
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Ekspresi wajah Alvin datar dan dingin. Ia menekan pedal gas dan melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang akan ditujunya. Sampai Alvin tak perduli harus menerobos lampu merah. Ia harus sampai di desa jati diri dalam waktu lima jam.
Alvin berharap yang dikatakan Marvel tidak benar. Ia berharap Ele benar-benar menikmati malamnya bersama Amira. Kebiasaan yang sering mereka lakukan jika sudah selesai makan malam. Menatap bintang-bintang sambil bersenda gurau dan menikmati jagung bakar. Hal yang sangat dirindukan Alvin.
Alvin menarik napas panjang. Wajahnya masih terlihat panik, pikirannya hanya Ele dan Ele saja. Matanya berkaca-kaca dan napasnya sesak, pendek-pendek dan terengah. Ia bahkan tidak perduli ada Marvel di sampingnya.
"Tuan, biar saya yang menyetirnya." Kata Marvel memulai pembicaraan.
"Jangan memancing amarahku, Marvel. Aku tidak ingin bicara denganmu." Ucap Alvin dingin.
Marvel hanya bisa menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia benar-benar takut melihat Alvin seperti ini. "Tapi anda harus istirahat tuan, sudah tiga jam anda menyetir."
"Apa kau sedang mencemaskanku?"
"Tentu saja tuan, saya mencemaskan anda."
Alvin tersenyum sinis, melirik sekilas ke arah Marvel. "Kenapa kau tidak pernah mengatakan Ele tak lagi tinggal di desa?"
"Maafkan saya tuan."
Emosi Alvin tersulut lagi, saat Marvel mengatakan maaf. "Maaf...maaf...apa hanya itu yang bisa kau ucapkan, Marvel." Alvin mencengkram setir mobilnya untuk menunjukkan kemarahannya. "Ingat! Jika sesuatu terjadi kepada Eleku, aku tidak akan memaafkanmu. Camkan itu baik-baik!" Kata Alvin dengan ancaman. Ia tidak memandang Marvel sedikit pun. Pandangannya dingin dan kaku.
Marvel memilih diam, ia tahu sifat Alvin. Jika marah, iya memang seperti ini. Ia tidak bisa menguasai amarahnya. Ia bisa melakukan apa saja dan Marvel harus siap menerima konsekuensinya.
Tidak ada pembicaraan setelah itu, Marvel juga berulang kali meminta agar ia yang menyetirnya. Tapi Alvin tak juga meresponnya. Hening menyeruak di antara mereka, tercipta rasa canggung, membuat suasana semakin mencekam. Marvel hanya bisa diam membeku di tempat duduknya. Ia terjebak dengan pikirannya sendiri.
Alvin sendiri tetap fokus menatap jalanan dan terus membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah keheningan malam. Tidak lama lagi mereka akan sampai. Alvin sesekali melihat jam yang ada dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit. Tak terasa Alvin sudah membawa mobilnya hampir lima jam menuju desa jati diri.
Dari persimpangan. Alvin masuk ke pembelokan ke arah kanan. Ia terus membawa mobilnya kesunyian malam. Ia menemukan jalan di persimpangan tiga. Alvin sangat ingat tempat ini. Ia membawa mobilnya ke arah kiri. Tak jauh dari pertigaan itu akhirnya ia menemukan papan penunjuk jalan yang akan mengantarnya sampai ke desa A tempat Ele tinggal. Walau sudah malam, keindahannya masih terlihat, karena sorot lampu penerang di setiap jalan.
Mobil mereka tiba di depan rumah Ele. Dengan cepat Alvin keluar dari mobilnya yang di susul oleh Marvel. Ia berlari tergesa-gesa. Namun Langkahnya melambat saat membaca tulisan. Rumah ini akan dibangun.
Alvin masih tak percaya. "Ele....Ele....!" Teriaknya sambil mengetuk pintu cukup keras.
Tidak ada sahutan dari dalam, Alvin tak menyerah. Ia kembali mengetuk pintu itu, walau sesungguhnya ia tahu, hasilnya masih akan tetap sama.
Tetangga yang mendengar suara keributan, langsung keluar. Pria itu tidak lain adalah kepala desa yang baru saja terpilih beberapa minggu yang lalu.
"Nak Alvin?" Panggil Lelaki paruh baya itu saat melihat Alvin di sana.
Alvin membalikkan badannya. "Pak Bram?"
"Ada apa nak Alvin? Apa yang membuat anda jauh-jauh datang ke sini?"
"Saya ingin bertemu Ele. Dimana Ele pak? kenapa ia tidak keluar-keluar?"
Pria itu mengerutkan keningnya. "Ele?"
"Iya, Ele. Saya ingin bertemu dengannya.
"Nak Alvin belum tahu?"
__ADS_1
Wajah Alvin berubah. "Belum tahu apa pak?"
"Rumah dan perkebunannya sudah dijual dan Ele tidak tinggal di sini lagi."
Heeeeeee Alvin membuang napas sambil menutup matanya. Berusaha menerima sesuatu yang sudah diketahuinya. "Jadi benar rumah dan perkebunan ini sudah dijual?"
"Iya, benar nak. Ele sendiri juga tidak tahu kenapa rumah dan perkebunannya tiba-tiba dijual."
"Apa? Jadi maksud bapak, rumah ini dijual tanpa sepengetahuan Ele?"
"Hmm." Pria itu menjawab dengan gumaman. Wajahnya berubah sendu. "Saat itu Ele sangat terpukul. Kami juga tidak bisa membantunya. Nak Alvin tahu sendiri bagaimana Ele di desa ini. Ia dikenal santun dan ramah. Bisa dikatakan kami sangat sedih saat Ele meninggalkan desa ini."
Alvin langsung menarik napas panjang dan menelan saliva. Ia begitu shock mendengar ini. Siapa dibalik ini semua. Kenapa rumah dan perkebunan strawberry milik Ele dijual tanpa sepengetahuan Ele. Rahang Alvin mengencang. Tangannya mengepal kuat.
"Jadi apa karena itu Ele pergi."
"Hmm." Pria itu mengangguk.
"Bapak tahu dimana Ele sekarang?"
"Kami tidak tahu nak Alvin. Sebelum ia meninggalkan desa ini, Ele tak mengatakan apa-apa."
"Bagaimana dengan Amira, saya rasa Amira tahu dimana Ele." Alvin melangkah ingin ke rumah Amira. Namun pak Bram menghentikannya.
"Amira juga sudah tidak tinggal di sini lagi."
Lagi-lagi Alvin terkejut mendengar itu. Bagaimana dua orang wanita yang begitu bahagia dengan kehidupan di sini, bisa meninggalkan desa ini.
"Amira pulang ke kota. Salah satu keluarganya meninggal, sejak itu Amira tak pernah kembali lagi ke desa ini."
Alvin menyapu rambutnya ke atas. Ia masih tak percaya dengan semua ini. Matanya menyorot tajam menatap ke arah Marvel.
"Sekarang katakan dimana Ele? Heuh.. Ayo KATAKAN! Eleku ada dimanaaaa?" Teriak Alvin dengan suara menggema di kesunyian malam. Ia sudah tampak marah, rahangnya mengeras dan matanya memancarkan emosi.
Glek!
"Katakan kalian bersekongkol, kan?" Alvin semakin mencengkram baju Marvel semakin kuat.
Marvel menggeleng cepat. "Saya tidak tahu apa-apa tuan. Hanya nyonya Smith memerintahkan saya mengantar nona Ele sampai ke bandara. Sisanya saya tidak tahu apa-apa." Marvel merasakan sakit saat bajunya dicengkram kuat, hingga membuat tubuhnya sedikit terangkat.
"Bandara?"
"Iya tuan,"
Alvin langsung mendorong tubuh Marvel. Pikirannya langsung kacau, Ia benar-benar blank. Tubuhnya gemetar dan jari-jarinya terasa dingin. Ia menarik dasinya dan mencengkram kepalanya untuk melepaskan emosinya.
"Apa ibu dibalik semua ini?" ucap Alvin hampir tak terdengar Marvel. Ia menatap ke satu titik dengan pandangan kosong.
"Nyonya Smith tidak mengatakan apa-apa tuan, beliau hanya memastikan kepada saya agar Ele benar-benar pergi meninggalkan negara ini."
DEG DEG DEG...!
Alvin seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya. Jantungnya terpukul kencang. Ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Tubuhnya gemetar, bibirnya seakan tidak sanggup untuk berbicara.
Ia mencoba mencerna, dan mencoba mengerti, hatinya makin perih saat ini.
Perasaannya kembali, mencoba menstabilkan napas yang semakin naik turun. Hal yang paling menyakitkan hatinya. Ibunya sendiri tega menyuruh Ele pergi dan semua itu ibu lakukan demi Allura.
"Setidaknya ibu tidak menyakiti wanita yang aku cintai."
"Bagaimana perasaan Ele, saat ibu menyuruhnya pergi jauh?"
"Kau pasti sangat membenciku Ele."
"Maafkan aku Ele, harusnya aku membahagiakanmu..."
__ADS_1
"Tapi nyatanya kau terluka..."
"Kau tersakiti di sini..."
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alvin mengebrak pintu dengan kasar hingga membuat Lukas dan Maria begitu terkejut. Wajahnya datar dan dingin, menatap ayah dan ibunya dengan tajam.
"Sayang?" Maria bangun dari duduknya dan mendekati putranya itu.
"Kenapa ayah dan ibu melakukan ini?" Ucap Alvin menatap Lukas dan Maria bergantian.
"Melakukan apa sayang?"
"Ibu menyuruh Ele pergi. Dimana hati nurani ibu? Ele adalah wanita yang menyelamatkanku dan sekaligus wanita yang aku cintai."
Maria menarik napas panjang dan menatap Alvin dengan lembut. "Ibu melakukan itu demi kamu sayang.
"Apa ibu melakukan itu demi Allura?"
Maria menarik napasnya. "Benar sayang."
"Tapi nyatanya ibu salah, bukan? Allura tidak seperti yang ibu pikirkan."
"Maafkan ibu, sayang."
"Apa ibu terlibat penjualan rumah dan perkebunan Ele?"
Lukas dan Maria saling berpandangan. "Apa maksudmu, ibu tidak pernah terlibat menjual rumah milik Ele."
"Jadi siapa yang melakukan itu?" batin Alvin.
"Sayang, apa kau tidak ingin menemui Allura? Allura saat ini berada di rumah sakit."
"Aku tidak ingin membicarakan Allura bu."
Lukas menarik napas panjang dan menatap Ke arah Maria.
"Sekarang dimana Ele ibu, aku ingin bertemu dengannya?"
"Heeeeekkkkk..." Maria membuang napas sambil menutup matanya. Ia hanya saling berpandangan dengan suaminya. Ia tahu Alvin akan menemui Ele. "Sekarang Ele berada di London. Dia melanjutkan sekolahnya di sana."
"Aku ingin membawa Ele pulang."
"Tapi dia kuliah sayang,"
"Aku tidak perduli, bu. Aku ingin menemui, Ele."
Lukas menarik napasnya, "Alvin, kau tidak ingat Arlo?"
Alis Alvin naik setengah. "Kenapa dengan Arlo, ayah?"
"Saat ini Arlo berada diluar negeri. Ia merencanakan sesuatu untuk menghancurkan perusahaan Smith."
"Aku sudah mencium pergerakannya ayah. Arlo tidak akan bisa menghancurkan perusahaan kita."
"Apa kau yakin? Arlo sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Dia sangat yakin bisa menghancurkan perusahaan Smith dalam hitungan detik."
"Itu tidak akan terjadi. Aku tidak izinkan Arlo melakukan itu, Ayah."
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^