LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
APA KABAR KAMU, ALVIN?


__ADS_3

💌 LOVE OF FATE 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


...Tutur kata mencerminkan kepribadian seseorang. Jadi bertutur katalah dengan baik dan sopan....


🔸🔸🔸🔸🔸


Hamparan salju yang indah menyambut pagi hari di apartemen sederhana milik Ele. Ia tersenyum sambil menatap butiran-butiran salju bergulir dari langit, jatuh perlahan memutihkan jalanan di Lokasi Clare Market dan Houghton Street di Central. Turunnnya salju merupakan pertanda musim dingin akan berlangsung cukup lama.


Ini pertama kalinya Ele melihat salju turun sepanjang umurnya. Suhu yang begitu dingin memintanya untuk tetap berada di dalam selimut. Ele mengamati setiap bulir salju yang turun dari balik jendela apartemen yang sudah hampir satu bulan ini ia tempati. Dengan ditemani secangkir kopi panas yang sengaja ia bawa dari desa. Secangkir kopi ini sedikit menghangatkan tubuhnya yang masih berbalut selimut dan juga berhasil mengingatkannya pada seseorang.


"Ah, aku mulai rindu lagi padanya? Apa kabar kamu Alvin? Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku harap kamu sehat."


Ele menarik napas panjang lalu mengembuskannya lewat mulut. Ia harus kuat, Ele pasti bisa melalui semua ini.


Asyik bernostalgia membuatnya lupa waktu, hari ini Ele ada jadwal kuliah di kampus yang dulu hanya impiannya, kini kampus ini berhasil Ia taklukkan. London School of Economics and Political Science (LSE), Ia berhasil masuk dengan mengikuti beberapa tes.


Suhu yang mencapai 14 derajat Celcius harus Ia taklukkan. Ele harus menerjang suhu yang begitu menusuk tulang menuju tempat dimana biasanya ia menunggu trem yang akan mengantarkannya ke kampus.


Tak beberapa lama menunggu trem pengantarnya pun tiba. Kali ini terlihat cukup ramai sesak, yah apa boleh buat Ele sudah hampir terlambat. Dengan tergesa-gesa memasuki trem, tanpa sengaja Ele menabrak lelaki yang juga terlihat tergesa-gesa ingin masuk trem.


“I’m sorry” Ucap pria itu panik dan langsung membantu Ele untu membereskan barang-barangnya yang jatuh berantakan.


Ele mengernyitkan keningnya saat mengenali suara berat itu, Ele mengangkat wajahnya melihat lelaki yang berjongkok sedang memunguti buku yang dibawanya. Dugaannya benar.


"Ray?" Panggil Ele tak bisa menutupi rasa terkejutnya.


Saat namanya dipanggil, Raymond mengangkat wajahnya. "Ha? Bukankah kamu?" Pria itu menangguhkan kalimatnya. Ia mencoba mengingat nama gadis itu.


"Aku Eleanor, pemilik kebun strawberry itu..."


"Ya, ya...benar! " Raymond tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Kamu adalah gadis strawberry yang ramah itu, kan?" Raymond mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Ele.


Ele tersenyum membalas menjabat tangan Raymond. "Apa kabar, Ray?"


"Baik. Kamu sendiri kenapa ada di sini?"


"Aku kuliah di sini, Ray."


"Benarkah? Bagaimana kebunmu?"


"Aku menjualnya. Kamu sendiri, kenapa ada di sini?"


"Aku sekarang bekerja di perusahaan teknologi dan aku ke sini ikut bos mengikuti rapat."


"Wah.. benarkah?" Ele tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Ray."


"Senang bertemu denganmu juga, Ele." Ray mengeluarkan kartu nama miliknya. "Kamu bisa menghubungiku kapan saja."


Ele mengangguk seraya menerima kartu nama itu. Mereka pun turun di tempat yang berbeda.


🔸🔸🔸🔸🔸

__ADS_1


Kuliah sambil bekerja merupakan hal yang sulit dipilih oleh Ele, karena keduanya sangat penting bagi dirinya. Karena keadaanlah yang mengharuskan dia bekerja.


Seperti biasa sehabis kuliah Ele menyiapkan diri untuk pergi bekerja, dengan seragam berwarna coklat kebanggannya ia pun pergi bekerja, karena baginya waktu adalah emas. Tak heran jika ia pun sering meninggalkan jam tidur siangnya. Karena menurutnya, bekerja adalah cara untuknya tetap produktif dan bisa mendapat uang untuk melanjutkan hidupnya. Cek yang diberikan ibu Alvin ia sumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Hasil penjualan rumah dan kebunnya ia simpan. Jika suatu hari ia bisa menggunakan uang itu untuk bisnis usahanya kelak.


Siang sampai sore hari ia habiskan untuk melayani para pengunjung yang datang ke cafe tempat ia bekerja. Dengan waktunya yang padat ini tak heran jika Ele sering mengeluh merasa capek. Walau sesekali dia merasa ngantuk saat sedang mengerjakan tugas kuliahnya, laptop yang setia bersamanya menjadi saksi bagaimana Ia berjuang untuk berkuliah. Namun hal ini harus dia lakukan demi mimpinya menjadi seorang sarjana.


Ele berjalan dengan semangat menuju cafe tempatnya bekerja. Bibirnya tersungging dengan senyuman manis. Tangannya berdiam hangat di dalam kantong coat yang dikenakannya. Suhu udara di kota London menurun di bawah titik beku. Ele melangkah cepat agar tiba di cafe itu.


Cafe sederhana namun terlihat berkelas. Temboknya berwarna merah bata dengan pot-pot bunga menghiasi bagian depan cafe. Jendela kaca besar mengekspos ruangan di dalamnya. Tempatnya benar-benar nyaman. Ele tersenyum saat membaca tulisan besar di depan atap datarnya, coffee cafe. Namanya terdengar unik. Ele pun melangkah masuk melalui pintu samping sambil melirik jam yang ada di tangannya. Masih banyak waktu untuk membersihkan meja.


Tring!


Bunyi bel terdengar saat seseorang membuka pintu. Aroma kopi langsung menerobos ke penciumannya. Seorang pria memilih tempat duduk di dekat jendela depan, menikmati lalu lalang kendaraan yang dihiasi hujan salju yang turun.


“Selamat sore, tuan.. ingin memesan sesuatu?”


Arlo menoleh saat mendapati pemilik suara jernih itu. Seorang gadis cantik dengan senyumnya yang manis. Lesung yang terlihat di pipi kanannya adalah daya tarik besarnya. Arlo terpesona saat melihat tatapan indah itu.


“Biar kulihat,” Arlo mengambil buku menu di letakkan di atas meja. “Baru pulang kuliah?” tanya Arlo tanpa memandang ke arah Ele.


"Heuh?" Ele mengerutkan keningku. "Bagaimana anda tahu, tuan?"


Arlo tersenyum lagi, “Pakaian dan wangimu yang mengatakannya,”


Ele terdiam di posisinya, memilih tak berkomentar. Sementara Arlo kembali membaca menu. Ele pun meninggalkan Arlo saat seorang pria yang tidak jauh darinya memanggilnya.


Arlo menatap heran saat membaca buku menu yang ada di tangannya. Kopi cinta? Kopi pedih? Kopi frustasi? kopi gila asmara? Kopi murah? Arlo mengangkat wajahnya sejenak, sungguh menu yang tak diduga-duga.


Ele bergegas ke arah pria yang memanggilnya tadi dan tersenyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu tuan?"


“Aku akan sering-sering berkunjung. Kopinya enak sekali, cantik!” Ucap pria itu memberikan pujian kepada Ele.


"Ah, terima kasih atas pujiannya, tuan."


"Terima kasih, tuan." Ele tersenyum sambil membungkukkan badannya. Pria itu pun pergi meninggalkan cafe itu.


Ele kembali ke meja pria yang terlihat dingin itu. "Bagaimana tuan, anda sudah menjatuhkan pilihan? Anda bisa memilih kopi murah ini. Kebetulan nama itu saya sendiri yang buatnya. Saya yakin anda menyukainya." Ele menawarkan kepada pria itu.


Arlo masih tampak berpikir, "Kopi murah?" Batinnya. Arlo masih tak mengerti kenapa wanita itu merekomendasikan kopi murah untuknya. "Apa aku terlihat seperti orang tak berduit?" Arlo melirik harganya. Tidak, harganya tidak murah, bahkan lebih mahal dari pada kopi cinta atau kopi apapun itu.


"Kau!" Arlo memutuskan untuk memanggilnya begitu, dia yang salah tidak memakai name tag atau tanda pengenal apapun di dadanya.


Ele kesal saat pria itu memanggilnya dengan sebutan KAU. “Iya, tuan?” Lagi-lagi Ele dibuat menunggu sementara pengunjung cafe sudah semakin ramai.


“Apa maksud kata murah di sini? Kau merendahkanku?”


Ele tetap bersikap profesional, “Terserah anda mau mencobanya atau tidak. Kopi di sini mencerminkan kepribadian dari pengunjung."


"Apa?"


"Mau tidak?” Ele balik bertanya. Akhirnya Arlo mengiakan. Tidak salah juga mencobanya. Ele pun meninggalkan pria itu.


Penghangat ruangan dinyalakan pas dengan ruangan itu, membuat pengunjung betah di sana. Arlo menarik napas panjang, sambil melihat ke arah wanita yang sedang terlihat serius membuat kopi pesanannya. Kedatangan gadis bermata coklat itu mengalihkan perhatiannya.


Ele kembali dan menaruh pesanannya. "Silakan di minum, tuan. Semoga anda menyukainya." Ele menggeser kopi itu.


"Temani aku duduk,"


"Maaf tuan saya tidak bisa." tolak Ele.

__ADS_1


"Kau mau aku menutup cafe ini?"


Ele berdecak dan akhirnya memilih menyerah saat managernya memberikan gestur mengiakan. Ele heran tapi tak bisa berkomentar "Siapa dia?" batinnya.


"Duduklah! bukankah bosmu sudah setuju?"


Ele menghela napas panjang, Ia duduk di depan pria itu.


“Mau bekerja denganku?”


“Hah?”


“Kubilang, mau bekerja denganku?”


“Aku sudah punya pekerjaan dan aku nyaman bekerja di sini.”


Arlo mengunci tatapannya ke arah Ele, “Oke.. jadi tawaranku ditolak?”


Ele tak menjawab dan bahkan malas menjawab.


“Sungguh tidak mau bekerja denganku. Aku butuh sekretaris. Jika kau menolaknya, aku yakin kamu akan menyesal.”


"Kenapa aku harus menyesal? Anda terlalu berlebihan dan aku sudah punya pekerjaan.” Jawab Ele, lalu pergi meninggalkan pria itu.


Arlo tersenyum sambil menatap kopi di depannya. Aromanya yang menggoda menari-nari di hidungnya. Ia menghirup bau kopinya, dengan pelan Arlo menyeruputnya. Satu sesapan menghentikan Arlo untuk tidak meminumnya.


"Pahit?" Arlo mendekatkan ke bibirnya, menyesapnya pelan sekali. "Ini tak salah, kan? Kenapa rasanya pahit sekali, bahkan lebih buruk dari tegukan pertama? Apa pengecapku yang bermasalah?"


Dengan sedikit kasar Ia meletakkan gelas berisi kopi itu. Ia kesal karena merasa dibohongi. Arlo melangkah menuju meja kasir.


“Aku mau bayar.” Ucapnya dengan suara menahan kesal.


“Oh.” Ele tersenyum, tangannya terulur menerima uang dari pria itu.


“Apa kau tahu bahwa kau bisa membunuh seseorang dengan kopi murahmu itu?”


Dahi Ele mengernyit heran, “Ada yang salah dengan kopi itu?”


“Kopimu adalah hal terburuk yang pernah kuminum. Apakah aku harus membayarnya?”


Ele tertawa dan semakin menambah kekesalan Arlo, “Tentu saja tuan. Anda tahu sendiri susahnya mencari uang. Mungkin bagi anda mudah mendapatkannya, tapi bagi saya tidak.”


Deg!


Kata-kata itu seperti terhantam ke dadanya. Baru kali ini seorang wanita berani memperlakukannya seperti ini. Tangan Arlo mengepal kuat dan segera membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar. Ia menemukan sebuah tulisan di dinding tepat saat Arlo akan menarik gagang pintu itu.


"Semakin baik dirimu, semakin enak rasa kopimu."


“Apa anda tahu kenapa saya menamai kopi pahit itu?” Kata Ele menatap ke arah Arlo. Ia tengah membersihkan meja yang ditempati Arlo tadi. Arlo sendiri kaget, Ia tidak tahu sejak kapan Ele di sana.


“Itu adalah cerminan seperti apa diri si pemesan.” Kata Ele kembali membersihkan meja itu.


Beberapa detik Arlo mematung di sana, hingga akhirnya ia sadar dan cepat-cepat keluar dari cafe itu. Sementara Ele menahan senyumnya. Ia berhasil membuat pengunjung arogan itu kesal.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2