
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
...Ketika hati masih menginginkan seseorang di masa lalu kembali dengan kenangan indah dulu, lihatlah bahwa hidup maju untuk masa depan....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Alvin melepaskan lamunannya dan kembali bergulung diri di dalam selimut. Ia memicingkan matanya, menatap handphonenya untuk melihat jam. Kemudian Ia melempar asal handphonenya. Rasa malas masih menguasainya. Alvin kembali membenamkan wajahnya di
antara bantal.
Dddrrrttt..... dddrrrttt....darrrtttt....!
Terdengar getaran ponsel milik Alvin berbunyi. Ia mendengus kasar melepas rasa kesalnya. Tangannya menelusuri seprei lembut dan mencari-cari keberadaan ponselnya.
Ia mengganti posisi tidurnya dengan telentang, menggeser tanda terima pada layar pipih itu. Alvin meletakkan handphonenya di telinga dengan posisi mata terpejam.
"Halo." ucapnya malas, suaranya terdengar serak bangun tidur.
"Tuan, anda masih tidur?" tanya Marvel dari seberang.
"Hmmm." gumam Alvin dengan malas.
Marvel mengusap wajahnya. Ia tahu benar jika tuannya masih di rumah. Sementara perjalanan ke desa Mulia membutuhkan waktu dua jam lebih. Semenjak kejadian tuan Alvin terjun bebas ke sungai, ia tidak lagi mengunjungi anak cabang di sana. Ia selalu memberikan tugas sepenuhnya kepada Marvel. Tapi keadaan di sana benar-benar terdesak. Marvel tidak bisa menanganinya sendiri.
"Tuan, dua jam lagi kita harus meninjau lokasi pembangunan di desa Agung. Sehabis itu kita langsung ke desa Mulia, masyarakat di sana sudah ribut dengan lahan tanah, mereka tidak mau ganti rugi. Mereka sudah mengancam akan menutup jalan dan meminta kita harus bertanggung jawab. Begitu juga..."
"Saya tahu Marvel, jangan mengajariku." Potong Alvin cepat. "Saya akan bersiap-siap."
"Maaf tuan jika membuat anda ..."
Tit!
Alvin mematikan handphonenya dengan sepihak. Ia mendengus kasar. Alvin nampak bingung dengan sikap Marvel. Sejujurnya Marvel bisa menangani hal itu. Ia membuang asal ponselnya dan bangun dari tidurnya. Sementara Marvel mengernyitkan keningnya, menatap ponselnya yang sudah mati. Ia terpaksa melakukannya. Karena warga di sana sudah tampak marah. Mereka menuntut untuk melaporkan ke pihak berwajib jika direktur utama Smith tidak datang.
Alvin menjatuhkan kakinya di lantai. Berjalan melangkah keluar balkon. Ia bersandar pada pagar stainless itu.
Huffft... Alvin menghembuskan napasnya lewat mulut. Ia menatap jauh, memandang ke arah jalan. Sebagaimana pagi-pagi biasanya, terlihat adanya lalu-lalang para manusia menjalani takdir kehidupan. Sebagian dari mereka mengejar rejeki untuk memenuhi kehidupan mereka.
"Pagi yang menyedihkan?" Alvin berdecak, bibirnya mengukir senyum sinis.
Seharusnya pagi ini adalah simbol dari semangat memulai segala sesuatu. Tapi baginya, pagi ini seperti hari-hari biasa. Tidak ada yang spesial. Alvin memejamkan matanya, merasakan angin pagi menyapu wajahnya. Cuaca pagi sehabis hujan masih bisa ia rasakan. Masih terasa sejuk. Namun hatinya tidak bisa merasakan kesejukan pagi ini. Ia masih terus memikirkan Ele.
Alvin tak ingin berlama-lama larutan dalam pikirannya. Bisa-bisa ia terlambat lagi. Alvin kembali masuk ke dalam kamarnya. Sebelum bersiap-siap, seperti biasa Alvin akan melakukan olahraga kecil untuk membentuk otot-ototnya. Tubuh yang sehat adalah hal yang penting bagi Alvin. Untuk mewujudkannya, olahraga menjadi aktivitas yang rutin ia lakukan setiap hari. Alvin tidak pernah melakukan luar rumah sepertiย gymย untuk melakukan olahraga. Alvin sudah mendesain khusus di sebelah kamarnya. Kapan pun ia mau, Alvin bisa melakukannya di rumah. Ia sengaja membuat material kaca sebagai sekat agar berhadapan dengan kamarnya.
__ADS_1
Setelah mendapat keringat, Alvin langsung menuju kamar mandi mewah yang ada di kamarnya. Ia menyalahkan shower. Setelah 20 menit berlalu, Ia keluar dari kamar mandi. Alvin keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Wajahnya sudah terlihat segar. Tetesan air di ujung-ujung rambutnya masih terjatuh. Otot-ototnya yang bidang terlihat menonjol dan sedikit basah. Sepertinya air nakal dari rambutnya belum ingin lepas dan mengalir dari pelipis hingga ke dada.
Senyuman kecil tersungging di bibirnya saat Alvin sudah rapi dengan celana dan pakaian kemeja biru pastel. Dengan parfum beraroma woddy disemprotkannya ke beberapa titik tertentu. Ia lalu meraih dasi bermotif garis serong berwarna biru dongker dari atas nakas dan membuka gulungannya. Ia langsung memasang dasi itu ke lehernya. Alvin mengikat simpul dasi dan langsung siap dipakai hanya dengan cara dikalungkan dengan tarikan pada ujungnya. Alvin kembali mengencangkan dasi di kerah bajunya dan sesaat memiringkan wajahnya untuk menatap dirinya di depan cermin. Ia terus mencoba senyuman dan wajah terbaiknya di depan cermin.
Alvin menghembuskan napasnya lewat mulut. Saat bayangan Ele tiba-tiba hadir dibenaknya. Alvin menggelengkan kepalanya. Menipis bayangan Ele yang selalu datang mengganggu pikirannya. Sudah satu tahun, ia mencari keberadaan Ele. Namun, Ele tak juga di temukan. Alvin putus asa dan memilih menyerah. Jika Tuhan berkehendak, Tuhan akan mempertemukan mereka kembali.
Satu d*sahan napas, Alvin kembali menyisir rambutnya dengan rapi. Ia tersenyum saat melihat penampilannya. Siap untuk melakukan pekerjaan di desa Mulia yang terletak di daerah Puncak Jaya. Baru kali ini ia mendengar nama desa itu. Marvel mengatakan tempat itu jauh dari kota dan daerah itu dikenal sangat dingin.
"SEMANGAT!" ucapnya dengan kepalan tangan di atas.
Alvin menegakkan punggungnya, ia terlihat rapi, segar dan tampan. Alvin keluar dari kamarnya.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Alvin tersenyum saat melihat ayah dan ibunya sudah ada di meja dapur. Langkahnya semakin cepat menuruni anak tangga. Ayah dan ibunya tengah asyik menikmati sarapan paginya.
"Pagi-pagi sudah rapi, sayang?" Maria melihat jam yang ada dipergelangan tangannya, masih pukul 7.15 wib. Maria menatap heran, karena yang ia tahu Alvin selalu berangkat ke kantor pukul 10. Alvin selalu mewakilkan asistennya jika ada rapat mendadak dengan investor asing. Tapi kali ini Alvin berbeda.
"Kamu mau ke kantor, sayang?" Tanyanya lagi.
"Kenapa bertanya seperti itu, ibu?" Alvin balik bertanya.
"Tidak salahkan ibu bertanya? biasanya kamu berangkat ke kantor pukul sepuluh, tidak kurang dan tidak lebih."
"Mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikannya, bukankah begitu Alvin?" Lukas menimpali.
"Iya ayah. Anak cabang yang ada di desa Mulia, bermasalah. Mereka sampai menutup jalan. Marvel meminta saya harus bertemu langsung dengan warga di sana."
"Sarapan seperti biasa, bu."
"Apa masalah itu besar, Alvin? bagaimana kalau warga di sana tidak mau ganti rugi?"
"Ambil ini," ucap Maria memberikan sarapan untuk Alvin. Ia kembali duduk dan menikmati sarapannya.
Alvin meneguk teh melati yang ada di hadapannya dan meletakkan kembali cangkir itu. "Aku juga tidak tahu ayah. Mereka siap melapor jika tidak ada tindak tegas dari kita."
"Apakah seberat itu? biasanya anak cabang tidak pernah bermasalah seperti ini. Apa ada orang yang sengaja memprovokasi?"
"Aku juga sempat berpikir seperti itu ayah. Semenjak pergantian kepala daerah, masyarakat semakin gencar mempermasalahkan lahan ini. Saya rasa ada yang sengaja menghasut warga yang ada di sana."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Bukankah itu sudah ke sepakat dengan semua warga di sana? Perusahaan kita sudah melakukan sesuai prosedur yang ada. Kita tidak mungkin tak memikirkan hal itu."
"Saya sependapat dengan ayah."
"Apa jangan-jangan ada unsur politik?"
Alvin menarik napas singkat, ia tersenyum samar, lalu mengambil air putih di sampingnya. Meneguknya pelan. "Saya tidak bisa pastikan hal itu. Tapi sejauh ini tim Smith sudah melakukan penyelidikan."
"Apa ayah perlu ikut ke sana?" tawar Lukas sambil menaikkan kedua alisnya. Ia kembali memotong roti dengan pisau lalu memasukkan potongan roti itu ke mulutnya.
"Tidak perlu ayah. Aku bisa menyelesaikannya. Kita akan cari titik permasalahannya dulu. Saya akan berusaha menghentikan kemarahan warga."
__ADS_1
Lukas menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya. "Ayah percaya denganmu, kau bisa mengatasinya dengan cepat. Jika adan kendala, kau bisa menghubungi ayah. Ayah banyak relasi yang siap membantu kita."
"Terima kasih, ayah. Saya masih bisa menangani hal ini."
Tak pembicaraan lagi. Maria menatap ke arah yang tengah asyik menikmati sarapan. "Alvin," Panggil Maria.
"Hmm." Alvin mengangkat wajahnya, melihat ke arah ibunya.
"Bagaimana dengan Allura sayang, kau sudah dua bulan tidak mengunjunginya. Dia mencarimu."
Alvin menarik napas singkat, mengunyah makanannya dengan baik. "Aku masih sibuk ibu. Nanti jika ada waktu saya akan berkunjung ke sana."
"Ibu juga mengerti, tapi setidaknya kau bisa melihatnya walau hanya sebentar. Dan jangan lupa bawa makanan kesukaannya. Ia tidak mau makan jika makanan itu bukan dari kamu."
"Sekarang makanlah dulu, kita bisa bicara setelah selesai makan. Bukankah begitu Alvin?" kata Lukas tersenyum karena melihat perubahan wajah Alvin.
Alvin hanya mengangguk samar. Ia kembali menikmati sarapan yang ada di depannya.
Mereka menikmati sarapannya dalam tenang dan melakukan percakapan-percakapan kecil. Tak beberapa lama, Alvin tersenyum melepaskan sendoknya secara terbalik. Menandakan ia sudah selesai sarapannya. Alvin mengusap mulutnya dengan tissue, lalu bangun dari duduknya.
"Sepertinya aku harus pergi," Alvin bangun dari duduknya dan mengambil jas yang ia letakkan di kursi.
"Kau sudah mau pergi?"
"Hmm." Alvin menjawab dengan gumaman, ia menggunakan jas itu ke tubuhnya.
"Oke, semoga masalah ini cepat selesai. Hubungi ayah jika ada kabar terbaru."
"Baik ayah." Alvin maju memberikan ciuman pipi kiri dan kanan ke ibunya. Sementara ke arah Lukas ia memberikan pelukan singkat.
"Jangan lupa untuk mengunjungi Allura sayang?" Maria mengingatkan saat Alvin sudah melangkah ke ruang tamu.
Alvin tidak menjawabnya. Ia melangkah terus sampai ke teras rumah. Ia melihat Marvel sudah berdiri di dekat mobil.
"Selamat pagi, tuan," Marvel sedikit membungkukkan badannya, lalu membuka pintu untuk bosnya itu.
"Selamat pagi, Marvel." Jawab Alvin duduk di kursi belakang.
Dengan cepat ia kembali duduk di kursi bagian kemudi. "Tujuan kita kemana tuan? Apa kita ke desa Agung atau ke desa Mulia?"
"Kita langsung ke desa Agung meninjau pembangunan di sana. Kita waktu lama jika ke desa Mulia." jawab Alvin fokus menatap tabletnya.
Marvel langsung paham, ia membawa mobil itu meninggalkan kediaman Smith.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^