LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
KAU TAHU APA KESALAHANMU?


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Hampa seperti langkah tak berjejak, senja tapi tak jingga dan sedih yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Alvin duduk di kursi panjang sembari menunggu Aiden mengantarnya ke airport. Ia menghela napas lagi, seolah-olah dengan begitu, ia bisa mengalirkan sebagian rasa sesak di dadanya ke udara bebas, membaginya dengan dunia. Namun dengan setiap helaan napas, sesak yang ia rasakan justru makin menjadi. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia segera menelan ludah, meski mulutnya terasa kering.


Tujuh hari berada di London, Alvin tak juga bisa menemukan Ele. Ia bahkan meminta Aiden mencari informasi mengenai tempat tinggal Ele yang sekarang. Tapi hasilnya masih tetap sama. Alvin menengadah ke atas. Menatap bola api yang sama sekali tak menyilaukan matanya. Bulatan merah tampak sempurna, bergantung di langit sore.


Sesekali Alvin mengalihkan pandangannya ke arah sisi lain jalanan. Berharap Ele ada di sana. Namun, Ele tak terlihat diantara orang-orang yang lalu lalang. Menunggu tanpa janji, seperti menghitung peluang, satu berbanding seribu. Mungkin sebuah keajaiban andai itu hanya bayanganmu. Kebodohan yang Alvin sadari, bukanlah sebuah kebodohan, saat hasrat ini telah ia usahakan. Hampir setiap hari Alvin mencari informasi tentang keberadaannya. Hanya kekecewaan yang diterimanya.


Harapan itu semakin memudar di penghujung hari. Kelelahan yang begitu melemahkan seluruh raganya. Rengekan asa begitu saja ia tepis. Seiring berjalannya waktu semua itu menjauh perlahan. Semakin jauh cahaya nya semakin menghilang. Kini Alvin sadar bahwa Ia belum ditakdirkan bertemu dengan Elenya. Ia hanya berharap waktu yang akan mempertemukan mereka kembali. Alvin kembali dengan kepasrahan hati. Ia menguatkan hatinya memilih kembali ke negaranya.


Selamat sore, tuan." Sapa Aiden membungkukkan badannya untuk memberi hormat


Alvin bangun dari duduknya, memandang ke belakang. Ia terkejut saat melihat Aiden sudah berdiri di belakangnya. "Aiden?"


"Maaf, mengejutkan anda."


Alvin tersenyum samar, "Tidak masalah. Kita berangkat?"


"Iya tuan. Lebih cepat lebih bagus, yang saya takutkan jalanan akan macet."


"Baiklah, kita berangkat."


"Izinkan saya membawakan koper anda." Aiden langsung mengambil koper kecil itu dari depan Alvin. "Silakan tuan, mobil diparkir di sana."


"Baik, Aiden." Alvin tersenyum hangat. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan kembali berjalan yang di ikuti oleh Aiden.


Aiden membukakan pintu bagian belakang mobil untuk Alvin, setelah ia memasukkan koper ke dalam bagasi.


"Terima kasih, Aiden." Ucap Alvin tersenyum hampa. Sedih rasanya meninggalkan London saat ia belum bisa menemukan Ele.


Aiden tersenyum mengangguk sambil menutup pintu mobil kembali. Ia segera berjalan cepat mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi. Memasukkan persneling dan memulai perjalanan itu.


DALAM PERJALANAN.


"Soal yang anda minta kemarin, saya belum menemukan siapa pemilik cafe itu, tuan?" Ucap Aiden memulai pembicaraan.


Alvin mengembuskan napas singkatnya. Menatap sendu ke arah kaca spion tengah yang memantulkan wajah Aiden. "Tidak apa-apa Aiden. Jika kau sudah menemukan pemilik cafe itu, kau bisa menghubungiku. Aku ingin tahu siapa lelaki itu."


"Baik tuan. Saya akan mencari tahu secepatnya."


"Terima kasih Aiden. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."


"Ini sudah tugas saya tuan. Saya senang bisa membantu anda." Aiden tersenyum melihat wajah Alvin lewat spion yang ada di tengah mobilnya.

__ADS_1


Alvin tak menjawab. Ia hanya mengembuskan napasnya sambil menatap jalanan yang dilaluinya. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia sembunyikan. Lagi-lagi ia hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam.


BANDAR UDARA INTERNASIONAL.


Mereka sudah tiba di bandar udara internasional. Aiden langsung mengeluarkan koper milik Alvin yang ada di bagasi mobil.


"Terima kasih, Aiden." Alvin tersenyum. Ia mengambil koper itu agar berada di dekatnya. Dan tangannya mengulur untuk menjabat tangan lelaki baik itu.


Namun dengan cepat Aiden membungkukkan badannya. Alvin mengerutkan keningnya saat tangannya mengulur kosong. "Senang bertemu dengan anda tuan. Terima kasih sudah berkunjung ke negeri putih ini." Aiden menahan tubuhnya beberapa detik. Kemudian menegakkan badannya kembali. Ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Alvin.


Alvin melepaskan tawanya. Ia begitu dihormati. Sesungguhnya Aiden tidak perlu melakukan itu. "Saya yang harusnya berterima kasih, Aiden. Anda sudah memberikan waktu untuk membantu saya selama di sini." Kata Alvin kembali memberikan senyum terbaiknya.


"Selamat sampai tujuan, tuan."


Alvin tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kembali bunyi pembuka terdengar bergema di bandar udara. Alvin berjalan menuju pintu gerbang keberangkatan. Ia mendorong koper kecilnya. Langkah Alvin begitu pelan, sampai di depan pintu gerbang. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Aiden masih di sana.


Alvin tersenyum sambil melambaikan tangannya kembali. Alvin menguatkan hatinya, Ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya. Ia menghembuskan napasnya lewat mulut. Lalu ia memberikan tiketnya pada petugas pemeriksa melakukan check in.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Alvin melangkah turun dari pesawat. Ia sudah melalui proses pemeriksaan imigrasi. Alvin tersenyum langsung melangkah menuju pintu kedatangan. Perjalanan cukup panjang. Tujuan Alvin langsung ke kantor Smith. Jam menujukkan pukul 06.15 wib. Ia sengaja tidak menghubungi Marvel. Ia mengeluarkan handphonenya untuk mengaktifkan kembali benda pipih itu. Saat mengaktifkan ponselnya, tanda berwarna merah terlihat dibagian sudut atas sudah berkelap-kelip. Alvin baru menyadari baterai handphone sudah habis.


Alvin kembali menjejakkan kaki di pelataran bandara. Lirikan berpasang-pasang mata wanita yang asyik melihat Alvin membuatnya mengernyit bingung. Sesaat Alvin terdiam dan melihat ke dirinya.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Batin Alvin.


Alvin semakin menyadari dari sesama penumpang dan pramugari yang sedari tadi menebar senyum manis untuknya. Sekarang dari para penjemput, hingga pegawai maskapai penerbangan berjenis kelamin wanita, teralih perhatiannya melihat Alvin yang berkulit putih bersih, rambut pendek yang tersisir rapi, dan tubuh yang tinggi tegap berkarisma dan muka oriental.


Alvin mengabaikan semua tatapan itu. Tak berminat ia menanggapi perhatian berlebih dari makhluk Tuhan yang katanya paling perasa. Hatinya terlanjur direbut seorang gadis bernama Ele yang tak berhasil ditemuinya.


Alvin hanya terus melangkah dan mencari taksi. Ia berlari menoleh ke arah kiri untuk memanggil taksi. Tiba-tiba sebuah mobil taksi berhenti di depannya.


"Iya pak," Alvin sedikit menunduk. Ia langsung membuka pintu mobil dan duduk di bagian belakang. Alvin langsung mengatakan alamat yang ditujunya.


Tak kurang dari satu menit, taksi biru meluncur meninggalkan bandara. Sepanjang perjalanan Alvin memandang keluar. Ia diam terbawa dengan lagu yang dinyanyikan dari audio. Lagu yang sesuai dengan perasannya saat ini.


Tidak terasa lagu pertama sudah habis. Kini lagu kedua tentang percintaan yang berakhir kesedihan. Dengan cepat Alvin memegang pundak pak supir.


"Maaf pak, bisa matikan lagunya?"


"Baik tuan." Kata Supir taksi, menekan tombol untuk mematikan audio yang ada di mobil.


Alvin kembali memandang lurus. Berusaha menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Ia menarik napas panjang dengan tatapan kosong. Mobil taksi berhenti tepat di depan perkantoran Smith. Setelah membayar uang taksi. Alvin berjalan memasuki perkantoran Smith. Para staf bahkan belum ada yang datang. Hanya ada security dan cleaning service yang sedang melaksanakan tugasnya.


"Selamat pagi pak," Sapa seorang lelaki cleaning service menyapa hormat kepada Alvin.


Alvin hanya tersenyum samar sambil mengangguk pelan dan terus berjalan dengan pandangan lurus. Ekspresinya saat ini datar dan kaku. Langkahnya menggema di bagian di koridor kantor. Alvin melangkah tegap dan terus berjalan menuju ruangannya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Marvel nampak terburu-buru melangkah, setelah mendapat kabar pak direktur sudah kembali dari London dan langsung ke kantor. Ia langsung memerintahkan petugas pantry menyiapkan kopi dan melangkah menuju ruangan pak direktur. Marvel menarik napasnya, lalu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.


Tok tok tok!


"Permisi, tuan." Marvel mengintip dari ujung pintu.

__ADS_1


Tidak ada jawaban.


Marvel memilih masuk. Ia melihat Alvin tengah berdiri memandang keluar dinding kaca untuk melihat pemandangan kota. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Posisinya membelakangi Marvel.


"Bagaimana perjalanan anda, tuan? Apakah anda bertemu dengan nona Ele?"


Alvin menarik napas singkat. Ia masih terdiam dengan kepalan tangan yang kuat.


"Heuh?" Marvel mengerutkan keningnya. "Apa tuan Alvin tidak bertemu dengan nona Ele atau jangan-jangan tuan Alvin ditolak?" Marvel menerka-nerka dalam hati. Ia hanya bisa menunggu sampai Alvin meresponnya.


SEPULUH MENIT BERLALU.


Alvin menarik napasnya dalam-dalam dan langsung membalikkan badannya. Ia duduk di kursi beroda empat tanpa memandang Marvel. Suasana seperti ini membuat Marvel tidak nyaman.


Alvin tersenyum samar, ekspresi wajahnya datar dan dingin. Ia tidak bisa menggambarkan betapa remuk hatinya saat ini. "Kau tahu bagaimana besarnya cintaku kepada Ele?"


Marvel mengembuskan napas singkat, mengerti maksud perkataan tuannya. Ia menjawabnya dengan cepat. "Saya tahu tuan."


"Kau tahu bagaimana sakitnya hatiku, saat aku tidak bisa menemukan Ele?"


Marvel mulai merasakan ketakutan saat melihat ekspresi wajah dari tuannya saat ini.


"Maafkan saya tuan, saya tidak bisa membantu anda." Marvel merasa bersalah.


Alvin tertawa kecil tapi tidak mengeluarkan suara. Matanya yang bercahaya kini nampak penuh luka. Keheningan pun terjadi selama beberapa saat. Marvel sendiri masih posisi berdiri tegap di depan Alvin.


"Kau tahu apa kesalahanmu?" Alvin menaikkan alisnya dan menatap dingin.


"Maafkan saya tuan."


"Apa dengan kata maaf, aku bisa memaafkanmu? Kau tak pernah mengatakan kepergian Ele dan sekarang aku bisa gila karena tidak bisa menemukan Ele."


"Maafkan saya tuan." Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Marvel.


"Kau tahu apa tugasmu?"


"Saya tahu tuan."


"Apa itu?" Wajah Alvin berubah. Tatapannya penuh penghakiman. Tajam dan mendominasi.


"Mencari keberadaan Harry."


Alvin kembali menarik napasnya. Tangannya mengepal kuat. "Cari sampai ketemu, bawa dia hidup-hidup."


"Baik tuan."


"Kau bisa keluar." kata Alvin menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memejamkan matanya.


Marvel tak menjawabnya, ia hanya membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan itu.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2