LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
LEPASKAN ALVIN.


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Ini adalah rasa sakit yang tidak bisa disembunyikan. Luka yang terlalu dalam, takkan bisa sembuh lagi....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Allura kembali histeris, amarahnya kembali menguasai ketika Marvel mengalihkan panggilannya. Sudah berpuluh kali ia menghubungi lelaki itu. Namun, yang ia dapat Marvel sengaja mengalihkan panggilannya.


"Aaaarrrrrgggghh..!" Teriak Allura meluapkan kemarahannya.


PRANG!


Keramik kristal yang ada di atas nakas ia hempas begitu saja. Serpihan-serpihan tajam berterbangan dan berserakan di atas lantai putih. Emosinya tak juga membaik. Napasnya masih tersengal karena menahan emosi.


Sinar lampu di atas nakas seolah terus mengejarnya, menertawakannya. Allura benci dengan sorotan-sorotan lampu kamar yang seolah-olah menelanjanginya itu.


Allura mencengkram rambutnya dengan frustasi. "Kenapa kau melihatku? akulah penghuni rumah ini dan aku berkuasa atas semua yang ada di sini. Tidak ada yang aku takuti. Termaksud wanita sialan itu!" Allura melangkah panjang untuk mengambil lampu itu. Dan beberapa detik kemudian lampu itu dihantamnya ke dinding kamarnya. Tak cukup hanya itu, semua parfum mahalnya pecah tanpa sisa. Kamarnya berubah menjadi berantakan. Allura menarik napas marah. Rahangnya mengencang kuat. Sorot matanya bersinar tajam.


"Kita memang harus bertemu Ele. Aku ingin lihat apa yang akan kau lakukan setelah melihatku."


"Kau berani mengambil Alvin dariku, cih....dasar wanita murahan!" teriak Allura.


Allura memang shock saat mengetahui wanita yang dicintai Alvin adalah Eleanor. Apalagi mengetahui Alvin tak ingin pulang dan memilih tinggal di desa. Tentu saja membuat Allura marah. Ia tidak akan membiarkan Ele merebut Alvin darinya.


Allura melangkah mendekat ranjang. Namun langkahnya mendadak berhenti.


"Ssssshhhhh.. Aaahhhhhhhhh...." Allura meringis kesakitan.


Tiba-tiba perutnya keram. Allura bertumpu di atas nakas. Meletakkan kedua tangannya agar ia tidak terjatuh. Sakitnya kembali lagi. Allura menegakkan punggungnya. Mengatur napasnya agar sakitnya hilang. Ia melakukan berulang-ulang dan berhasil, sakitnya telah berkurang setelah Allura memberikan usapan lembut di bagian perutnya yang semakin membesar.


"Maafkan mommy sayang, mommy tak bisa mengkontrol emosi. Tenanglah! tidak lama lagi kita akan bertemu daddy. Kita akan hidup bahagia. Jadi tetap sehat di perut mommy ya sayang."


Dengan tarikan napas panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Harry. Ia mengambil ponselnya dari atas kasur. Allura melakukan panggilan.


Harry yang baru saja tertidur, tersentak dan reflek terbangun saat mendengar ada panggilan masuk. Padahal sebelumnya, ia tak bisa tidur karena mendapat panggilan dari Marvel. Sebelum panggilan itu mati, Ia dengan cepat menerima panggilan itu.


"Ada apa lagi Allura?" ucap Harry tak bersemangat.


Allura menarik napasnya dengan kesal. "Aku ingin bertemu Ele, wanita sialan yang tak punya harga diri itu."


"Untuk apa? bukankah keluarga Smith sudah mengurusnya?"


"Alvin tidak mau pulang. Apa aku harus duduk diam Harry? Aku bahkan gila memikirkan ini. Alvin bersama wanita itu."


Harry menarik napas singkat. "Baiklah. Kapan?"


"Aku mau sekarang."


"Apa kau sudah gila. Kita berangkat besok saja."


"Tidak. Aku mau sekarang. Aku harus bertemu dengannya. Kau mengerti?" Perintah Allura dengan penuh amarah.


Seperti dugaannya. Allura akan nekat melakukan hal itu. Dengan tarikan napas panjang. Harry pun menjawabnya. "Baiklah. Sekarang aku ke sana!"


TIT

__ADS_1


Allura mematikan panggilan dengan sepihak.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Ele begitu terkejut saat melihat Harry datang menyelinap masuk ke rumahnya secara diam-diam saat Alvin baru saja pergi. Matanya membulat sempurna ketika pintu dikunci dari dalam.


"Apa yang..." Belum lagi Ele melanjutkan kalimatnya. Harry sudah membekap mulut Ele.


"Mmmmpppp... Mmmmpppp."


Harry mencabut sepucuk pistol dari sakunya."Jika kau berteriak, aku akan membunuhmu." ancamnya.


Ele berusaha melakukan perlawanan. Namun apa daya mulutnya dibekap begitu kuat dan pistol itu di arahkan ke bagian pelipisnya.


"Jangan membuatku marah Ele." Harry menggeram.


Ele memejamkan matanya. Ia sudah tak tahan lagi dengan sikap Harry yang semaunya. Ele menggigit tangan Harry dengan kekuatan penuh. Sehingga bekapan tangan Harry terlepas.


"Aaarggghh." Harry meringis kesakitan. Tangannya berdarah karena bekas gigitan Ele. "KAU...?" Harry tampak marah.


"Kenapa kau selalu mengancamku dengan pistol murahanmu itu. Peredam suara, atau apapun itu aku tidak takut brengsek." Geram Ele dengan sorot mata tajam.


"Cih..."Harry tersenyum smrik. "Sekarang kau berani ya? Aku ingin lihat, apa kau berani bertemu dengan orang ini?"


Alis Ele menukik tajam. "Apa maksudmu?"


"Sekarang ikut aku!"


"Tidak. Aku tidak mau."


Harry mengusap bibirnya bawahnya dan mengunci tatapannya ke arah Ele. "Kau tidak mau?"


"Iya, aku tidak mau." Ele memalingkan wajahnya menatap ke arah luar.


"Aa-apa maksudmu?" Wajah Ele menegang dengan napas gugup saat mendengar nama ayah Alvin.


Harry tersenyum sinis saat melihat perubahan wajah Ele. "Tuan Smith ingin bertemu denganmu, Ele."


"Tidak mungkin!"


Harry tertawa hambar. "Kau tidak percaya?"


"Bagaimana aku bisa percaya kata-katamu. Semua yang keluar dari sana hanya omong kosong. Sekarang pulanglah!" usir Ele.


"Aku tidak mau tahu. Sekarang kau ikut aku!" Tanpa pikir panjang, Harry menarik tangan Ele dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan?"


Harry hanya diam dan terus menarik tangan Ele meninggalkan rumah itu. Dahi Ele mengerut, ia terus melihat tangannya di tarik kuat oleh Harry.


"Aku bisa jalan sendiri. Lepaskan aku! tanganku sakit, Harry." Keluh Ele saat melihat pergelangan tangannya sudah memerah.


Harry tidak perduli. Ia terus berjalan dan menarik tangan Ele. Harry memang sengaja memarkir mobilnya jauh dari rumah Ele.


"Masuklah!" ucap Harry datar. Ia membuka pintu mobil agar Ele segera masuk. Ele menurut dan masuk ke dalam mobil itu.


Harry tersenyum penuh kemenangan. Kali ini ia akan mendapat bayaran dari Allura lagi. Karena berhasil membawa Ele kepadanya. Harry sedikit berlari mengitari mobilnya dan langsung masuk. Ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Ele hanya pasrah. Tak ada pembicaraan, semua terasa kaku dan menegangkan.


"Perasaan apa ini?" batin Ele. Jantungnya berdegup kencang, terpukul menimbulkan rasa takut. Perasaan aneh itu bahkan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Apa hanya perasannya saja. Ele berharap tuan Smith lah yang ingin ditemuinya. Semoga bukan akal busuk dari Harry saja. Ia tahu Harry pintar manipulasi untuk mendapatkan sesuatu.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ

__ADS_1


Ele menatap warung kopi yang lumayan jauh dari rumahnya. Ia diperintahkan menunggu di sini. Sebuah warung kopi bersih dan asri. Jika orang kota bilang, tempat ini disebut cafe. Ele menyiapkan hatinya kembali. Ia melakukan ritualnya. Menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya untuk menenangkan diri. Ele lalu melangkah masuk.


Ele masuk dan menunggu di sana.


"Mau pesan apa?"


"Ah maaf, saya akan memesannya jika teman saya sudah datang. Bisakah anda membawakan saya air putih saja?"


"Tentu saja." jawabnya.


"Terima kasih." ucap Ele tersenyum ramah. "Teman? kenapa juga aku berpikir jika ayah Alvin adalah teman saya. Dasar konyol kamu Ele." Ele menghembuskan napasnya lewat mulut.


Tidak harus menunggu lama, air putih pesanannya sudah datang. Suasana begitu sendu dan sepi. Untuk membuang rasa bosannya, Ele berulang kali memperbaiki posisi duduknya. Sudah dua puluh menit berlalu tapi ayah Alvin tak juga datang. Kini ia yakin, Harry memang sengaja mengerjainya.


Ele sudah mulai bosan, pelayan yang di sana dari tadi melihatnya. Ele merasa tak enak. Karena waktu sudah berlalu empat puluh menit. Ele sudah tak tahan lagi. Ia beranjak bangun dari duduknya. Tiba-tiba seorang wanita menyapanya dari belakang.


"Mau pergi kemana kau?"


Ele shock saat mengenali suara itu. Ia terdiam dan mematung di tempatnya. Suara bahkan napasnya sama-sama tertahan di dada. Ia masih tak percaya saat melihat Allura sudah berdiri di depannya.


"KAU?"


"Kau terkejut?"


Tubuh Ele menegang saat melihat bagian perut Allura yang membesar. Ia tidak melepaskan tatapannya kepada Allura. Sekujur tubuhnya terasa kaku. "Apa jangan-jangan?" Ele mencoba tetap tenang, menepis prasangka itu.


"Untuk apa kau ke sini?"


"Untuk apa?" Allura tertawa di sana. "Menyandarkanmu." Mata Allura mendelik tajam.


"Bukankah kau sudah bersumpah tidak ingin menemuiku Allura, sekarang kau datang untuk mengguruiku."


"Aku datang bukan sebagai saudara tirimu. Aku datang sebagai istri Alvin."


Deg....


Deg...


Wajah Ele menegang, kakinya gemetar. Tangannya mengepal kuat untuk menutupi kegugupannya.


"Aku adalah istrinya. Jadi aku datang untuk membawa suamiku pulang."


Ele masih tidak percaya dengan apa di dengarnya. Jantungnya terpukul kencang. Ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Tubuhnya semakin gemetar, bibirnya seakan tidak sanggup untuk berbicara.


Allura tersenyum sinis menatap Ele terdiam seperti orang bodoh di sana. "Jangan coba-coba menahan suamiku Ele, kau tidak pantas melakukan itu. Bagaimana jika keluarga Smith tahu kau seorang pembunuh. Aku pastikan berita ini akan dinaikkan kembali. Kau tahu kenapa Harry sampai membuangmu ke sini?" Allura menjeda kalimatnya, ia tersenyum sinis melihat perubahan wajah Ele, "Karena kau seorang PEMBUNUH." Diujung kalimatnya, Allura sengaja menekan kalimatnya. "Jadi sadarlah, lepaskan Alvin. Jangan menahan suamiku untuk selalu berada di dekatmu."


Ele mengencangkan rahangnya. Jantungnya seperti terhantam saat ini. Ia memejamkan matanya dengan sejuta rasa sakit di dalam dada.


"Aku tidak ingin kejadian terakhir terulang lagi. Kau masih ingat itu?" Allura mencondongkan tubuhnya dan setengah berbisik. "Kita saling tarik rambut..." Allura tertawa sambil menutup mulutnya. "Bahkan kita sampai cakar-cakaran. Walau sejujurnya aku ingin melakukan itu. Tapi aku menahannya Ele. Aku tidak mau melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan anakku." Allura sengaja mengusap perutnya di depan Ele. "Jadi aku harap kau mengerti,"


Kata-kata itu seakan mengoyak hati Ele. Begitu sakit, hingga untuk bernapas saja sangat sulit baginya.


"Marvel sudah memberikanmu waktu. Pergunakan sebaik-baiknya. Jangan sampai hidupmu hancur dalam hitungan detik. Aku pastikan ayah mertuaku bisa melakukan itu." Setelah mengatakan itu, Allura langsung pergi meninggalkan Ele di sana. Ia melangkah anggun dan bunyi high heels nya sengaja dibuat dengan tempo yang indah. Agar Ele sadar bahwa status sosial mereka berbeda.


Sementara Ele, menarik napas yang semakin menyesakkan. Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia segera menelan ludah, meski mulutnya terasa kering. Ia tidak ingin menangis di tempat umum seperti ini. Pedih, sakit dan kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Kenyataan ini terlalu menyakitkan, bahwa ternyata istri Alvin adalah Allura.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2