
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Aku mencintaimu dengan tulus itu artinya tanpa syarat. Aku menyatakannya dengan sah, menggunakan materai cinta....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Dini hari, hujan masih mengguyur deras di desa ini. Dan sampai sekarang rintik-rintik hujan masih menemani suasana pagi ini. Alvin sama sekali tidak terpejam, ia masih duduk di sudut kamarnya dengan perasaan sedih. Ia duduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya ke tempat tidur dengan posisi bertongkak lutut dan tangannya ia letakkan di kaki.
Gumpalan awan yang bersusun-susun diiringi sinaran kilat atau pun petir yang memecah kesunyian dengan sisa-sisa hujan yang masih setia menemani Alvin saat ini. Ruangan kamar Alvin yang begitu mencekam seakan mewakili hatinya. Cuaca hari ini mewakili perasaannya yang bersedih. Mengetahui fakta yang terlalu menyakitkan untuknya.
"Aaargggggg.....!" Alvin menggeram sambil mencengkram kepalanya. Ia meremas rambutnya dengan kasar. Alvin mencoba mengingat kembali sepotong-sepotong ingatannya. Dia berharap kehidupan di masa lalunya kembali diputar, yang terus menjelma menjadi benang kusut yang tak kunjung terurai di dalam otaknya.
"Kenapa begitu sulit mengembalikan ingatan ini?" Ucap Alvin mencengkram kepalanya begitu kuat. Ia melepaskan napas frustasi. Kepalanya semakin terasa berat dan dadanya seperti tercabik-cabik, hatinya sekarat. Pertahanannya goyah, ia butuh seseorang untuk melepaskan rasa sesak di dada.
Alvin menatap keluar, Ia ingin menguatkan hatinya, namun ia semakin tidak mampu, rasa luka itu semakin menggores hatinya yang paling dalam dan tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Mengetahui fakta bahwa ia sudah menikah. Alvin tersenyum miris.
Alvin berusaha menguasai perasaannya. Ia menghembuskan napasnya terbata-bata. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan. Ia begitu mencintai Ele. Untuk meninggalkannya serasa mimpi buruk baginya. Perasannya berbeda pada gadis sederhana itu. Energi di tubuhnya seakan hilang entah kemana, kini yang tertinggal hanya rasa pilu dan tidak berdaya. Rasa sakit ini menggerogoti jiwanya. Sekujur tubuhnya gemetar dan jari-jari tangannya terasa dingin. Ia kembali mencengkram rambutnya. Melepaskan emosinya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
DUA HARI KEMUDIAN.
Alvin masih mengurung diri di kamar dan tetap diam. Mengutuk diri. Mengutuk sekitar. Mengutuk keadaan. Pikiranku kacau, semua perasaan campur aduk. Sedih, marah, kecewa. Benci adalah kata yang tepat, tapi ia bingung benci kepada siapa. Apakah ia harus menyalahkan keadaannya yang amnesia?
Alvin menarik napasnya, ia tahu Ele pasti terluka. Dia pasti terpukul saat mendengar bahwa dirinya sudah menikah. Terbukti Ele mencoba menghindarinya. Jika mereka berpapasan, Ele diam tak menyapa. Dia bahkan memilih tidur di rumah Amira. Tentu saja membuat Alvin tersiksa.
Namun, ada satu hal yang selalu membuat Alvin tak bisa menahan senyum harunya. Ele selalu menyiapkan makan untuknya. Ele selalu menuliskan sebuah pesan manis di atas kertas. Ia menuliskan apapun yang membuat makanan itu terlihat spesial. Jika Ele menyiapkan telur, agar lebih nikmat, Ia menuliskan pesan 'Eggs; dengan gambar ayam bertelur dan sebuah simbol semangat. Dan saat makanan yang ia buat tidak begitu istimewa, Ele juga menyematkan pesan bertuliskan, "Maaf, kita kehabisan makanan." Namun Ele tidak lupa selalu menyertakan simbol senyum di sana. Alvin tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Ia menarik napas dengan mulut terbuka.
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu Ele, kau membuat hidupku lebih berwarna." Bahu Alvin gemetar. Ia tak bisa menahan air matanya. Apakah sesakit ini Tuhan? Alvin menarik napasnya lalu mengembuskannya sekaligus. Ia mencoba menenangkan perasaannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara Ele mondar-mandir di depan kamar Alvin sambil memegang baki di tangannya. Dua hari cukup baginya untuk menenangkan diri. Sekarang Ele harus menerima semua ini. Melawan segala pikiran yang perlahan terus menerus melemahkannya. Keadaan menyadarkannya bahwa ini takkan membawa apapun dalam hidupnya. Bahkan kebahagiaan sekalipun. Karena yang ia tahu, jalan yang akan dilaluinya tidak akan sepelik ini. Alvin harus kembali ke keluarganya. Ia harus sadar bahwa Alvin sudah menikah. Ele harus sadar dan menerima kenyataan ini, bahwa Alvin bukan tercipta untuknya.
__ADS_1
Tak sepatutnya Ia bebankan pada Alvin harapan-harapan tanpa memikirkan perasaan keluarga Alvin. Membiarkan Alvin hidup bahagia adalah jalan terdamai yang mungkin sebaiknya Ele ikhlaskan. Kali ini bukan untuknya, melainkan untuk Alvin, lelaki yang pernah menghiasi hatinya. Hari ini Ele siap melepaskan cintanya.
Beberapa saat Ele tertunduk, Ia diam beberapa saat, tak lama kemudian berjalan lagi. Ini adalah hari ke dua Alvin mengurung diri di kamar.
Tok...tok...tok...!
"Alvin..." Panggil Ele dengan lembut sambil mengetuk pintu kamar Alvin dengan pelan.
Belum ada sahutan dari dalam, Ele kembali mengetuk pintu itu. "Alvin, apa aku bisa masuk? Aku membawakan makanan kesukaanmu."
Alvin tersenyum samar, lalu menarik napasnya dengan singkat. Ia lalu bangun dari duduknya untuk membuka pintu kamar. Raut wajahnya kusam, matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Ia seperti bukan Alvin yang dikenalnya. Badannya bahkan terlihat lebih kurus.
"Lihat, aku membawakan makanan untukmu." ucap Ele dengan seulas senyum manis.
"Terima kasih, sayang."
Saat mendengar kata sayang, hatinya berdesir. Ia memejamkan matanya sambil meremas baki yang ada di tangannya. Beberapa detik kemudian Ele tersenyum.
"Makan yuk!" Ele berjalan dan duduk di sisi ranjang.
Alvin mengikutinya dan duduk di samping Ele. Ia menarik napasnya yang terasa berat saat Ele bersikap seperti tidak terjadi sesuatu. Alvin mengambil baki itu dari tangan Ele.
"Hmmm.. kau bisa rasakan aroma masakanku yang langsung menyergap indera penciuman, kan? Benar-benar membius pikiran untuk cepat-cepat menikmatinya. Jadi, kau harus habiskan, ya!" ucap Ele tersenyum lembut kepada Alvin.
Ele mengerutkan keningnya, "Kau tidak suka?" Wajah Ele berubah sedih. "Kau tahu, subuh-subuh aku ke pasar hanya untuk mendapatkan bahan-bahan ini."
Alvin menarik napasnya dalam-dalam. Dia tahu itu. Karena Alvin sama sekali tidak bisa tidur beberapa hari ini. Saat Ele masuk dan keluar pun, Alvin tahu.
"Jadi makanlah! Aku akan mempersiapkan makanan kesukaanmu sebelum kau meninggalkan desa ini." Kata Ele tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya.
DEG!
Wajah Alvin seketika berubah. Jantungnya langsung berdetak kencang di dalam dadanya. Ia menatap tajam ke arah Ele.
"Apa maksudmu?"
Ele tersenyum samar. "Kau harus kembali ke keluargamu Alvin." Ia mengambil satu dan memberikan kepada Alvin. "Makanlah! kau tahu hatiku sakit jika kau tidak menyentuhnya."
Alvin menurunkan tangan Ele dari depan wajahnya. "Aku tidak ingin kembali Ele, aku akan tetap di sini bersamamu. Apapun alasannya." Kata Alvin tegas. Ia menaruh baki itu di sampingnya dan bangun dari duduknya. Alvin berdiri memunggungi Ele.
Ele mencengkeram tangannya sendiri sambil menghembuskan napasnya lewat mulut. Ia tahu kalau Alvin akan sulit menerima ini. Tapi bagaimana pun Alvin harus kembali kepada keluarganya. Ele tak bisa menahannya, apalagi ia hanya diberi waktu tujuh hari. Suasana seperti ini membuat Ele semakin tidak nyaman. Ia ikut bangun dari duduknya dan berdiri tepat di belakang Alvin.
__ADS_1
"Alvin, aku tahu ini berat untukmu. Tapi keluargamu sudah menunggumu. Mereka sangat mencemaskanmu, apalagi istrimu. Kau tidak kasihan pada mereka?" Saat mengatakan kata istri, Ele menegaskan kalimatnya, agar Alvin sadar bahwa ia sudah menikah.
Mendengar itu, Alvin membuang napasnya dengan kasar. Ia berbalik dan mengunci tatapannya ke arah Ele. Tak tertebak sama sekali.
"Aku sudah katakan tidak ingin kembali. Aku tidak pernah menikah Ele."
Mendengar itu Ele menarik napas dengan mulut terbuka. "Bagaimana kau tahu, jika kamu belum menikah Alvin? kau hanya lelaki hilang ingatan dan tidak mengingat masa lalumu. Kamu harus sadar bahwa istrimu tengah mengandung anakmu." Ucap Ele tegas menekan perkataannya.
"Maka dari itu, tunggu sampai ingatanku kembali. Aku akan pergi meninggalkanmu."
"Apa kau sudah gila? Jangan memperuncing keadaan Alvin. Aku mohon!"
"Terserah! yang jelas aku tidak akan meninggalkan desa ini, sebelum ingatanku kembali."
"Tapi kita tidak bisa seperti ini Alvin, aku tidak bisa menahanmu seperti ini."
Tak tahan lagi, Alvin melangkah maju, memegang pinggang Ele dan mendorongnya hingga punggungnya Ele menempel di dinding dan menghimpit tubuh wanita yang dicintainya itu.
"Tapi aku mencintaimu Ele, aku tak bisa meninggalkanmu." ucap Alvin tegas dan semakin mendekatkan wajahnya kepada Ele.
Heeeeeee, Ele terbelalak dan mendesah gugup. Jantungnya seketika terpompa lebih kencang. Napas Alvin berhembus menerpa wajahnya.
"Alvin, apa yang kau lakukan?"
Alvin tak menjawab, ia semakin mendekatkan wajahnya. Tanpa menunggu, Alvin langsung mencium bibir Ele dengan tarikan dan Lmatan yang kuat dan dalam. Napasnya juga ikut menarik aroma wajah Ele. Alvin mengeratkan pelukannya dan mengambil semua bibir Ele tiada ampun. Tangan Ele seketika mengepal. Alvin mencengkeram pinggang Ele dan terus memainkan bibir wanita yang dicintainya itu.
Ciuman itu semakin memburu, membuat Ele mendesah dan ikut memejamkan matanya. Seluruh otot terasa mengencang dan menegang. Rasa ini kembali lagi.
Gemuruh di dadanya semakin menjadi. Tubuhnya bergetar hebat. Ciuman itu benar-benar terasa membara. Tanpa sadar Ele menikmatinya. Alvin kembali memainkan bagian terdalam milik Ele, mengecap semua bagian bibirnya tanpa sisa. Napas keduanya semakin memburu. Alvin seolah menyatakan bahwa Ele adalah miliknya. Alvin akhirnya melepaskan ciumannya, membebaskan Ele dari siksaan kenikmatan.
Mata Ele sayu, tidak berani menatap Alvin. Ia berusaha mengatur napasnya yang menggebu-gebu keluar dari mulutnya. Suara terengah-engah akibat jantung yang terpicu masih terdengar seirama. Ele menjatuhkan tubuhnya di dada Alvin.
"Kau adalah milikku Ele. Aku tidak mau meninggalkan desa ini. Aku mencintaimu. Aku harap kau mengerti. Jangan buat aku goyah untuk melakukan lebih dari ini. Aku mohon Ele!" Ucap Alvin tegas seolah mengatakan bahwa perkataannya tidak bisa di ganggu gugat.
Ele hanya tertunduk tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ia masih berusaha mengatur napasnya yang memburu akibat debaran dari jantungnya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^