
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Optimisme menurutnya adalah dasar dari keberanian untuk menghancurkan seseorang yang dinyatakan musuh utamanya. ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
DUA JAM SEBELUMNYA.
Siang ini begitu terik hingga menusuk ke kulit, bercampur dengan suasana hatinya terasa panas. Sedari tadi Arlo menggeram kesal karena pergerakannya bisa dicium oleh Lukas. Wajah kaku dan dingin tergambar jelas di wajahnya saat membawa mobilnya menuju tempat persembunyiannya.
Arlo melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Memasuki gang-gang kecil dan sempit. Jalanan ini mengarah ke kawasan pemukiman dan rumah petak yang jarang di ketahui banyak orang. Arlo memang sengaja memilih tempat ini. Jika pada malam hari, bagian ujung yang mengarah ke Closes di tutup dengan gerbang besi dan hanya bisa bisa diakses oleh Arlo sendiri.
Arlo mengurangi kecepatan mobilnya memasuki sebuah rumah mewah seperti gaya minimalis modern di Afrika yang memadukan unsur kayu dan kaca sebagai bahan utamanya. Bangunan itu cukup luas cukup besar dan berbentuk persegi dengan atap.
Pagar utama terbuka otomatis. Arlo berhenti tepat di depan rumah itu dengan menarik rem tangan. Mematikan mesin mobil dan central locknya pun terbuka otomatis. Ia pun turun dari mobilnya. Arlo mengarahkan kunci remote ke arah mobil.
TIT! mobilnya terkunci kembali.
Beberapa anak buahnya yang berdiri diluar, menyambut kedatangannya. Memberi jalan kepada Arlo. Arlo melangkah menuju lorong dimana ia sering menghabiskan waktunya untuk bekerja. Ia membuka pintu ruang kerjanya yang terlihat seperti gudang itu. Pintunya terbuat dari besi. Arlo menarik grendel pintu dan bunyi pintu seperti gesekan besi berat.
Ngiieeeekkkkk!
Arlo mendorong pintu besi itu dan di sana ia melihat anak buahnya sedang bekerja. Ruangan ini menjadi tempat nyaman untuk melakukan pertemuan rahasianya, tanpa harus diketahui anak buah Smith. Ruangan itu terdapat banyak sekat-sekat. Ada satu ruangan yang memang di siapkan Arlo untuk melihat pergerakan Smith. Suatu saat Arlo akan mengambil tindakan ekstrim untuk menghancurkan perusahaan Smith. Kemudian tatapan Arlo tertunduk namun mengeras karena amarah.
Arlo keluar dari ruangannya dan memasuki ruangan dimana anak buahnya sedang bekerja. Para pelacak sibuk.
"Bagaimana?" Tanya Arlo melangkah mendekat salah satu anak buahnya yang nampak serius di sana.
"Dia mengubah lokasi setiap satu menit, susah untuk dilacak."
"Terus cari! dan temukan!" Mereka terus sibuk mencari informasi penting dari perusahaan Smith.
Lima menit berlalu, kesepuluh jari mereka terus beradu, mengetikkan script. Arlo memperhatikan setiap kerja keras anak buahnya itu.
"Bingo!" Salah satu dari mereka berseru, membuat kesembilan pelacak lainnya menoleh memasang wajah-wajah ingin tahu.
"Dia mengubah lokasinya setiap satu menit, namun terlihat jelas polanya."
Arlo pimpinan mereka mendekat ke arah anak buahnya yang berseru tadi dan berdiri di belakang kursi, menatap ke layar monitor.
__ADS_1
"Ini jelas-jelas mereka sangat ahli untuk menghilangkan jejak agar kita tidak bisa menemukannya. Polanya sangat susah ditebak."
"Perpindahan polanya terlihat jelas, seperti topologi bintang, memusat. Tapi titik temunya tak bisa dijelaskan." Kata Arlo terus mengikuti pergerakan tangan anak buahnya itu.
"Benar tuan. Tapi saya tetap akan usahakan. Walau itu mustahil dan kita tidak bisa masuk begitu saja. Sepertinya mereka sengaja menjebak kita."
"Perbesar polanya. Cari alamat spesifiknya."
Jack menggeleng putus asa. Ia berulang kali mengembuskan napas dengan pipi mengembung. Matanya tetap fokus ke layar komputer yang ada di depannya. "Aaaahhhh...Hilang lagi."
"Apa???"
"Maaf tuan. Kita tidak bisa masuk tuan."
"Sial, mereka mengetahui semuanya, mereka telah merekam seluruh jejak kita. Mereka sengaja mematikannya."
"Kau adalah ahlinya dalam bidang ini, Jack. Kenapa begitu sulit untuk meretasnya."
Jack terdiam, menundukkan kepala. Menghadap ke arah sebuah gelas berisi air putih di meja dan meneguknya beberapa kali.
"Server facebook, google, semua sosmed, bank, akun presiden, bahkan data kepolisian ataupun militer yang berada di dalam intranet, sangat rahasia, semua bisa kau retas dengan sangat mudah. Tapi kenapa masuk ke perusahaan Smith saja kau begitu sulit meretasnya." Arlo lanjut berbicara.
"Orang-orang beranggapan bahwa akun mereka aman, sistem yang mereka gunakan aman, mereka semua tidak mengetahui, tidak ada sistem yang aman. Tapi berbeda dengan perusahaan Smith. Siapa dibalik ini semua?" Jack berbicara. Memegang gelas di tangannya. Menatapnya lamat-lamat. Sikapnya santai, tapi saat ini otaknya bagaikan benang kusut yang sulit untuk di luruskan. Masalah ini terlalu berat untuknya.
"Ini tinggal selangkah lagi. Kau adalah seorang profesional, Jack. Banyak hacker di luar sana yang hanya bisa menyentuh ranting pohon, kesulitan memanjat, itu pun diketahui pemiliknya, tapi kau, kau bisa memetik buahnya, bisa berdiri santai di atas pohon, bahkan kau bisa mencabut sampai ke akar, tanpa sang pemilik mengetahuinya. Tanpa jejak dan aku percaya kau bisa melakukan ini."
Jack menundukkan kepala, menilik lembaran-lembaran itu.
"Saya tidak mau tahu, temukan secepatnya! Jika kau bisa melakukan itu, aku akan membayarmu lima kali lipat dari bayaranmu sebelumnya." Arlo memerintah Jack dengan nada wajah bertaruh dan sekita itu, wajahnya berubah dingin. "Jika kau tidak berhasil, kau terpaksa mempertaruhkan nyawamu. Ingat itu, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku. Kau mengerti?"
"Baik tuan. Aku akan menyelesaikan semampuku. Jangan panik, tuan." Jack berkata cepat sambil menundukkan kepalanya.
"Semoga berhasil, aku berharap padamu!" ucap Arlo menepuk pundak Jack.
Setelah mengatakan itu, Arlo keluar dari ruangan itu. Ia melangkah menuju kamarnya. Arlo masih tak percaya, bagaimana mungkin anak buahnya gagal menjalankan misi ini.
Terpaksa Arlo memilih jalan kedua untuk menghancurkan perusahaan Smith dalam hitungan detik. Dia yakin misi ini akan berjalan baik. Arlo akan menggunakan modus dengan serangan program ransomware atau serangan virus jahat. Perusahaan Smith akan menerima email. Ketika Alvin membuka email tersebut, maka software perusahaan akan terenkripsi. Sistem perusahaan itu akan lumpuh dan hanya Arlo yang bisa menghidupkan kembali server itu.
"HAHAHAHA...." Arlo tertawa jahat. Ia melangkah mendekat ke arah anak buahnya yang sedang berdiri diluar pintu kamarnya.
"Persiapkan satu wanita cantik untukku."
Pria itu menundukkan kepalanya. "Baik tuan," jawab pria itu dengan cepat.
Arlo pun masuk menuju kamarnya. Entah mengapa Arlo begitu bersemangat hari ini. Perasaannya begitu bahagia.
Arlo selesai melakukan ritual membersihkan tubuhnya. Sungguh ia sudah tidak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada Allura. Sudah lama ia tidak menghubungi wanita yang lebih memilih Alvin. Bagaimana jika ia tahu, bahwa perusahaan Smith akan jatuh ke tangannya. Ia pastikan Allura akan menangis dan merengek kepadanya. Arlo tersenyum smrik, jika itu terjadi, Arlo tidak sudi menerima Allura lagi. Kini ada wanita yang benar-benar tidak bisa membuatnya tidur nyenyak. Di otaknya hanya ada Eleanor.... Eleanor dan Eleanor lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi Arlo tersenyum sendiri.
"Oh..my god, baru hal seperti ini, rasanya sudah sebahagia ini."
Arlo bersiul menyelesaikan ritual membersihkan tubuhnya. Ia keluar dengan telanjang dada sambil menggunakan handuk. Wajahnya sudah terlihat segar. Tetesan air di ujung-ujung rambutnya masih terjatuh. Otot-ototnya yang bidang terlihat menonjol dan sedikit basah. Sepertinya air nakal dari rambutnya belum ingin lepas dan mengalir dari pelipis hingga ke dada. Arlo menatap dirinya di cermin. Ia memiringkan kepalanya, seakan menikmati tubuh indahnya. Ia sangat menjaganya dengan baik. Ia rutin melakukan olahraga di setiap kesempatan yang ada.
Nama Eleanor terus menari-nari dalam benaknya, terbersit pikiran nakal di kepala Arlo. Bagaimana jika Eleanor menerima cintanya, sungguh ia tidak bisa membayangkan akan sebahagia apa dirinya nanti. Kini Allura sudah menjadi masa lalunya.
Arlo duduk telanjang dada. Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Ia duduk santai lalu mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang. Ehmm..siapa lagi jika bukan Allura. Sudut bibirnya melengkung ke atas saat menekan tanda panggil itu.
Dddrrrttt... Dddrrrttt...
Tapi tidak diangkat. Arlo mengernyitkan keningnya.
"Apa dia sedang bersenang-senang dengan Alvin, lelaki amnesia itu?"
"Cih ..." Arlo berdecak sambil melemparkan ponselnya dengan asal. Ia mengembuskan napas kasar, menatap langit-langit kamarnya.
TOK...TOK...TOK...
Pandangan Arlo tertuju ke arah pintu saat mendengar suara ketukan.
"Masuk!"
Seorang gadis cantik berpenampilan seksi masuk ke dalam kamar Arlo. Arlo menatapnya tanpa berkedip. Ia tersenyum saat wanita itu mulai melucuti pakaiannya.
"Sekarang naiklah!" Ucap Arlo tanpa melepaskan tatapannya kepada gadis seksi itu.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Perjalanan melewati tepian sungai yang cukup indah membuat ia melupakan lelah yang mulai terasa. Ia terus menyusuri jalan bersama dengan ke dua temannya. Wanita itu menarik napas panjang dan tersenyum ketika ia sudah tiba di panti Asuhan. Ia saat ini bahagia bisa sampai ke tempat ini. Ayah dan ibunya sering membawanya ke tempat ini.
Di gerbang panti asuhan. Gadis cantik itu tersenyum, ia datang bersama seorang wanita yang menggunakan velum. Ia mengedarkan pandangannya. Melihat anak-anak berlarian saling berkejaran-kejaran.
Cat gerbangnya berwarna biru yang mulai memudar, pintu gerbangnya juga sudah mulai berkarat, engselnya mengeluarkan bunyi nyaring kalau digerakkan. Namun yang membuat tempat ini indah, banyak bunga-bunga yang menghiasi halaman pekarangan panti asuhan. Anak-anak berlarian di halaman panti yang cukup luas, ada yang sedang bermain ayunan, main bola plastik, main karet. Melihat keramaian itu ia tersenyum dan melangkah pelan mendekati anak-anak yang sedang bermain.
"Selamat sore!" Sapaan lembut, membuat anak-anak berbalik dan melihat ke arahnya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1