
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Saat sedang menghadapi permasalahan hidup, rasanya dunianya seakan runtuh dan hancur berkeping-keping. Ia butuh semacam bahu untuk bersandar demi meringankan beban di hati....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alvin melangkah menjauh dari Allura. Wajahnya terlihat dingin dan kaku. Tangannya Ia masukkan ke kantong celananya dengan posisi memunggungi Allura.
"Jangan bicara seperti itu Allura, aku muak melihat sikapmu!"
Allura mengerutkan keningnya. Mencoba mengerti maksud Alvin, walau sesungguhnya ia bingung dengan sikap Alvin. "Apa maksudmu sayang?"
Alvin tersenyum sinis. "Aku tidak suka melihatmu merengek, seolah-olah kau adalah istriku."
DEG
DEG
DEG
Jantung Allura terpukul kencang. Wajahnya menegang kaku. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar oleh keterkejutannya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. ia terdiam dan terus menatap Alvin. Tangannya terlihat gemetar karena begitu terkejut.
"Aa-ku tidak mengerti maksudmu? bukankan kita sudah menikah dan jelas-jelas aku adalah istrimu, sayang."
Alvin membalikkan badannya, mengunci tatapannya ke arah Allura. "Istri? sejak kapan kamu istriku? Kita tidak pernah menikah, Allura!" Alvin menekan ucapannya.
"Apa yang kau bicarakan? kamu adalah suamiku! Apa kurang jelas?" Allura membalikkan tubuhnya, sebisa mungkin ia tetap tenang. Walau sejujurnya ia tak bisa menutupi kegugupannya.
"Heh!" Alvin melepaskan napas singkat, ia melarikan tatapan kesal kesalnya. Ia tidak suka dengan sikap Allura yang tak pernah berubah.
Alvin kembali menatap ke arah Allura. "Kita tidak pernah menikah dan anak itu bukan anakku."
"Bagaimana mungkin kamu tidak mengakui anak ini. Kamu jahat, Alvin!" Kata Allura dengan napas terbata-bata. Air bening seketika terkumpul di kelopak matanya, namun tidak terjatuh membasahi pipinya.
"Jangan menggunakan air matamu untuk meluluhkan hatiku, Allura. Sejak kejadian malam itu, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu."
"Kejadian apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Jangan seperti ini sayang. Kamu kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa kamu kurang sehat? Kita pulang saja!"
"Jangan mengalihkan pembicaraan Allura." bentak Alvin tak tahan lagi. Ia menatap Allura dengan tatapan tajam.
Allura memejamkan matanya sambil menarik napas panjang. Ia masih bisa tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. "Aku tidak mengalihkan pembicaraan, sayang. Kamu adalah suamiku. Alam juga tahu hal itu."
"Kau wanita yang tidak tahu malu, mungkin dengan cara ini. Kau tahu seperti apa kesalahanmu."
Tiba-tiba pintu terbuka. Muncul Marvel dan dua orang lelaki di belakangnya. Perhatian Allura langsung teralihkan. Ia tersenyum saat melihat Marvel datang.
"Sayang, kau bisa tanya Marvel. Dia juga tahu soalnya pernikahan kita. Bukankah begitu Marvel?"
"Selamat malam tuan," Marvel dan dua orang lelaki membungkukkan badannya memberi hormat kepada Alvin.
__ADS_1
Allura mendekat ke arah Marvel. "Syukurlah kamu datang Marvel. Sepertinya kita harus membawa Alvin ke dokter. Dari tadi bicaranya ngawur dan tidak jelas."
Marvel tak merespon. Ia tetap menghadap Alvin, menunggu instruksi dari bosnya itu.
βTerima kasih atas kehadiran kalian. Saya tidak ingin menunggu lagi. Allura harus tahu semua ini."
"Apa saya harus melakukannya di sini, tuan?"
"Iya, tentu saja. Tunjukkan kepadanya tanpa sisa." Sahut Alvin dengan wajah datar.
"Tuan, saya juga membawa pengacara di sini. Sewaktu-waktu diperlukan. Lebih tepatnya pengacara rumah tangga,β kata Marvel setengah berbisik.
"Untuk apa?"
"Heuh? Apa saya harus menyuruhnya pergi?"
"Tidak perlu. Biarkan saja." Potong Alvin cepat. "Sekarang, tunjukkan saja bukti-bukti itu semua. Aku ingin lihat bagaimana reaksi Allura saat melihat video itu."
Dengan cepat Marvel menganggukkan kepalanya. "Baik tuan."
"Apa maksudnya? bukti apa yang kalian bicarakan. Apa kau masih tidak percaya bahwa anak ini adalah anakmu, begitu?" Allura mulai kesal. perasannya tiba-tiba tidak tenang. Pikirannya langsung berkecamuk.
Alvin tidak menjawab. Wajahnya serius dan terlihat yakin. Sementara Marvel bergerak cepat melakukan tugas yang diperintahkan Alvin kepadanya. Dahi Allura semakin mengerut bingung. Ia melangkah mendekat ke arah Alvin.
"Alvin, jawab aku. Apa maksudmu membawa mereka ke sini. Bukti apa maksudmu? Kalian menganggapku seperti kriminal?" Napas Allura tersengal menahan emosi. Namun hasilnya masih sama, Alvin tak juga memberikan jawaban kepadanya.
Tak ada pembicaraan setelah itu. Hanya ada Marvel dan dua orang yang terlihat sibuk di sana. Tapi Allura tidak tahu, apa yang mereka lakukan.
Sebelumnya, Marvel mendapatkan perintah untuk menyelidiki Allura. Alvin ingin membuktikan bahwa anak yang dikandung Allura bukanlah anaknya. Melihat bukti-bukti yang ia dapatkan dari video cctv yang ada di apartemen Allura. Beberapa kali seorang lelaki tertangkap sedang mencium Allura. Ternyata setelah diselidiki, Allura mempunyai hubungan istimewa dengan lelaki itu. Tak puas sampai disitu Ia meminta Marvel untuk mencari tahu siapa sebenarnya lelaki itu. Namun ternyata lelaki itu adalah Arlo yang tak lain adalah saudara angkatnya. Tentu saja Alvin terkejut. Karena dalam ingatannya ia tidak tahu siapa itu Arlo. Lukas dan Maria sendiri begitu kaget saat melihat bukti itu terlebih dahulu.
Alvin langsung duduk saat Marvel memberikannya kursi. Tatapan tajamnya saat ini siap menghunus jantung Allura. Benar-benar mengintimidasinya. "Aku ingin kau melihat video ini sampai selesai." Ucap Alvin dingin.
"Kau tidak perlu banyak tanya, tonton saja sampai selesai!" Alvin mengangkat alisnya menatap Allura dengan sinis. Marvel pun mulai menayangkan video itu.
Deg..deg..deg...!
Jantung Allura berdetak begitu kuat. Wajahnya menegang, matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. Napasnya terdengar naik turun. Tangannya ikut gemetar. Wajahnya terlihat pucat. Ia mundur beberapa langkah dan menggeleng. Matanya sayu dan terus melihat ke bawah. Allura tidak berani menatap mata Alvin. Fakta yang menyakitkan, Alvin mengetahui kebenaran. Alvin tersenyum samar saat melihat reaksi Allura. Namun sebisa mungkin Allura menyangkalnya.
"Tidak, itu bukan aku. Sekarang video bisa di edit, Alvin. Jangan percaya dengan video murahan itu."
"Baiklah, anggap saja video itu editan seperti yang kau katakan. Bagaimana dengan rekaman suara ini?" Alvin mengunci tatapannya ke arah Allura. Tangannya bersedekap di depan dada. Pembawaannya begitu tenang.
Rekaman suara itu terdengar jelas saat Allura menangis menghubungi Arlo dan mengatakan Ia sedang hamil.
"Arlo, aku hamil. Alvin tidak boleh tahu masalah kehamilan ini. Hidupku bisa hancur."
"Tinggalkan saja Alvin, kita bisa menikah Allura."
"Apa kamu sudah gila? Bagaimana aku bisa menikah dengan lelaki sampah sepertimu. Kau hanya anak jalanan yang dipungut oleh keluarga Alvin. Jadi jangan pernah bermimpi untuk menikah denganku. Aku tak pernah mencintaimu."
"Kekayaan Alvin, bisa hilang dalam hitungan detik Allura. Apakah kau masih mencintai Alvin jika ia sudah jatuh miskin?" Terdengar tawa ejekan di sana.
"Apa maksudmu?"
"Aku bisa melenyapkan mereka."
"Apa kamu sedang berhalusinasi? Bagaimana anak jalanan bisa melenyapkan keluarga Smith. Jangan pernah bermimpi untuk menghancurkan keluarga Smith."
__ADS_1
"Aku bisa membuktikannya."
"Cukup, kau terlalu banyak bicara. Yang jelas Alvin tidak boleh tahu masalah kehamilan ini. Aku ingin secepatnya melakukan aborsi."
"Apa kamu sudah gila, anak itu anakku. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani melakukan aborsi, Allura."
"Terserah, pernikahanku tinggal satu bulan lagi. Aku tidak mau hidupku hancur karena anak ini."
"Allura...." Teriak Arlo. Namun panggilan itu sudah dimatikan Allura.
Alvin tersenyum sinis, saat melihat perubahan wajah Allura. Ia terlihat mundur beberapa langkah karena begitu shock.
"Kau tidak bisa menyangkalnya lagi. Kau menangis dan berjanji akan menggugurkan anak itu. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Apa yang membuatmu berubah pikiran, hingga bisa mengarang cerita dan mengatakan bahwa anak itu adalah anakku."
"S-s-saya... saya..." Allura terbata tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia meremas tangannya begitu kuat.
Alvin tersenyum tipis, tatapan matanya turun ke bawah. Berusaha tetap tenang untuk meredam emosinya. "Kau tidak bisa menjelaskannya?"
"Ahhhhh...." Allura hanya bisa mengeluarkan napas terbata.
"Di video itu, kau mendatangi beberapa rumah sakit untuk melakukan aborsi. Namun pihak rumah sakit menolaknya, karena kau tidak mempunyai wali untuk menandatangani persetujuan untuk melakukan aborsi. Bukankah seperti itu?"
"Sa-sayang...?"
"Jangan memanggilku sayang." Bentak Alvin menekan ucapannya.
Allura tak sanggup untuk bicara. Sungguh sikap tenang Alvin membuat Allura semakin tidak berdaya. Jantungnya semakin terpukul kencang. Rasanya tak sanggup untuk berdiri. Matanya seketika berkaca-kaca. Satu tetes air mata jatuh ke pipinya. Allura mengusapnya dengan cepat.
"Aku tahu semuanya Allura. Ingatanku sudah kembali. Kau tidak bisa berbohong seperti yang kau lakukan dulu."
Deg...
Lagi-lagi jantung Allura bagaikan tertancap pisau. Ia menghembuskan napasnya meski kini keluar terbata-bata. Ia hanya terdiam dan menangis. Napasnya tersendat-sendat. Mencoba menyalurkan segala rasa buruk yang meluap begitu perih.
"Alvin, aku...aku..." Lagi-lagi Allura tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia hanya bisa bicara melalui air matanya.
"Kebenaran sudah terungkap. Anak itu bukan anakku. Sekarang pergilah jauh, aku tidak ingin melihatmu."
Allura terus menggeleng dan terus menatap Alvin dengan pandangan nanar. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. "Tolong, Maafkan aku Alvin. Aku sangat mencintaimu."
"Setelah apa yang kau lakukan, Allura? Cih.." Alvin berdecak.
"Maafkan aku, kita bisa memulai dari awal lagi." Allura menunduk lagi.
"Aku tidak bisa. Aku tak pernah mencintaimu. Pergilah, jangan pernah kembali lagi."
Seketika badan Allura lemas seperti tak bertulang. Ia lunglai dan langsung terduduk di lantai. Bahunya bergetar dan terus menangis.
"Jangan lakukan itu Alvin. Aku sangat mencintaimu." Pinta Allura dengan air mata berurai. Tangisannya pilu dan menyedihkan. Sekarang ia sangat membutuhkan seorang ayah untuk anaknya. Namun Alvin tak merasa iba melihat tangisan Allura.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^