LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
BANYAK DRAMA.


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Yang datang aku sambut, yang pergi aku bebaskan. Hidupku adalah rumah, aku adalah tuan, sisanya adalah tamu yang tak bisa aku paksa tinggal....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


SATU MINGGU KEMUDIAN.


Siang hari di kantor Smith.


Alvin mengikuti meeting di siang hari, sebuah meeting yang sangat penting, yang hanya diwakilkan oleh pemimpin-pemimpin tertinggi di perusahaan Smith. Mereka membahas untuk kemajuan Smith dan permasalahan yang dihadapi setiap anak cabang. Banyak pembahasan dan pertimbangan setelah diskusi yang cukup memakan waktu, akhirnya semua bisa di atasi dengan baik.


Alvin akhirnya menyelesaikan meeting penting itu. Ia kembali ke ruangan bersama Marvel yang ikut di belakangnya dengan langkah cepat mengimbangi langkah panjang Alvin.


CEKLEK!


Alvin masuk dan duduk di kursi kekuasaannya. Ia mendorong sedikit kursi beroda itu. Posisinya santai, ia sengaja merilekskan dirinya dari susana tegang di meeting tadi. Beberapa embusan napas panjang dilepaskannya ke udara.


Marvel maju beberapa langkah dan sedikit menundukkan kepalanya. "Tuan, mengingatkan kembali malam ini, ada acara ulang tahun nona Allura. Jamuan makan malam sudah dipersiapkan oleh nyonya Smith di hotel berbintang Lima."


Alvin menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Saking sibuknya, Alvin hampir saja melupakan ulang tahun Allura. Tapi ia tidak menunjukkan di depan Marvel. "Hmmm. Pukul berapa?"


"Pukul tujuh, tuan."


"Baiklah. Tolong persiapkan pakaian untukku."


"Heuh?" Marvel mengernyitkan keningnya. Ia masih mencerna ucapan bosnya itu.


Alvin berdecak saat Marvel tak meresponnya. "Apa kau mendengarnya, Marvel?"


Marvel mengembalikan pikirannya. "Maaf tuan, apa anda tidak pulang?"


Alvin mengembuskan napasnya. "Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Masih banyak list yang belum terselesaikan dan aku harus memeriksanya ulang. Persiapkan saja sesuai yang aku perintahkan."


"Baik tuan." Jawab Marvel cepat saat melihat perubahan Alvin. "Begini, pak. Maafkan saya sebelumnya. Tapi..." Marvel kembali diam. Ia meremas tangannya sendiri karena begitu takut mengutarakan pendapatnya.


Alis Alvin naik dari pangkalnya. Ia mengerti arti tatapan itu. "Ada apa Marvel?"


"Bagaimana soal hadiahnya, tuan. Apakah saya harus mempersiapkannya juga?"


"Soal hadiah, biar saya yang mengurusnya."


"Baik tuan, Kalau begitu saya langsung mempersiapkan pakaian yang anda."


"Hhhmm." Alvin menjawab dengan gumaman.


Marvel menunduk sembilan puluh derajat, lalu berjalan tegap meninggalkan ruangan yang bertuliskan direktur utama itu. Jika pak direktur meminta seperti ini. Itu artinya Marvel harus ke boutique membeli baju dengan motif sederhana dengan harga yang murah. Alvin tak suka menghabiskan uangnya agar terlihat keren. Beruntung pemilik boutique itu mengerti selera berpakaian Alvin yang sekarang.


Alvin kembali menyibukkan diri. Laptop dan tabletnya terbuka stand bye, menyuguhkan data-data yang harus dipelajarinya. Memprediksi potensi-potensi yang bisa diraihnya. Melihat dan mengevaluasi kinerja para pemimpin cabang. Banyak hal yang harus dikerjakan. Terutama perusahaan anak cabang sepertinya sengaja menyerangnya dengan data hari ini.


Matanya memicing dan berkonsentrasi pada dokumen yang dipegangnya. Ia bahkan terlalu tegang untuk memindahkan perhatiannya dari pekerjaan itu. Pekerjaan yang masih menumpuk. Alvin bahkan hanya menjeda untuk merenggangkan otot-ototnya lalu mengejar pekerjaan yang bisa diselesaikannya hari ini sebelum menghadiri ulang tahun Allura. Ia kembali membuka beberapa email yang masuk. Alvin memeriksa ulang bahkan berkali-kali dan mereview beberapa pekerjaan karyawannya.

__ADS_1


Alvin tak menyadari hari telah berganti sore. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya dengan tangan. Ia merenggangkan otot-ototnya, lalu menatap langit-langit ruangannya.


Huuuuffft! Alvin membuang napas panjang. Ia mencoba untuk tenang agar bisa melanjutkan sisa pekerjaannya.


Perhatian Alvin teralihkan saat mendengar handphonenya berdering di atas meja.


Dddrrrttt dddrrrttt....


Namun Alvin belum mau mengangkatnya. Ia tahu itu panggilan dari Allura yang penuh drama dan menyuruhnya cepat pulang. Alvin tetap fokus menatap laptopnya. Lalu bunyi itu mati tak terdengar lagi. Alvin mengembuskan napasnya sambil mengusap keningnya beberapa saat. Ia masih bergelut dengan pekerjaannya.


Dering suara handphonenya terdengar lagi, Alvin mendengkus mendengar panggilan itu lagi dan dugaannya benar, ternyata itu dari Allura. Alvin terkadang jenuh melihat sikap berlebihan Allura. Ia terlalu egois dan ingin menang sendiri. Bahkan Alvin pernah membandingkan dengan Ele yang bersikap dewasa dan apa adanya. Allura terlalu obsesi. Alvin mengembuskan napasnya sebelum mengangkat panggilan itu.


"Hmm, ada apa Allura?" Alvin langsung menjawabnya saat panggilan itu sudah tersambung.


"Kenapa lama sekali mengangkatnya." Terdengar nada kesal diujung telepon.


"Aku sibuk Allura, ada apa?"


"Hah? Jadi kamu masih di kantor? kamu belum pulang?"


"Hmm."


"Astaga...Jangan bilang kamu melupakan acara malam ini, sayang?" Terdengar suara bentakan dari ujung telepon.


"Aku tidak melupakan ulang tahunmu, bukankah kau sudah berpuluh-puluh kali mengingatkanku." kata Alvin mengeluarkan d*sahan panjang.


Allura tersenyum. "Jadi kamu sudah menyiapkan hadiah untukku, sayang?" Nada suara Allura seketika berubah manja. Semenjak kejadian terakhir itu, Alvin sudah tidak lagi bersikap dingin kepadanya. Alvin bahkan sering mengajaknya makan dan jalan-jalan seperti menonton dan melakukan hal yang tak biasa dilakukan Alvin saat mereka berpacaran dulu.


Alvin tersenyum tipis. Ia menahan handphonenya telinga. Sementara tangannya sibuk menandatangani berkas. "Apa kau ingin hadiah sesuatu?" tanyanya lagi.


"Aku ingin hadiah berlian biru, yang pernah aku ceritakan, sayang. Aku ingin memilikinya."


"Benarkah?" Allura begitu bahagia.


"Hmmmm..."


"Terima kasih sayang. Kau selalu yang terbaik."


"Yang penting kamu bahagia."


"Bagaimana kalau aku menyusulmu ke kantor? aku sudah tidak sabar melihat hadiah itu."


"Jangan. Nanti kamu lelah. Aku bisa membawa hadiah itu."


"Baiklah. Jangan lupa bawa berlian yang aku minta." Allura menekan kalimatnya agar Alvin tak lupa pesanannya.


Alvin menarik napasnya. "Pasti itu. Sampai bertemu nanti."


TIT!


Panggilan pun terputus.


Alvin membuang napasnya dan meletakkan kembali handphonenya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Jam sudah menunjukkan pukul 5.30. Ia masih ada waktu tiga puluh menit menyelesaikan sisa pekerjaannya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Setelah Marvel membawa pakaian untuknya. Alvin membawa mobilnya ke sebuah toko perhiasan.


"Selamat datang, tuan!" Terdengar sapaan lembut saat Alvin mendorong pintu yang terbuat dari kaca itu. "Ada yang bisa saya bantu, tuan?"

__ADS_1


Alvin tak menjawab, ia berjalan menuju etalase perhiasan. Matanya menyusuri cincin dengan mata berlian biru seperti yang di pesan Allura.


"Saya ingin cincin berlian bermata biru." ucap Alvin tanpa memandang pelayan.


"Kebetulan tuan, kami ada koleksi cincin berlian biru. Ini sangat langka, para kolektor dan pecinta berlian menciptakan permintaan yang kuat untuk berlian jenis ini."


"Benarkah?" Alvin memperhatikan cincin itu dengan lamat-lamat.


"Kami mendapatkan ini langsung dari tambang Cullinan di Afrika Selatan, berlian ini dikategorikan sebagai salah satu berlian paling indah di Bumi. Dan jika cincin ini diberikan ke istri hubungan pasangan itu akan langgeng selamanya. Jika ke pacar, hubungan ini langsung ke tahap pernikahan."


Alvin mengerutkan keningnya. "Cincin yang luar biasa." Batinnya.


"Bagaimana tuan?"


"Saya ingin berlian itu." Ucap Alvin sambil menunjuk berlian bermata biru itu.


"Baik tuan, Kami akan menyiapkannya" Wanita cantik itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk membungkusnya.


"Saya yakin istri anda akan menyukai hadiah yang anda berikan, tuan." ucap pelayan toko dengan lembut.


"Hmm." Jawab Alvin dengan gumaman. Ia melakukan pembayaran dan cincin sudah ada di tangannya. Alvin pun meninggalkan toko itu. Dia hampir terlambat.


Di tengah perjalanan, Alvin memutar kembali mobilnya dan kembali ke toko itu lagi.


"Anda kembali tuan, apa ada yang kurang?" Pelayan toko sedikit terkejut saat melihat pria itu kembali lagi.


"Siapkan satu lagi." ucap Alvin.


"Tapi koleksi berlian biru hanya ada satu, tuan."


"Yang lain juga bisa, yang penting berlian."


"Baik tuan, kami akan menyiapkannya." Ucap pelayan itu dengan cepat mengeluarkan cincin berlian yang harganya tidak jauh beda dari berlian biru.


Setelah melakukan pembayaran dan menerima cincin itu, Alvin keluar dengan terburu-buru. Kali ini ia benar-benar terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 7.30. Ia tahu Allura akan marah karena keterlambatannya. Alvin langsung masuk ke dalam kemudi mobil. Dengan cepat menarik pedal gas membawa mobilnya meninggalkan toko perhiasan itu.


Alvin mengembuskan napas panjang sambil. Ia tersenyum menatap dua kotak yang ada di samping kursinya. Terserah Allura mau marah karena keterlambatannya yang penting ia sudah membawa hadiah yang diinginkan istrinya itu. Alvin fokus membawa mobilnya membelah jalanan kota A. Walau ia tahu perjalanan kota ini begitu padat jika sudah malam. Tapi sebisanya alvin tiba di hotel tepat waktu.


Dddrrrttt Dddrrrttt


Tiba-tiba ponselnya berdering. Alvin mengeluarkan handphonenya dari saku celananya. "Pasti dari Allura." ucap Alvin menatap sekilas layar pipih itu. Saat menggeser tanda terima, handphonenya terjatuh dari tangannya.


"Shiiiittt!" Umpat Alvin mendengkus. Ia mencoba mengambil handphonenya karena panggilan itu terus berdering. Hingga tak melihat ada mobil tiba-tiba berhenti tanpa membuat lampu sein.


Alvin terbelalak dan tidak bisa mengelak dan....


BRAKKKK!!!!!!!


Alvin menabrak mobil itu sampai membuatnya terhuyung ke depan. Kepalanya membentur setir mobil. Bunyi klakson panjang terdengar dari dalam. Alvin benar-benar shock dan terdiam beberapa saat.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2