
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Cinta tidak berbentuk, namun cinta dapat dirasakan oleh hati. Cinta tidak butuh alasan karena pada kenyataannya cinta hadir tanpa logika, tetap bertahan meski sebenarnya tahu bahwa yang kau cinta tidak akan mungkin bisa menjadi milikmu....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Pagi hari Ele sudah terbangun seperti biasanya. Ya...cuaca hari ini sangatlah cerah. Terlihat awan putih yang menggantung indah diatas langit. Walau perjalanannya dari desa tempat kelahiran ibunya memakan waktu cukup lama, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk bangun lebih awal.
Ele duduk di sisi ranjang sambil menatap keluar jendela. Ia tersenyum samar. Ele bersyukur, masih bisa melihat embun pagi. Tanda sebuah keikhlasan. Pagi yang selalu mengajarkannya bahwa segala sesuatu selalu diawali dengan rasa syukur. Walau embun terkadang tidak terlihat, namun Ele bisa merasakan kehadirannya. Kebahagiaan memiliki arti ketulusan tanpa direncanakan. Perjalanan hidup yang butuh proses walau harus banyak tantangan.
Ele membulatkan tekad dan menyusun kembali rasa semangatnya untuk menjalani kehidupannya. Ia memiliki harapan dan doa. Sesungguhnya semangat di dalam jiwa merupakan hal terpenting yang bisa mendorongnya berbuat sesuatu yang jauh lebih baik lagi.
Ele melangkah membuka laci mejanya. Ia mengambil kotak yang diterimanya dari uncle Fredi. Seperti yang dipesankan Uncle Fredi. Ia harus membukanya sesampai di rumah. Ele hanya tahu bahwa kotak itu tidak ada bedanya dengan kotak mainan biasa yang ia temukan dipinggir jalan. Tidak unik atau pun antik. Lalu Ele membuka kotak kayu itu dengan hati-hati. Sebuah cincin tua dengan manik unik menyita perhatiannya.
Ia tidak begitu peduli lembaran kertas putih yang sudah berubah warna. Tulisan yang tertera di sana sangat tidak bisa dibaca. Bagi Ele tulisan itu tidak lebih bagus dari tulisannya ketika baru masuk sekolah dasar. Ia meletakkan kembali kertas bertuliskan aneh itu. Lalu mengambl cincin itu dan hampir saja ia memakainya kembali. Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk.
Tok.. Tok.. Tok..!
Ele tersentak dan buru-buru menutup kembali kotak tersebut. Ia tergesa-gesa menyimpan kotak itu di tempat yang mungkin hanya dirinya saja yang mengetahui. Tidak di dalam lemari. Tidak di bawah ranjang. Tapi di langit-langit kamarnya. Kotak ini adalah pemberian ibunya. Harry tidak boleh tahu. Ele tahu seperti apa Harry, dia bisa saja membongkar lemarinya, jika Ele tidak memberikannya uang.
Ele menarik napasnya dalam-dalam. Dia tahu siapa yang ada dibalik pintu kamarnya. Ele melangkah membukanya. Terlihat sosok pria tampan yang dia umpat dan maki setiap hari kala mengingat kerusakan kebunnya. Namun situasi kali ini berbeda. Entah mengapa saat melihat sosok Alvin yang selalu memberikan perhatian kepadanya, baik itu hal kecil saja, seperti berhasil meruntuhkan hati Ele.
Ele menjepit bibirnya menahan senyum, saat melihat Alvin menggunakan celemek yang biasa ia gunakan.
"Ele, aku sudah siapkan sarapan untukmu, kita makan bersama yuk!" Kata Alvin tersenyum begitu manis sekali.
Ele salah tingkah saat tatapan mereka bertemu. Ia memalingkan wajahnya, ia begitu gugup saat ini.
Melihat wajah Ele yang pucat, Alvin menyentuh pelan dahi Ele. "Ele, apa kamu sakit? wajahmu terlihat pucat." Tanya Alvin pelan.
Reflek Ele terkejut saat tangan Alvin menyentuh dahinya. Ele semakin gugup, ia memalingkan wajahnya dan membuang napas frustasi. "Oh ya Tuhan, Ada apa denganku?" Ele berbisik dalam hatinya.
"Ele? Apa kamu sakit?" tanya Alvin kembali sambil memiringkan kepalanya. Ia menatap Ele dengan khawatir. Apa mungkin karena perjalanan yang bolak-balik, mungkin membuat Ele kelelahan.
"Maaf, tadi bilang apa...Ehmm, maksudnya, begini...Aku...ah..." Ele tergagap. Sesaat ia terdiam untuk menenangkan hatinya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alvin lagi dan fokus menatap Ele. Ia kembali menyentuh tangan Ele.
__ADS_1
DEG DEG DEG Kali ini jantung Ele begitu jelas bermain-main di dalam rongga dadanya, saat tangan Alvin menyentuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" spontan Ele berucap.
"Sepertinya kamu sakit, wajahmu sangat pucat. Bagaimana kalau kita ke klinik desa?"
"Tidak perlu! Aku tidak apa-apa." Ele menjawab ketus untuk menutupi rasa gugupnya. Ia menarik napas panjang. Wajahnya terasa panas karena tidak nyaman dengan tatapan itu. Ia melarikan pandangannya ke bawah dan mencoba mengalihkan perhatiannya menatap ke arah lain.
"Tapi Ele, wajahmu pucat sekali."
Ele menarik napas dan sebisa mungkin Ele melarikan pandangannya. "Maaf, begini... Ahhhhh..." Ele tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Alvin tersenyum. Ia bisa mengerti Ele masih tidak nyaman dengan situasi ini. "Aku duluan ya,"
"Hmm. Nanti aku menyusul." Jawab Ele datar dan sangat pelan.
"Baiklah." Alvin tersenyum mengangguk.
Ele tak lagi menjawab, ia langsung menutup pintu dan menempelkan telinganya ke daun pintu. Ele bisa merasakan kepergian Alvin meninggalkan kamarnya. Ia menyandarkan punggungnya di pintu sambil menyentuh dadanya. Jantungnya masih berdebar tidak beraturan di dalam rongga dadanya.
"Ada apa denganku, kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini? Apakah aku benar-benar sakit? Sepertinya aku harus ke klinik. Aku semakin gak kuat menahan ini semua. Setiap hari saat melihatnya, jantungku berdebar tidak jelas." Ele terus menyangkal segala yang bergejolak dari dalam hatinya.
Namun rasa gugup itu seakan enggan pergi dari dirinya. Ele menarik napas dalam-dalam untuk memenangkan dirinya. Ele melangkah mendekat ke arah cermin. Ia sedikit menunduk untuk mengambil pasokan oksigen agar bisa memenuhi paru-parunya. Ia mengangkat wajahnya, menatap dirinya di cermin begitu lama. Mencoba mengembalikan seluruh kesadarannya. Ia menepuk-nepuk pipinya di depan cermin lalu berulang-ulang. Lalu menghembuskan napas lewat pipi yang mengembung. Ia masih kesal kepada dirinya sendiri.
Ele membuang napas lesu, ia kembali menatap pantulan dirinya. "Ibu, kenapa jantungku masih berdebar seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau mati di usiaku yang masih muda." Ucap Ele dengan wajah meringis.
kepalanya tertunduk lesu. "Apa yang sebenarnya aku rasakan?" Ele membatin sambil memejamkan matanya. Ele menggeleng, ia terus menyangkal. Sesungguhnya Ele sudah pernah merasakan ini, saat ia duduk di bangku SMA.
"Tidak mungkin aku menyukai pria itu?"
πΈπΈπΈπΈπΈ
Amira masuk tanpa mengetuk pintu. Terlihat Alvin sedang duduk santai sambil menikmati sarapannya.
"Wah nampaknya enak ini. Dimana Ele? apa dia belum bangun?" Kata Amira duduk di samping Alvin.
Alvin tersenyum. "Dia ada di kamarnya." Jawabnya singkat sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ele.... keluarlah! jangan di kamar terus. sarapan dulu." Panggil Amira dari arah dapur. "Kamu yang menyiapkan sarapan ini Alvin?" tanyanya.
"Hmm." Alvin menjawab dengan gumaman saja.
"Wah pintar juga kamu masak," puji Amira memberikan dua jempolnya ke Alvin.
"Pagi-pagi sudah ribut," Ele tiba-tiba muncul dan duduk di depan Alvin.
__ADS_1
"Wah akhirnya si gadis strawberry muncul juga." Amira melempar senyumnya sembari berdiri untuk mengambil sarapan. "Makanlah dulu, isi tenagamu. Kurang baik apa aku coba?" Amira menyodorkan nasi putih hangat dengan lauk tumis daging sapi dan kerupuk kehadapan Ele.
"Sarapan ini khusus aku siapkan untuk kamu Ele." acap Alvin tersenyum lembut kepada Ele.
Saat melihat senyum itu, seketika jantung Ele bergemuruh lagi. Ia melarikan pandangannya ke bawah. Rasa gugup seketika menyerangnya. Ia mengambil piring yang berisi nasi dari tangan Amira tanpa memandangnya.
"Oh, iya, Ele. Besok ada pertunjukan di desa ini. Pergilah bersama Alvin!"
"Heuh?" Ele mengangkat wajahnya menatap ke arah Amira. "Kamu gak ikut?"
"Aku gak bisa ikut, aunty Vivian mau datang ke rumah."
"Tapi gak seru jika kamu ikut Amira."
"Kan ada Alvin, bukankah Alvin bisa membuat harimu lebih seru." Amira tersenyum seraya mengedipkan salah satu matanya. Ele tambah salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mata Alvin mengunci Ele dengan senyum tipis. Alisnya terangkat dari pangkalnya, tatapan itu penuh makna. Ia memperhatikan sikap Ele. Terlihat jelas bahwa Ele begitu gugup dan gelisah. Alvin bisa merasakan itu.
"Jika kamu tidak mau pergi bersamaku, tidak apa-apa Ele. Jangan dipaksakan!" ucap Alvin akhirnya.
"Ah.. maksudku bukan seperti itu, jika ada Amira, mungkin lebih seru lagi."
"Aissss, jangan pikirkan aku Ele, pertunjukan ini dengan tema cinta dan diwajibkan harus bawa pasangan. Kita mau jadi pasangan bertiga?" Kata Amira sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
Mendengar itu Alvin tersenyum lebar. "Pasangan?" Kalimat itu berhasil menggelitik hatinya.
"Huffft....!" Ele lagi-lagi membuang napasnya saat Amira mengatakan 'pasangan', tentu saja hatinya tidak tenang. Ia melirik sesaat menangkap tatapan Alvin yang sedang tersenyum.
Tak ada pembicaraan lagi. Ele menikmati sarapannya. Hanya Amira yang terus bercerita di sana. Sementara Alvin dia juga tak banyak bicara. Hanya seadanya saja. Ia kadang mencuri-curi pandang kepada Ele, walau ia tidak berani menatapnya Ele lama-lama. Getaran-getaran aneh kembali tercipta dari dalam dadanya. Getaran ini yang membuatnya tidak nyaman dan semakin ingin melihat Ele. Namun, ia takut Ele tidak nyaman. Sementara Ele terlihat ikut terbawa cerita Amira yang membuatnya kadang tertawa. Ia akui Amira memang kocak. Dia selalu bisa mencairkan suasana.
"Apakah aku menyukainya, kenapa semua terlihat berbeda jika hanya melihatnya tersenyum saja?" Batin Alvin. Ia mulai salah tingkah ketika melihat sisi dari Ele.
"Aku rasa aku jatuh cinta."
"Aku rasa aku menyukaimu Ele," Alvin menatap Eleanor begitu lekat.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1