
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Bersenang-senang, bisa menjadi dorongan bagimu untuk senantiasa menikmati hidup, kamu bisa melakukan hal-hal luar biasa....
🔸🔸🔸🔸🔸
Harry memacu mobilnya di jalanan ibukota yang mulai lenggang. Ia sekilas melihat jam yang ada dipergelangan tangannya, pukul dua belas malam lewat sepuluh menit. Harry tersenyum, ini saatnya menikmati dunia malam.
Harry keluar dari mobilnya dan menunjukkan kartu VIP yang diterimanya dari Arlo beberapa hari yang lalu. Dua penjaga yang berdiri di sana tersenyum dan mempersilakannya masuk. Hentakan musik membuat Harry bersemangat. Kedua tangannya di angkat ke atas mengikuti gerakan suara disko. Di tambah dengan lampu berkelap-kelip menyinari ruangan, serasa ia berada di dalam nikmatnya surga dunia.
Harry melangkah ke salah satu bar dan memesan minuman yang biasa di pesannya. Lalu melangkah ke salah satu sofa yang kosong dan bersantai di sana. Memperhatikan keerotisan para penari malam sambil meliuk-liukkan badan di tengah lantai dansa. Mata Harry langsung tertuju pada sosok gadis cantik yang menari dengan indah.
"Ini yang aku tunggu-tunggu." Harry berdiri dan mendekat ke arah wanita itu. Menatap lekukan tubuhnya yang benar-benar berkeringat. Dan saat gadis cantik itu membalikkan badannya, Harry tersenyum menyeringai.
"Halo, cantik." Sapa hari setenang mungkin dan menatap matanya sedalam mungkin. Harry yang terkenal dengan mata keranjangnya, memastikan dirinya bisa menahlukkan hati gadis itu.
"Hai," Sapa gadis itu semakin meliukkan badannya di depan Harry.
Pucuk dicinta ulam tiba. Harry semakin bersemangat saat gadis itu memperhatikannya dari atas sampai ke bawah. Harry semakin menatapnya begitu dalam.
"Silakan memandangi pemandangan indah di depanmu, nona." Harry tersenyum bahagia. Kerlingan nakal mulai terlihat di wajahnya.
Gadis cantik itu tersenyum sumringah, tangannya begitu agresif meraba-raba bagian dada Harry.
"Mau menemaniku malam ini?" Tanya Harry dengan senyuman penuh menggoda.
Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Harry. "Ayo, siapa takut." senyumnya menyeringai.
Harry mengigit bibir bawahnya saat lengannya dipegang. Gadis itu menuntun Harry ke sudut klub malam yang di desain lebih panjang. Di sisi kiri dan kanannya terdapat beberapa kamar untuk para tamu yang menghabiskan malam panjang.
"Ini akan menjadi malam panjang untuk kita, tidak lengkap jika kita tidak minum dan menikmati cemilan ringan. Bagaimana tuan tampan?"
Ia tersenyum smrik "Itu ide bagus, kita tinggal menghubungi bagian bar." Harry mendekat ke arah telepon yang ada di kamar.
Dengan cepat gadis itu mencegatnya. "Jangan! maksudku biar aku yang mengambilnya. Kamu tetap di sini. Aku akan mempersiapkannya."
Harry menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya tunggu di sini, nona cantik."
Gadis itu tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya. Harry terkekeh saat melihat keberanian gadis cantik itu. Ia memang mangsa yang tepat untuk membuatnya puas malam ini.
Harry mondar-mandir di kamar itu. Baru kali ini ia begitu nervous menghadapi gadis cantik yang baru ditemuinya. Padahal ia sudah sering melakukan dengan wanita malam yang sering ditemuinya di klub. Tapi gadis ini berbeda.
"Apa aku perlu melakukan pemanasan? Aku butuh waktu 15 menit untuk foreplay sebelum memulai pertarungan."
__ADS_1
"Tapi aku harus melakukan gerakan apa? agar malam ini tidak terasa membosankan. Aku pastikan malam ini kau tidak akan melupakan malam ini."
Harry melompat-lompat untuk mengurangi kegugupannya. Ia mengembuskan napas panjang berulang kali.
Tiga puluh menit telah berlalu, gadis itu tak kunjung datang. Harry mulai mengembuskan napas kesal.
"Kemana dia? mengambil minum saja lama sekali." Umpat Harry tidak sabaran. Ia mengeram karena dibiarkan menunggu begitu lama.
"Apa dia mempermainkanku? Shiiiittt....!"
CEKLEK!
Terdengar suara pintu terbuka.
Harry langsung membalikkan badannya ingin memaki gadis itu.
"Heuh?" Mata Harry terbelalak sepersekian detik. Lima pria bertubuh tegap masuk ke dalam kamarnya. Mereka berbadan besar dan berwajah kasar. Matanya memberikan tatapan paling menakutkan yang pernah Ia lihat. Garis wajah dan air mukanya menunjukkan betapa ia telah lama hidup dalam kegelapan.
"Siapa kalian! Berani-beraninya masuk tanpa mengetuk pintu, gak ada sopan santun kamu," Bentak Harry dengan wajah gaharnya.
Gadis itu tiba-tiba muncul di sana. Harry tersenyum menyeringai. "Akhirnya kamu datang juga. Kau mengenal mereka?"
Gadis itu tak menjawab, ia hanya membungkukkan badannya di depan salah satu pria yang berparas keras yang sedang mengisap cerutunya. Harry tercengang menatap heran.
"Terima kasih Licia, kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik." Kepulan asap putih membumbung ke udara saat pria itu mengembuskan napasnya.
Licia tersenyum, membungkukkan badannya kembali. "Sama-sama tuan,"
Seorang pria memberikan gestur menyuruh Licia agar meninggalkan kamar itu. Licia mengangguk dan segera keluar.
"Hei, kamu mau kemana? urusan kita belum selesai," Teriak Harry.
Namun Licia tak menjawabnya, ia tetap melangkah meninggalkan kamar itu. Harry menarik napas dengan emosi hingga mulutnya terbuka. Ia membuang d*sahan kesal.
"Sebenarnya siapa kalian?" Tantang Harry tak sabaran. "Apa jangan-jangan mereka penagih utang? Astaga.... Kenapa hidupku tidak bisa tenang? Aku dijebak gadis sialan itu." Harry mengumpat kesal dalam hati.
Leon maju beberapa langkah, Ia bersedekap menatap malas ke arah Harry.
"Aku tidak perlu menjelaskan siapa kami, sekarang ikut kami!"
"Aku tak pernah berurusan dengan kalian, sekarang minggir, aku mau keluar!"
Leon santai melipat tangannya di depan dada. "Kau ingin mati."
"Kau mengancamku? cih...aku tidak takut. Sekalipun aku mati di tanganmu." Ucap Harry menatap tajam.
"Hahahaha." Leon tertawa dan seketika matanya menatap tajam. "Kau tidak takut mati?" Leon maju dan mencengkram tangan Harry. Dan beberapa detik kemudian Leon menyerang hidung Harry dengan telapak tangannya.
"Ahhhhhh...Shiiittt!" Umpat Harry saat merasakan hidungnya perih.
Dengan cepat Harry melangkah ingin menyerang Leon. Reflek keempat pria itu maju untuk melindungi bosnya dan menyerang Harry dengan pukulan-pukulan. Beberapa kali Harry terjatuh, ia sampai tersungkur. Ia berusaha bangkit dan mengumpulkan kekuatannya kembali. Namun tubuhnya ditindih dari atas.
__ADS_1
"Ahhhh...." Harry mengerang. "Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" Teriak Harry berusaha meloloskan diri. Namun ke dua tangannya di pegang dan di kunci di belakang punggungnya.
Leon berjongkok di depan Harry. Ia tersenyum sinis melihat pria itu tidak bisa melakukan perlawanan.
"Lepaskan aku!" Harry menggeram saat jari-jari pria itu menekan kuat sisi rahang bawahnya. Pria itu mengangkat wajahnya ke atas.
"Kau masih berani menantangku?"
Dan saat itu juga dahi Harry mengerut saat melihat tato bergambar kepala ular di tangan pria itu. Tato itu melegenda sepanjang masa. Siapa yang tak mengenal mereka. Tak hanya sebagai identitas, tato mereka juga digunakan sebagai penanda 'prestasi' mereka. Mereka juga dijuluki salah satu geng jalanan terbesar dan terkenal. Geng mereka memiliki ikatan mendalam dengan kartel Los. Mereka juga wajib menandai diri dengan inisial geng dengan menggunakan huruf tebal di leher dan di tangan. Siapa lagi jika bukan kartel Los. Mereka juga dikenal menghabisi musuh tiada ampun. Kartel Los terkenal membunuh dengan keji.
Jantung Harry tiba-tiba berpacu kuat di rongga dadanya, deras keringat membanjiri kepala hingga kaki. Tubuhnya seakan membeku, suaranya tercekat. Bayangan tentang akhir kehidupan kian jelas. Tak ada pilihan, tetapi Harry tak ingin berlalu secepat ini. Tak ada tempat untuk lari.
"Siapa pun, tolong aku!" batinnya.
Harry berusaha melepaskan tangan itu, tetapi sia-sia saja. Dia semakin keras menekan. Dan pasti, aku akan berakhir malam ini, jika bukan karena tangannya dicengkram kuat, Harry akan memilih lari saja.
Leon menatap tajam ke arah Harry. "Kebaikan masih berpihak kepadamu. Marvel memintaku untuk membawamu hidup-hidup. Jika tidak, kepalamu sudah di ledakkan detik ini juga."
"Si-siapa Marvel? aku tidak pernah berurusan dengan lelaki bernama Marvel. Jadi lepaskan aku." Suara Harry gemetar ketakutan.
"Sayang sekali dude, aku tidak bisa melakukan itu. Aku hanya menjalankan tugasku."
"Ta-tapi..." dengan susah payah Harry memohon kepada Leon.
“Bukankah kau tidak takut mati. Kenapa kau begitu takut. Ha?” Suaranya tenang, tetapi menakutkan.
Harry semakin ketakutan. Detak jantungnya tidak mau berhenti berdetak. Garis wajah dan air mukanya benar-benar menyeramkan. Sekarang, tangan kanannya semakin kuat mencengkeram lehernya. Sedikit lebih kuat lagi, dia pasti sudah memutus urat nadi hidupnya. Leon masih mencekik leher Harry sambil menindihnya.
Napas Harry tersengal, Ia semakin kehabisan napas, wajahnya semakin membiru karena peredaran darah yang terhambat oleh cekikan itu.
Leon melepaskan tangannya dari leher Harry dan tertawa. "Hahahaha...Ini baru langkah pertama, sisanya Marvel yang akan mengurusnya."
Harry terbatuk-batuk, mengatur napasnya yang hampir habis. Tawa Leon tak juga hilang, Ia kemudian menatap salah satu anak buahnya dan memberi kode.
"Karena kau seperti belut, licin dan paling sulit ditemukan. Aku terpaksa melakukan ini agar kau tidak lari."
Harry bingung. Tiba-tiba muncul lelaki dari belakang. Dengan cepat pria itu mengarahkan suntikan ke pinggang Harry. Saat itu juga Harry sadar dan segera berbalik ke belakang.
"Aahhhhh...." Harry seketika lunglai tak berdaya.
Leon tersenyum dan mendekat ke arah Harry. "Jangan takut, itu hanyalah obat untuk melumpuhkanmu sementara."
Harry hanya diam, tubuhnya tergeletak tak berdaya. Saat ini ia merasa sangat lemas, dan ketika ia mencoba berdiri, Harry tidak bisa melakukannya. Ia berusaha menggerakkan ke dua kakinya. Namun, ia tidak mampu melakukannya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^