
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Aku ingin sekali membawanya jauh. Tapi aku tidak bisa. Aku juga tidak tahu harus kemana, Aku tidak bisa menguatkannya sementara aku sendiri lemah. Aku tidak bisa mengatakan βsemua akan baik-baik sajaβ....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hujan rintik-rintik turun perlahan dari kumpulan awan yang tak sanggup lagi menahan beratnya titik-titik air di dalamnya. Senada dengan suasana hati Ele yang kelabu. Kalau bukan karena Jane, Ia mungkin sudah menumpahkan kesedihannya dengan tetesan air mata. Tapi terkadang, Ele merasa bahkan air mata ini sudah tidak pantas ia keluarkan untuk menangisi hal ini. Sesuatu yang tidak berguna dan tidak akan berguna karena mereka tidak punya mata untuk melihat air mata yang menetes.
Semenjak Ele dipecat dari pekerjaannya, Ia tak tentu arah. Ia juga dikeluarkan dari kampus. Awalnya Ele shock menerima surat pemberhentiannya dari kampus. Surat itu ditandatangani dua minggu yang lalu, tidak ada alasan pasti. Tentu saja membuat Ele terpukul. Ia berjuang mati-matian sampai jerih payah untuk mengumpulkan uang, agar bisa kuliah. Lelah dan tangis tiada henti menghiasi hari dan malamnya. Bagai pungguk merindukan bulan. Serasa semuanya ingin Ia hentikan. Batin dan fisik serasa sudah hancur. Rasanya sedih campur rasa kecewa berkumpul jadi satu.
Hidup memang seperti roda. Terkadang ia berputar ke atas, dan harus merasakan bagaimana di bawah. Ele tidak pernah benci akan roda yang kini masih di bawah. Ia terbiasa melalui semua ini, mungkin kebahagiaan belum berpihak untuknya. Semenjak ia diusir dari apartemen, Ele tinggal bersama Jane. Ia merasa tak enak tinggal di sana, karena ayah dan ibunya sering ribut.
Suatu hari Ele memutuskan pergi. Namun, saat ia sedang memasukkan pakaiannya ke dalam tas. Keributan itu terjadi lagi. Gelegar suara pecahan kaca terhempas ke lantai membuat Jane ketakutan. Hampir setiap hari mereka mendengar keributan ini. Ele langsung berlari mendekat ke arah Jane dan memeluknya.
"Jane, kamu tidak apa-apa?"
Jane tidak menjawab. Ia hanya menutup kedua telinganya dan menangis. Jane ketakutan sampai menutup matanya dengan erat. Sepertinya langitlah yang ikut merasakan kesedihannya. Langit selalu menangis mewakili Jane. Nasibnya dengan Jane hampir sama. Ia memang tidak mengerti apa yang terjadi di rumah itu.
"Tidak usah bawa-bawa Jane dalam masalah ini!" Suara sopran melengking tinggi dibalik pintu itu. Pintunya kurang tebal untuk dapat meredam semua keributan itu.
"Tentu saja dia harus dibawa-bawa, karena aku tidak sudi Jane ikut bersamaku jika kita telah bercerai nanti! Kau yang harus mengurusnya!" Hardik suara bass yang sarat emosi.
Cerai! Entah sudah berapa kali kata itu terucap dengan mudahnya dari bibir ayah dan ibu Jane. Seakan-akan mereka membicarakan perceraian antara dua orang individu. Mereka lupa bahwa di sini ada Jane yang terluka. Bukti bahwa dulu mereka pernah saling mencintai. Bukti bahwa dulu mereka sempat membina rumah tangga yang harmonis. Karena, bukti-bukti tersebut sekarang tidak berarti lagi. Siapa pun yang mendengar pertengkaran ini tentu tidak menyangka mereka mempunyai anak yang pernah mereka rawat bersama dengan kasih sayang. Tidak tahu telah menguap kemana semua rasa cinta itu. Cinta yang tak lekang oleh waktu? Huh, hanya bualan yang bahkan tidak bisa Ele bayangkan pernah berlaku di sini.
"Kau yang melahirkannya, aku tidak sudi membawanya ikut bersamaku! Kau yang harus bertanggung jawab!" bentak suara bass yang disertai rasa tidak peduli.
"Aku juga tidak mau membawanya. Anak itu sudah besar, ia bisa merawat dirinya sendiri, buktinya ia membawa temannya ke sini, aku tidak ingin kebahagiaanku terhalang hanya karena Jane!" Suara teriakan itu semakin memekakkan telinga.
Brakkkk!!!!!
Pintu dihempas begitu kuat. Suara tangisan pecah, Ele yakini suara tangisan itu dari ibu Jane. Setelah beberapa detik, Ele mendengar suara pintu dibanting keras. Ibu Jane pergi, untuk sementara pertengkaran tiada ujung itu selesai.
__ADS_1
Hati Jane pasti tergores tajamnya serpihan kaca yang telah pecah tadi. Walau bagaimana pun mereka tetap orang tuanya. Anak mana yang menginginkan perceraian orang tuanya? Anak mana yang tidak peduli sama sekali terhadap orang tuanya.
"Ele, maafkan aku karena setiap hari kau mendengar keributan ini."
"Aku tidak apa-apa, sekarang tidurlah. Biar aku yang membersihkannya."
Jane mengangguk lemah, Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ele menepuk lengan Jane dan keluar dari kamar itu.
Kemudian Ia menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan bunyi berdecit. Seperti sebelumnya, keadaan rumah Jane sangat berantakan. Pecahan kaca di sana-sini, bau alkohol bercampur asap rokok masih tercium tajam, majalah dan koran yang berserakan. Ele memunguti pecahan-pecahan kaca dengan hati-hati. Tidak butuh waktu lama untuk membereskan semuanya. Setelah menyapu dan merapikan kembali majalah dan koran ke tempatnya, Ele tidak lupa untuk menyemprotkan pengharum ruangan hingga menutupi bau tajam rokok dan alkohol.
Ele sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Jane sebelum ia meninggalkan rumah Jane. Setidaknya ia berterima kasih sudah tinggal selama dua minggu di rumah ini. Ele membuatkan pancake dengan teh hangat untuk sarapan mereka.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hujan telah berhenti sejak sepuluh menit yang lalu. Sinar matahari mulai menyusup melalui celah-celah awan. Ele melihat ke luar jendela. London, kota yang disebut jantung dunia ini telah dua bulan ia tempati. Ele menarik napasnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Sudah waktunya Ele pergi.
Tapi sebelumnya Ele ingin mengajak Jane ke taman bermain sebelum ia meninggalkan kota London. Dari pukul sepuluh pagi, mereka sudah berada di tempat wahana permainan. Taman bermain sangat tepat untuk menghilangkan kesedihan Ele dan Jane. Mereka mencoba merasakan semua wahana yang ada. Wahana ekstrim dari lintas-gunung dan balap air dan wahana roller coaster benar-benar permainan pemicu adrenalin yang menegangkan.
Setelah lelah dan sampai mengeluarkan teriakan-teriakan yang menguras banyak tenaga, akhirnya mereka benar-benar menyerah. Mereka keluar dari area permainan wahana dan masuk ke cafe.
"Kamu serius mau pulang ke negaramu?" tanya Jane mengulangi kata-katanya berulang kali.
"Hmm. Aku tidak mungkin tinggal di sini. Mungkin masa depanku tidak di London, Jane." Ucap Ele dengan suara terendahnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari sahabatnya itu.
"Aku bisa mencari kontrakan atau tinggal bersama sahabatku Amira. Di sana aku membuka usaha dengan hasil penjualan rumah dan perkebunanku."
Jane mengerucutkan bibirnya, menggambarkan wajah kesedihan. Dua bulan mengenal Ele membuatnya merasa nyaman. Kebersamaan yang selalu mewarnai hari-hari mereka, selalu bersama-sama melakukan banyak hal selama bekerja di cafe. Makan bersama, susah senang selalu bersama. Jane berhasil menjatuhkan air matanya. Hanya Ele yang mau berteman dengannya. Ia tahu Ele pergi karena tidak nyaman tinggal di rumahnya. Siapa yang tahan mendengar keributan dari ayah dan ibunya. Jane tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu berangkat malam ini?" Tanya Jane.
"Iya." Ucap Ele berbohong. Sebenarnya keberangkatannya besok pagi.
"Aku antar sampai ke bandara ya?"
Ia tersenyum singkat, Ia tidak ingin menunjukkan kesedihan di depan Jane. Karena kepergiannya ini adalah pilihannya sendiri. "Tidak usah repot-repot Jane, bandara jauh. Aku bisa pergi sendiri."
"Ini semua karena lelaki sialan itu, apa sih maunya? Apa mungkin lelaki itu menyukaimu Ele?"
Ele mengangkat kedua bahunya, "Aku tidak mau membahas pria itu. Aku kembali karena memang sudah waktunya, aku bisa melanjutkan kuliah di sana. Kita saling mendoakan semoga kita berhasil, sukses dan bisa dipertemukan kembali."
__ADS_1
"Kau jahat Ele, seharusnya kamu mau menandatangani kontrak perjanjian itu. Kita bisa bekerja di sana." Jane berhasil menjatuhkan air matanya.
"Maaf ya. Karena aku, kamu ikut dipecat juga."
"Siapa mau bekerja dengannya, dia arogan dan tidak punya hati."
Ele tersenyum. "Kita jangan bahas dia lagi, bagaimana kalau kita foto selfi aja?" Ele mengalihkan pembicaraan sambil mengeluarkan ponselnya.
Jane tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Jangan ada wajah sedih ya, kita buat wajah lucu-lucuan saja dan menggemaskan." kata Ele dengan nada mengancam. Jane mengangguk antusias.
"Satu..dua...tiga..." Ele mengarahkan camera ponselnya ke wajah mereka.
Mereka selfi dan membuat berbagai ekspresi wajah yang lucu, imut dan menggemaskan seperti menjulurkan lidah, memonyongkan bibir, mengekspos gigi dan mendekat ke kamera, dan berbagai pose konyol lainnya. Bahkan Ele meminta pelayan cafe untuk mengambil beberapa foto mereka dengan wajah sok serius, sok jahat, sok jutek dan foto terakhir tertawa dengan ekspresi lepas. Keseruan-keseruan berlanjut, mereka keluar dari cafe. Mereka tertawa sepanjang jalan. Tanpa memperdulikan pandangan orang.
Hingga saatnya mereka berpisah, Ele memeluk Jane begitu lama. "Terima kasih atas kebersamaan ini, Jane." Suasana haru benar-benar menyelimuti mereka. Mata mereka kembali berkaca kaca.
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa menghubungiku."
Ele mengangguk. Mobil taksi yang ditumpanginya tadi sudah datang. Ia juga menitipkan barang-barangnya di sana.
"Jaga kesehatan, jangan lupa makan, jangan lupa..." Jane tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Karena ia menutup mulutnya menahan isak tangisannya.
Ele mengangguk antusias, mengiakan semua kata-kata Jane. Ia masuk ke mobil, menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya.
Jane membuat gestur dengan menyilangkan ibu jari dan telunjuk hingga membentuk simbol hati. Gestur ungkapan cinta dan terima kasih atas kebersamaan mereka.
Ele terkekeh membalas mengangkat kedua tangannya dan membentuk hati.
Mobil perlahan-lahan berjalan, Ele kembali melambaikan tangannya. Mobil itu semakin jauh meninggalkan Jane yang terus menatap kepergiannya.
Ele menarik napasnya dalam-dalam sambil menatap keluar jendela, melihat jalan yang di lewatinya. Ia menopang dagu, mengingat bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Ele menyeka air matanya. Kali ini biarkan air mata ini terjatuh. Ele kemudian tersenyum tipis menatap ke depan. Perasannya masih campur aduk, Ele kembali melemparkan tatapan keluar jendela dengan pandangan sayu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^