
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Seharusnya aku lepas saja. Tidak perlu melukai perasaannya atau bersikap dingin dan ketus. Dia tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa....
🔸🔸🔸🔸🔸
Ele mencengkram tangannya begitu kuat. Ia seperti berada di ruang yang hampa. Penuh tekanan, kekangan dan paksaan. Ele menutup mata dan menahan napasnya sejenak. Ia menguatkan hatinya untuk menghadapi Alvin.
"Kau harus kembali Alvin." Ucap Ele dengan bibir gemetar. Suaranya hampir tak terdengar.
Wajah Alvin menegang. "A-apa maksudmu sayang?"
"Kau harus kembali kepada keluargamu."
DEG!
Alvin menguatkan hatinya. Sungguh ia tidak bisa melakukan itu. Ia menatap Ele dengan mata berkaca-kaca. "Aku harus kembali?" alis Alvin menukik tajam. Menatap Ele dengan sejuta perasaan.
"Ya, kau harus kembali!"
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa meninggalkanmu, Ele. Dan itu tak pernah terpikirkan olehku. Aku sangat mencintaimu." Alvin mempertegas ucapannya.
Ele kelu, membuang muka, menatap kejauhan. Tentu saja Alvin tidak bisa menerima keputusannya. Seperti Ele juga tidak bisa menerima kenyataan mengejutkan tentang diri Alvin. Bahwa Alvin sudah menikah dan istrinya adalah tidak lain dari saudara tirinya sendiri.
"Ya, aku tahu itu pasti menyakitkan Alvin. Tapi jika kita tidak mengakhirinya, itu akan menambah luka untuk kita berdua. Jadi lebih baik kita hentikan semua ini."
Alvin menggeleng lagi. "Untuk berpisah itu tidak akan mungkin. Kita bisa membicarakan baik-baik. Aku mohon!" Ucapnya parau dan gemetar.
"Tapi aku tidak bisa Alvin. Aku bahkan tidak ingin melanjutkan hubungan ini."
Alvin mengencangkan rahangnya. Jantungnya seperti terhantam saat ini. Ia memejamkan matanya dengan sejuta rasa sakit di dalam dada.
“Apa mereka mengancammu sayang?” suara lirihnya menyimpan getar.
“Tidak ada yang mengancamku. Ini soal hatiku,” tukas Ele.
“Apa karena statusku? bukankan kita sudah membicarakan itu?” kejarnya. “Atau kamu mulai bosan? aku bisa memperbaikinya. Apapun aku lakukan untukmu. Aku pastikan bisa membahagiakanmu Ele.” Alvin lembut dan halus mendadak emosional. Nada suaranya meninggi.
Ele mendelik, menatap Alvin dengan gusar dan nyeri yang menggigit. Alvin masih menatap Ele dan menuntut jawaban.
__ADS_1
Ele masih diam, masih sulit mencari alasan. Ini juga sulit untuknya. Tapi jika ia goyang, ini tidak akan mendatangkan kebaikan.
"Ele, jawab aku sayang, kita sudah melaluinya bersama-sama. Jangan seperti ini, aku mohon!"
Ucap Alvin masih menatap Ele yang beku dan kelu yang tidak juga bicara. Ada bayang bening di matanya, yang siap jatuh dalam satu kedipan saja.
“Kamu bukan lelaki yang tepat untukku. Kamu ... hanya sebuah kesalahan,” kecam Ele kemudian. Rasa nyeri itu kembali menggigitnya.
Alvin tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Tidak mungkin!” desisnya parau dengan wajah terluka.
Kata-katanya pasti menyilet di hati Alvin. Ele memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Alvin. Ele tidak boleh lemah, tidak boleh merasa iba. Alvin memang kesalahan dalam hidupnya. Kesalahan masa lalunya sudah tidak bisa diperbaiki. Sudah terlalu lama tersimpan dalam lipatan waktu. Ada banyak hati yang akan terluka. Ele membenci kenyataan ini. Allura adalah salah satu alasannya bahwa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagi.
“Setelah semua yang kita jalani bersama, kamu bisa mengatakan itu,” suaranya lirih dan terbata. Hampir menyerupai bisikan.
“Aku baru sadar, kamu adalah lelaki yang tidak pantas aku cintai,” tegas Ele. Ia merasa telah menjadi orang yang tak berperasaan. Keinginan untuk menyakiti perasaannya begitu kuat, agar Alvin bisa melepaskannya.
“Kenapa kau harus membohongi perasaanmu Ele?”
Ele tergugu. Lidahnya terlalu kelu untuk berujar. Ele hanya bisa mendesah. Mengurai ikatan resah di hatinya. Ia masih diam, Ele masih merasakan getar itu di dalam hatinya. Perasaan yang ia benci. Perasaan yang melukai hatinya. Sejujurnya ia begitu terluka di sini.
"Aku sudah katakan, jika kau benar-benar mencintaiku. Lepaskan aku! Kau harus kembali kepada keluargamu. Dan kau tidak bisa menahanku, Alvin."
"Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melaluinya tanpa kamu."
Ele menggeleng, mencoba menguatkan hatinya, ia tidak bisa kalah dengan perasaan ini." Aku yakin kau bisa melaluinya dan bisa melangkah ke depan tanpa memikirkan aku. Takdir tak berpihak kepada kita dan kita tidak bisa bersama."
"Jangan seperti ini Ele, aku...." Alvin tak bisa melanjutkan kalimatnya. Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah. Pedih, sakit dan kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Kenyataan ini terlalu menyakitkan.
Ele menghela napas singkat. Dari wajahnya ia berusaha bersikap tenang. Ele mengembuskan napasnya. Mengunci pandangannya kepada Alvin, meyakinkan lelaki itu bahwa mereka tidak bisa bersama. "Istrimu adalah saudara tiriku, Alvin." Akhirnya Ele berkata jujur.
Waktu terasa berhenti. Alvin merasakan keheningan yang mencekam. Kalimat itu begitu cepat menyelusup masuk ke dalam sanubarinya. Alvin mencoba mengerti dan memahami. Tidak mungkin! yang dia tahu Ele sangat membenci saudara tirinya? dan mereka mempunyai masa lalu yang buruk. Alvin menarik napasnya yang terasa sesak. Saat ini hatinya seperti tergores luka yang ditaburi jeruk nipis.
"Apa kau mendengarnya? istrimu adalah masa lalu kelam dalam hidupku. Aku begitu membencinya. Aku rasa kau tahu itu. Bahkan aku tidak mau masuk ke dalam lingkaran masa laluku yang membuatku terluka, Alvin."
Alvin memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam yang terasa begitu menyesakkan. "Kenapa harus seperti ini? Kita bisa pergi jauh, agar semua orang tidak bisa menemukan kita lagi."
Ele melipat tangannya di depan dada. sambil menghembuskan napas singkat. "Aku akan pergi jauh Alvin, tapi tidak bersamamu."
DEG!
Jantung Alvin berdetak kencang di dalam rongga dadanya. Matanya lurus menatap ke arah Ele. "Apa maksudmu Ele, pergi jauh?"
"Ya, aku akan pergi jauh dan aku tidak akan tinggal di sini lagi."
Suara bahkan napas Alvin tertahan di dada dan tercekat di sana. Alvin menelan salivanya berulang kali. Wajahnya menegang dan tidak bisa bicara. Yang bisa dilakukannya hanya menarik napasnya yang terasa sesak.
"Jangan seperti ini, Ele." Alvin menunduk sedih.
__ADS_1
"Kau harus tahu dan memahami, bahwa memaksakan sesuatu yang mustahil, tak akan mendatangkan kebaikan untuk hubungan kita. Ujungnya kita akan saling menyakiti dan saling melukai perasaan? berpisah dan melepas itu adalah jawaban untuk mengakhiri hubungan ini. Kau harus memilih salah satu. Tetap bertahan tapi keluargamu terus menyakitiku? atau berpisah untuk kebaikan semua?"
Heeeeeee Alvin membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya berulang kali. Bagaimana ia bisa berpisah dengan wanita yang dicintainya secepat ini? Alvin membuka mulut, menarik napas dan mendongak ke atas. Ia begitu frustasi saat ini.
"Kembalilah Alvin. Kau harus menjalani hidupmu. Kita memulai dengan baik dan kita harus mengakhiri dengan baik juga."
"Apakah harus seperti itu?" ucap Alvin dengan suara terendahnya. Hidung dan matanya mulai memerah, menahan rasa perih yang mulai terasa di hidungnya. Alvin kembali menarik cepat napasnya. Matanya berair menahan tangis, ia mendongak ke atas menahan air matanya agar tidak keluar.
Saat mendengar itu, Ele hanya bisa mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasanya ingin menangis. Tapi Ele menahannya. Ia hanya mampu menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu.
"Ele,,,, aku mohon kita bisa..."
"Tolong hentikan! kenapa kau menjadi egois Alvin. Aku sudah bilang tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi." Ele meninggikan suaranya dan menangis di sana. Ia sudah tidak tahan lagi.
Alvin menarik napasnya, menguatkan batinnya. Apakah sesakit ini? Jantungnya berdegup kencang. Ia bangun dan menghadap ke arah Ele. Mengunci pandangannya kepada wanita yang membuatnya lemah. Lemah terhadap cinta dan tangisan Ele.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku akan melepaskanmu. Tapi bagiku mungkin butuh waktu untuk menghentikan perasaan ini."
DEG..
DEG
DEG
Jantung Ele berdetak kencang. Semua rasa seketika berkecamuk dalam batinnya. Ia tidak bisa bernapas dengan baik saat mendengarkan kata-kata itu. Ele menatapnya dengan pandangan nanar. Perasannya kini tak menentu.
Mata Alvin berkaca-kaca. "Aku akan kembali kepada keluargaku dan memulai hidup baru seperti yang kau inginkan." Alvin menundukkan kepalanya. Air mata kepedihan menetes di lantai.
Ele semakin sulit bernapas, jantungnya semakin terpukul kencang.
"Jaga kesehatanmu. Tetaplah menjadi wanita yang kuat." Alvin tidak mampu membendung sakit hatinya lagi. Dengan segera ia membalikkan badannya dan meninggalkan Ele di sana.
Saat melihat kedatangan Alvin, Marvel dengan cepat membungkukkan badannya. Beberapa anak buahnya menarik tanda tutup dan memberikan jalan untuk Alvin.
Sementara Ele terdiam terpaku di sana. Matanya berkaca-kaca. Pasokan oksigen seakan enggan masuk ke dalam paru-parunya. Ia semakin sulit bernapas, saat melihat bayangan Alvin semakin jauh meninggalkannya.
Aaahhhhh... Air matanya tergelincir membasahi pipinya. Kepalanya menunduk. Ia membiarkan rasa di hatinya hancur berkeping-keping. Putus asa seperti tidak jalan untuk memulihkan hatinya yang sudah tak utuh. Saat ini hatinya seperti mati rasa.
Tidak ada yang tidak baik dari suatu perpisahan. Tuhan pasti menitipkan makna yang belum kita sadari maksud dibalik semua itu. Sama seperti kisah Ele dan Alvin yang harus kandas disaat bunga-bunga cinta tumbuh subur di dalam hati mereka.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^