LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Aku tidak tahu apakah tempatku benar-benar di sini. Aku tidak punya seorang pun untuk diajak bicara. Setiap kali orang bertanya padaku apakah aku baik-baik saja, hal ini semakin mengingatkan bahwa aku tidak baik-baik saja....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Larut makin beranjak kelam. Hening diselimuti hembusan angin yang kian mendingin. Menerobos masuk melalui celah ventilasi jendela. Berembus memenuhi remang ruang bercahaya, menempel anggun di dinding kamar. Ele cepat-cepat menyelimuti sekujur badan dan bersembunyi di dalam.


Semenjak kepergian Alvin, Ele tak bisa tidur dengan tenang. Ia sering mendapatkan teror. Tidak hanya sekali, ini sudah berlangsung sampai dua minggu belakangan ini. Teror paket dengan tulisan misterius membuat Ele stres dan trauma. Ia merasa terganggu dan takut dengan aksi teror itu. Bahkan sampai membuat Ele ketakutan jika ada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Dia mengira bahwa orang itu adalah pengantar paket misterius.


Karena seringnya mendapat paketan barang yang isinya selalu membuatnya panik dan ketakutan. Akhirnya Ele pun menceritakan perihal aksi teror itu kepada Amira dan melaporkan langsung kepada kepala desa. Namun sampai saat ini, kepala desa juga belum bisa menemukan jawabannya. Dari mana paket teror itu.


Ele mengembuskan napas frustasi. Semoga saja paket teror itu tidak pernah datang lagi. Berbagai buah pikiran mulai memenuhi kepalanya. Ele menajamkan pendengarannya. Ada suara motor merayap menapaki jalan setapak menembus pekat. Suara motor itu perlahan menjauh dan hilang terurai hembusan alam. Ketakutan di wajahnya terlihat jelas.


Ele berusaha terpejam, berharap tidur menghinggapi diruang sadarnya. Selama ini, Ele tak pernah setakut ini. Ia mencoba melupakan sejenak dari suara-suara aneh yang terdengar dari arah luar. Apalah yang didapat, justru kantuk tak juga mendera.


Ele memasang baik-baik gendang telinga untuk memastikan bawa ada mobil berhenti di depan rumahnya. Langkah suara kaki itu semakin terdengar.


"Ya Tuhan..." Pekik Ele dalam balutan selimutnya. "Siapa itu?"


Wajah Ele menegang saat mendengar langkah kaki itu berhenti tepat di depan rumahnya. Senyap tidak ada suara.


TOK....TOK....TOK...!


Ele tersentak saat daun pintu bergetar hebat diterjang. Palang pintu sebagai pengguna pengunci turut bergerak.


TOK...TOK...TOK...!


"Buka pintunya Ele,"


Ele tercekat. Menarik buka selimut yang menutupi sekujur badan dengan peluh keringat yang membanjiri. "Suara itu?"


Kembali pintu diketuk keras untuk ketiga kalinya. "Ele, buka pintunya, aku tahu kau ada di dalam."


"Harry?" gumam Ele dalam rasa cekamnya.


Ele mengembuskan napas panjangnya. Ia segera bangkit, bergegas memburu pintu depan. Ele membuka tirai jendela sedikit. Mengintip ke arah luar untuk memastikan bahwa itu sosok Harry.


Ele kemudian mendengkus. "Buat apa dia datang ke sini?" Ia mengangkat palang kayu pengunci lalu menarik daun pintu hingga terbuka lebar.


Harry langsung masuk bersama dengan kedua anak buahnya. "Kenapa lama sekali buka pintunya?"


Ele menghembuskan napasnya lewat mulut, mencoba tetap tenang walau ia tahu akan ada perang dingin di rumah ini.


"Kenapa kau datang lagi? Bukankah sudah cukup kau menyakitiku Harry. Biarkan aku hidup tenang di desa ini." ucapnya kaku dan dingin. Ia berjalan melewati tubuh Harry tanpa tersenyum.


"Aku dengar ibu Alvin memberimu uang." kata Harry to the point. Senyumnya mengandung sejuta makna.

__ADS_1


Ele tersenyum kecut, menatap ke arah lain. "Kau datang jauh-jauh hanya untuk menayangkan itu?" sudut bibirnya melengkung ke atas.


"Ya. Setidaknya kau memberiku setengah."


"Kau gila! Aku tidak pernah menerima uang itu." Ucap Ele berbohong.


"Benarkah? jangan bohong Ele. Wajahmu tak bisa membohongiku." Desis Harry.


"Jangan membuat keributan, kau tahu ini sudah pukul berapa?"


"Oke, aku minta maaf. Aku juga tidak mau ribut denganmu Ele. Aku sudah capek. Aku ingin kita akrab sebagai kakak dan adik." Harry berucap lembut.


"Cih..." Ele tersenyum miring. "Apa aku tidak salah dengar? Berhentilah bersandiwara Harry. Aku tahu siapa kamu. Jangan menghabiskan waktumu dengan sia-sia. Sekarang pulanglah! Aku ingin istirahat." ucapnya.


Harry berdecak."Kenapa kau selalu menilai buruk kepadaku, Ele?"


"Bukankah itu kenyataan?"


"Aku serius Ele, ini demi kebaikan kita semua."


"Kebaikan semua?" Alis Ele menukik tajam. "Apa maksudmu?"


"Begini Ele, Allura tidak mau kau berhubungan lagi dengan Alvin."


Ele diam dan menunggu Lelaki itu selesai berbicara. Jantungnya tak bisa berbohong saat ini. Entah mengapa perasannya tidak enak. Ele menelan salivanya karena begitu gugup.


"Jadi dia menjual kebun dan rumah ini, agar Alvin tidak datang ke desa ini lagi. Soal hasilnya kau tidak perlu takut. Allura akan memberimu setengah dari penjualan itu."


Deg! jantung Ele berdetak kencang di dalam rongga dadanya. "Apa? menjual apa maksudmu?" Napasnya tersengal karena menahan emosi.


"Bagaimana aku bisa tenang?" Teriak Ele. Suaranya sudah memenuhi ruangan itu.


"Ssstttt....Ele.... tenang dulu. Suaramu merusak gendang telingaku." Harrymendekat ke arah Ele. Mencoba membujuknya. Namun Ele perlahan munduk ke belakang.


Matanya menyorot penuh kebencian. "Kau menjual rumah dan kebun peninggalan ayahku?" Suaranya pelan dan bergetar.


"Aku sudah bilang, hasilnya kita akan bagi rata. Ini demi kebaikan kamu juga. Apa kamu berharap Alvin datang ke sini lagi? Jangan mimpi Ele."


"Kau benar-benar sudah gila Harry. Aku tidak pernah mengizinkan kalian menjual milik ayahku. Itu tidak hak kalian!!!" Ele mencengkram baju Harry di sana. Rahangnya mengencang kuat.


"Kau tidak bisa menolaknya karena pembayaran sudah lunas. Allura akan mentransfer bagianmu."


"Apa?" napas Ele naik turun begitu cepat.


"Seperti yang kau dengar. Pembayarannya sudah lunas, Ele." Harry mempertegas ucapannya.


Ele menggeram. Rahangnya mengencang kuat. Sorot matanya menajam seakan ingin menerkam Harry. Ia tidak terima. Rasanya ingin menangis. Ele sudah siap meledakkan lahar yang tertumpuk di dadanya.


"Bagaimana kalian bisa menjualnya, sementara sertifikatnya ada di tanganku." Mata Ele seketika berkaca-kaca. Dadanya tiba-tiba sesak.


"Maafkan aku Ele, saat kau berbicara dengan Allura, aku kembali ke sini dan mengambil sertifikat rumah ini."


"Kau pikir aku bodoh, bagaimana dengan tanda tangannya? Kalian tidak bisa menjualnya tanpa tanda tanganku."


Harry mengembuskan napas tenang. Ia menatap Ele dengan senyuman tipis. "Kami juga tidak bodoh Ele. Soal tanda tanganmu kami sudah memalsukannya."

__ADS_1


Air bening yang terkumpul di kelopak matanya tergelincir bebas di pipinya. Ele merasakan sesak di dalam dada. Tangisannya menggambarkan betapa hancurnya hatinya saat ini. Harry dan Allura tega menjual yang bukan hak mereka.


Harry menghela napas panjang dan kemudian berbicara. "Mereka memintamu untuk mengosongkan rumah ini secepatnya." Lanjut Harry tanpa iba.


Ele benar-benar dikuasai emosi melihat sikap Harry. Ia langsung menampar pipi Harry.


PLAKKK!


Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah.


"Berani kau menamparku," Harry begitu shock saat Ele menamparnya.


"Selama ini, aku diam dan memberi apapun yang kalian mau. Tapi sekarang....?" Ele tak bisa melanjutkan kalimatnya. Tangisannya pecah saat itu juga. Dengan terbata-bata ia kemudian bicara. "Kalian jahat, kalian bukan manusia." Teriak Ele histeris.


Mata Harry menyalang tajam. "TERSERAH..yang jelas kau harus meninggalkan tempat ini."


"Tidak, aku tidak akan meninggalkan rumah ini."


"Jangan buat aku marah, Ele." Emosi Harry tersulut lagi.


"AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN RUMAH INI." Ucap Ele dengan tegas.


"Apa katamu?" Emosi Harry meledak lagi. Ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan semua barang-barang yang ada di sana.


Mata Ele langsung terkesiap, ia mengusap cepat air matanya saat melihat kedua pria itu membanting barang-barang yang ada di sana.


"Apa yang kalian lakukan?" Teriak Ele berusaha menghentikan.


Mendengar itu, sudut bibirnya Harry melengkung ke atas. "Sekarang pilih, tinggalkan rumah ini atau semua barang-barang yang ada di sini hancur tak tersisa."


Ele menatap nanar ke arah Harry. Ia menggeleng cepat dan terisak. Harry mengambil foto yang digantung di dinding. Tubuh Ele menegang, itu adalah foto ayah dan ibunya.


"Jangan Harry," teriak Ele. Ia tahu sifat Harry. Napasnya memburu dengan jantung terpukul cepat.


Bibir Harry tersenyum kecil. Seperti gerakan slow motion. Harry menghempas bingkai foto itu dan mengambil fotonya.


SSRREEEEKKKK....! SSRREEEEKKKK....!


"TIDAKKKKKKKKK......" Ele menjerit histeris di sana. Ia menggeleng cepat seakan tidak percaya. Tubuhnya bergetar menahan sesak di dada. Air bening yang sedari tadi mengkristal kembali terjatuh lagi membahasi pipinya.


Belum puas, Harry kembali menyobeknya menjadi beberapa bagian, hingga potongan foto itu menjadi kecil-kecil. lalu..ia menghaburkan di depan Ele dan foto itu menyebar di hadapan Ele.


Harry tersenyum sinis. "Tinggalkan rumah ini dalam waktu enam hari." Ucapnya penuh kemenangan. Pembawaannya begitu tenang, senyum kecil-kecil terlihat di ekspresi wajah Harry. Lalu Harry memberi gestur kepada anak buahnya agar segera meninggalkan tempat itu.


Saat mendengar keributan itu, orang-orang langsung keluar. Namun tidak berani masuk. Karena mereka tahu Harry bisa melakukan apa saja.


Sementara Ele hanya bisa menutup mulutnya dan menangis lagi. Bahunya bergetar, menahan isak tangisnya yang semakin terdengar di dalam ruangan. Beberapa tetesan air matanya terjatuh kepangkuannya. Saat dirinya terluka dan sakit tak bisa lagi dilampiaskan dengan amarah. Ia hanya memegang dadanya yang begitu sesak. Pedih, sakit dan kecewa. Itulah yang dirasakannya saat ini.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2