
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
...Biarkan matahari terbenam dengan membawa segala persoalan kita dan esok akan terbit lagi membawa kehangatan dan harapan baru....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
โEle. Eleanor!!โ teriakan yang memekakkan itu menggema di ruang tamu di rumah Ele.
Ele yang tengah asyik mempersiapkan makan siang terkejut mendengar teriakan Amira. Ele menarik napasnya seketika! Ia tahu jelas dengan kebiasaan sahabatnya itu.
"Ele!!!" Panggilan itu masih terdengar, sepertinya Amira mencarinya di kamar.
Ele segera mematikan kompor dan menemui Amira. โKecilin suaramu, Amira!โ jawab Ele saat Amira telah tiba di sisinya.
โHeuh? Alvin lagi tidur ya?" Amira reflek mengecilkan volume suaranya.
Ele menggeleng. "Alvin lagi ikut rapat di kantor desa." Ia berjalan ke dapur meninggalkan Amira ingin melanjutkan masakannya yang tertunda.
Amira dengan cepat mengikutinya. "Ele, di desa kita akan diadakan bazar lagi."
Ele kembali menghidupkan kompornya sambil menatap sekilas ke arah Amira yang berdiri di sampingnya. "Terus?"
"Kita ikutan yuk,"
"Kapan?"
"Minggu depan. Aku dengar, kegiatan bazar ini dilangsungkan selama dua hari."
Dahi Ele mengernyit, "Dua hari?" Ia kembali sibuk memainkan spatula di atas wajan.
"Hmm. Pada hari yang pertama pengunjung akan dimanjakan oleh berbagai sajian produk di stand bazar dan di hari kedua sebagai puncak acara pengunjung dihibur oleh alunan musik electone yang akan membuat suasana lebih meriah."
"Berhubung acaranya masih lama, aku masih ada waktu untuk memikirkannya."
"Heuh?" Amira menatap bingung. "Kenapa harus dipikirkan dulu, kamu gak bisa ikut, iya?"
"Maksudku bukan begitu Amira...."
Amira dengan cepat memotong ucapan Ele. "Kegiatan bazar ini harus diikuti oleh perwakilan setiap warga dari masing masingย desa. Dan kita diminta untuk menghias dengan kertas dan kain, juga lampu untuk dekorasi stand yang sudah disediakan oleh Panitia. Pasti acaranya seru dan sayang untuk dilewatkan, Ele!" ucap Amira begitu antusias.
Ele tak menjawab, ia bingung harus menjelaskan kepada Amira. Dia tahu betul sifat Amira.
"Bagaimana Ele sayang, kita masuk sebagai panitia ya?" Tanpa diminta, Amira berinisiatif sendiri membersihkan buah strawberry yang ada di atas meja. Ia sibuk mencuci buah sambil terus bercoloteh di sana.
"Ssssyyyuuuuuurrrrrr....." Bunyi sayuran tumis terdengar bergemericik dari dapur rumah Ele. Tumisan terakhir yang dimasaknya. Ele sibuk memainkan spatula. Ia menghela napas singkat dan berbicara. "Tapi aku belum bisa memastikan bisa ikut atau tidak."
"Hah? Kenapa?" Tanya Amira sedikit terkejut. "Aneh! Bukankah jika ada acara seperti ini, kau begitu antusias mengikutinya?"
Ele tersenyum tipis sambil terus menumis. "Kamu benar Amira. Tapi minggu depan itu, Alvin mengajakku jalan-jalan ke kota." Ucap Ele akhirnya.
"Kamu serius Ele?" Wajah Amira berubah.
Ele kembali mengangguk. "Tolong ambilkan piring!" ucapnya memberikan senyuman terbaik saat melihat perubahan wajah Amira.
Kerutan di dahi Amira tak juga memudar saat ia mengambilkan piring dan memberikan kepada Ele. "Serius Alvin mengajakmu ke kota?" Tanya Amira masih tak percaya.
"Hmm." Ele menjawabnya dengan gumaman sambil menaruh tumisan sayur ke atas piring.
Amira mendekat dan menatap Ele. "Begitu banyaknya hari, kenapa harus minggu depan sih?"
Ele membawa masakannya ke atas meja dan duduk di sana. "Iya aku tahu, tapi Alvin ingin minggu depan."
__ADS_1
"Alvin itu gimana sih, serakah. Pokoknya aku gak mau tahu, kau harus ikut acara bazar itu."
"Hahahaha." Ele tersenyum di sana. "Iya aku tahu, kan belum pasti hari apa perginya."
Amira menggeser kursi dan duduk di sana. Wajahnya mengerucut protes.
Melihat ekspresi itu, Ele mencondongkan tubuhnya, melipat tangannya di atas meja. "Jangan pasang wajah jelekmu seperti itu Mira. Nanti lelaki kabur."
"Terserah!" Amira memalingkan wajahnya.
"Kamu marah?"
"Siapa yang marah, aku hanya kesal sama kamu berdua."
Ele tersenyum lagi. "Jangan kesal dong, nanti aku bicarakan lagi dengan Alvin. Pasti. Bagaimana kalau sore ini, kita melihat senja.โ
Amira hanya mengangkat kedua bahunya, membiarkan pertanyaan itu.
"Jangan marah lagi dong, lihat aku!" Ele berpindah duduk ke samping Amira.
"Malas," ucapnya membalikkan badannya tak ingin melihat Ele.
"Amira....."
Amira menjepit bibirnya menahan senyum. Ia tidak juga memandang ke arah Ele.
"Kamu senyum kan?"
"Siapa yang senyum?"
"Tuh kamu senyum." Ele bangun dari duduknya melihat langsung ke wajah Amira. "Kita jalan-jalan ya, bukankah kita suka senja? Mau iya?"
"Eeehmmm." Jawab Amira dengan gumaman, melirik sekilas ke arah Ele dan akhirnya melepaskan senyumannya.
Ele langsung memeluk Amira. "Jangan marah dong,"
"Hei, siapa yang marah? Aku hanya kesal dengan kamu."
Amira langsung menyela ucapan Ele. "Tidak. Bagiku persahabatan kita ibarat, langkah kaki yang tercetak di atas pasir pantai. Setiap kita melangkah, ombak akan datang dan menghapus jejak langkah kita tetapi jika kita terus melangkah maka jejak itu akan selalu ada."
Ele tersenyum dan menyambungnya seperti balas berpantun. "Itu artinya, saat kita berselisih paham, kita tetap berkomitmen menjaga persahabatan, maka persahabatan akan tetap bertahan seperti jejak langkah kaki di pasir pantai."
"Cih... pintar ngomong kamu sekarang."
"Iya dong, kan karena kamu?"
"Karena aku? Bukankah kamu yang dikenal bawel di desa ini. Paling cerewet lagi."
"Hahahaha." Ele tertawa yang diikuti Amira. Tawa mereka lepas begitu saja.
Iya, Ele dan Amira bisa menggambarkan persahabatan mereka dalam bentuk apapun. Mereka saling mengenal kebaikan dan keburukan masing-masing, namun tetap menerima dengan apa adanya.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Sementara di sisi lain.
Dentuman musik memekakkan telinga. Arlo mengedarkan pandangannya, mencari sosok lelaki yang menghubunginya tadi. Arlo menarik napasnya. Ia melangkah masuk. Harum sarat alkohol yang tajam. Ingar bingar tawa larutan manusia yang menggila. Arlo tersenyum dingin saat seorang wanita menciumnya dan mengajaknya ke tengah bar untuk berjoget. Dengan cepat Arlo menolaknya, Ia menepis tangan wanita itu dan berjalan meninggalkannya.
"Arlo...." William melambaikan tangannya.
Arlo melemparkan tatapannya. Mencari ke arah sumber suara dan menemukan William tengah duduk bersama dua orang wanita. Arlo melangkah mendekat.
"Banyak club di kota ini kenapa kau memanggilku ke tempat kumuh seperti ini?" Arlo mendengkus kesal.
"Hahahaha," William tertawa. "Apa karena cewek-ceweknya tak sesuai kriteriamu? silakan duduk!"
Arlo membuka jasnya dan menaruhnya di sofa. William kemudian menyodorkan gelas kosong kehadapan Arlo. "Tempat ini lebih terjangkau dude. Jika aku mengajakmu ke club di tengah kota, bisa-bisa gaji satu bulanku lenyap begitu saja."
"Siapa juga yang memintamu membayar ini semua?" Protes Arlo menatap malas.
__ADS_1
"Yang penting kita bisa melepaskan stres dan kita bisa mencari wanita untuk bersenang-senang."
"Cih..." Arlo berdecak.
William mencondongkan badannya, rasa penasaran membuat Ia menghubungi sahabatnya itu. "Aku penasaran, akhir-akhir ini berembus kabar mengenai Alvin yang dikabarkan sudah meninggal dan mayatnya dibuang ke laut. Apa kabar itu benar?"
Arlo menaikkan alisnya, menatap Wiliam dengan heran. "Alvin meninggal?" Ia pura-pura bingung.
"Hmm. Apa benar kabar itu?"
Arlo menatap datar, seperti tidak terjadi apa-apa. Ia tersenyum sekilas lalu menatap ke arah lain. "Dari mana kau tahu kabar itu dan siapa yang meninggal? Alvin hanya menghindari pernikahannya. Ia berada di suatu tempat."
Wiliam kemudian menepuk meja. "Aku juga sudah menduga itu. Mana mungkin Alvin meninggal. Dia adalah pewaris tunggal dan kamu tidak mungkin bisa menikmati kekayaan Smith."
Arlo memilih tak berkomentar. Ia menarik napas singkat dan kemudian menyesap minuman yang ada di depannya. Arlo tahu betul siapa Wiliam, dia seperti virus yang dengan cepat menyebarkan berita dan merusak nama baik perusahaan Smith dan para investor akan menarik modal jika kabar itu benar.
"Apa Alvin tahu kabar hubunganmu dengan Allura? Kenapa dia tiba-tiba membatalkan pernikahannya?"
"Bisakah kita tidak membahasnya?"
Wiliam terkekeh, ia tahu Arlo begitu mencintai Allura. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan saja Wiliam tahu dan Arlo sengaja pernah menaruh sesuatu ke minuman Allura.
"Apa kau masih mengejar cintanya? Kau terlalu mencintai wanita itu."
"Bagaimana dengan kau. Aku dengar kau mengambil gadis baru lagi, dimana Yoona? Apa kau sudah membuangnya?" Kata Arlo tersenyum smrik.
Wiliam tersenyum saat mendengar itu.
"Kau tidak menjawab, apa kau sudah membuang Yoona? Setelah malam itu Yoona menolakmu untuk bercinta?" Arlo menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Tambahkan Wine, seperti biasa ya. Ada sahabatku yang akan bayarnya." Ucap William kepada pelayan wanita.
"Baik tuan."
Wiliam kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku masih berhubungan dengan Yoona."
"Benarkah? aku rasa itu bukan tipemu."
"Kamu gak percaya, aku ingin menikahinya."
Dahi menyatukan kedua alisnya. "Kamu serius?"
"Apa aku pernah berbohong, aku ingin menikah dude."
"Aku tidak menyangka akhirnya kau tobat juga." Arlo tersenyum smrik.
"Hahahaha." Wiliam kemudian mendekat dan berbisik. "Aku ingin meminjam uang Dude."
"Aku sudah yakin itu." Arlo menggelengkan kepalanya.
"Aku harus mendapatkan uang untuk biaya pernikahanku."
Arlo mengerti itu. Selama ini Wiliam juga sering membantunya. "Berapa yang kau inginkan?" Tanyanya kemudian.
"100 juta." ucapnya cepat.
"Baiklah, aku langsung transfer."
Pria yang berwajah dingin, dengan tatapan Wiliam yang kebanyakan datar itu langsung tersenyum. "Terima kasih Arlo, kau benar-benar teman terbaik." ucapnya tersenyum sumringah.
Sementara Arlo hanya diam dan melanjutkan minumnya. Ia kembali memutar-mutar gelasnya. Mengeluarkan bunyi gemericik es batu yang saling bertabrakan dengan dinding gelas. Mereka larut ke dalam pikirannya. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^