
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Dia akan datang pada saat yang tepat. Tak ada penantian yang sia-sia, semua akan terjawab pada waktunya....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Setelah mendapat pesan dari Harry, Allura tidak bisa tenang. Ia memutuskan untuk membatalkan pertemuannya dengan aunty Maria. Padahal jadwal sudah ditentukan untuk bertemu dengan dokter spesialis kandungan. Allura menggeram kesal, ia begitu marah kepada Harry. Allura sedang melakukan panggilan kepada aunty Maria.
"Maaf aunty, aku tidak bisa memenuhi jadwal cek kandungan hari ini. Aku sungguh menyesal." ucap Allura memelas diujung kalimatnya.
"Tidak apa apa sayang, lain kali masih ada waktu kan? tak usah dipikirkan. Nanti kita bisa tentukan jadwal setelah kepulanganmu dari luar kota." sahut Maria dari balik ponsel.
"Sekali lagi aku minta maaf aunty. Sampai bertemu nanti aunty" Seru Allura kemudian menutup teleponnya.
Allura melempar asal handphonenya ke samping kursinya yang ada di mobil. Ia menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Memacu mobilnya begitu cepat agar ia tiba di apartemen Harry. Allura menarik napasnya dalam-dalam, lalu membuang napas lewat mulut yang terbuka. Bersikap tenang adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.
Tak butuh waktu lama, Allura sudah tiba di depan rumah sederhana itu. Ia memarkir mobilnya dengan asal, namun tidak langsung turun dari sana. Sejenak ia memandang rumah itu. Tak ada kebahagiaan selama ia tinggal di rumah ini. Sakit, rapuh, hancur. Namun semua terasa lebih hancur saat kepergian ayahnya. Perasaan yang tak mampu ia deskripsikan. Perasaan yang tak mampu ia jelaskan, rasanya kenangan itu buruk itu menguasai jiwanya dan seluruh kontrol atas jiwanya. Allura melepaskan napas panjang. Akhirnya ia memilih turun dari mobil.
BRAKKKK!
Pintu mobil dibantingnya dengan cepat. Lalu berjalan dengan penasaran dan jantung yang terus memicu dengan kencang. Ia berjalan dan terus bermonolog sendiri saat Harry menyebut nama Alvin. Hatinya seketika berdesir.
"Ada apa dengan Alvin, kenapa Harry seolah-olah mengetahui keberadaan Alvin. Astaga...jangan bilang ini akal-akalanmu Harry." Allura mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku tangannya memutih. "Jika kau berani berbohong. Aku akan membunuhmu, lihat saja!" Maki Allura menggeram.
Allura menghembuskan napas lewat pipi yang mengembung. Ia tetap mencoba untuk menenangkan perasaannya.
Tok....tok....tok....!
Allura mengetuk pintu sedikit kasar. "Harry, buka pintunya!" teriak Allura.
"Harry....!!! buka pintunya!" Teriakan Allura semakin keras. Ia sama sekali tak perduli jika suaranya mengganggu orang yang tinggal di sana.
CEKLEK!
Pintu dibuka secara perlahan. Seorang lelaki yang tak dikenalnya muncul dari balik pintu.
"Dimana Harry?" Tanya Allura.
Saat mengetahui siapa yang berdiri di depannya. Pria itu langsung tersenyum ramah kepada Allura.
"Allura? Selamat siang cantik." Sapa Fransisco dengan senyum bahagia. Dia tahu Allura adalah adik dari Harry yang selama ini disukainya.
Bukannya balik menyapa, Allura semakin kesal di sana. "Aku tanya dimana Harry?" bentak Allura.
"Harry lagi keluar, dia memintamu untuk menunggunya."
Allura mengerutkan keningnya. "Keluar? Dia memintaku ke sini dan Harry berani keluar?" Suara Allura naik satu oktaf.
"Harry ada urusan sebentar. Kau bisa menunggunya di dalam."
"Sialan, dia pikir aku ada waktu untuk menunggunya? Gara-gara dia rencanaku berantakan."
"Silakan masuk Allura, orang-orang sedang memperhatikan kita."
Allura menarik napas dengan mata terpejam. Ia memandang ke arah Fransisco lagi. Ia melangkah masuk, menyikut lengan pria itu karena begitu kesal. Ia langsung mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Harry.
"NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."
__ADS_1
Allura mencengkeram handphonenya dengan kesal. Ia semakin tak tahan dengan semua ini. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Apapun alasannya, ia tetap harus menunggu Harry.
πΈπΈπΈπΈπΈ
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Harry memutuskan untuk bertemu dengan direktur utama Smith. Setidaknya ia ingin mendapatkan keuntungan dari masalah ini. Harry semakin menyempurnakan senyumnya. Ia akan kaya dalam hitungan detik. Butuh perjuangan masuk ke perusahaan ini. Bukan Harry namanya jika ia tidak punya ide. Sekarang Harry berdiri di depan pintu direktur utama Smith.
Tok...tok...tok....
Lukas menatap sekilas ke arah pintu. "Masuk!" lalu menunduk serius lagi dengan tabletnya.
Pintu terbuka. Harry maju perlahan dan berhenti tidak jauh dari meja
"Letakkan saja di atas meja. Persiapkan rapat untuk siang nanti." ucap Lukas tanpa memandang siapa yang berdiri di depannya.
Karena tidak ada jawaban, Lukas mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan. Dahinya langsung berkerut saat yang berdiri di sana bukan Marvel, melainkan orang lain.
"Siapa kamu? Berani-beraninya kamu masuk tanpa persetujuan asistenku." Ucap Lukas begitu dingin.
"Selamat siang tuan." Sapa Harry begitu tenang. Ia membungkukkan badannya memberi hormat.
"Marvel!" Teriak Lukas sudah tampak marah. "Siapa yang menyuruhmu masuk?"
"Maaf jika saya lancang masuk ke ruangan anda. Tapi saya ke sini dengan tujuan baik tuan."
Lukas menarik napas panjang lalu bangkit dari duduknya. "Baiklah. Saya akan memberikan waktu 10 menit."
"Terima kasih tuan." Ucap Harry tersenyum. "Bisakah saya duduk tuan?" Tanya Harry melirik sekilas ke arah sofa yang ada di depannya.
Lukas bangun dari duduknya dan berjalan ke arah kursi sofa. "Silakan duduk."
Harry tersenyum dan duduk berhadapan dengan Lukas.
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
Dahi Lukas berkerut. "Kesepakatan? Apa maksudmu?"
Harry mencondongkan tubuhnya ke depan. Sudut bibirnya melengkung ke atas. "Saya rasa, anda mengerti maksud saya tuan "
"Apa kau mengancamku?" Alis Lukas menukik tajam.
"Saya tidak mengancam anda tuan. Saya hanya ingin mendapatkan bayaran yang sesuai dari informasi yang saya dapatkan."
"Cih..." Lukas tertawa. Namun tiba-tiba senyumnya hilang, raut wajahnya berubah dingin dan kaku. "Kau sengaja mencari masalah kepadaku? Apa kau ingin mati?"
"Anda salah, saya tidak pernah takut mati tuan."
"Sebelum kesabaranku habis, lebih baik tinggalkan tempat ini sekarang." Lukas bangun dari duduknya dan melangkah menuju meja kerjanya. Ia tidak mau membuang waktunya hanya karena mendengar ancaman pria itu.
"Bukankah anda mencari Alvin selama ini tuan?" Kata Harry dengan lantang dan berhasil menghentikan langkah Lukas. Lukas diam di sana dan tidak berbalik, langkahnya seperti terpaku.
"Aku tahu keberadaan Alvin. Dia sedang berada di suatu tempat." Lanjut Harry, ia sengaja mengucapkan kata-katanya dengan jelas.
Lukas berusaha bersikap tenang dan berbalik memandang ke arah Harry yang sudah berdiri dihadapannya.
"Apa kamu pikir, saya akan percaya dengan semua itu? Kau sengaja menggunakan Alvin hanya untuk mendapatkan uang."
"Anda benar, karena bagiku ini adalah kesempatan emas. Jika anda ingin keberadaan Alvin, anda bisa langsung menyetujui kesepakatan kita."
"Dasar brengsek! Aku bisa melaporkanmu ke polisi." Ancam Lukas. "Dimana Alvin?"
"Tidak masalah tuan. Saya tidak takut sama sekali."
"Apa maumu?" Potong Lukas dengan cepat. Ia menahan napas dan mencengkram erat dadanya. Lukas mencoba menarik napasnya lagi. Ia tidak mau mendapat serangan jantung karena orang ini.
__ADS_1
"Saya akan memberitahukan keberadaan Alvin setelah anda membayar saya."
Bersamaan itu pintu terbuka, muncul Marvel di sana. Ia mendengar pembicaraan mereka. Langkahnya melambat melihat Tuan Smith mencengkram bagian dadanya.
"Tuan, anda tidak apa-apa?"
Lukas berusaha menegakkan badannya. Menatap Harry dengan tarikan napas panjang. "Baiklah, saya akan transfer hari ini juga. Dimana Alvin?"
"Saya akan katakan setelah anda mentransfernya."
Mendengar itu, Marvel mengepalkan tangannya, menatap tajam ke arah pria itu.
Lukas mencoba menarik napasnya yang terasa berat. "Marvel, tolong transfer sekarang."
Marvel menundukkan kepalanya. "Baik tuan." ucap Marvel dengan cepat. Ia pun mentransfer uang sesuai yang diminta Harry. Harry tersenyum puas, nilai uang yang di dapatkannya sesuai dengan yang diharapkan. Setelah itu Harry memberikan alamat dimana keberadaan Alvin sekarang.
"Sekarang kau boleh keluar." Lukas mengusirnya terang-terangan.
"Jika anda membutuhkan bantuan saya, saya siap membantu anda tuan."
Lukas tak menjawab.
"Kalau begitu saya permisi tuan. Senang bertemu dengan anda." Harry bangun dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Lukas. Namun Lukas bergeming dan tidak menyambut tangan Harry.
Harry tersenyum saat melihat tangannya mengulur kosong. Tidak masalah, yang penting ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Harry langsung melangkah meninggalkan ruangan itu.
Namun sebelum Harry masuk ke dalam lift. Marvel tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Tuan Harry?"
Saat namanya dipanggil, Harry dengan cepat membalikkan badannya.
"Saya ingin bicara, tapi tidak di sini." ucap Marvel melangkah meninggalkan Harry lebih dulu. Marvel membawa Harry ke atas rooftop.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Marvel sudah tidak tahan lagi. Matanya terbakar dengan kemarahan, Ia segera membalikkan badannya dan melangkah ke arah Harry.
Dan....
BRUKKK!
Satu pukulan kuat mendarat di pipi Harry. Pukulan Marvel membuat Harry terjatuh. Marvel menarik kerah baju Harry dengan ke dua tangannya. Tak cukup hanya sekali. Marvel kembali memukul wajah Harry lagi.
"Kau berani mengancam tuan Smith."
Harry merasa pusing dengan pukulan telak dari dari Marvel. "Brengsek! Apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin membunuhmu." ucap Marvel dengan emosi. Ia mencengkram kerah baju Harry dengan kuat. "Tapi tidak sekarang. Kau harus membuktikan semua ucapanmu dulu. Jika semua tidak terbukti. Kau akan mati di tanganku." Rahang Marvel mengencang menahan amarah. Ia mendorong tubuh Harry.
Harry tersenyum, ia memegang bibirnya yang terluka. "Aku bisa membuktikan sekarang."
Marvel tidak menjawab, ia merapikan jasnya dan melangkah meninggalkan Harry di sana.
"Sialan!" Harry mengusap darah yang keluar dari bibirnya. Ia menatap punggung Marvel yang pergi meninggalkannya.
"Shiiiittt." Umpat Harry dengan tangan mengepal kuat.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^