LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
UCAPAN YANG SAMA


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Mulut bisa berbohong, tetapi tidak dengan mata. Jika ingin mengetahui kebenaran dari seseorang, tatap matanya saat berbicara....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


HARI TERAKHIR DI KOTA A.


Setelah sarapan yang benar-benar sangat terlambat. Ele dan Alvin pun kembali mengunjungi tempat-tempat yang indah di kota ini sambil berburu oleh-oleh. Mereka menggunakan kereta. Keluar dari stasiun A mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Alvin dan Ele saling melempar senyum bahagia saat menyusuri jalan khusus kota A dari ketinggian. Alvin sesekali memberikan ciuman di kening Ele.


"Kau sangat cantik sekali sayang. Aku mencintaimu, Ele."


Ele menjepit bibirnya tersenyum malu, Ia merasakan seperti ada pelangi yang melintas dengan tujuh warna hanya karena mendengar kalimat itu. Alvin memang sering memujinya. Tentu saja Ele suka pujian itu. Ia begitu bahagia.


"Kenapa kau begitu mencintaiku?" Tanya Ele menatap Alvin secara lembut dan mendalam.


Alvin tersenyum sambil memeluk pinggang Ele agar semakin dekat dengannya. "Karena aku mencintaimu, aku hanya ingin membuatmu bahagia. Dari semuanya tidak ada satu pun alasannya membuatku berhenti mencintaimu. Bahkan setiap detik aku bernapas aku tidak akan berhenti mencintaimu."


Suara Ele parau dan serak sambil membalas memeluk pinggang Alvin. "Kau benar-benar membuatku terharu sayang, itu manis sekali. Terima kasih atas cintamu yang sebesar ini."


Alvin tersenyum mengangguk sambil mendekap tubuh Ele dengan erat. Ia memberikan usapan di punggung Ele dengan belaian sayang lalu mencium puncak kepala Ele dengan gemas. Mereka sama-sama menyalurkan segala perasaan bahagia.


"Jadi bagaimana apakah kita melanjutkan liburan ini lagi?" goda Alvin menahan senyumnya.


"Apa? No, kita tetap pulang hari ini. Kasihan kebun strawberry kita, Alvin." Kata Ele dengan nada protes.


"Bukankah kita sudah meminta Amira untuk memperhatikannya."


"Gak bisa, kita tetap pulang hari ini." Jawab Ele cepat.


"Hahahaha." Alvin tertawa. "Aku juga tidak bisa menahanmu di sini, karena uang kita sudah menipis." bisik Alvin terkekeh.


"Kita harus lebih gigih lagi mengumpulkan receh. Bukankah begitu tuan tampan?" Ele tertawa diujung kalimatnya sambil mencubit perut Alvin dengan lembut.


Alvin ikut tertawa sambil menahan geli. Ia kemudian mencium pelipis Ele lagi dan lagi. "Kau memang calon istri idaman."


"Jangan terlalu memujiku?"


"Aku serius sayang. Kau wanita pekerja keras dan patut dibanggakan."


Ele lagi-lagi tersanjung hanya karena mendengar kalimat itu. Ia mengulum senyum sambil menikmati setiap gelitikan cinta yang bersemi di dalam dadanya. "Ya Tuhan tolong jaga Alvin untukku. Dia adalah lelaki yang sangat aku cintai." Doa Ele dalam hati.


Sambil menikmati perjalanannya, Alvin dan Ele menikmati makan ringan dengan sebungkus onigiri yang gurih dan jajanย yang enak. Sesekali Alvin mengusap bibir Ele yang kotor karena sisa makanan yang tertinggal di sana. Ia menyelipkan anak rambut Ele saat memberikan minuman kepada pujaan hatinya itu.


Setelah mendapatkan tiket dari mesin penjual tiket otomatis di setiap stasiun yang pembelian tiket. Mereka berjalan menuju kereta layang.


"Ini pertama kalinya aku naik kereta layang ini, Alvin."


"Benarkah?" Tanya Alvin


"Hmm, Aku takut."


"Kenapa takut, kan ada aku."


Ele melepaskan senyuman sambil mengangguk-angguk kepalanya. "Benar juga iya. Apa yang aku takutkan, ada pria hebat yang akan menemaniku." ucapnya tersenyum bangga.

__ADS_1


Lagi-lagi seulas senyum manis terukir di wajah Alvin. Mereka mengambil tempat duduk. Tidak menunggu lama kereta layang berjalan menuju jalurnya. Kereta yang digunakan pada jalur ini dioperasikan tanpa pengemudi, melainkan melalui sistem komputerisasi secara otomatis.


Ele menatap sekilas ke arah Alvin dan memberanikan diri bertanya. "Alvin,"


"Hmmm." Jawab Alvin tanpa memandang Ele.


"Kemarin....?" Ele menunduk memainkan kukunya. Alvin tahu kemana arah pembicaraan Ele. Ia hanya diam menunggu Ele menyelesaikan kalimatnya.


"Saat kau membelikan minuman untuk kita, apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Ele dengan wajah was-was. Ia sangat ketakutan saat mengingat kejadian itu. Ele frustasi mencari Alvin kemana-mana. Namun Alvin tidak ada.


"Tidak ada yang terjadi sayang," ucap Alvin datar.


"Tapi kenapa kau begitu lama kembali? Satu jam aku menunggumu di sana."


Alvin menghela napas singkat, menatap Ele begitu dalam. "Aku hanya tersesat dan mutar-mutar di jalan yang sama."


Ucapan yang sama. Ele menarik napasnya dalam-dalam. Ia tetap berpikiran positif. Walau hatinya tak bisa berbohong. Perasannya benar-benar mengatakan ada yang tidak beres saat melihat Alvin kembali dengan wajah pucat.


Alvin kembali menatap ke depan menyadarkan punggung ke sandaran kursi. Mereka kembali diam menikmati suasana perjalanan kereta layang sambil melempar senyum.


"Alvin, kapan-kapan kita berkunjung ke makam ibuku, ya?" ucap Ele tidak ingin larut dalam kebisuan.


Alvin memandang sekilas ke arah Ele. "Hmm." ucapnya dengan gumaman saja.


"Aku akan memperkenalkanmu kepada ibu. Aku yakin ibu pasti senang dan bahagia saat melihatku telah menemukan pria baik seperti kamu." ucap Ele dengan tatapan sendu.


Alvin tidak menjawab, ia hanya mengambil tangan Ele dan menciumnya. Ele tersenyum tipis, sambil menundukkan kepalanya. Ia memandang tangan Alvin di pangkuannya. Tangan itu menggenggam dengan hangat. Rasanya mendebarkan. Tidak ada momen sebahagia ini dalam hidupnya


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Alvin melihat jam di pergelangan tangannya. "Masih ada sisa tiga jam lagi. Apa kita lanjut atau langsung ke stasiun saja?"


"Kita jalan jalan lagi untuk menghabiskan waktu. Bagaimana?"


"Bagaimana kalau kita ke mall saja, aku ingin membelikan sesuatu untukmu."


"Beli sesuatu? Apa itu?"


"Ada deh, yuk!"


Alvin hanya mengangguk dan mengikut saja saat Ele menarik tangannya. Mereka memilih mall terdekat yang ada di sana. Alvin dan Ele memasuki mall itu sambil bercengkrama bersama. Ele langsung berlari menuju counter pakaian khusus lelaki. Ia memilih beberapa pasang pakaian santai untuk Alvin.


"Kamu beli untukmu saja Ele, aku tidak terlalu membutuhkannya." Ucap Alvin saat melihat Ele sibuk di sana.


"Tidak ada kata penolakan sayang, ambil ini dan coba semua di ruang ganti!" Ucap Ele tersenyum sambil menyerahkan beberapa baju yang ingin dicoba Alvin.


"Sayang... Lebih baik uangnya kita simpan saja. Ini namanya pemborosan."


"Jangan banyak protes, cepat buruan gak pake lama."


"Tapi?"


"Tidak ada tapi... tapi..." Tangan Ele kembali sibuk mencarikan baju untuk Alvin. Namun Alvin masih tetap bergeming di sana sambil memperhatikan tingkah Ele.


"Hah? kamu belum mencobanya?" Mata Ele mendelik. "Bagaimana pun penampilan harus tetap nomor satu sayang." kata Ele mendorong tubuh Alvin agar segera pergi mencoba semua pakaian itu.


"Tapi ini pemborosan Ele."


"Tidak apa-apa, kita bisa menjual strawberry lagi."


Alvin tersenyum saat mendengar celotehan Ele. Ele memang sering memilih pakaian buatnya.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya!" kata Ele berlalu meninggalkan Alvin yang sedang mencocokkan pakaian ke tubuhnya.

__ADS_1


Tak ada sahutan dari Alvin. Ele menyusuri lantai satu menggunakan eskalator, ia melangkah menuju toilet. Namun, saat langkahnya nyaris mencapai pintu toilet. Seseorang tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar dan mengajaknya masuk ke ruang yang ternyata ialah ruang akses tangga darurat.


"Si-siapa kamu?" Ucap Ele ketakutan. Pria itu menggunakan sweater hitam dan lengkap menggunakan kaca mata.


"Kau tidak mengenalku lagi?" Ucap Harry membuka kaca matanya.


"Kau..." Suara Ele tiba-tiba tertelan. Bibirnya terkatup rapat. Kedua matanya membola sempurna saat mengetahui bahwa pria itu ternyata Harry. Ele terkesiap kenapa bisa bertemu dengan Harry di sini.


"Kenapa kau begitu terkejut saat melihat saudaramu sendiri, heh.." Harry menekan kacamatanya ke kepala Ele.


Ele dengan cepat menampik tangan Harry. "Jangan sentuh aku."


Alis Harry menukik tajam. "Dari tadi aku sudah memperhatikanmu. Kenapa kau ada di sini bersama lelaki itu?"


"Apa urusanmu?!"


Harry menggeram saat Ele sudah berani melawannya. "Tentu saja ini urusanku bodoh, kau berani-beraninya menghabiskan uang dengan pria itu. Dan hasil panen, kau tak pernah memberikan lagi kepadaku." Suara Harry nyaris menyakiti gendang telinga Ele. Rahangnya mengeras, sama sekali tidak menampakkan sedikit sisi baik dari seorang lelaki.


"Ini hasil jerih payahku, jadi aku berhak menghabiskannya."


"Kau...." Mata Harry mendelik tajam. Ia mencabut pistol dari saku sweaternya untuk menggertak Ele.


Mata Ele membulat ketika pistol itu di arahkan ke bagian kepalanya.


"Kau tahu, pistol itu dilengkapi oleh peredam suara, saat aku menembakmu, hanya terdengar sedikit suara saja. Tidak akan ada yang tahu kau mati di sini. Nasibmu bisa sama seperti ibumu. Orang akan menganggapmu bunuh diri." Harry tersenyum jahat.


โ€œJangan menyebut nama ibuku dengan mulut kotormu. Jika kau ingin membunuhku? Ayo, lakukanlah! tak perlu basa-basi mengancamku." Hal itu tak membuat Ele takut sedikit pun kepada Harry. Sorot matanya semakin menantang.


"Dasar sialan, seharusnya aku mendengar Allura. Kau semakin kurang ajar. Jangan membuatku marah. Nasibmu bisa sama seperti ibumu. Kamu mau? aku bisa saja membuatmu jadi seorang pembunuh. Bagaimana?"


PLAKKK!


Sebuah tamparan mendarat cukup kuat di pipi Harry. Ele semakin tidak kuasa menahan amarahnya. Rahangnya mengencang kuat.


"Setelah membuatku menderita, kau berani mengancamku. Kali ini aku tidak akan diam. Aku bukan Ele yang dulu. Ingat itu!"


Setelah mengatakan itu, Ele langsung pergi meninggalkan Harry yang masih tampak dikuasi emosi.


"Berani sekali dia," Harry keluar mengejar Ele.


"Ele tunggu! Mau kemana kau?!" panggil Harry di sana.


Namun saat melihat seorang pria menghampiri Ele, Harry mengurungkan niatnya. Ia memilih bersembunyi dibalik dinding.


Sepersekian detik, badan Harry seketika kaku tak bisa bergerak saat melihat pria itu "Bukankah dia?" Harry terbelalak panik. Ia mengintip dari balik dinding tempat persembunyiannya untuk memastikan lagi.


"Benar, ini tidak salah lagi. Dia adalah lelaki yang ada di foto itu."


Jantung Harry terpompa kencang seperti genderang, terpukul begitu kuat di dalam rongga dadanya. "Allura harus tahu ini."


Tanpa menunggu lama, Harry langsung meninggalkan tempat itu.


Sudut bibirnya melengkung sempurna. "Kali ini kau harus berterima kasih kepadaku Allura." Harry begitu bersemangat, ia membawa mobilnya dengan kecepatan penuh.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2