
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Waktu adalah kado terbaik. Jika seseorang sudah memberikan waktunya, dia memberi bagian hidupnya yang tak akan bisa dia ambil lagi....
πΈπΈπΈπΈπΈ
βSelamat sore buat masyarakat negeri Entah Berantah...! Nanti malam, anda akan dapat menikmati, aneka macam atraksi tarian dan lagu di pertunjukan Festival Desa Adat Momentum Tunjukkan Potensi Desa Tahunan bertempat di lapangan di desa A. Mari kita kunjungi beramai-ramai, jangan sampai anda ketinggalan. Ajak keluarga dan tetangga serta sanak famili anda untuk menyaksikan berbagai pertunjukan menarik. Pertunjukan ini akan dimeriahkan oleh penyanyi terkenal dari kota A dan pengunjung berdatangan dari luar negeri.β
Pengumuman itu terdengar jelas melalui pengeras suara dari sebuah mobil pickup L 300 yang bergerak pelan. Bocah-bocah kecil mulai merengek, ingin ikut menyaksikan pertunjukan itu. Kaum remaja putra dan putri senyum kecil mendengar acara pertunjukan di desa bertepatan dengan malam mingguan.
Ternyata orang dewasa, ibu-ibu muda, tak kalah gembiranya menyambut pertunjukan itu. Termaksud Ele dan Alvin. Mereka tersenyum saat mobil pickup melewati rumah sederhana itu.
Pelaksanaan festival merupakan momentum yang sangat baik, menunjukkan jati diri dan potensi yang dimiliki desa, sehingga festival adalah kesempatan terbaik untuk mempromosikan destinasi yang dimiliki, sekaligus kesempatan untuk mengucapkan rasa syukur kepada yang maha kuasa. Festival ini paling di tunggu-tunggu di desa ini.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Ele memperhatikan lagi penampilannya. Amira tersenyum di sana. Ele memang cantik, bahkan lebih cantik dari Veronica yang dielu-elukan paling cantik di desa ini. Tatanan rambut Ele yang rapi dan sederhana menambah nilai plus. Wajahnya terlihat begitu mulus. Setiap pakaian yang ia kenakan selalu pas di badannya.
"Kamu benar-benar gak ikut?" tanya Ele menatap Amira dari cermin.
Amira menggelengkan kepalanya. "Gak bisa Ele, aku gak bisa pergi. Aunty sudah dalam perjalanan ke sini. Apa kata mereka jika aku tidak ada di rumah, aku bisa dibilang ponakan durhaka."
Ele menarik napas singkat, menunduk sambil memainkan kukunya. Amira bisa melihat itu, ia melangkah mendekat ke arah Ele. "Kan ada Alvin? kamu gak suka jalan sama Alvin?"
Ele menghela napas berat, "Bukan tidak suka, aku hanya gugup."
Alis Amira naik dari pangkalnya. "Gugup?" Matanya melotot meminta penjelasan lebih. "Apa artinya kamu....?"
Dengan cepat Ele membekap mulut Amira sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Hmmpppp, apa yang kamu lakukan?" Amira mencoba melepaskan tangan Ele.
__ADS_1
Tangan Ele pun terlepas. "Kau selalu berpikir aneh-aneh," Ele mendengkus kesal.
Amira tersenyum menyeringai. Ia mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Sungguh, kamu tidak merasakan apa-apa, ayolah jujur saja. Kamu menyukai Alvin,kan?"
"Astaga....apa-apaan sih?" Ele menjauh.
Amira menaikkan kedua alisnya dan terus menggoda Ele. "Benarkan, kamu menyukai Alvin? Lihat wajahmu merah kayak tomat."
Ele mengibas-ngibaskan tangannya di wajahnya. Ia semakin salah tingkah. "Aku bilang jangan berpikir aneh-aneh." Ele melangkah keluar dari kamar.
Diruang tamu, Alvin sudah menunggunya. "Kita berangkat Alvin," Kata Ele dengan ketus tanpa memandang Alvin.
"Heuh." Alvin seperti orang bodoh, saat melihat penampakan Ele yang nampak berbeda dengan mini dress bermodel rok melebar hingga ke batas lutut dan berlapis brukat berwarna merah maroon gelap. Pakaian itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Di pinggangnya terdapat pita dan desain lehernya berbentuk V dengan lekukan motif brokat, tangannya tiga perempat di bawah siku. Elegan dan ia sangat manis dengan dressnya. Ia juga sudah wangi dan terlihat segar. Rambutnya diurai begitu saja melewati bahu. Berombak cantik dan rambut indahnya. Alvin terkesima melihat penampilan Ele yang terlihat sangat cantik.
"Ele," Panggil Alvin saat melihat Ele berjalan lebih dulu meninggalkannya. Matanya tak berkedip dengan mulut terbuka. Selama ini Ele hanya berpenampilan biasa, tak pernah menggunakan gaun seperti yang dilihatnya sekarang. Alvin masih bergeming ditempatnya, menatap punggung Ele yang pergi meninggalkan ruangan dengan langkah panjangnya.
"Ele, tunggu!" Panggil Alvin lagi.
Amira dengan cepat menghalangi Alvin. Ia menghadang dengan kedua tangan terbuka. "Tunggu dulu!" cegatnya.
"Heuh?" Langkah Alvin berhenti. "Kenapa Ele nampak kesal, iya?"
"Tidak usah dipikirkan. Sekarang yang paling penting, bagaimana dengan rencana kita? Kamu sudah siap dengan pertunjukannya?" tanya Amira.
"Serius, suara kamu bisa diandalkan? ntar malu-maluin lagi. Soalnya ini kejutan ulang tahunnya."
"Doakan saja semuanya berjalan baik. kamu sendiri yang membuat rencana ini berantakan. Aku juga gak ada persiapan."
Amira terkekeh, "Hmm. Aku mengaku salah, soalnya yang aku ingat, ulang tahun Ele tanggal dua puluh. Gak apa-apa juga kali, tetap semangat! Semoga rencana kita berjalan dengan baik." Kata Amira menyemangati.
"Oke, aku pergi dulu, Ele bisa marah karena menunggu lama."
Amira tersenyum mengangguk. Ia pun bergegas untuk mempersiapkan kejutan-kejutan selanjutnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alvin dan Eleanor sudah tiba di acara festival jati diri desa.
CREK!
__ADS_1
Bunyi tarikan rem tangan.
Alvin memarkir mobilnya di seberang, lumayan jauh dari acara festival. Mereka sama-sama turun dan berjalan ke arah keramaian orang-orang yang berkumpul untuk menyaksikan festival di sana.
Acara musik akan digelar. Ada dua panggung pada acara yang dilakukan, yakni utama dan komunitas dari luar desa dan panggung lagi untuk menjadi tempat suguhan musik yang menampilkan penyanyi-penyanyi yang ingin tampil. Ele mengambil tempat duduk di sana. Sementara Alvin duduk di samping Ele. Ia nampak asyik mengikuti setiap acara pertunjukan yang baru saja dimulai. Setelah penyanyi lain tampil untuk mengisi acara. Tiba-tiba semua hening. Ele tidak menyadari bahwa Alvin sudah tidak duduk di sampingnya lagi.
"Heuh kemana Alvin?" Ele bangun dari duduk dan mengedarkan pandangannya, mencari-cari Alvin. "Astaga, dia benar-benar gak bisa diajak kompromi. Kemana dia?" Ele terus mencari Alvin. Ia bahkan mengumpat Alvin yang tiba-tiba hilang. Ele nampak frustasi. Dia tahu Alvin belum mengenal betul desa ini. Ia bisa tersesat, di tambah tempat ini semakin dikerumuni banyak orang.
Namun tiba-tiba suara dari atas panggung seperti tidak asing di telinganya. Ele membalikkan badannya dan mengernyit. "Alvin????? Kenapa dia ada di sana?" Ele masih tak percaya, Alvin ternyata berada di atas panggung. Ia kembali duduk dan melihat apa yang akan dilakukan lelaki itu.
Gaya Alvin terlihat santai namun menghipnotis bagi siapa yang melihat. Ia memakai kaus putih dengan ripped jeans, dan sneakers warna putih bikin penampilannya terlihat segar dan sangat tampan. Semua hening menunggu Alvin berbicara, termaksud itu Ele. Jantungnya kembali berdebar aneh. Ia menarik napas sambil meremas kedua tangannya untuk menutupi kegugupannya.
Alvin tersenyum, ia menatap ke depan. Alvin seperti teringat pernah melakukan hal seperti ini di atas panggung. Tapi ia tidak Ingat, kapan dan dimana dilakukannya. Alvin memegang mikrofon dan merapatkan pengeras suara itu ke mulutnya. Suasana seketika hening dan menatap fokus ke arah Alvin saja.
"Perkenalkan nama saya Alvin. Saya sudah tinggal beberapa bulan di desa ini. Terima kasih untuk kesempatan ini. Saya sendiri bangga bisa mengikuti acara festival ini. Malam ini, saya ingin menampilkan sebuah lagu. Lagu ini special untuk semua orang yang telah berbuat baik kepada saya." Alvin menundukkan kepalanya dengan penghormatan kepada para penonton. Atas ucapan terima kasihnya yang telah memberikan kesempatan untuknya. Semua orang pun baru bertepuk dengan bersorak dan penuh antusias.
"Saya akan mempersembahkan lagu pertama saya, yang berjudul memories dari Marroon." kata Alvin melemparkan senyumnya kepada semua penonton.
Semua hening menikmati lagu yang dinyanyikan Alvin. Lantunan lagu yang dinyanyikannya berhasil memukau ribuan penonton yang datang bahkan dari desa seberang. Begitu juga dengan Ele yang dari kejauhan ikut menikmatinya, ia tersenyum bahagia dan menikmati debaran-debaran yang tercipta dari jantungnya. Entah mengapa Ia semakin tertarik dengan pria itu.
Penonton tidak hanya kagum dengan suara merdu dari Alvin. Pujian-pujian dari penonton terlebih para wanita yang histeris dengan pertunjukan Alvin. Ketampanannya menghipnotis para wanita. Tepuk tangan yang meriah terdengar di sana.
Dan tiba-tiba....
Beberapa kembang api spesial meletus di udara dengan bertuliskan. "Selamat ulang tahun Eleanor"
Dan letusan kembali meluncur ke udara dengan tulisan berbeda pula. ''Bahagia selalu Ele,"
Bunyi semarak dari kembang api meluncur di udara berganti-gantian. Menghaburkan beragam cahaya-cahaya indah, kembang api berpadu dengan gelapnya malam. Sangat indah.
Ele terkejut dan sangat terkejut. Matanya membulat sempurna. Ia Mendongak ke atas dan melihat kembang api yang terus meluncur ke atas. Ia masih tak percaya, Alvin memberikan kejutan untuknya. Tak terpikirkan olehnya akan mendapatkan kejutan seperti ini. Semua pasang mata ikut menyaksikan kebahagiaan kembang api itu dan mereka tahu kembang apa itu untuk siapa.
Ele masih kaget, matanya terbelalak sampai menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca. Saat melihat pemandangan di atas langit. Penonton yang ada di sana ikut menyaksikan pertunjukan itu. Mereka bertepuk tangan dan menyanyikan selamat ulang tahun kepada Ele.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^