," Feli melangkah mendekat ke arah pak direktur dan menerima flashdisk itu.


"Terima kasih, Feli." Ucap Alvin tersenyum tipis.


Lagi-lagi senyum Alvin meruntuhkan jiwa Feli. Hatinya serasa berbunga-bunga dan kupu-kupu seketika berterbangan keluar dari dalam hatinya. Feli tersipu dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya tinggal dulu pak." Feli berucap sambil membungkukkan badannya. Ia memutar tubuhnya dengan cepat lalu berjalan keluar dari pintu yang bertuliskan nama direktur utama itu.


CEKLEK!


Pintu tertutup sempurna.


Feli membuang napas panjang. "Astaga senyum pak direktur." Ia menutup mulutnya sesaat. Jiwa kewanitaannya benar-benar meronta.


"Pak direktur benar-benar tampan sekali." Feli terus berbicara sambil tersenyum sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berkhayal. Mulutnya bahkan sedikit terbuka, takjub akan pesona itu. Sebagai wanita normal, ia mengagumi pria setampan itu.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Awan bergerak halus bersama embun pagi. Sinar matahari pagi menerobos membiaskan warna warni di balik gumpalan awan. Embun bergerak lambat dan akhirnya jatuh ke tanah, menyuburkan bunga, memberikan warna kepada semua.


Langit pagi ini begitu cerah. Alvin mengamatinya dari ruang di kantornya yang paling atas. Alvin menarik napasnya dalam-dalam. Hatinya tak tenang karena belum ada kabar dari Marvel.


Tok...tok...tok...!


Feli langsung masuk dan menyapa pak direktur. "Selamat pagi pak,"


Alvin membalikkan badannya. "Selamat pagi Feli."


"Rapatnya sudah siap, pak. Semua sudah berkumpul di sana."


"Baiklah. Kita langsung ke ruang rapat." Alvin melangkah membenarkan jasnya.


Feli kembali gugup saat pandangan mereka bertemu. Ia menghembuskan napas panjang dengan mengembungkan pipinya. Ia mengikuti langkah Alvin hingga sampai ke ruang rapat. Alvin tiba-tiba masuk dengan langkah tegasnya. Wajahnya datar dan dingin.


"Kita mulai rapatnya sekarang." kata Alvin duduk di kursi kekuasaannya.


Hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa hasil kerja karyawannya. Suasana tegang menyelimuti tempat itu. Wajah Alvin yang terlihat sangat dingin dan datar menambah kegelisahan bagi siapa saja melihatnya.


Semua hanya terdiam menunduk.


"Bagaimana langkah kalian ke depan, apa hanya ini yang kalian punya?" Alvin melempar berkas ke depan mereka.


Hening menyeruak terjadi di dalam ruangan itu, tidak ada yang berani mengangkat wajahnya. Apalagi melihat mood Alvin dari awal rapat di mulai hanya kalimat tidak puas yang terdengar dari mulutnya.


"Tidak ada yang menjawab?" Alvin mengangkat setengah alisnya sambil mengetuk pulpen sedikit keras di atas meja. Itu salah satu tanda, Alvin sudah sangat marah. "Apa kalian tidak punya mulut? Katakan apa saja, aku butuh kerja yang nyata. Aku tidak ingin karyawanku menerima gaji, tapi hasil kerjanya tidak ada."


Seorang karyawan akhirnya mengangkat tangan. Sebelum Alvin benar-benar murka. "Kita lebih baik kembali ke rencana awal pak."


Alvin menunduk sejenak mengembuskan napas panjang dengan kedua tangan yang lurus bertemu pada meja. "Apa kau bisa menjelaskan secara detailnya? Rencana awal seperti apa maksudmu?" Tanya Alvin lalu mendongak menatap ke arah karyawan pria tersebut.


Semua karyawan seketika tegang saat menyadari usul itu ternyata dari wakil direktur yang sudah dipecat karena korupsi selama Alvin tidak ada. Pemecatan itu dilakukan Alvin sendiri.


Dengan ragu karyawan yang lain mengangkat tangannya, seketika semua tertuju pada pria itu. Ada rasa lega ketika ada perwakilan dari mereka untuk bicara. "Kita harus mendata ulang lebih dulu bagian manajemen operasionalnya dan soal strategi pengerjaan produksi baru, kita harus perbaiki lagi."


"Apa hanya itu saja?"


"Selanjutnya kita tinjau kondisi pasar dengan teliti."


"Bagaimana kalau cara itu gagal? apa kalian mau bertanggung jawab? Huh? kalian tidak paham detail permasalahan yang ada. Aku ingin ide cemerlang dari kalian! Kalian mengerti?"


"Mengerti pak." Jawab mereka serentak.

__ADS_1


Alvin meremas tangannya geram. Napasnya seketika tidak stabil. Ia menutup mata dengan rapat. Terlihat jelas Alvin berusaha menahan kesalnya. Setelah tarikan napas panjang, Alvin kemudian melanjutkan ucapannya.


"Dan satu lagi, Jika kalian ingin terjun langsung melihat kondisi pasar yang akan kita tuju, baik itu proses pembuatan desainnya, kalian harus mengubah input perusahaan menjadi output yang optimal. Dengan begitu kalian bisa mengecek bagian pemasarannya secara langsung. Bagaimana klien akan puas, jika dasarnya saja kalian tidak bisa menyelesaikannya. Saya meminta anda untuk teliti, persaingan pasar cukup besar. Jangan sampai omzet kita turun. Mengerti?"


"Mengerti pak. Hal ini tidak akan terulang kembali."


Alvin membuang napasnya. "Rapat kita lanjutkan lusa. Saya ingin kalian tunjukkan hasil kinerja yang nyata. Silakan bubar dan kembali bekerja."


"Baik, pak!"


Rapat pun dibubarkan, para tim peserta mulai berjalan sambil menunjuk setiap melewati Alvin. Feli pun ikut keluar bersama yang lainnya. Sepertinya pak direktur butuh sendiri. Ia kembali ke mejanya untuk melanjutkan sisa pekerjaannya.


Alvin membuang napasnya sekaligus. Ia memijit pelipisnya. Wajahnya terlihat frustasi. Ia mengangkat wajahnya dengan mata terpejam. Kemarahan masih terlihat jelas di garis wajahnya.


Kekesalannya bertambah saat Marvel belum memberikannya kabar. Ia meminta Marvel agar fokus mencari Harry. Alvin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya. Ia sengaja menyibukkan diri untuk menutupi kegundahan hatinya. Di depan karyawannya ia tetap profesional. Setidaknya Alvin tetap profesional menjalankan tugasnya. Ia tidak membiarkan hal-hal pribadi mencampuri urusan pekerjaannya.


Alvin bangun dari duduknya. Ia berdiri di depan dinding kaca dan menatap jauh, memandang ke arah jalan. Lama ia terdiam di sana. Hingga Alvin berucap dengan suara pelan. "Kemana lagi aku harus mencarimu Ele, aku benar-benar merindukanmu."


Alvin memejamkan matanya, merasakan sesak dari bagian dadanya. Apakah sesakit ini menahan rindu?


Alvin mengembuskan napasnya yang terasa sesak. Ia mencoba membuka kancing bajunya, yang membuatnya terasa sulit bernapas.


Dan tiba-tiba handphone Alvin bergetar di atas meja. Alvin melangkah meraih ponselnya dari atas meja, melihat layar handphonenya, ternyata panggilan itu dari Marvel. Dengan cepat, Alvin menggeser tanda terima dari benda pipih itu.


"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?"


"Sudah tuan."


"Kau sudah menemukannya?" Tanya Alvin meyakinkan pendengarannya.


"Benar, tuan." Jawab Marvel tersenyum.


"Saya ingin bertemu dengannya. Sekarang dia dimana?" tanya Alvin tidak sabaran.


"Saya akan mengirimkan alamatnya lewat pesan, tuan."


"Hmm. Pastikan semuanya aman dan terkendali. Saya tidak ingin media mencium ini."


"Pasti, tuan. Semuanya akan berjalan dengan baik."


Tit!


Alvin mematikan panggilan dengan sepihak. Ia berdiri dan keluar dari mejanya. Setengah berlari keluar dari pintu. Feli sampai dibuat terkejut karena hempasan pintu yang cukup kuat.


"Sekarang hubungi Dave. Secepatnya! Taruh mobilnya di depan gerbang! Katakan aku menyetir sendiri." Ucap Alvin membentak Feli


"Tapi pak, hari ini kita akan bertemu klien."


Alvin tidak menjawab, ia sudah begitu cepat berlalu dari hadapan Feli. Punggung tegap Alvin sudah menghilang di balik tembok koridor kantor.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2