LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MENENTUKAN


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Ikutilah hatimu. Berikan pertanyaan, temukan jawabannya. Belajarlah untuk mempercayai hati....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Sementara di atas panggung Alvin bisa melihat kepergian Ele meninggalkan acara festival.


"Ele? mau kemana dia?"


"Berikan tepuk tangan yang meriah kepada penyanyi hebat kita!" seru Veronica begitu antusias di atas panggung.


Tepuk tangan dan sorakan dari penonton, membuat Alvin mengembalikan pikirannya, ia tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada semua penonton. Matanya masih terus memperhatikan langkah Ele yang semakin menjauh meninggalkan acara festival.


Pujian setiap pujian membuat Alvin tersenyum lagi dan lagi, ia merasa besar kepala dengan sanjungan tersebut. Ia kembali membungkukkan badannya di depan ratusan penonton yang ikut menyaksikan acara itu. Riuh tepuk tangan meramaikan tempat itu. Alvin berjalan menuruni panggung. Saat berada di bawah panggung, Alvin mempercepat langkahnya, menerobos dari kerumunan orang-orang yang ada di sana mencari sosok Ele. Ia terus menatap ke depan karena kebingungan mencari sosok Ele dari kerumunan orang-orang yang ada di sana.


"Ssshhiitt..." Alvin mengumpat kesal, ia tidak menemukan Ele lagi.


"Ele?" teriak Alvin.


"Apa Ele sudah pulang?"


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Napas Ele mulai terengah- engah, saat mengingat kejadian itu. Bau alkohol bercampur dengan anyirnya darah bahkan tercium dari tempat persembunyian Ele saat itu. Ele sangat ketakutan, tapi ia tak pernah menyesal telah membunuh pria itu. Tiga kali mencoba untuk merenggut mahkotanya yang berharga, membuat Ele nekat melakukan itu. Dan yang membuat Ele sedih, Ibunya mengakui bahwa ia yang telah membunuh suaminya itu. Walau Ele menyangkalnya dan tetap mengakui bahwa ia adalah pelaku yang sebenarnya. Tak ada yang percaya kepada Ele, karena saat itu usianya yang masih anak-anak. Ele tidak mungkin berani membunuh ayahnya.


Semenjak kejadian itu, kedua saudara tirinya merusak kebahagiaannya. Ele bahkan tak pernah dikasih makan dan kerap sekali mendapat pukulan. Ia berjuang hidup sendiri tanpa ibu. Tekanan setiap tekanan yang di dapatkan ibunya, membuat wanita paruh baya itu mengakhiri hidupnya di dalam penjara. Ele semakin terpuruk saat kepergian ibunya. Harry berhasil menguasai kekayaan yang ditinggalkan oleh ayahnya dan mengusirnya dari rumah.


Aaaaaggghhhhh


Ele berteriak di sana. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia mengalami trauma pada masa kecilnya. Apa yang telah dilakukan kedua saudara tirinya.

__ADS_1


Air matanya kembali tergelincir di pipinya. Hatinya sakit, perasaannya hancur dan remuk. Mengingat kepingan-kepingan memori yang terjadi saat Ia berusia dua belas tahun. Kedua saudara tirinya bahkan kerap menyiksanya. Ele dipukul, ditendang, ditampar, disuruh jongkok dan berdiri secara terus-menerus sampai kelelahan, kepalanya dibenturkan ke tembok, dan dikurung di dalam kamar mandi. Meski saat itu Ele sering mendapat perlakuan seperti itu. Ele tidak memperlihatkan dirinya mengalami tekanan mental. Ia bisa mengikuti sekolah dengan baik. Jika luka di tubuhnya ketahuan oleh guru, ia hanya perlu menjawabnya karena jatuh.


Setiap hari Ele mendapatkan perlakuan yang sama. Rambutnya bahkan dipotong asal dan mereka tertawa saat melihat penampilan Ele. Setelah disiksa sedari siang, pada malam hari ia disuruh menghadap tembok, kepalanya dibenturkan ke tembok, dan tidak diperbolehkan makan serta minum. Karena sudah tidak mampu lagi menanggung derita, Ele akhirnya roboh. Ele tak berdaya. Saat Harry terbangun dan hendak ke kamar mandi, ia mendapati Ele telah terkapar dan membawanya ke rumah sakit.


Ele ternyata tidak sekuat yang ia kira. Air matanya kembali menganak sungai membasahi pipinya. Ele berlari hingga sampai ke tepi danau. Kepalanya mendongak ke atas. Wajahnya mengerut menahan tangisannya lagi. Napasnya berembus dan masuk lewat mulut yang terbuka. Ia membungkuk dan memegang lutut, mencoba menstabilkan napas yang naik turun begitu cepat. Ele seperti orang depresi saat itu. Ia kembali berdiri dan menatap ke atas langit. Hatinya sesak. Ia berjuang tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pengalaman traumatis luar biasa. Ele selalu trauma melihat interaksi keluarga bahagia setelah keluarganya berantakan. Ia memiliki rasa iri dan dendam luar biasa pada saudara tirinya yang selalu menyalahkannya.


Ele sadar penuh bahwa lukanya bisa sembuh asalkan ia mau memaafkan masa lalu, memaafkan dirinya sendiri, dan menerima kondisinya sekarang, namun begitu dalamnya luka itu hingga ia lupa bagaimana caranya memaafkan kedua saudara tirinya. Ia selalu menunggu saat-saat terbebas dari belenggu luka ini. Ia selalu menunggu dirinya untuk bisa mengobati sedikit demi sedikit luka ini, hingga ia bertemu tuan muda lebah yang mampu membuatnya tersenyum walau sampai saat ini cintanya tak pernah terbalas. Kini ia bisa menikmati hari-harinya tanpa tekanan.


Ele kembali menangis, dia menutup matanya dengan kedua tangannya. Sungguh ia tidak dapat mengendalikan perasaan emosinya saat ini. Semua bermula atas kejutan ulang tahunnya itu.


"Ibu!" Ele berteriak di sana. Kedua tangannya membentuk corong di depan mulut-nya. Wajahnya mengerucut, menahan air matanya agar tidak keluar. Namun tetap saja air matanya selalu bebas terjatuh ke pipinya.


Tiba-tiba langkah Alvin berhenti saat mendengar suara yang tak asing baginya. "Ele, bukankah itu suara Ele?"


Dengan napas sesenggukan, Ele kembali menguatkan hatinya dan kembali berucap. "Ibu pasti membenciku, kan? Aku telah membuatmu menderita, kau melalui semuanya dan menanggungnya sendiri. Maafkan aku bu. Maafkan Ele..." Eleanor mengerang dan terus menangis di sana.


"Aku pantas di benci. Ibu nekat mengakhiri hidup, karena tak tahan menanggung beban berat ini." Air mata Ele terjatuh lagi, mengalir deras ke pipinya. Dengan cepat Ele mengusapnya dengan tangan.


Alvin memperlambat langkahnya saat melihat Ele ada ditepi danau dan berteriak di sana.


"Aku pantas dibenci..." Suara Ele semakin pelan. Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bahunya semakin bergetar karena tangisannya.


"Aku minta maaf," ucap Ele terduduk di tepi danau. Seperti biasa ia akan meluapkan segala rasa sedih yang menggerogoti dadanya.


Ele terkejut saat Alvin berhasil menemukannya. Ia menunduk sambil memegang dadanya, tak berani menatap Alvin.


"Apa terjadi sesuatu, Ele?" tanya Alvin begitu panik dan memegang kedua bahu Ele.


Mata Ele kembali berkaca-kaca. Bahunya bergetar, ia terus menunduk dan memejamkan matanya.


Alvin membeku ditempatnya, saat menyadari Ele ternyata menangis. "Ele?"


"Aku mohon, jangan seperti ini lagi, Alvin." Ucapnya dengan bibir gemetar sambil terus menunduk.


Deg!


Alvin terdiam kaget, jantungnya berdegup kencang. Pikirannya berkecamuk, apa yang membuat Ele tidak nyaman, apakah karena kejutan ulang tahun itu? Bukankah setiap wanita bahagia mendapatkan kejutan?


"Kenapa Ele, apa yang membuatmu menangis?"

__ADS_1


"Aku tidak nyaman seperti ini, aku tidak mau...." Eleanor menggeleng dan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Beberapa tetesan air mata terjatuh ke pangkuannya.


Alvin seketika terdiam, hatinya begitu sakit melihat Ele menangis seperti ini. Entah mengapa hatinya ikut terluka. Ia menarik napasnya dalam-dalam sambil menutup mata. "Apa yang membuatmu tidak nyaman? apakah karena kejutan ulang tahun itu?"


Ele terdiam di sana. Ia juga tidak tahu harus menjawab apa. Tapi karena mengingat kehidupan yang dijalaninya sangat berat. Ele saat membenci yang namanya ulang tahun. Ia benci diberi kejutan. Jika boleh memilih Ele tak ingin merayakan yang namanya ulang tahun.


"Ele, jawab aku! Apa yang membuatmu menangis seperti ini, apa karena kejutan itu?" Tanya Alvin lagi.


Ele menarik napasnya, tatapannya lurus dan tidak ingin melihat Alvin. "Aku tidak ingin kejadian hari ini terulang lagi. Kau tidak perlu repot-repot melakukan ini. Aku tidak suka!" Jawab Ele dengan ketus. Ia bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan Alvin di sana.


Alvin ikut bangun. Jantungnya begitu terhantam mendengar perkataan Ele. "Apa kau begitu membenciku, Ele?" Ucap Alvin begitu lantang di sana dan berhasil menghentikan langkah Ele.


Ele menarik napas dalam-dalam, posisinya masih memunggungi Alvin. Tangannya mengepal kuat. Ia menguatkan batinnya. Apakah sesakit ini? Jantungnya berdegup kencang.


"Aku ikhlas melakukan ini. Apa kau tidak bisa melihat ketulusanku Ele? Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Apa yang salah dengan kejutan ini?"


Ele membalikkan badannya, menatap tajam kepada Alvin. "Aku tidak pernah mengharapkan kejutan seperti ini, dan kau memang tidak perlu melakukannya. Apalagi untuk membuatku bahagia!" Ele mempertegas ucapannya. Setelah mengatakan itu Ele kembali melangkah dan ingin meninggalkan Alvin.


"Aku melakukan semua ini, karena aku menyukaimu Ele,"


DEG!


Langkah berhenti dan diam dengan posisi memunggungi Alvin. Ele tercengang. Sudut matanya mengerut bingung. Ia masih diam di posisinya. Tapi ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong, dahinya mengerut serius. Jantungnya terpukul kencang. Matanya mengedip pelan.


"Apa? Alvin menyukaiku?"


"Aku menyukaimu Ele, aku tidak tahu kapan perasaan ini datang. Tapi kali ini aku yakin dengan perasaanku. Aku mencintaimu!" ucap Alvin dengan baik, tanpa terbata-bata.


Ele masih tetap diam di posisinya. Sama sekali tidak membalikkan badannya.


Alvin menarik napasnya dalam-dalam. Lalu melanjutkan kalimatnya. "Aku ingin menjadi pria yang istimewa untukmu, Ele. Melindungimu, karena aku tahu kamu menyimpan banyak kesedihan sama seperti yang aku alami saat ini. Aku sedih tidak tahu siapa keluargaku. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku. Aku sangat berharap kita bisa saling memberi kekuatan. Maukah kau menjadi kekasihku?"


Ele membalikkan badannya, menatap Alvin dengan jarak beberapa meter darinya. Semuanya yang dirasakannya kepada Alvin tak bisa bohong. Jantungnya yang berdetak tidak karuan ini, saat menatap mata itu. Dia sangat yakin ini adalah cinta. Perasannya berkecamuk, logikanya bertempur dengan perasaan. Bertemu setiap hari membuatnya terjebak dengan pria ini. Ele masih menentukan perasannya. Apakah hatinya memang untuk Alvin atau untuk tuan lebah.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2