
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Aku akan membuatmu mencintaiku. Bahkan jika aku harus menangis, terjatuh dan terluka. Aku siap untuk itu....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Tiba-tiba Jane terdiam, wajahnya meringis menatap ke arah Ele. "Sebenarnya....tadi....tadi....? Ahhhhh....." Jane mendesah lesu sambil membuang wajahnya. Rasanya tak sanggup untuk mengatakannya.
Ele mengerutkan keningnya, ia melangkah mendekat ke arah Jane. "Kenapa Jane? apa yang membuatmu khawatir seperti ini?" tanya Ele penasaran.
Jane mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap gugup kepada Ele. "Tadi aku sempat mendengar pembicaraan bos dengan lelaki asing itu."
"Lelaki asing bagaimana? Dan pembicaraan apa maksudmu?" wajah Ele semakin mengerut tak mengerti.
Jane kembali menarik napas gugup. "Pria asing itu mengatakan ingin membeli cafe ini dan karyawannya tetap bisa bekerja, kecuali kamu."
"APA???????" Ele begitu terkejut sampai matanya terbeliak. Ia menarik napas berusaha bersikap tenang, walau rahangnya mengencang. "Kenapa kecuali aku? Kenapa bisa seperti itu?" Ele tak terima, alisnya menukik tajam.
"Aku juga tidak tahu Ele, lelaki asing itu bahkan mengatakan kau tidak bisa bekerja, kecuali kamu menyetujui perjanjian itu."
"Perjanjian apa?" Kejar Ele.
"Aku juga tidak tahu, Ele."
Ele menarik napas kesal. Baru ini ia mengalami seperti ini. Perjanjian? Oh, ya Tuhan, ini tak bisa dipercaya. "Apa karena itu mereka memintaku datang?"
Jane mengangguk. "Sekarang, masuklah!"
"Sendiri?" Ele mencoba menerima, walau sesungguhnya hatinya sakit menerima kenyataan ini.
"Ya, sendirilah. Aku tidak mau ikut-ikutan dipecat."
Ele mengerucutkan wajahnya. "Kau jahat!"
"Hahahaha, tidaklah Ele, aku tidak sejahat itu. Sekarang kita masuk! " Kata Jane tersenyum.
Huftt.... Ele mengatur napasnya ketika Jane mengetuk pintu ruangan itu.
Tok...tok...tok...!
Pintu kamar ruangan itu terbuka sedikit, saat itu juga jantung Jane terpukul kencang, ia menarik napasnya dan spontan menarik tangan Jane.
"Aku takut, Jane." Ele menutup matanya dengan sangat erat, hingga garis-garis hidung dan pinggir matanya nampak.
"Bertemu dan membuat kesepakatan adalah pilihan yang terbaik Ele. Kamu jangan takut. Ingat! Aku akan selalu ada untukmu." Jane memberi semangat saat melihat ekspresi Ele yang ketakutan.
Jane membuka pintu ruangan itu dan melihat dua orang pria tampak serius berbicara. Hingga tidak menyadari kedatangan mereka.
"Selamat sore pak!" Jane memberi salam dengan membungkukkan badannya, yang di ikuti dengan oleh Ele. Mereka belum merespon.
Pria asing itu sedang memunggunginya, jadi ia tidak siapa lelaki yang berani membuat surat perjanjian itu kepadanya.
"Selamat sore, pak." Kata Ele berusaha tetap memberikan senyumnya. Namun, dalam hati ia mengumpat pria asing itu.
Tatapan Ele yang awalnya turun tiba-tiba terangkat dan menangkap suara yang begitu familiar. Suara itu sangat di bencinya, bahkan Ele bersumpah tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi.
__ADS_1
DEG
DEG
Jantung Ele langsung terpicu cepat saat melihat sosok lelaki yang tampak serius berbicara dengan bosnya itu. Tidak salah lagi. Dia adalah lelaki yang pernah dituduhnya menjambret tasnya dan pernah ditemuinya di cafe. Lelaki itu dingin dan angkuh. Ele terdiam. Ia masih terkejut dan sangat terkejut. Langkahnya pelan dan berhenti di sana. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ele berusaha menstabilkan napasnya.
"Ele kenapa wajahmu pucat?" Bisik Jane.
Ele bergeming tak percaya. "Tidak mungkin...ini tidak mungkin."
Bukannya menjawab, Ele semakin gugup, jantungnya berdebar tak beraturan di dalam rongga dadanya. Napasnya berhembus cepat dari mulutnya. Ia berusaha untuk menarik napas dalam-dalam agar bisa memenuhi paru-parunya. Namun tidak berhasil. Ia semakin sulit bernapas. Ia lalu mencengkram tangannya sendiri karena masih bingung apa sebenarnya kehendak lelaki ini.
"Apa jangan-jangan lelaki ini memang sengaja ingin menghancurkanku, karena tuduhanku yang membuat harga dirinya terluka?"
"Ele, kamu kenapa?" Jane sengaja menyikut lengan Ele, agar lepas dari ketegangan.
"Eleanor, kau sudah datang? Kenapa berdiri disitu. Silakan duduk!" Ucap Jhonatan pemilik cafenya itu.
Arlo dengan cepat memutar badannya. Ia tersenyum kepada wanita yang selalu membuat hatinya tidak tenang itu. Mereka saling menatap. Ele diam dan tidak bicara. Ekspresi wajahnya sudah berubah.
"Ele, kenapa kamu diam, bos menyuruhmu duduk." Kata Jane membawa tangan Ele agar segera duduk. Ele berjalan pelan sambil menunduk. Ia tidak mau menatap wajah Arlo.
Arlo langsung merubah posisinya, duduk tegap di kursi sofa, matanya hanya tertuju pada Ele.
Deg deg deg....
Jantung Arlo kembali terpukul lebih kencang ketika tatapan mereka bertemu. Ia menatapnya dari ujung kepala sampai ke kaki.
"Silahkan duduk!" Jhonatan menunjuk dengan dagu ke arah sofa yang ada di depannya.
"Terima kasih pak." Jane memilih menjawabnya, karena sedari tadi Ele hanya diam.
Ele tak mengangkat wajahnya, yang bisa ia lakukan hanyalah menunduk pasrah.
"Arlo yang akan bicara, silakan dude!" Jhonatan memberikan ruang kepada Arlo untuk bicara.
Arlo melengkungkan alisnya, ia tersenyum singkat, tatapannya masih tetap mengunci ke arah Eleanor.
"Saya sekarang menjadi bos kalian. Saya berhak memecat salah satu di antara kalian." Arlo menatap Ele lekat-lekat, bagaimana tatapan seorang bos yang dingin dan kaku, begitulah sikapnya kepada Ele saat ini.
Ele dengan cepat mengangkat wajahnya. Ia tertegun dengan wajah tegang.
"Siapa diantara kami itu pak?" Tanya Jane angkat bicara. "Kalau bisa, jangan pecat dong pak. Please....!"
Arlo tersenyum simpul, ia hanya menatap Ele dengan tatapan serius. Sungguh Ia menyukai Ele saat ini. Ia benar benar begitu berbeda.
"Apa yang tak bisa aku lakukan?" sudut bibir Arlo melengkung.
"Maaf pak, apa bisa bapak pikirkan kembali. Kami berdua butuh pekerjaan. Apalagi teman saya, dia hanyalah seorang diri di sini. Ia kuliah dengan biaya sendiri. Tak ada keluarga untuk tempat....."
Arlo mengangkat tangannya ke atas, Jane paham dengan gestur tubuh itu. Gestur untuk meminta Jane untuk tidak berbicara lagi.
Glek! Jane menelan salivanya dengan gugup, perasaannya benar-benar campur aduk saat ini. "Astaga, dasar pria angkuh." Jane mengumpat dalam hati.
Sementara Ele hanya menunjukkan wajah datar, ia tak memberi komentar apapun. Napasnya berembus pelan dari mulut, samar dan tidak mengubah posisinya.
"Apa kau tak ingin bicara nona Ele? kau tidak ingin bekerja di sini, atau memilih berhenti? Kau bisa memilihnya?" Arlo duduk bersandar, ekspresi wajahnya berubah, ia semakin menyukai Ele. Kadar cintanya semakin bertambah saat melihat tatapan itu.
Ele menarik napasnya sambil mencengkram erat kedua tangannya. "Saya memilih tetap bekerja." Jawab Ele dengan suara terendahnya
"Bagus, itu pilihan yang tepat. Karena saya masih membutuhkan karyawan seperti kalian. Tapi dengan satu syarat, kau harus menandatangani ini."
Mata Ele mengarah pada kertas kosong. "Kenapa anda meminta saya menandatangani kertas kosong ini?"
__ADS_1
"Jangan banyak tanya, tanda tangani saja."
Ele membuang napas kesal. Ternyata dugaannya benar. Lelaki ini memang sengaja membuatnya menderita lahir dan batin. "Saya tidak mau menandatangani kertas kosong itu."
"Tidak ada penolakan, besok saya beri waktu untuk memikirkannya. Jika kamu tidak mau, kau bisa berhenti bekerja dan keluar dari apartemenmu juga."
"Apa?"
"Kau tidak tahu, pemilik apartemen yang kau tempati saat ini adalah aku." Ucap Arlo tegas.
Sikap Arlo kembali berubah dingin dan serius. Terlihat profesional dan berwibawa. Ele terdiam dengan mulut terbuka. Napasnya berembus cepat karena emosi. Ia mencoba mencerna perkataan lelaki brengsek ini. Sementara Jane saat ini tidak bisa berbuat apa-apa.
Ele tak tahan lagi, embusan napasnya keluar tidak stabil dari mulutnya. Matanya memancarkan kebencian. "Kenapa anda seenaknya, pak. Saya tidak bisa..."
"Dude, bisa tinggalkan kami berdua?" Arlo menyela pembicaraan Ele.
"Oke dude." Jawab Jhonatan mengerlingkan salah satu matanya. "Sekarang kita keluar, Jane."
Jane hanya mengangguk pasrah. Ia menatap Ele memberikan gestur menyilangkan tangannya. Kemudian meletakkan jari ke mulutnya, memberi peringatan kepada Ele agar jangan banyak membantah.
Ele menggeram kesal tanpa bersuara. Jane melambaikan tangannya. Setelah kepergian Jane. Ele kembali bersikap tenang, walau saat ini, ia begitu marah.
"Sekarang katakan apa yang membuatmu tidak bisa?" kepalanya sedikit dimiringkan ke kanan dan alisnya terangkat. Menatap serius kepada Ele.
"Saya rasa, kamu mengerti maksud saya,"
"Tapi saya tidak mengerti." Kejar Arlo, rasanya ia terhibur bisa mengerjain Ele.
"Kamu bodoh atau bagaimana sih, saya tidak bisa menandatangani kertas kosong itu."
"Jadi kamu mau menandatangani apa? Apa kau mau menandatangani ini?" Arlo menyentuh bagian dadanya. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia kini yakin bahwa ia menyukai gadis yang duduk di depannya itu. "Bagaimana?" tanya Arlo lagi.
Ele semakin kesal. "Apa anda sudah gila?"
"Iya. Aku sudah gila karena kamu." ucap Arlo mengamati setiap wajah Ele tanpa terlewatkan sedikit pun. Wanita yang berhasil membuatnya tak bisa tidur itu.
Ele memilih meredam amarahnya. Ia menarik napas singkat, lalu berbicara. "Maafkan saya atas kejadian tempo hari. Dan masalah itu sudah kita anggap selesai. Tapi untuk menghukum saya dengan cara menandatangani kertas kosong itu. Itu tak masuk akal." Kata Ele dengan sedikit berani menatap mata lelaki itu.
"Apa kamu pikir saya menghukummu Ele, aku tertarik dengan keberanianmu dan aku menyukainya."
Ele tetap bersikap tenang menghadapi sikap lelaki semaunya itu. "Saya tidak bisa melakukan itu."
"Jadi kamu melawan perintahku? Saya sekarang bosmu." Arlo menatap lekat-lekat mata Ele dan Ele menghindari tatapan itu.
"Jika kamu tidak mau menandatanganinya. Aku beri kesempatan satu bulan masa trainingmu. Jika pekerjaanmu tidak beres. Kau bisa terima konsekuensinya." Kata Arlo manaikkan kakinya memangku. Ia menatap Ele dengan serius.
Ele menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan tenang. "Masih adakah yang lain, pak?"
"Menurutmu, bagaimana?" Arlo tersenyum singkat sambil menaikkan sudut bibirnya.
"Maaf pak, kau begitu saya permisi." Ele bangkit, Ia menundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Saat membalikkan badannya,
Ia menutup matanya sambil membuang napas. Ele meremas tangannya dengan kesal.
Arlo menatap punggung Ele dengan tersenyum penuh arti. Ia mendesah, tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^