
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
...Sekarang aku adalah milikmu, cintaku menemukan tempat berlindung di dalam kamu, dan sebagian dari dirimu juga bagian dari diriku....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Alvin masih merangkul pinggang Ele dan tangan Ele masih menyentuh bahu Alvin. Alvin belum ingin melepaskan pelukannya. Tubuh mereka masih berpaut sangat erat. Ia ingin menyalurkan rasa rindu yang membuncah di dalam dada.
Mereka kini saling memandang sayu dan kening mereka saling menempel. Napasnya menggebu-gebu keluar dengan cepat melalui mulut. Mereka sama-sama menikmati debaran-debaran yang tercipta dari detak jantung mereka yang berdetak seirama.
"Tidur denganku?" ucap Alvin berbisik, napasnya berhembus hangat menerpa wajah Ele.
"Heuh?" Seketika sekujur tubuhnya merinding, mendengar kata-kata itu, dan berhasil membuat jantungnya terpompa kencang. Merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya, karena rasa gugup yang teramat sangat.
Alvin tersenyum menangkup wajah Ele dan menatapnya dengan sayang. "Aku sudah tidak tahan lagi."
Ele menatap bingung. "Ti-tidak tahan? ma-maksudnya?"
Alvin terkekeh. "Hmm, aku tidak tahan, kakiku sakit saat memijak batu-batu kecil. Bagaimana kalau kita masuk?"
Ele membuang napas pelan dengan d*sahan. Wajahnya bersemu merah saat memikirkan yang tidak-tidak.
"Sekarang kau milikku, Ele. Aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Alvin tersenyum, menatap mata Ele. Hembusan napas Ele membuat Alvin tersenyum. Ia mengusap pipi Ele dengan lembut. Ele terpejam menikmati sentuhan jemari Alvin.
"Kita bisa masuk?" kata Alvin hanya bisa tersenyum menatap Ele. Mereka saling menatap. Menikmati kegugupan Ele yang semakin membuatnya gemas.
Alvin mengangguk cepat sambil tersenyum. Ia melepaskan diri dari pelukan lelaki yang membuatnya hampir tidak bisa bernapas. Jantungnya terus bergemuruh berdetak begitu kencang. Alvin meraih tangan Ele, memasukkan jari jarinya ke sela-sela jari Ele. Ia tersenyum bahagia. Alvin membawa Ele meninggalkan tempat itu. Ia berjalan mengikuti langkah Alvin. Tangan mereka terpaut erat dan tidak ingin lepas. Mereka berjalan terus menyusuri koridor hotel. Jantung Alvin tidak pernah berhenti memburu, terpompa lebih kencang. Ia bertambah gugup ketika Alvin terus mencium tangannya dan tetap berjalan dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya. Ia seakan menyatakan kepada semua orang bahwa Ele adalah miliknya.
SEMENTARA DI DEPAN KAMAR EKSKLUSIF TEMPAT ALVIN.
Raymond terus mondar-mandir dan Marvel hanya bisa memandang lelaki itu dengan menyandarkan punggungnya ke dinding dekat pintu kamar direktur.
"Bukankah kau membatalkan minum dengan pak direktur? kenapa kau tiba-tiba datang dan mengacaukan tidurku?" Ucap Marvel menatap tak suka.
"Aku berubah pikiran."
"Apa semudah itu ingin menemui pak direktur?"
"Aku sahabatnya, kapan saja aku bisa menemuinya, dan kau tidak bisa menghalangiku bertemu dengan Alvin."
"Tapi pak direktur tidak berada di kamar?"
"Kau asisten, tapi tidak tahu dimana bosmu?"
"Apa kau sedang mengguruiku?" Alis Marvel menukik tajam.
__ADS_1
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Aku tidak mau berdebat, jika kamu ingin menunggu pak direktur. Silakan saja!" Marvel memilih mengalah.
Raymond tidak menjawab. Ia memilih diam dari pada berdebat dengan asisten yang terkenal dengan keras kepala itu. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Dan tiba tiba mata Marvel memicing mengarah ke sosok lelaki yang ia kenali. Begitu juga dengan Raymond, ia begitu terkejut. Tapi yang membuat mereka lebih terkejut saat mengenal sosok wanita yang berada di samping Alvin. Marvel menelan salivanya berulang kali.
"Bukankah dia wanita yang dicari tuan Alvin?"
Tatapan Marvel dan Raymond tak lepas saat melihat sosok Alvin berjalan di ujung koridor sambil tersenyum bahagia memegang tangan Ele. Alvin dengan Ele semakin mendekat berjalan kearah mereka. Sementara Ele menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.
Marvel membungkukkan badannya dan tersenyum ketika pak direktur berhenti dihadapan mereka. Namun, Raymond tak mengubah ekspresi terkejutnya.
"Bagaimana Alvin dan Ele bisa saling mengenal? apa jangan-jangan?"
Raymond sedikit berdehem agar Ele menyadari bahwa dirinya ada. Benar saja ia mengangkat wajahnya. Raymond dengan cepat meminta penjelasan dari Alvin. Namun, Alvin hanya tersenyum.
"Apa ada hal penting Ray, kenapa kau kembali, bukankah kau ingin bertemu dengan wanita yang kau taksir?" Tanya Alvin masih memegang tangan Ele dengan posesif. Menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari Ele. Alvin seakan takut Ele kabur.
Raymond menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya terus memandang ke arah tangan Alvin yang terus memegang tangan Ele. Ia memandang ke arah Ele dan meminta penjelasan.
"Maaf Ray, nanti aku ceritakan."
Alvin menatap Ele dan Raymond bergantian. "Kalian saling mengenal?"
Ele tersenyum mengangguk. "Hmmm. Dia banyak membantuku mengolah cafe strawberry."
"Jadi cafe strawberry itu milikmu?" Tanya Alvin menatap Ele tak percaya.
"Astaga, kamu serius?" Alvin menangkup pipi Ele, membuat Marvel dan Raymond tidak nyaman. Terlebih-lebih Raymond, hatinya seketika retak berkeping-keping.
"Tuan, kalau begitu kami permisi." Marvel dengan cepat menundukkan kepalanya. Ia menarik tangan Raymond untuk meninggalkan tempat itu.
"Udara begitu dingin tapi kenapa hotel ini begitu panas?" Marvel mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
Mereka dengan cepat melangkah meninggalkan tempat itu.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Saat melihat kepergian Marvel dan Raymond. Alvin langsung mengambil kunci serep dari resepsionis, karena kunci kamar itu tertinggal di dalam kamarnya saat berlari mengejar Ele.
TININIT! Lampu hijau menyala pertanda pintu sudah terbuka.
Alvin tersenyum dan membuka kembali tangannya untuk memeluk Ele. Ele bernapas gugup. Alvin mendekap Ele dengan tubuhnya dan mendorong tubuh Ele hingga punggungnya menyentuh dinding. Ele memilih menunduk, ia membuang napasnya lewat mulut, mend*sah begitu panjang dan sungguh menegangkan.
Alvin tersenyum, sekarang ia sudah menemukan cinta sejatinya, Ele yang menjadi dunianya. Wanita yang sangat, sangat ia cintai. Ia menatap Ele begitu dalam. Matanya mengarah ke bibir Ele yang sedikit basah. Saat ini mereka sangat dekat. Alvin mengambil tangan Ele dan meletakkan tangannya kebagian dadanya.
DEG
DEG
DEG
__ADS_1
Ele bahkan bisa merasakan debaran dari jantung Alvin yang berdetak kencang. Ia memejamkan matanya, seakan ikut merasakan detak yang seirama dari debaran jantungnya juga.
Ele menelan salivanya kembali, ketika Alvin mulai mengejar bibirnya. Mengecupnya dengan singkat dan berulang kali. Napas Ele semakin terlihat naik turun, ia seakan semakin sulit bernapas. Getaran-getaran hebat ia rasakan dari dalam dan menggetarkan seluruh tubuhnya.
Alvin dengan sikap gentleman mengalungkan tangan Ele di lehernya. Ia masih ingin melepaskan rindunya. Alvin memiringkan wajahnya dan kembali mengejar bibir Ele. Alvin mulai MLumat bibir Ele dengan durasi yang begitu lama. Mata Ele memejam seakan menikmati ciuman itu. Alvin menuntun Ele agar sedikit membuka mulutnya. Seperti mengerti yang diinginkannya. Alvin menarik semua bibir Ele. Ciuman itu semakin dalam dan mereka benar-benar terbuai. D*sahan-d*sahan kecil keluar dari sela-sela ciuman mereka.
Tanpa sadar Ele meremas rambut Alvin. Jantungnya semakin terpukul kencang. Tubuhnya bergetar hebat seperti ada sengatan listrik yang menyetrum seluruh tubuhnya.
Ciuman panjang dan panas itu akhirnya berakhir juga. Alvin memundurkan tubuhnya. Napas keduanya saling memburu. Kaki Ele, lunglai tak bertenaga. Dengan cepat Alvin memeluknya dan tersenyum melihat reaksi dari Ele. Ia membiarkan wanita pujaannya mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Ia mengeratkan pelukannya dan membelai rambut Ele dengan lembut.
"Aku sangat bersyukur Ele. Aku sangat bahagia karena menemukanmu." Alvin memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Ele.
Tak ada sahutan, Ele hanya tersenyum dan tetap terpejam seakan tidak ingin lepas dari dekapan tubuh hangat Alvin.
"Ele, apa kau merasakan hal yang sama?" Tanya Alvin mengulas senyum.
"Ehmmm...." Ele hanya menjawab dengan gumaman. Ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang terus berdetak kencang.
Alvin akhirnya menuntun Ele duduk di sofa. Ele bisa melihat kue ukuran kecil masih ada di atas meja.
"Kue ini untukku?" Tanya Ele tersenyum haru.
"Hmm."
"Terima kasih, Alvin." Ele memeluk Alvin dengan sebelah tangannya dan menyandarkan wajahnya di dada Alvin. Alvin membalasnya dengan memeluknya dari belakang.
"Aku hanya ingin bersamamu, Ele. Kebahagiaanku hanya ada di dirimu. Aku ingin selalu seperti ini." Kata Alvin mengeratkan pelukannya. "Dan aku ingin melepaskan rindu dan sakit ini."
Ele hanya tersenyum tipis, melapisi tangan Alvin yang sedang memeluknya.
"Ternyata menahan rindu itu sangat sakit." Kata Alvin dengan perasaan terluka.
"Hmm, sangat sakit? Aku juga merasakan itu." kata Ele dengan suara terendahnya. Ia mulai bisa mengatur napasnya.
"Maafkan aku." Hanya itu yang sanggup ia keluarkan ketika suara Alvin sedikit bergetar seperti menahan hatinya yang begitu sakit. "Seandainya kau tidak pergi meninggalkan saat itu, aku bisa bertahan hidup di desa bersamamu. Kita tidak harus berpisah selama ini. Aku..." Alvin menarik napas terbata dari mulutnya.
"Aku hampa Ele, hatiku begitu terluka sampai tidak sanggup untuk melakukan apa-apa, untuk bernapas saja aku selalu mengingatmu. Sakit, begitu sakit. Waktuku hanya aku habiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja sampai aku lupa untuk tersenyum."
Alvin sesaat terdiam, napasnya tertahan oleh tangisan. Dadanya begitu sesak. Ele menyadari, ia berbalik memandang Alvin dan memegang pipi lelaki yang dicintainya itu.
"Maafkan aku. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku tidak menduga kau melaluinya dengan begitu berat. Kita sama-sama sakit, Alvin. Sekarang, mari kita mengobati hati kita yang terluka ini. Aku tidak ingin berpisah lagi." Ele menangis. Tapi kali ini tangisan itu adalah tangisan bahagia.
Alvin menarik napasnya dengan terbata-bata, "Sekarang cinta kita akhirnya bersatu. Aku sangat bersyukur." Alvin memandang Ele yang ikut menangis. Ia kembali mengecup kening Ele dengan sayang.
"Sekarang aku adalah milikmu, cintaku menemukan tempat berlindung di dalam kamu, dan sebagian dari dirimu juga bagian dari diriku." Kata Ele menenangkan Alvin dan tatapan mereka kembali bertemu dan saling menempelkan kening mereka.
Ele sendiri merasakan kepedihan yang dialami Alvin, begitu juga sebaliknya. Ele memeluk Alvin masuk kedalam dekapannya. Alvin membalasnya dengan memeluk erat tubuh Ele. Sekarang mereka sudah bersama. Perasaan bahagia bersama orang tercinta ini memang susah diungkapkan, namun bisa dirasakan. Alvin selalu merasa cintanya selalu sama dengan hari pertama ia jatuh cinta pada Ele.
BERSAMBUNG
^_^
๐ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐
__ADS_1
๐ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^