
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Cinta itu sederhana, sesederhana mencintai apa adanya dan seadanya. Karena, cinta itu hadir untuk saling melengkapi agar cinta bisa menjadi sempurna....
πΈπΈπΈπΈπΈ
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN.
Perlahan-lahan Ele melepaskan pelukannya dari Alvin. Ia menunduk tidak ingin melihat lelaki itu.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Alvin dengan lembut.
"Sudah jauh lebih baik." Ucap Ele pelan hampir tak terdengar.
Alvin tersenyum sambil diiringi dengan napas yang terbuang sangat berat. "Sekarang kita pulang."
Saat Alvin bangun dari duduknya, Ele menarik tangan Alvin.
Alvin terkejut menatap tangannya yang dipegang kuat oleh Ele. Kedua alisnya menyatu. "Ele?"
Ele melepaskan tangan Alvin dan bangun dari duduknya. "Aku belum mau pulang. Aku masih ingin menikmati angin malam." Ucap Ele melangkah pelan menuju kursi panjang yang ada di sana.
Alvin menatap punggung Ele yang berjalan lebih dulu, kemudian tersenyum dan mengikuti Ele. Mereka hanya terus berjalan beriringan. Larut dalam pemikiran masing masing. Menikmati sejuknya malam. Malam ini Ele seperti menyampaikan kesunyian hatinya. Dan kekosongan yang tak selalu dapat disinggahi.
Ele berharap saat malam nanti sudah pergi, segala kekhawatirannya memudar. Hanya tidur lelap yang bisa membantunya untuk memulai hari esok dengan baik.
Mereka berjalan menyusuri jalanan menuju sebuah taman desa. Angin sejuk berhembus menerbangkan rambut Ele yang terurai indah. Ele menatap ke atas langit. Bintang-bintang telah kembali. Nyala lampu mulai bertebaran. Langit gelap, sensasi kerlip di sana begitu indah. Ele tersenyum samar sambil memeluk tubuhnya yang mulai kedinginan.
Alvin melirik sekilas ke arah Ele, saat melihat Ele meringkuk kedinginan, Ia pun memberikan jaketnya pada Ele.
Seperti gerakan slow motion, Alvin memakainya jaket miliknya kepada Ele. Ele hanya menurut saja, ia membuka tangannya, menyambut jaket yang dibuka Alvin untuknya.
"Sepertinya kau kedinginan." Kata Alvin fokus memakaikan jaket miliknya kepada Ele.
Deg ..deg...deg...! Ele mengedipkan matanya perlahan. Alvin tersenyum melihat wajah Ele yang terkejut.
Ele seperti terhipnotis, jika menatap mata Alvin. Wajahnya yang selalu terlihat segar dengan segala baju yang dikenakannya. Membuat Ele semakin terpeon. Ele tertegun dan seketika mengerjap menyadari Alvin sudah selesai memasangkan jaket untuknya. Alvin pun kemudian menjaga jarak di antara mereka.
"Semoga bisa membantu menghangatkan tubuhmu." Senyumnya kembali mekar di wajah tampan itu.
Huuuuuu.....Ele mengeluarkan napas dari mulut secara perlahan. Merasa terbebas dari suasana tegang ini. Ele hanya mengangguk. Seketika rasa dinginnya hilang entah kemana.
__ADS_1
Mereka pun duduk di sana. Pemandangan di sana begitu menyejukkan mata walau hari sudah berganti malam. Cukup lama mereka terdiam di sana. Seakan susana tempat itu menghipnotis mereka.
"Ele?" panggil Alvin.
Eleanor memalingkan wajahnya dan tersenyum tipis ke arah Alvin. "Kau menyukai desa ini?" tanya Ele kemudian. Baru kali ini ia bisa bicara santai kepada Alvin. Biasanya, setelah makan mereka hanya bicara apa adanya dan masuk ke kamar masing-masing. Atau Amira yang selalu berkunjung dan bisa mencairkan suasana canggung di antara mereka. "Jika kamu tidak suka desa ini, kau bisa dikatakan lelaki aneh." Sambung Ele tersenyum sambil menatap ke bawah.
Alvin terkekeh. "Hmmm. Benar, aku suka desa ini dan aku nyaman tinggal di sini. Penduduk di sini ramah-ramah. Suasananya jauh lebih tenang dari kota." Kata Alvin menatap Ele, lalu tersenyum. Ia pun mendekat ingin memeriksa pipi Ele. "Biar aku periksa memar di wajahmu."
"Heuh?" Ele tampak bingung.
Alvin tersenyum lagi, ia memberi gestur menunjuk ke arah pipi Ele.
Ele sedikit ragu, ia pun menghadap ke arah Alvin sambil memegang pipinya yang terasa nyeri. "Apa kau tidak mencoba untuk mengembalikan ingatanmu?" tanyanya lagi.
Alvin tidak menjawab. Ia mengangkat dagu Ele dengan tangannya. Ia tampak serius memeriksa wajah Ele. "Jangan lupa, sampai di rumah, kau harus mengompresnya." Kata Alvin memberikan perhatiannya. Sudut bibir Ele terlihat sobek. Sisa darah sudah mengering.
Lagi-lagi jantung Ele bermain-main di dalam rongga dadanya saat hembusan napas Alvin begitu dekat ke wajahnya. Ele bernapas gugup dan mencoba mengembalikan pikirannya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Lalu menatap lurus ke depan, begitu juga dengan Alvin. Mereka terdiam beberapa saat.
Alvin mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Namun lidahnya seperti keluh dan tak sanggup untuk bertanya. Takut Ele salah menilai tentang dirinya. Apalagi ini menyangkut masalah keluarga. Dia tahu seperti apa Ele. Alvin memilih diam dan menunggu sampai Ele yang memulai pembicaraan.
"Kau ingin bertanya?" Kata Ele tiba-tiba. Wajahnya tenang, seperti tidak ada beban.
Alvin mengerjap, saat Ele bisa membaca pikirannya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap Ele yang duduk di sampingnya.
"Aku minta maaf. Seharusnya kau tidak ada di antara kami. Kau pasti shock saat Harry menodongkan senjatanya dan mengacanmu."
Alvin mendesah dan menatap langsung ke mata Ele "Ele? Apa Harry, kakakmu?"
GLEK!
Alvin menatap ke arah mata Ele yang ingin berbicara. Tiba-tiba perasannya tidak enak saat Ele mengatakan menganggapnya seperti adik. Namun ia tetap bersikap tenang. Terserah Ele mau menerima cintanya atau tidak. Yang jelas Alvin di sini adalah sebagai pendengar yang baik.
"Jika kau tahu semua tentang masa laluku, apa kau masih mencintaiku?" Tanya Ele menatap lurus tanpa memandang ke arah Alvin.
Alvin tidak menjawab, ia diam dan terus menatap Ele. Ia bertambah gugup, saat Ele mulai menarik napasnya dan berbicara.
"Sssshhh...." Ele berdesis sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangannya secara berulang-ulang. Apa karena cuacanya yang bertambah dingin, atau bisa saja Ele menguatkan hatinya untuk menceritakan semua masa lalunya. Yang jelas di wajahnya terlihat sekali menyimpan banyak luka.
"Aku harus mulai dari mana ya?" ucap Ele lalu menarik napasnya lagi.
Alvin menatap dan memperhatikan Ele dengan seksama.
"Saat ...usiaku... 14 tahun, aku membunuh seseorang."
Deg!
Saat mendengar itu seperti bom molotov yang menghancurkan hatinya sampai berkeping-keping. Alvin terpaku di sana. Ia terdiam dengan mulut terbuka.
Ele menarik napasnya yang terasa berat. Matanya berkaca-kaca lagi. Kepedihan terlihat jelas di wajahnya. Napas Ele sesak. Dadanya ikut sesak dan sakit mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Aku adalah seorang pembunuh."
Wajah Alvin berubah. "Pem-bunuh?" ucapnya dengan ekspresi terkejut.
"Hmm, aku adalah pembunuh..." Ele menunduk dan menjeda kalimatnya.
Alvin mengerutkan dahi bingung, mencoba mengerti maksud perkataan Ele. Bagaimana seorang anak berusia 14 tahun bisa membunuh. Alvin menahan napasnya. Pandangannya tidak mau lepas dari gadis itu.
Ele mengembuskan napas singkat, menatap Alvin dan melanjutkan kalimatnya. "Aku adalah gadis remaja yang nekat membunuh ayah sambungku."
"Ayah sambung? apa itu artinya Harry adalah kakak tirimu?"
Ele mengangguk samar, Ia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Tapi, kenapa kau membunuhnya? apa dia sering menyiksamu?"
Ele mendongak ke atas. Ia berulangkali menarik cepat napasnya. Namun yang di dapatnya hanya sesak tak berperi. Ele terdiam sejenak dengan kepala menunduk. Tiba-tiba bahunya bergetar. Ia menahan tubuhnya karena menahan tangisannya. Matanya berair tergelincir jatuh ke pipinya.
"Ele?" Alvin terkejut saat melihat Ele menangis lagi.
Dengan cepat Ele mengusapnya air matanya. Lalu ia kembali mendongak ke atas. Menahan air matanya agar tidak keluar lagi.
Ele tersenyum getir dan melanjutkan penjelasannya. "Dia mencoba memerkosa aku. Bukan hanya sekali, dua kali atau tiga kali. Kapan ada kesempatan, dia selalu menyelusup masuk ke kamarku." Kata Ele berusaha bersikap tegar. Ele menatap lurus dan melanjutkan ucapannya. "Aku sudah tak tahan lagi, dia kembali masuk ke kamarku dalam keadaan mabuk. Dan saat itu aku membunuhnya...."
"Apa karena itu, Harry sangat membencimu?"
"Hmm. Kedua saudara tiriku, sangat membenciku. Bahkan adik perempuan Harry, tak ingin tinggal bersama, sebelum aku keluar dari rumah itu. Harry mengusirku dan membuatku menetap di desa ini dan yang membuatku sedih, aku tak pernah diizinkan untuk bertemu dengan ibuku." Ele menjeda kalimatnya lagi. Bahunya kembali bergetar dan menangis di depan Alvin.
Mata Alvin mengedip cepat, "Ja-jadi yang..." Alvin tak berani melanjutkan kalimatnya. Ia masih shock dengan semua ini.
"Hmm. Ibu rela menggantikan posisiku saat itu, ia mengaku bahwa dia yang telah membunuh pria bejat itu. Karena tak kuat menanggung semuanya, ibu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di penjara." Tangisan Ele pecah lagi. Ia menutupi wajahnya dengan tangan.
Mata Alvin berkaca-kaca mengedip pelan. Ia hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Hatinya pedih saat mendengar semua itu. Dadanya ikut sesak. Kehidupan Ele sangat menyedihkan.
"Aku terkadang gak kuat Alvin, aku sepertinya menyerang untuk melanjutkan hidupku. Aku tak sanggup lagi." Tangisan Ele terdengar pilu.
Dengan cepat Alvin menarik tubuh Ele dan memeluknya. Ele butuh tempat untuk berbagi kesedihannya. Ele semakin menangis di sana. Ia membalas memeluk Alvin dan dan membenamkan wajahnya di dada Alvin.
Alvin hanya diam dengan mulut terbuka. Mengusap punggung Ele dengan lembut.
"Aku semakin mencintaimu Ele. Aku berjanji untuk selalu menjagamu, melindungimu. Kau butuh itu Ele. Karena aku sadar semakin mengenalmu,Β cinta tulusku akan semakin lebih berharga dari apapun itu. Kita akan sama-sama menghadapi apapun yang terjadi nantinya. Aku tidak ingin kau terluka, maukah kau membagi kesedihanmu untukku?" Tanya Alvin membelai dan rambut panjang milik Ele.
Ele hanya menjawabnya dengan anggukan cepat. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Alvin kembali memeluknya erat. Ele merasa tenang saat Alvin memeluknya. Ada rasa damai datang dari dalam hatinya. Ele semakin membenamkan wajahnya untuk mencari posisi yang lebih nyaman.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^