LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
PENGKHIANATAN.


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Melintasi hujan badai, itulah pembalasan terbaik atas takdir yang sangat kejam. Jangan salahkan keadaan, salahkan dirimu yang pernah hadir ke dunia ini....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Tanpa pikir panjang, Arlo segera berlari keluar dari cafe setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. Saat uang yang diletakkan Arlo terlalu banyak, wanita paruh baya itu segera berlari keluar mengikuti Arlo.


"Tuan, kembaliannya." Teriak wanita itu memanggil Arlo.


Namun Arlo tak perduli, ia berlari sekuat tenaga menuju parkiran. Jasnya sampai melambai ke belakang karena kecepatan berlarinya. Bahkan sepatunya terdengar menggema sampai semua mata melihat ke arah Arlo.


Napas Arlo terdengar tidak beraturan, ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana bisa Davis begitu ceroboh." Arlo memukul setir mobilnya dengan kesal. Ia tampak murka saat mengetahui Alvin sudah berani datang ke kota.


Tanpa pikir panjang, Arlo menginjak pedal gas dengan terburu-buru sampai menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal. Arlo terus menancapkan mobilnya menuju rumah David. Alvin tak bisa kembali. Beberapa kali sudah mengingatkan Davis agar segera menghabisi Alvin. Namun Davis seolah mengulur waktu. Kini Alvin kembali ke kota, itu tak boleh terjadi.


Arlo langsung menghubungi seseorang melalui earphone wireless yang dipasang ke telinganya.


PANGGILAN TERSAMBUNG.


"Dimana Davis?" tanya Arlo to the point.


"Sudah dua hari, Davis tak pernah kembali ke markas tuan."


"Apa?"


"Handphonenya bahkan tak bisa dihubungi."


"Bagaimana kalian bisa seceroboh ini." teriak Arlo memaki anak buahnya. Rahangnya mengencang menahan amarah.


"Maaf tuan,"


"Kita bertemu di tempat biasa."


"Baik tuan,"


Panggilan langsung terputus. Arlo mencoba menghubungi Davis.


"NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."


"Shiiittt!" Arlo memukul setir mobilnya dengan frustasi. Ia menarik napasnya, pancaran matanya jelas-jelas menunjukkan kemarahan. Jika rencananya gagal, usahanya selama ini akan sia-sia. Alvin harus segera dilenyapkan. Dia tahu Lukas lebih licik darinya. Tapi ia tidak akan bisa diam. Semua harus berjalan sesuai yang direncanakan. Hanya tinggal menunggu waktu. Keluarga Smith harus berada digenggamannya.


Arlo akhirnya memilih menyerah untuk menghubungi Davis. Ia menepikan mobilnya untuk mengirim pesan kepada Axel.


"AXEL, ARAHKAN ANAK BUAH KITA UNTUK MENCARI KEBERADAAN DAVIS. SAYA TIDAK MAU TAHU, DAVIS HARUS MATI DI TANGANKU."


Setelah mengirim pesan itu. Arlo kembali melarikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia menuju ke jalan A dimana anak buahnya sudah menunggunya. Ia ingin memberi pelajaran kepada mereka yang tak becus bekerja.

__ADS_1


"Davis sudah dua hari tak ke markas?" Arlo tersenyum smrik. "Kau tidak bisa lari dariku Davis. Bukan Arlo namanya, jika kau tidak mati ditanganku!"


Ekspresi wajahnya berubah, Ia semakin menancap mobilnya dengan kecepatan penuh menuju tempat yang akan ditujunya. Tidak butuh lama Arlo sudah sampai di depan pagar kokoh milik kantor Mafia yang sekarang dijadikan untuk pengembangan alat perakit bom. Arlo menarik rem tangan dan keluar dari mobilnya dengan terburu-buru. Gerbang utama tiba-tiba terbuka otomatis. Kantor ini memang jauh dari pemukiman masyarakat.


Jeremy sudah berada di sana. Ia membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Saat hendak menegakkan badannya lagi. Arlo melangkah panjang dengan rahang mengeras dan,


BUKKK!!! satu Pukulan kuat mendarat di pipi Jeremy. Tak cukup puas, Arlo mengangkat kerah baju pria itu dan memberinya satu pukul lagi.


Jeremi hanya diam dan pasrah. Mata Arlo terbakar dengan kemarahan, ia menarik kerah baju Jeremy dengan emosi.


"Dasar pengawal bodoh! Bagaimana Davis bisa melarikan diri seperti ini. Hah!” teriak Arlo pada lelaki bertubuh besar itu.


β€œMaaf tuan. Sepertinya tuan Lukas sudah mengetahui gerak-gerik Davis. Davis memilih bersembunyi.” ujar Jeremy memberitahu.


Arlo mendorong tubuh Jeremy. β€œMaksudmu Davis mengkhianatiku? Bagiamana bisa uncle Lukas tahu bahwa Davis bekerja denganku.” Mata Arlo mendelik tajam.


β€œKami juga tidak tahu tuan, beberapa hari sebelumnya, Davis sering mendapatkan panggilan dari seseorang yang tidak dikenal." ujar Jeremy.


Arlo tersenyum sinis. "Saya tidak mau tahu, cari Davis dan bawa kepadaku. Dalam hitungan dua jam kalian harus menemukannya."


"Baik tuan." Dengan cepat Jeremy menjawab sambil menundukkan kepalanya.


Arlo mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melangkah masuk ke dalam gedung itu. Arlo hanya menunggu sampai anak buahnya membawa Davis.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Hanya dalam hitungan satu jam, Arlo sudah mendapatkan kabar dimana keberadaan Davis, Arlo dengan anak buahnya langsung menuju ke sebuah daerah terpencil.


Arlo tersenyum saat melihat Davis berlari ke arah taksi yang sedang berhenti menurunkan penumpangnya. Arlo dengan cepat mengikutinya.


"Tuan, sepertinya mobil sedan hitam itu mengikuti kita." Lelaki paruh baya itu melihat ke arah penumpangnya dari kaca spion yang ada di tengah mobil.


Davis tersentak, dengan cepat ia membalikkan badannya melihat ke arah belakang. Setelah melihat mobil itu, Davis yakin itu adalah anak buah Arlo. Dengan cepat Davis memeriksa pistonnya. Beruntung pistol itu stand bye di pinggang.


"Dari mana mereka tahu aku bersembunyi di sini?" Umpat Davis dalam hati. Ia kembali menatap ke arah mobil yang terus mengikuti mereka.


"Bagaimana ini tuan? Mobil itu terus mengikuti kita."


"Tidak apa-apa pak, anda tetap fokus ke jalan saja." Davis tetap tenang. Walau ia tahu nyawanya sedang terancam.


Sopir taksi tak menjawab, ia hanya bergerak membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Davis menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menghubungi tuan Lukas, namun tidak diangkat. Davis mengepalkan tangannya menutupi kegugupannya.


"Pak, berhenti di sini saja." perintah Davis.


"Baik tuan."


Mobil taksi itu berhenti tepat di dekat lorong jalan. Davis dengan tergesa-gesa turun dari mobil. Setelah memberikan uang kepada supir taksi, Ia berlari masuk ke dalam lorong itu dan mengintai. Davis ingin memastikan apakah itu anak buah Arlo atau bukan?


Davis mengintip dan melihat pergerakan lelaki itu. Mobil sedan hitam menyalip dan memberhentikan mobil taksi yang ditumpangi Davis. Tubuh Davis menegang saat melihat Arlo turun dari mobil dan mengetuk kaca mobil taksi yang itu. Mereka tampak berbincang-bincang. Beberapa detik kemudian, mata Davis terbelalak kaget saat Arlo menodongkan pistolnya kepada supir taksi.


DORRRRR.... Satu tembakan menembus kepala supir taksi dan terjatuh ke setir mobil. Bunyi klakson panjang terdengar.


Tanpa menunggu, Arlo dan anak buahnya segera berlari menuju lorong kemana Davis melarikan diri. Gang sempit yang becek menjadi saksi bisu kejar-kejaran antara Davis dan Arlo beserta kedua anak buah Arlo. Bunyi picrat-picrat air yang menggenang menjadi irama adu cepat kejar-kejaran. Tak lupa pistol tetap di tangan untuk melindungi diri.


Malam yang mengerikan buat Davis. Nyawanya akan melayang jikalau kalah berlari. Bersamaan dengan napas letih, ia terus berlari menghindari kejaran anak buah Arlo. Davis memutuskan bersembunyi di dalam supermarket. Mungkin lebih aman, di sana Davis bisa membuat rekaman suara dan mengirimkannya kepada tuan Lukas.


Davis berjalan menunduk untuk mencari persembunyian.

__ADS_1


Sementara Arlo tersenyum smrik saat melihat Davis berlari ke dalam supermarket. Mereka berjalan masuk ke sana. Tanpa pikir panjang, anak buah arlomenembak kaca minimarket bertubi-tubi. Tembakan itu melesat memecahkan kaca hingga sampai menembus tepat mengenai kepala seorang kasir yang sedang berdiri. Melihat kejadian yang mendadak itu, tubuh Davis gemetar dan ia tetap melanjutkan rekaman suara. Sambil mengintip dari persembunyiannya. Dua orang karyawan minimarket tergeletak karena peluru menancap tepat di jantungnya. Davis tercengang melihat tiga orang di sana sudah bersimbah darah.


"Kau tidak akan bisa lari lagi, Davis." Ucap Arlo dengan suara baritonnya.


Dalam hitungan detik, handphone Davis terjatuh dari tangannya. Wajahnya menegang kaku saat melihat Arlo sudah berdiri di belakangnya. Davis membelalak dengan mulut yang merekah terbuka.


Arlo mengambil handphone Davis yang terjatuh dan mendengarkan semua rekaman suara itu. Arlo tersenyum sinis, "Kau mengkhianatiku Davis."


GLEK!


Davis menelan salivanya dengan wajah tegang. Sungguh ia terhantam dengan tatapan intens dari Arlo. Sekujur tubuhnya kaku, terasa berakar dari dalam dan mengunci setiap gerakannya.


"Seharusnya saat aku memintamu membunuhnya, kau harus melakukannya." Gigi Arlo saling bergesekan menahan amarah.


Davis tak menjawab, ia diam seribu bahasa tanpa memandang ke arah Arlo.


"Dan kau meminta uang dua ratus juta sebagai bayaranmu, tapi kau tak juga menghabisi Alvin. Apa kau sengaja mengulur waktu?"


"Iya, aku sengaja mengulur waktu. Aku ingin membongkar semua kebusukanmu." Ucap Davis akhirnya. "Dan mengenai tuan Alvin, ia masih berhak hidup."


Arlo tersenyum kecil sambil menatap ke arah lain. Sepersekian detik, wajahnya berubah gahar. "Siapa bilang Alvin berhak hidup. Bukankah sudah aku tekankan untuk menghabisinya sebelum ingatannya kembali. Apapun terjadi, Alvin harus mati!" Teriak Arlo tampak emosi.


"Anda tidak sadar, tuan Smith yang membawa anda lepas dari penderitaan. Tapi inikah balasan anda?"


"Tutup mulutmu, kau tidak tahu apa-apa."


"Maka dari itu aku akan membongkar semuanya."


"Kau yakin bisa melakukannya?" Ucap Arlo menatap tajam.


"Iya, aku yakin bisa melakukannya."


"Benarkah?" Arlo tersenyum menyeringai. "Tapi sayangnya, sebelum itu terjadi kau akan mati di tanganku."


Arlo mengarahkan pistolnya, namun sebelum Arlo menarik pelatuknya, Davis sudah lebih dulu memberikan tendangan jitunya. Ia memulai serangannya dengan menendang perut Arlo beberapa kali.


"Kau manusia berujud iblis." Kata Davis menjaga jarak saat Arlo berusaha bangkit.


Arlo tampak murka, Ia memberikan tendangan kontan mengenai wajah Davis. Hingga membuat Davis terjatuh. Saat Davis mengeluarkan pistol yang ada di pinggangnya. Arlo kembali memberikan tendangan.


"Hup...." Pistol terjatuh sempurna ke lantai. Arlo tersenyum kecut. Hanya mereka berdua di sana. Anak buahnya tetap berjaga di depan minimarket.


Arlo melompat maju dengan gesitnya saat melihat Davis mencoba bangun dan memberikan tendangan ada bagian wajah hingga Davis terjatuh lagi. Dengan cepat Arlo mengambil pisau dan menancapkan pisaunya ke dada Davis dua kali. Tak ingin membuang waktunya, Arlo langsung menyebet leher Davis. Napas Davis keluar satu-satu.


"Itu adalah balasan dari sebuah pengkhianatan."


Setelah mamastikan Davis benar-benar sudah mati. Untuk menghilangkan barang bukti, Arlo langsung menghancurkan handphone Davis. Setelah semua beres, Arlo beserta kedua anak buahnya langsung meninggalkan tempat itu.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2