LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MEMBUATNYA TERSENYUM


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Ujian adalah salah satu media Tuhan dalam mendekat pada kita, yang menyimpan harta paling mulia berupa kesabaran....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Awan putih dan hitam masih terus bergantian mencampakkan. Langit yang biru kadang pula berubah menjadi langit yang hitam pekat. Matahari yang terang benderang menyinari bumi, kadang juga pula berubah tidak tampak, disebabkan ditutupi berbagai varian awan hitam.


Dibalik keindahan dari senyumnya, menyimpan airmata yang mampu membasahi hati. Tak dapat dan mungkin tak pernah Ia lupakan apa yang telah dilihat hari ini. Cinta yang amat mendalam, batin yang meronta karena gelisah, pengendalian diri yang kuat namun seringkali rapuh, dahaga akan kasih sayang, kehilangan sosok yang menjadi panutan, rindu, sepi, bimbang, keputusasaan dan harapan dari sebuah ketabahan dan kesabaran. Harapan itulah yang menjadikannya bertahan dalam sebuah senyum yang indah.


Hanyalah harapan yang mampu mewarnai kelamnya hati, harapannya itu adalah menanti hadirnya sang mentari yang mampu membawa hangatnya cahaya yang sinarnya menerangi segala kegelapan hati yang diderita selama ini. Entah kapan mentari itu akan mendatanginya, setitik cahaya pun tak melintas dari pandangannya, belum atau kah takkan pernah datang lagi?


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Dengan tarikan napas panjang, Eleanor memandang ke depan sambil menunggu bus datang. Ia memang sengaja menggunakan bus malam agar tiba di desa pagi hari. Rindunya terobati saat mengunjungi makam ayah dan ibunya. Harry sengaja memakamkan ibunya jauh di pelosok desa. Tempat ibunya dibesarkan dulu. Ele menengadah ke atas dengan segurat harapan. Bibirnya mengulas senyum tipis.


"Ibu, maafkan aku tidak bisa menginap. Semua keluarga tak ada perduli saat Ele datang untuk mengunjungi makammu. Tapi tidak apa-apa, Ele tidak berkecil hati. Jagai Ele selalu ya ayah, ibu. Aku mencintai kalian." Ucapnya diakhiri dengan tarikan napas panjang.


Bus berhenti tepat di depannya. Ele segera masuk dan memilih duduk di dekat kaca mobil. Tenang rasanya jika sudah berada di dalam bus. Penumpang bus agak sepi. Bus pun bergerak perlahan dengan sepuluh penumpang di dalamnya dan meninggalkan halte. Lalu lintas lancar, bus pelan menyusuri jalanan. Gedung-gedung menjulang menuding angkasa berpadu mesra dengan langit yang mulai gelap. Ternyata banyak perubahan tempat ini. Ia tetap terkesima dengan pesona keindahan di malam hari. Ia melengkungkan bibirnya dan menarik napas dalam-dalam.


Ele kemudian menatap keluar jendela, melihat ke arah jalanan yang dilewati. Jalanan terlihat sepi dan nyaris tidak ada manusia yang terlihat di pinggiran jalan. Yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar dan tinggi yang berjajar pada sisi kanan dan kiri. Ia duduk di ujung dengan menopang dagunya.


Tiba-tiba Ele teringat kejadian tiga hari yang lalu. Alvin tiba-tiba memegang tangannya saat hujan turun. Mereka ke rumah gubuk yang ada di sana Ele menggelengkan kepalanya agar bayangan lelaki itu hilang dari pikirannya. Ia menarik napasnya lalu mengembuskannya. Namun bayangan itu datang lagi bahkan semakin jelas.


"Astaga, ada apa denganku?" ucapnya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


MALAM HARI DI DESA A.


Waktu tidak terasa berlalu begitu cepat. Sudah dua bulan Alvin tinggal di desa ini.


Huffft...! Alvin membuang napasnya, hatinya masih tidak tenang. Ia membolak-balikkan badannya di atas tempat tidur, kemudian menatap langit-langit kamarnya sambil menaruh tangannya di atas kening. Alvin sama sekali tidak bisa tidur.


Alvin reflek duduk sambil menghembuskan napas. Ia menunduk lesu mencoba kembali berkonsentrasi. Ia menopang dagu melihat ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya. Alvin harus menghentikan aktivitas gelisahnya ini. Ia memilih keluar dari kamar. Mencari udara segar, untuk menghilangkan rasa gundah yang menyelimuti hatinya.


Alvin mengambil duduk di atas meja tempat biasa Ele menjajakan strawberry jika hasil panennya masih tersisa. Ia mendongak ke atas, menatap bintang-bintang di langit di atas sana. Nyala lampunya mulai bertebaran. Langit gelap dan sensasi kerlipannya begitu indah. Alvin tersenyum lagi. Senyumnya tidak tahu ditujukan untuk siapa.


"Alvin,"


Mendengar suara itu, ia berbalik dan menoleh ke belakang. Amira memanggilnya dengan lantang.


"Hei Amira, sini!" Alvin menjentikkan jarinya dan menepuk meja itu. "Duduk!" Ucapnya dengan senyum ramah.

__ADS_1


Amira membalas senyuman itu. "Akhir-akhir ini kau suka duduk di sini. Apa kau merindukan Ele."


"Astaga, apa yang kau pikirkan? Aku duduk di sini hanya untuk mencari udara segar." Tiba-tiba wajah Alvin berubah, "Kau bisa saja," Alvin memalingkan wajahnya.


"Lihat, wajahmu merah. Bilang saja kau menyukai Ele?"


Alvin tertawa awkward. Apa untuk menutupi, ia juga tidak tahu. "Ele sudah aku anggap seperti adikku." Alvin menatap wajah Amira yang duduk di sampingnya.


"Aissss, aku sudah bilang wajahmu tidak bisa berbohong, Alvin. Apa susahnya mengakuinya." Amira mencibir. "Jika kau benar-benar menyukainya, setidaknya kau harus lebih berusaha. Ele mempunyai kenangan buruk."


Alvin mulai tertarik saat Amira mulai membicarakan masalah pribadi Ele. "Kenangan buruk? Apa itu menyangkut pria?"


Amira menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Kira-kira seperti itu."


"Seperti apa? kau bisa menceritakan semuanya!"


Amira mengangkat kedua tangannya. "Jika kau memintaku untuk menceritakannya, aku tidak bisa."


Dahi Alvin mengerut. "Kenapa?"


"Ele pasti membunuhku."


"Ele tidak akan berani melakukan itu."


"Kamu yakin?" Mata Amira melotot. "Suatu saat nanti, kamu akan tahu sendiri. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa." Kata Amira menatap ke arah Alvin.


"Kau membuatku mati penasaran." Alvin menghela napas singkat.


Amira menahan senyumnya. Kemudian berbicara lantang di sana. "Bagaimana jika kau tunjuk satu bintang yang paling terang di atas sana." Kata Amira mengalihkan pembicaraan.


"Bilang saja kau tidak bisa melihat yang mana bintang paling terang, iya kan?" Amira tersenyum kecut sambil ikut menatap bintang.


"Untuk apa?"


Amira tidak melihat ke arah Alvin. Wajahnya masih saja mendongak mengamati angkasa itu. "Anggap saja untuk penunjuk jalan agar kau bisa pulang. Atau penuntun hidupmu. Atau penghilang gelap di hatimu, agar kau sedikit bercahaya. Atau teman curhat. Atau mungkin... cita-cita. Atau bisa saja untuk mengembalikan ingatanmu yang tak mau kembali itu."


Alvin tersenyum tipis lalu mengikuti gelagat Amira untuk menatap langit gelap itu. "Sekarang?" tanya Alvin menatap kembali ke arah Amira.


"Ya sekarang lah, kapan lagi? Maksudmu Besok? kalau besok yang ada kau hanya bisa menatap matahari. Kau mau?" Senyum ejekan terlihat jelas di wajah Amira.


Alvin menghembuskan napas panjang sembari melebarkan ekor matanya untuk mencari sesuatu dan juga ia coba untuk temukan di atas langit. "Menurutku, tidak ada," Ucap Alvin menggeleng sambil membengkokkan bibirnya. Matanya terus memicing menatap ke atas langit.


Amira menoleh ke arah Alvin. "kau hanya memandangnya hanya dari sudut matamu saja. Coba kau lihat lagi. Kau payah. Bahkan tidak seru!" Amira mendengkus.


"Semuanya bercahaya Amira, tidak ada yang kekurangan daya." tanya Alvin menatap ke atas lagi. Ia mencoba kembali mengedarkan pandangannya ke atas langit.


"Cih, emangnya ngisi baterai," Amira tersenyum singkat. Lihat di sebelah paling kanan sana." Amira menunjukkan sebuah ke arah sebelah kanan yang berada di angkasa dengan telunjuk kanannya.


"Maksudmu Itu? Apa itu bukan yang paling terang?" tanya Alvin mengikuti arah tangan Amira. Ia sedikit antusias, mencoba menunggu jawaban dari Brigita.


Amira menggelengkan kepalanya. "Kurasa bukan."

__ADS_1


Alvin tampak bingung, ia mulai mencibirkan bibirnya. "Memang ada yang lebih terang dari itu, huh?" Kalimat Alvin terdengar sedikit kesal.


Amira terkekeh pelan. Ia memandang sekali lagi langit beserta para bintangnya dengan hanya pandangan sederhana. "Semua bintang itu terang, hanya saja terkadang ia ditutupi langit gelap jadi bisa mengurangi terangnya. Jadi jika ingin menemukan bintang terang, ya kau harus ke angkasa."


Alvin lalu bergeming. Wajahnya mengendur perlahan, dia yakin Amira hanyalah mengerjainya. Melihat ekspresi wajah Alvin. Amira pun melepaskan tertawanya. Tawa penuh kemenangan.


"Astaga, Amira." Alvin menggeleng, ia pun ikut tertawa karena telah berhasil dikerjain lagi.


Tawa Amira seketika hilang. Ekspresi wajahnya tiba-tiba serius.


"Minggu depan, Ele ulang tahun."


"Benarkah?" ucap Alvin antusias.


"Bagaimana kalau kita kasih kejutan untuknya. Aku yakin dia pasti suka."


"Kita buat konsep apa ? Aku ingin Ele bahagia." Wajah Alvin tiba-tiba berubah sendu. "Ele sepertinya menyimpan banyak luka."


"Kau merasakannya?"


"Ya.. bahkan aku merasakan pedih dari senyumnya itu."


"Ternyata kau lelaki peka. Selama mengenal Ele, aku berusaha membantunya meski hal itu sulit, menjaga senyum dan tawanya agar tetap berusaha bertahan dalam menaruh harapan agar bisa bangkit lagi. Meski dalam kebimbangan dan rasa keputusasaan yang tinggi. Bahkan ia pun menganggap ujian-ujian yang dihadapinya seolah sebuah hukuman untuknya. Padahal sesungguhnya ujian adalah salah satu media Tuhan dalam mendekati para hambaNya yang menyimpan harta paling mulia berupa kesabaran."


Alvin tidak berkomentar, ia hanya diam mendengarkan Amira sampai selesai berbicara.


"Aku juga tahu, Ele yang sudah dari kecil mempunyai perjalanan hidup yang menyedihkan. Untuk seumur dia memang hal ini sungguh berat. Dan sampai sekarang pun, aku yakin ia mampu menghadapinya, suatu hari nanti ia akan menyadari kebaikan-kebaikan Tuhan terhadapnya, akan ada hikmah dari segala ujian yang ia hadapi. Sekarang memang amat terasa perih, sakit dan amat pahit, tapi nanti akan ada kebahagiaan dari semua rasa itu."


Alvin menganggukkan kepalanya, pikirannya berkelana jauh entah kemana. Ia seperti mencari ide untuk acara ulang tahun Ele.


"Oh ya Alvin, dua hari lagi ada pertunjukan di desa ini. Ajaklah Ele pergi menonton pertunjukan itu."


"Pertunjukan?"


"Hmm. Setiap tahun di desa ini selalu memberi pertunjukan elemen seni, seperti lakon cerita, musik lagu, dan tari. Banyak parawisa yang akan datang ke sini untuk menyaksikan pertunjukan itu."


"Oh iya? Jam berapa?" Tanya Alvin. Β Β 


"Lusa, pertunjukannya akan diadakan jam tujuh malam, setelah makan malam, seperti biasa menghemat pengeluaran dana desa.” jawab Amira sambil tertawa.


Alvin pun ikut tertawa mendengar perkataan Amira.


"Apa Ele mau jika aku mengajaknya ke acara itu?"


"Tentu saja. Ele menyukai pertunjukan itu. Tenang saja, aku akan membantumu." Kata Amira tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2