LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
KENANGAN ITU MEMANGGILKU


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Percaya bahwa di dunia ini tak ada yang sia-sia. Membiarkan hidup dengan caranya sendiri menggiring kita menuju sebuah jawaban untuk memimpikan mimpi baru....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


SATU TAHUN KEMUDIAN.


Jalanan pegunungan yang sepi dengan pemandangan pepohonan hijau yang sejuk, membuat Ele menikmati suasana jalan. Ia sesekali menatap keluar jendela dengan tatapan teduhnya. Ele tersenyum samar mengingat segala kenangan yang terjadi satu tahun yang lalu.


Mobil mewahnya melaju ke sebuah pedesaan yang setiap akhir pekan ia datangi bersama dengan dua orang biarawati. Ya, di tempat ini Ele akan menghabiskan waktunya bersama anak-anak panti asuhan. Suasana pegunungan yang sejuk benar-benar menenangkan pikiran.


Ele masih mengemudi mobil mewahnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya kembali berkelana pada kejadian satu tahun yang lalu. Dari kejadian itu mengajarkan kepadanya bahwa untuk dapat terus hidup di dunia yang keras ini, ia harus setangguh batu karang untuk mandiri. Ingatannya melayang pada suatu waktu, kenapa Ia sampai berada di tempat ini.


FLASH BACK ON.


Matahari yang pulang pada batas cakrawala menjadi patokan selanjutnya kemana setapak ini menjajak. Memang kota itu tidak terlalu penuh sesak oleh orang-orang yang merasa dirinya kalah. Tapi di sini sebuah sorot mega pernah menjadi ujung dari sebuah harapan yang menggebu.Β 


Ketika tiada penghalang lagi bagi sebuah kepergian yang memutuskan untuk meninggalkan atau bahkan melupakan jejak-jejak yang pernah ditancapkan. Kepergiannya berjalan searah garis lurus dengan jalan yang membelah separuh kota itu sejalan dengan arah peredaran matahari.Β 


Siapa saja yang berani mengejarnya pada pagi hari, ia tak akan pernah bertemu terang. Pun sebaliknya jika ia mengejarnya pada saat petang, matanya akan terbakar oleh sorot tajam yang menghunus retina. Sebab, sebenarnya yang ingin ia kejar adalah kemenangan yang tidak akan pernah memenangkannya. Ini adalah kelelahan kesekian kalinya yang menimpa dirinya. Pada senja tanpa gerimis itu, ia memutuskan untuk lari dan mengejar bayangan yang terkena sorot tumbangnya mentari.


Telepon berdering dan terdengar suara perawat berkata,


"Dok, ada pasien."


Dokter berjas putih segera bergegas ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Terlihat seorang gadis cantik terbaring lemah di tempat tidur periksa, disampingnya tampak dua biarawati yang mengantarnya.


Salah seorang biarawati berkata. "Kami menemukannya di depan panti asuhan dalam keadaan menggigil dan tidak sadarkan diri."


Dokter itu mengambil stetoskop dan mulai memeriksanya dengan teliti.


"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya salah satu biarawati kepada dokter yang melakukan pemeriksaan.


"Kita periksa dulu, ya!" kata dokter tersenyum kepada dua orang biarawati dan mengarahkan stetoskop ke arah dada pasien.


"Bagaimana dok? apa keadaannya parah?" tanya biarawati itu dengan cemas.


Dokter menjauhkan stetoskop sambil menarik napas singkat. "Pasien mengalami hipotermia." ucap dokter itu menatap dua biarawati secara bergantian.


"Heuh? hipotermia?"


"Iya, hipotermia adalah penurunan suhu tubuh drastis atau situasi kondisi dimana akibat udara dingin. Suhu tubuh ikut drop di bawah batas normal atau fisiologis yang berpotensi bahaya hingga kematian."


"Bisa berdampak buruk seperti itu dok? Apakah dia bisa selamat? " tanyanya kembali.


"Sejauh yang saya lihat fisiknya kuat, kita tunggu sampai dia sadar. Biasanya dampak yang dirasakan pasien, dia akan merasa menggigil. Namun jika tidak, itu lebih bagus. Di samping itu. Napasnya akan pendek, denyut nadinya cepat, Kita akan perhatikan terus jangan sampai pasien mengalami kejang. Ketika dia sadar nanti, dampak buruknya adalah dia akan bingung.Tapi kita akan awasi terus kondisi pasien, panggil saya jika dia sudah sadar." ucap Dokter menjelaskan.

__ADS_1


"Bagaimana dengan lukanya?" tanya mereka kembali.


"Luka lumayan parah,kami akan tangani sebaik mungkin." jelas dokter.


"Terima kasih Dokter." ucap mereka serempak.


Dua orang biarawati sedang melakukan perjalanan menuju panti asuhan st paul untuk melakukan doa bersama dengan anak-anak panti asuhan. Namun, di halaman panti, mereka menemukan seorang gadis tidak sadarkan diri dalam keadaan terluka.


Dua orang biarawati dengan sabar menunggu sampai gadis itu sadar.


"Apa yang terjadi pada gadis ini? Enam tahun bertugas membiara di sini, saya tidak pernah melihatnya. Apakah ia korban penculikan dan sengaja di buang di sini?" Ucap salah satu biarawati menebak-nebak.


"Seperti begitu, dia memang sengaja di buang ke desa ini. Karena desa ini paling jauh dari perkotaan." ucap biarawati sepertinya membenarkan perkataan temannya.


"Seharusnya kita bersyukur bisa menyelamatkannya. Bagaimana jika orang lain? saya rasa dia akan dibiarkan begitu saja. Saya akan hubungi ibu kepala panti untuk merawatnya."


"Baiklah, saya rasa itu lebih baik."


Biarawati itu tersenyum dan melangkah keluar untuk menghubungi kepala panti yang bertugas di panti asuhan St paul.


Melihat pergerakan Ele yang berbaring lemah membuat biarawati itu terjengkit bangun dari duduknya.


"Dia sadar?" kata salah satu biarawati memperhatikan gerakan tubuh Ele.


Ele mengerjapkan matanya, ia masih menyesuaikan pandangannya. Melihat ruangan rumah sakit yang didominasi oleh warna putih. Bau obat-obatan tercium langsung ke indera penciumannya. Ele memandangi sekelilingnya dengan kerutan dahi.


"Aku dimana?"


"Syukurlah, akhirnya kamu sadar?" Ucap salah satu biarawati tersenyum lembut. Dia memberi kode kepada temannya agar memanggilkan dokter.


Ele kembali mengernyitkan keningnya, ketika yang dilihatnya adalah seorang biarawati yang menungguinya.


"Kamu berada di desa Mulia yang terletak di daerah Puncak Jaya. Kamu sudah mendapatkan pertolongan yang tepat." ucap biarawati tersenyum.


"Jadi suster yang menolongku?" Tanya Ele dengan suara lemah.


"Benar, kamu pingsan dan kami menemukanmu di depan panti asuhan. Kamu sempat mengalami hipotermia. Tadi Dokter sudah menjelaskan, tubuhmu mengalami trauma dingin saat berada di daerah dingin." ucap biarawati tersenyum dan mengusap rambut Ele dengan lembut.


"Apa kamu seorang mahasiswa yang melakukan penelitian di sini?"


Ele menggeleng lemah. "Saya ke sini untuk mencari keluarga. Tapi dia sudah tidak tinggal di sini lagi."


"Benarkah? Tapi kamu terluka?"


"Aku korban tabrak lari."


Dua orang biarawati saling berpandangan. "Jadi sekarang tujuanmu kemana?"


Ele menarik napas berat. "Aku tidak ada tempat tujuan, suster. Aku tidak tahu harus pergi kemana."


Salah satu biarawati mengambil tangan Ele dan mengusapnya dengan lembut. "Kamu aman di sini, jangan pikirkan apapun. Nanti, ada ibu kepala panti asuhan yang datang untuk menjemputmu, Untuk sementara tinggallah di sana. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun." ucap biarawati itu memberikan semangat kepada Ele.


"Terima kasih, suster." Wajah Ele memelas sendu. Ia bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik.


"Siapa namamu?" tanya biarawati itu.

__ADS_1


"Saya Eleanor Gea, suster." Ele mengulurkan tangannya.


"Nama yang indah." Suster itu menyambut tangan Ele. "Saya suster Agatha dan teman saya suster Deborah."


"Senang bertemu dengan suster."


TOK.. TOK.. TOK..!


Saat mendengar ketukan pintu, Ele merubah dirinya ke posisi duduk lalu mendorong tubuhnya ke belakang sampai berhenti pada sandaran kasur, Ia menarik kakinya menekuk. Rasa sakit pada luka di kakinya kembali lagi.


Dokter masuk ke ruang rawat inap dan memberikan salamnya.


"Selamat siang nona, bagaimana perasaan anda sekarang?" tanya dokter tersenyum ramah.


"Sekarang jauh lebih baik, dok."


"Ada perasaan menggigil? atau mengalami napas pendek dan denyut nadi cepat?" tanya dokter kembali memeriksa Ele dengan meletakkan stetoskop ke bagian dada Ele.


"Tidak dokter." jawab Ele cepat.


"Bagus, itu tandanya fisik kamu kuat. Biasanya jika tubuh kita mengalami hipotermia sangat sulit mengembalikan suhu tubuh kita kembali lagi. Apalagi anda lumayan lama berada diluar rumah. Tapi itu kembali ke fisik kita masing-masing." Ucap dokter tersenyum simpul, dan kembali memeriksa luka di kaki Ele.


"Oke, nanti jika infusnya habis pasien sudah bisa pulang. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Penyembuhan luka bisa dilakukan di rumah." kata dokter kembali menjelaskan.


"Baik, dokter." Jawab Ele tersenyum lagi.


"Sama-sama, kalau begitu, saya permisi." kata dokter pamit undur diri.


Dokter pun meninggalkan ruangan rawat inap. Biarawati kembali mendekat ke sisi ranjang rumah sakit.


"Kita bersyukur, kondisimu sekarang baik-baik saja." ucap biarawati.


"Terima kasih, suster."


"Kami tidak bisa berlama-lama, hari ini di panti ada acara doa bersama, ibu Angela akan datang ke sini menjemput kamu." ucap biarawati pamit undur diri.


Ele tersenyum melihat kepergian dua orang biarawati yang menolongnya. Samar-samar senyum itu hilang dari wajahnya. Ele menarik napasnya yang begitu sesak. Ia membenamkan wajahnya pada kedua kakinya. Tatapannya kosong, Matanya kembali berkaca kaca. Bahunya bergetar, ia terus menunduk dan memejamkan matanya beberapa tetesan air matanya terjatuh begitu saja. Sesak, hampa itulah yang dirasanya saat ini.


Setelah kepulangannya dari rumah sakit. Ele disambut hangat oleh anak-anak panti. Mereka sampai menyiapkan makan malam enak untuk menyambut kedatangannya, membuat Ele terharu. Mereka bahkan menganggap Ele seperti keluarga sendiri. Setelah makan malam, kepala panti menghantarkan Ele untuk beristirahat ke dalam kamarnya.


Semenjak kejadian itu Ele tinggal bersama anak-anak panti selama tiga bulan. Dan sampai saat ini, Ele sering berkunjung ke panti itu.


FLASH BACK OFF.


Ele tersenyum melepaskan lamunannya. Ia kembali mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati pemandangan pepohonan hijau yang berada di perbukitan.


Tidak butuh lama, Ele sudah tiba di depan biara. Ele berjalan pelan menyusuri ke arah taman belakang. Bibirnya tersungging dengan senyuman manis. Tangannya berdiam hangat di dalam kantong coat yang dikenakannya. Daerah pegunungan yang siapa pun akan kedinginan. Lokasi kapel ini jauh dari antara rumah warga. Karena tempat ini berada di atas bukit yang tinggi. Angin sejuk berembus membawa bau pepohonan yang banyak tumbuh di sekitarnya. Hijaunya pepohonan rindang benar-benar memanjakan mata. Ele menikmati suasana yang tenang ini. Ia bertegur sapa dengan para suster yang sedang berpapasan dengannya.


Langkah demi langkah ia susuri dengan tarikan napas panjang. Ia mendapati di tengah-tengah area, terdapat beberapa potongan pohon yang di bentuk sebagai bangku panjang untuk tempat duduk. Ele duduk dan berdoa di sana. Doa yang sama ia panjatkan setiap hari. Mendoakan lelaki yang ia rindukan.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2