LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
TAK ADA KABAR.


__ADS_3

💌 LOVE OF FATE 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


...Sangat menyedihkan saat seseorang pernah menjadi bagian penting dalam hidupmu, namun pergi tak ada kabar. Jadi, untuk apa kau ajari aku cara terbang jika kemudian, kau patahkan lagi?...


🔸🔸🔸🔸🔸


Cinta tak akan pernah saling melupakan, tetapi cinta bukan pula sebuah ingatan yang menjadi sebuah kenangan. Itulah yang kini ada dalam pikiran Eleanor Gea, bukan karena ia ingin melupakan masa lalunya. Melainkan Ia ingin memulai lembaran baru tanpa harus hidup dalam sebuah kenangan.


Ele terus berjalan menulusuri jalan di kota London dengan pakaian berlapis dan jaket tebal serta tak melupakan tutup telinga dan sarung tangan berwarna pink miliknya. Berharap ia dapat menahan dinginnya pagi. Ele harus tetap melakukan aktivitasnya di luar. Ia tidak mau hanya meringkuk di balik selimut sambil menatap nanar gundukan salju yang semakin menebal di jendela kamarnya. Ia akan lebih mudah depresi karena terlalu menikmati cuaca dingin yang ekstrim. Ele sudah bisa membayangkan, berbulan-bulan matahari tidak akan muncul dari peraduannya. Suasana suram, cenderung mistis. Dingin, dan membuat tubuh mudah sakit. Kalau pun ada matahari, berarti pada hari itu suhu akan semakin dingin. Jangan berharap Ia bisa duduk berjemur di taman depan rumah, itu tidak akan mungkin terjadi.


Tidak banyak orang yang keluar. Karena hari ini adalah hari minggu. Jalan-jalan sepi, toko-toko sepi. Yang terlihat hanyalah pancaran warna coklat hangat yang tak pernah Ia perhatikan sebelumnya. Hampir dua bulan Ia tinggal di daerah ini, tapi Ele tidak pernah menyadari warna-warna yang berada di sekitar sini. Hidupnya terlalu sibuk kuliah sambil bekerja dan tak pernah untuk mengamati hal lain.


Lalu Ele sampai di depan sebuah bangunan kecil yang memberikan kesan mengundang dan hangat. Ele menutup payung dan meletakkannya di tempat payung, dan berjalan masuk. Bel kecil yang berada di atas pintu bunyi tanda pintu di buka. Wangi kopi langsung memenuhi hidungnya. Ele mengambil nafas dan tersenyum.


Sudah berapa lama sejak terakhir kali Ia merasa begini nyaman di suatu tempat?


“Selamat pagi,” sapa perempuan di belakang konter. “Mau pesan apa?” dia tersenyum.


“Vanilla Latte,” jawab Ele.


“Ada lagi?”


“Hmm, dua glaze donat,” Menikmati donat di hari minggu, mengingatkannya kepada Alvin. Ele menarik napasnya yang terasa berat.


Kemudian Ia membayar dan membawa makanannya ke meja yang menghadap langsung dengan jalanan. Ia bisa menikmati hujan salju di sana. Ele tersenyum kecil, ia terlihat seperti orang yang patut dikasihani karena sendirian.


“Hmmm, singkirkan itu dari otakku, tolong.” Batin Ele.


Ia menyesap minumannya. Rasanya menyadarkan dirinya kembali ke kenyataan.


“Apakah dari tadi aku berhalusinasi? Hmm.”


“Hai,” terdengar sapaan dari seorang lelaki yang tak jauh darinya. Ia melambaikan tangannya sambil menahan senyum.


Ele memalingkan wajahnya sambil meletakkan latte di meja. Sepersekian detik mata Ele terbelalak saat menyadari yang menyapanya adalah lelaki yang ditemuinya beberapa hari yang lalu.


"Astaga, dia lagi?" Ele menggigit bibir bawahnya sambil membuang muka.


Pria itu melangkah mendekat ke arah meja Ele. "Kita bertemu lagi nona cantik." Suaranya begitu lembut namun terdengar berat.


Ele berdecak tak ingin melihat ke arah pria itu.


"Sejak kamu menuduhku penjambret, aku tak bisa tidur tenang dan terus memikirkannmu."


"Hk!"

__ADS_1


Ele menahan napasnya. Suara lelaki itu semakin membuatnya terdiam kaku. Matanya membulat kaget dan seketika itu ia tersadar bahwa lelaki ini sudah memperhatikannya sejak tadi. Ele tidak menyangka bakal berhadapan dengan lelaki ini lagi.


"Kenapa aku yang terperangkap dengan situasi ini. Harusnya aku tak bertemu dengan lelaki ini. Astaga..." Ele teriak dalam hati. ia menjepit bibirnya sambil memejamkan matanya dengan erat.


"Hei...kenapa kau sembunyikan wajahmu?"


Jantung Ele memicu. Berdebar begitu kencang. Ia bahkan tidak bisa menjawab. Tak kuasa untuk melihat ke arah lelaki itu.


"Bisa duduk di sini?" tanya Arlo mengulas senyuman sambil membungkukkan badannya, agar bisa melihat wajah Ele dari dekat. Arlo tertawa kecil, saat Ele memutar tubuhnya, tak ingin melihat ke arahnya.


Arlo mengambil kursi dan duduk di depan gadis cantik itu. Ele tak tahan lagi.


"Kenapa kau begitu pemaksa, tuan?" Ele bangun dari duduknya dan menggebrak meja. Kedua alisnya menukik tajam bak pedang yang siap menebas leher pria itu. Rahangnya mengencang kuat. Sementara pupil matanya siap menenggelamkan Arlo. Wajahnya memerah karena menahan emosi yang meluap.


Arlo terkejut saat melihat ekspresi Ele. Ia ikut bangun. "Apa ada yang salah? tempat ini bebas untuk siapa saja."


"Tapi aku tidak suka. Kau bisa duduk di tempat lain."


"Aku semakin penasaran dengan keberanianmu, nona cantik." bukannya marah, ia bahkan memberikan senyum terbaiknya.


"Kau benar-benar lelaki aneh dan tidak tahu malu." bentak Ele.


Dengan senyum ramah Arlo mengulurkan tangannya. Ia menatap kagum kepada sosok wanita yang ada dihadapannya. "Perkenalkan nama saya Arlo,"


Ele tersenyum sinis, bahkan mengacungkan tangan Arlo. Arlo bergeming sambil berkedip cepat. Tangannya masih mengulur kosong.


"Bisakah kita bicara baik-baik. Aku tertarik menjadikanmu sebagai sekretarisku. Kau berbakat dan bisa diandalkan."


Arlo tersenyum dan mengikuti Ele dari belakang. Ia mencoba berbicara. "Udara dingin nona, kamu bisa sakit. aku bisa mengantarmu pulang." Ucap Arlo berjalan mengikuti langkah Ele.


Ele diam dan tak menjawab. Jika mereka berjalan sejajar, Ele dengan cepat melangkah lagi. Ia tidak akan membiarkan lelaki itu berjalan beriringan dengannya.


"Tidak masalah, aku akan terus mengikutimu."


Heeeee...Ele membuang napas sambil menutup matanya, berusaha bersikap tenang dengan lelaki yang sok akrab itu.


"Jangan menggangguku!" ucap Ele memandang ke depan dan terus berjalan. Ia mencoba menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya. Kebaikan berpihak kepadanya. Taksi itu pun berhenti tepat di depannya.


Ele langsung masuk, tanpa memandang pria itu. Sementara Arlo mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih bisa melihat mobil yang ditumpangi Ele hilang di pembelokan jalan. Arlo hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu berjalan menuju mobilnya.


"Kenapa begitu sulit untuk mengambil hatinya?"


🔸🔸🔸🔸🔸


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Sudah tiga hari Alvin tak ada kabar. Tentu saja membuat Allura frustasi. Cincin berlian yang diterimanya tak sesuai harapan. Itu yang membuat Allura kecewa. Ia menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Memacu mobilnya begitu cepat agar ia tiba di kantor Smith. Allura menarik napasnya dalam-dalam beberapa kali, lalu membuang napas lewat mulut. Bersikap tenang adalah pilihan yang terbaik untuk menjaga kandungannya.


DI KANTOR SMITH.


Allura memarkir mobilnya dengan asal. Ia turun dengan terburu-buru.


BRAKKKK!

__ADS_1


Pintu mobil dibantingnya dengan cepat. Lalu berjalan dengan penasaran dan jantung yang terus memicu dengan kencang. Ia masih penasaran apa yang membuat Alvin berubah dalam hitungan jam.


Ketika berada di dalam di lift. Allura berulang-ulang menghembuskan napas lewat pipi yang menggembung. Ia menjepit bibirnya untuk menenangkan perasaannya. Bagaimana caranya ia harus bertemu dengan Alvin.


TING!


Pintu lift terbuka.


Melihat kedatangan istri direktur. Marvel dengan cepat menundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Ia tersenyum ramah kepada wanita itu.


"Selamat pagi ibu Allura." Sapa Marvel dengan sopan.


"Dimana suamiku?" Allura tidak sabaran segera ingin masuk ke dalam ruangan Alvin. Namun Marvel dengan cepat menghalanginya.


"Maaf bu, pak direktur hari ini sedang tidak di ruangan. Beliau sedang meninjau lokasi."


Allura mengerutkan keningnya. "Meninjau lokasi? Sampai sekarang meninju lokasi? Kamu pikir aku bodoh!" Bentak Allura dengan cemas.


"Itu kebenaran ibu Allura, saya tidak mungkin berani menyembunyikan tuan Alvin."


Allura menggeram. "Dimana tempatnya?"


"Saya tidak bisa mengatakannya, bu."


Allura menarik napas dengan mata terpejam. Ia memandang ke arah Marvel lagi. "Saya bisa laporkan kamu ke ayah Lukas. Apa kau siap dipecat?" Gertak Allura dengan ancaman.


Marvel tidak menjawab, ia hanya berdiri tanpa ekspresi di sana. Dengan tarikan napas yang panjang Allura mengeluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi suaminya. Matanya tak lepas memandang Marvel.


"NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."


Allura mencengkeram handphonenya dengan frustasi. Ia semakin tak tahan dengan semua ini. Apapun alasannya. Allura semakin yakin dengan perasaan buruknya itu. Ia yakin malam itu terjadi sesuatu. Semenjak Alvin tak datang di acara ulang tahunnya, ia tidak pernah pulang ke kediaman Smith. Allura tak tahan lagi, ia berjalan cepat mendekat ke arah Marvel.


"Saya tidak mau tahu, sekarang dimana Alvin?" Teriak Allura. "Dimana Alvin? Katakan dimana dia?" Ucapnya dengan pandangan nanar sambil mencengkram kerah baju Marvel.


Marvel hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Diam di tempat memilih tidak menjawab.


Bibir Allura gemetar. Napasnya keluar tidak stabil. Ia tidak tahan lagi dengan segala gejolak yang muncul di dada. Ia kembali menangis, wajahnya mengerucut, mengerut. Allura mendekat dan memukul dada Marvel.


"Kau tidak ingin mengatakannya?" Allura sudah tak tahan lagi. Ia memukul dada Marvel dengan kuat sampai membuatnya terhuyung ke belakang.


"Maafkan saya. Saya tidak ingin mengatakannya." Kata Marvel dengan wajah tegas dan kaku.


Allura menggeleng. "Aaarrrrgggg....."Allura menjerit histeris di sana. Kejadian beberapa bulan yang lalu terjadi lagi. Alvin tiba-tiba menghilang dan tak ada kabar.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2