LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
ALVIN HARUS KEMBALI


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Kebahagiaan datang dalam gelombang. Ia akan menghampiri dan menemukanmu lagi....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Saat mengetahui Alvin masih hidup dan tinggal di sebuah pedesaan terpencil, Maria terus menangis mengucap syukur bahwa anaknya selama ini tinggal bersama seseorang. Allura juga ikut menangis dan memeluk Maria karena ikut merasakan kebahagiaan itu.


Sementara Lukas hanya duduk tenang, sambil melakukan panggilan kepada Marvel. Ia sudah tak sabar mengetahui kabar terbaru mengenai anaknya itu. Ia tidak bisa ikut bersama Marvel, karena tiba-tiba mendapatkan serangan jantung. Untuk sementara waktu Lukas dianjurkan dokter istirahat di rumah. Jadi untuk saat ini, Lukas menyerahkan semuanya kepada Marvel.


"Bagaimana Marvel?" Tanya Lukas cepat ketika panggilannya di angkat oleh Marvel.


"Saya masih dalam perjalanan tuan, butuh waktu tiga jam lagi ke sana."


Lukas menarik napasnya singkat. Matanya berkaca-kaca, akhirnya Alvin bisa ditemukan. "Baiklah, aku serahkan semuanya kepadamu. Aku percaya kau bisa membawa Alvin kembali." Kata Lukas langsung mematikan panggilannya.


Ia kembali berjalan menuju ruang keluarga. Lukas bisa melihat jelas pancaran kebahagiaan dari istrinya itu. Kedua wanita itu berpelukan sambil melepaskan tangisannya.


"Aku sangat bersyukur sayang, akhirnya Alvin bisa kita temukan. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya." Kata Maria tersenyum penuh haru saat melihat kedatangan suaminya.


"Hmm, kita masih harus menunggu."


Allura ikut merasakan kebahagiaan itu. Tapi ada rasa takut yang menggerogoti dadanya. Bagaimana jika Alvin tidak menerima anak yang ada dalam kandungannya. Allura benar-benar frustasi. Ia memilih diam di sana.


"Sayang bagaimana kalau kita menyusul Marvel? Aku ingin bertemu anakku." kata Maria tidak sabaran.


"Marvel masih dalam perjalanan sayang. Mereka membutuhkan waktu beberapa jam agar tiba di desa itu."


"Aku sudah tidak sabar." Kata Maria dengan wajah cemas. Ia sangat merindukan Alvin. Ini adalah jawaban dari doanya dan Tuhan telah mengabulkannya.


"Sayang, seperti yang kita ketahui. Alvin kecelakaan dan hilang ingatan. Dia akan bingung jika kita tiba-tiba datang ke sana. Jadi biarkan Marvel yang mengurus ini. Dia juga butuh waktu untuk menerima masa lalunya."


Tubuh Allura menegang kaku, saat mendengar itu. Ia langsung menatap ke arah Allura sangat terkejut saat mendengar bahwa Alvin hilang ingatan. "Apa Uncle, Alvin hilang ingatan?" ucapnya terbata.


Lukas mengangguk. "Hmm, Alvin hilang ingatan. Terapi dihentikan karena tidak ada biaya. Jadi untuk saat ini Alvin masih sulit untuk mengembalikan ingatannya pasca kecelakaan itu."


"Benarkah Alvin hilang ingatan? Oh my God kenapa kebaikan selalu berpihak kepadaku. Ini adalah kesempatan besar, Alvin akan berada dalam genggamanku." Allura berbicara dalam hati.


Sandiwara kembali dimainkan Allura. Tiba-tiba ia terisak dan menunduk sedih. Lukas dan Maria saling menatap bingung.


"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?"


Heeeh....Heeeh.... Allura bahkan seperti orang yang terluka di sini. Tangisannya kembali pecah. Allura dengan cepat menutup wajahnya dengan tangan.


"Aku bingung aunty."


Melihat itu Maria dengan cepat mendekat ke arah Allura dan langsung memeluk tubuh lemah itu. Ia tahu apa yang dipikirkan Allura.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja Allura." Kata Maria dengan lembut untuk menenangkan Allura.


Allura menggeleng. Bibirnya bergetar dan terus mengeluarkan air bening yang menetes di pipinya. Dia masih sangat takut. "Aku takut Alvin menolak anak ini..." Allura menangguhkan kalimatnya. Ia menunduk dan terus menangis. "Dan aku dengar Alvin sedang menjalin hubungan dengan wanita yang saat ini tinggal bersamanya. Bagaimana nasib anakku nantinya aunty? Aku tak sanggup menjalani hidupku seperti ini." Allura menangis tersedu-sedu.


"Itu tidak akan terjadi Allura." Potong Maria dengan cepat. "Alvin tidak akan berani melakukan itu. Wajar jika dia nantinya ia terkejut, tapi perlahan-lahan, Alvin akan menerimanya."


Lukas hanya diam di sana, saat melihat Allura terus menangis.


"Allura, lihat aku. Semua akan baik baik saja. Jangan seperti ini, kamu harus kuat. Aku sudah pernah katakan, jika Alvin kembali kau akan tetap menjadi bagian keluarga Smith." Maria menepuk tangan Allura dengan lembut. "Kau tetap menantu keluarga ini. Aku bisa katakan kepada Alvin bahwa kalian sudah menikah. Jadi dia tidak akan kembali dengan wanita itu."


"Yesssss!!!!! Itu yang aku tunggu aunty. Aku ingin kalian benar-benar menganggapku sebagai menantu keluarga ini."


Allura menarik napasnya lagi. Ia mencoba untuk tenang dan mengendalikan diri. Walau air matanya tidak bisa berbohong dengan perasaannya saat ini. Tentu saja tangisan ini adalah tangisan kebahagiaan dan kemenangan.


"Percaya dengan aunty sayang. Kita bisa mengatur semuanya. Demi anak ini...." Maria menyentuh bagian perut Allura dan membelainya dengan lembut. "Aunty akan membuat surat nikah kalian secepatnya. Dengan cara ini, aku yakin Alvin percaya bahwa ia sudah menikah."


Allura mengusap air matanya dengan cepat. Ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum. "Aku juga berharap seperti itu aunty. Dengan cara seperti ini, dia bisa melupakan wanita itu."


"Hmm.... kamu tidak boleh stres, kau harus tetap menjaga kesehatanmu.."


"Iya aunty, aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Alvin."


Tak begitu lama, asisten rumah tangga membawakan obat dan air minum untuk Lukas.


"Sayang minum obatmu dulu, setelah ini, kau boleh istirahat."


Lukas hanya mengangguk sambil meminum obat yang dibawakan asisten rumah tangga. Maria menuntun Lukas bangun dari duduknya untuk masuk ke kamar.


"Aunty masuk dulu, kau juga bisa boleh istirahat. Kau pasti lelah hari ini." ucap Maria kepada Allura.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Sebuah mobil berjejer rapi disertai dengan pengawalan ketat memasuki jalan menuju sebuah pedesaan yang terpencil yang jauh dari tengah kota. Di sanalah Marvel akan bertemu dengan tuannya. Butuh tujuh jam ke desa ini. Marvel tersenyum haru.


"Apakah tempat ini begitu nyaman untuk anda Tuan?"


Marvel membuka kaca mobilnya. Merasakan matahari pagi menyapa dari balik gunung di sebelah timur. Sinarnya terpancar menyinari jembatan di seberang desa hingga ke sawah-sawah yang ada pun terwarnai oleh kuningnya sinar matahari, angin berhembus sejuk, dedaunan pun ikut bergoyang terkena hembusan angin. Burung-burung berkicau sangat merdu.


Marvel tersenyum saat melihat orang-orang bingung melihat ke arah mobil yang berjejer rapi sepanjang jalan. Mereka bahkan menghentikan aktivitas hanya untuk melihat mobil itu.


"Bagaimana keadaan anda tuan?" Tanya Marvel menatap setiap jalan yang dilaluinya.


"Apakah anda bahagia? Saya rasa anda bahagia, aku bisa merasakan itu." Marvel tersenyum.


Di kiri berjajar pohon. Ada beberapa orang yang juga berjalan kaki dan mendayung sepeda di sana. Marvel tersenyum kecil. Udara dingin membuat napasnya mengepul, mungkin karena ia berada di daerah pegunungan. Mobil mewah itu melewati sawah-sawah yang hijau dan indah, air sungainya terlihat jernih.


Marvel adalah asisten Alvin yang setia. Ia dipilih langsung oleh Lukas dan di sekolahkan tinggi-tinggi oleh keluarga Smith. Marvel memiliki tubuh yang tinggi, Ia ikut latihan bela diri dan mengikuti latihan menembak juga. Jadi Marvel adalah penembak jitu. Ia khusus dilatih agar siap melindungi keluarga Smith dari bahaya, termaksud itu Alvin. Kapan pun dan dimana pun itu. Marvel bisa mencium gelagat otak kotor dari orang-orang yang ingin merusak reputasi perusahaan. Itulah sebabnya Lukas menempatkan Marvel berada di dekat Alvin.


Marvel sendiri mengangkat sumpah ketika ia terpilih menjadi orang nomor dua kaki tangan keluarga Smith setelah Bram yang sudah meninggal dunia. Sampai saat ini Marvel menghabiskan seluruh hidupnya dengan kejujuran, dedikasi, dan rasa hormat untuk keluarga Smith.


Akhirnya mereka tiba di depan rumah sederhana itu. Lima mobil mewah berjejer di sana. Para pengawal menarik tanda tutup. Menganggukkan kepalanya saat mobil Marvel melintas dengan pelan.


Amira nampak bingung melihat orang-orang bertubuh tegap lengkap menggunakan jas berbaris rapi di sana. Ia langsung berlari ke arah belakang dimana Ele sedang menjemur pakaian.


"Ele, gawat!" teriak Amira.

__ADS_1


"Gawat apanya?" Sahut Ele tak memandang Amira sama sekali.


"Sekarang jawab jujur, apa selama di kota, kamu pernah buat masalah?"


Dahi Ele mengernyit heran. "Buat masalah apa?"


"Sekarang ikut aku," Amira menarik tangan Ele.


"Kita mau kemana?" Ele terkejut saat tangannya ditarik kuat menuju ruang tamu.


Amira mengintip dari balik gorden yang ada di sana. "Siapa mereka Amira. Aku yakin mereka datang dari kota."


Ele menggelengkan kepalanya. "Bisa jadi mereka hanya parkir di sana."


"Tidak mungkin,"


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan." Kata Ele melangkah kembali ke dapur. Dia ingin melanjutkan pekerjaannya.


Namun baru beberapa langkah, terdengar suara ketukan pintu. Ele dan Amira saling melempar tatapan. Wajah Amira mengerucut, memberikan gestur agar Ele membuka pintu.


"Buka pintunya. Aku takut."


"Astaga, apa yang kau takutkan."


"Kamu yang buka pintunya. Cepat buruan."


"Ada apa Ele?" Tiba-tiba muncul Alvin di sana. Semenjak kembali dari kota, Alvin memilih istirahat karena kurang enak badan.


"Aku juga tidak tahu." Ele mengangkat kedua bahunya.


Tok....tok....tok....!


Ketukan itu terdengar lagi.


"Biar aku yang bukanya." Alvin tersenyum sambil menepuk lengan Ele dengan lembut. Ia pun melangkah membukakan pintu.


Pintu dibuka Alvin secara perlahan. Seketika raut wajahnya berubah saat melihat orang-orang bertubuh tegap lengkap menggunakan jas berbaris rapi di sana.


"Heuh?" Alis Alvin menyatu disertai kerutan dahi.


Saat melihat Alvin, Marvel dan beserta anak buah yang lainnnya, segera membungkukkan badan. "Selamat pagi tuan!" Sapa mereka serentak.


Dalam hitungan detik, Alvin terkejut saat mereka menunduk hormat. Wajahnya menegang kaku. Ia terbelalak dengan mulut yang merekah terbuka. Begitu juga dengan Ele, Ia menatap Alvin yang bergeming kaku tanpa ekspresi di sana.


"Siapa mereka? Apakah ini jawaban dari semua mimpinya itu?" Kata Ele tak kalah terkejutnya di sana.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2