
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
ARLO GEORGE.
...Di dalam dirimu aku kehilangan diriku sendiri. Tanpamu aku menemukan diriku akan tersesat lagi....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Dari ketinggian dibagian puncak yang berdinding kaca dimana gedung markas Arlo George ada sepuluh lantai. Bangunan tinggi yang megah namun tidak meninggalkan kesan elegan, tidak terlihat seperti kantor Arlo George. Pintu masuk terkunci ketat dengan kunci elektronik dan kamera pengintai sengaja dibuat dimana-mana agar tidak tercium oleh Lukas, terlebih-lebih oleh pihak kepolisian. Markas Arlo George ini sudah berdiri sejak sepuluh tahun, setelah ia kuat dan bisa berdiri sendiri.
Ada puluhan anak buah Arlo berdiri tegap di setiap titik. Mereka diperlengkapi senjata dan setidaknya pisau diselipkan di badannya untuk menjaga gedung itu. Mereka hanya berdiri kaku dan tidak ada senyum. Berjalan beberapa langkah ke dalam kantor Arlo, ada boneka burung elang emasย pemangsa setinggi 80 cm cukup besar. Lambang dari kekuasaan Arlo. Pada bawah tanah gedung ada persembunyian ruang khusus untuk penyimpanan persenjataan dan hasil penyelundupan barang-barang terlarang.
Arlo menarik napas singkat dan bangun dari duduknya. Ia berdiri di depan dinding kaca yang menyajikan langsung pemandangan di luar gedung pencakar langit. Arlo menghela napas panjang sambil memutar-mutar gelasnya. Mengeluarkan bunyi gemericik es batu yang saling bertabrakan dengan dinding gelas. Sementara dua anak buahnya masih berdiri dan tetap menjaga jarak dua meter darinya. Wajah kaku dan dingin lengkap menggunakan seragam. Pandangan lurus dan datar. Tidak ada senyum sama sekali.
TOK TOK TOK?
"Masuk....!" kata Arlo sama sekali tidak membalikkan badannya.
Tubuh Darco habis di pukul oleh anak buah Arlo. Tubuhnya di dorong dan dipaksa berlutut di depan bosnya itu, sampai Darco merintih kesakitan.
"Tuan, seperti perintah anda. Saya sudah membawa Darco hidup-hidup ke hadapan anda." Ucap Mark.
Arlo tersenyum jahat dan segera membalikkan badannya. Ia meletakkan gelas yang di pegangnya tadi ke atas meja.
"Apa kabar Darco, setelah satu bulan mencarimu, akhirnya anak buahku berhasil menemukanmu." Tatapan Arlo dingin menusuk sampai ke jantung.
"Aa-apa maksud anda tuan, saya tidak pernah melarikan diri dari anda." Ucap Darco ketakutan, ia terus menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap mata elang itu.
Arlo tersenyum kecil. "Kau berani mengkhianatiku, Darco dan kakakmu Davis? Apa kalian tidak sadar itu?" Rahang Arlo mengencang kuat.
Darco menggeleng cepat. "Tidak tuan, saya tidak pernah mengkhianati anda."
"Kau dan Davis bertemu dengan Lukas satu bulan yang lalu dan Marvel menyembunyikanmu, bukan?"
"Tidak tuan. Itu tidak benar. Saya juga begitu terkejut, kenapa tuan Lukas mengetahui bahwa saya berada di desa A."
"Kau pikir, aku BODOH!" teriak Arlo.
"Sungguh tuan, saya tidak tahu apa-apa." Darco begitu ketakutan saat melihat wajah Arlo.
"HAHAHAHA...." Terdengar tawa Arlo menggema di dalam ruangannya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Arlo melangkah mendekat ke arah Darco. Menekuk salah satu kakinya agar ia sejajar dengan Darco. Arlo mencengkram dagu Darco dengan kuat, menarik bibirnya dan tersenyum licik. "Kau pikir aku akan mempercayai semuanya? Aku tahu seperti apa Lukas."
__ADS_1
Darco menggeleng ketakutan. "Sungguh, saya tidak berbohong tuan." suara Darco terbata-bata.
"Kau tahu, jika pria tua itu sudah mencurigai gerak-gerikmu, dia tidak akan membiarkanmu begitu saja. Dari pada kau mati sia-sia di tangannya. Lebih baik aku melenyapkanmu."
"He he he..." Napas Darco memburu saat mendengar kalimat itu. "Jangan lakukan itu tuan, saya mohon!" Darco memohon. "Aku berjanji tidak akan menunjukkan diriku lagi. Aku akan pergi jauh. Aku mohon!"
Arlo bangun dari duduknya. "Hahahaha...." Arlo sedikit pun tidak Iba. Ia hanya bisa tertawa nyaring di sana. Sorot matanya begitu tajam, menyatu di antara ke dua hidung mancung yang sempurna. Ia menikam dengan pesona wajah dingin dan tegas.
"Saya minta maaf tuan, saya lalai menjalankan tugas. Tapi saya tidak tahu, kenapa tuan Lukas bisa mencium pergerakan saya. Ampuni saya tuan."
"Aku tidak akan mengulangi ucapanku Darco." Arlo mengusap keningnya dan tersenyum smrik. "Maafkan aku! " Arlo menggeram sampai menggertak giginya. Dengan cepat seperti ala koboi, ia mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya. Ia menargetkan di bagian dada Darco.
DOR...DOR..DOR...!
Tiga peluru meluncur sempurna menembus jantung Darco. Ia tersenyum sinis lalu meniup ujung pistolnya dengan seringai tipis. Kemudian ia mengarahkan anak buahnya agar membawa tubuh Darco. Dengan cepat anak buahnya membopong tubuh Darco keluar dari ruangannya.
Arlo tak merubah raut wajah, datar dan dingin. Arlo duduk di kursi kekuasaannya. Mengambil cerutu dan menempelkan di bibirnya. Ia puas dengan hasil kerja anak buahnya, Arlo tidak meragukannya lagi.
Mark berdiri tidak jauh darinya. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Arlo membuka suara juga. "Bagaimana dengan Harry, lelaki tengil itu, apa dia melarikan diri lagi?"
Mark sedikit membungkukkan badannya. "Harry sepertinya sibuk mencari pinjaman tuan."
"Bukankah dia rela menjual adiknya, sebagai ganti untuk melunasi utangnya?"
"Benar tuan."
"Cih..." Arlo berdecak dengan seringai tipis. "Dia menjual adiknya, apa dia bisa menjamin aku akan menyukai adiknya?"
Mark menunduk lagi. "Maaf tuan. Saya belum mencari tahu soal adiknya. Saya akan mencarikan informasinya secepatnya untuk anda."
"Baik tuan."
Arlo tersenyum samar. "Aku ingin lihat, apakah adiknya itu secantik Allura? Jika adiknya lebih cantik, aku anggap utangnya lunas."
Mark tidak menjawab, ia hanya menunduk dan kemudian menegakkan badannya sebagai bentuk konfirmasi darinya.
Arlo terdiam. Wajahnya tiba-tiba berubah dan Mark bisa melihat itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu perintah selanjutnya. Arlo menarik napas panjang dan menyandarkan punggungnya kesandaran kursi yang beroda empat itu. Ia memejamkan matanya, merasa nyaman dengan posisinya tanpa perduli jika Mark masih ada di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi tuan?" tanya Mark akhirnya setelah lama mereka terdiam.
Arlo membuka matanya dan menegakkan badannya lagi. Ia menghela napas singkat sebelum bicara. "Bagaimana Allura, apa kau sudah mencari tahu keberadaannya."
Lagi-lagi Mark menunduk kepalanya. "Maaf tuan, saya tidak bisa melacak keberadaannya."
"Aku sudah bisa menduga itu."
"Maafkan saya tuan." Mark merasa menyesal.
"Kenapa kau bodoh soal wanita Mark? Kau tidak bisa diandalkan jika menyangkut itu." Arlo berdecak.
Mark benar-benar merasa menyesal. Ia memang mengakui itu, tapi jika ditanya soal mata-mata yang merugikan bosnya, Mark bisa tahu secepatnya.
__ADS_1
"Kau bisa keluar," Arlo mengusir Mark agar keluar dari ruangannya. Ia butuh sendiri.
"Baik tuan." Mark menjawab cepat dan tegas. Ia membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Dan kemudian keluar dari ruangan itu.
Arlo lagi-lagi menarik napasnya yang terasa berat. Jika menyangkut Allura, jiwa lemahnya langsung terlihat. Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar. Allura total tidak bisa di hubungi selama satu bulan ini. Rasa rindu begitu menggerogoti dadanya. Pikirannya kalut dengan berbagai pertanyaan dan asumsi. Apakah Allura menemui Lukas? Jika itu terjadi, semua usahanya akan sia-sia.
Aahhh...Arlo tidak bisa menutupi rasa sesak yang menghimpit dadanya. Ia merindukan Allura. Wanita itu miliknya dan selamanya akan tetap menjadi miliknya. Alvin tidak akan kembali lagi. Arlo bisa memastikan itu. Sekarang dunia sedang menertawakan Alvin, lelaki angkuh dan arogan itu.
Arlo mengambil handphonenya mencoba untuk menghubungi Allura. Panggilan masuk. Ia menatap handphonenya karena masih belum percaya.
"Hallo," Akhirnya Allura mengaktifkan handphonenya, karena ia bosan bersembunyi dari bayang-bayang Arlo. Begitu panggilan masuk Allura langsung mengangkatnya. Ia dalam posisi duduk dan bersandar di tempat tidur.
"Hallo? Allura, sayang, aku tidak bisa menghubungimu. Aku sangat mencemaskanmu. Kenapa tidak mengaktifkan handphonemu. Apa kau baik-baik saja?"
Mendengar kalimat itu, Allura mengembuskan napas malas, "Aku muak mendengar bualanmu, Arlo. Bisakah kau tidak mengatakan itu. Aku bukan istri, atau pacarmu. Jadi stop mengatakan kata-kata itu."
Arlo tersenyum sendu di balik telepon. "Tapi aku benar-benar merindukanmu. Aku sangat mencintaimu. Kau membuatku hampir gila. Apalagi saat ini kau...."
"Stop Arlo, aku bersumpah jika kau melanjutkannya, aku akan membunuhmu. Jangan pernah bermimpi untuk memilikiku. Hanya Alvin satu-satunya lelaki yang aku cintai."
DEG
Jantung Arlo berdetak saat Allura lagi-lagi menyebut nama Alvin. Ia menarik napas berat, seperti ada benda keras yang menghimpit dadanya. Namun demi Allura, ia mencoba meredam.
Arlo mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal kuat. "Aku ingin kita bertemu."
"Aku tidak ingin bertemu, kau bisa bicara sekarang."
"Tidak sayang, aku ingin kita bertemu."
"Aku sudah bilang, jangan panggil sayang!" Bentak Allura. Emosinya terpancing lagi.
"Oke, aku minta maaf. Tapi Izinkan aku bertemu denganmu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Rasanya kurang pas, jika kita berbicara lewat telepon."
Allura menarik napasnya dalam-dalam, Arlo keras kepala. Jika ia menolak untuk bertemu, lelaki ini akan berusaha melakukan apa saja.
"Baiklah, kita bertemu di restoran tempat terakhir kali bertemu denganmu."
"Tidak, aku langsung ke apartemenmu." kata Arlo.
"Apa?"
TIT!
Panggilan langsung dimatikan Arlo. Hatinya bahagia mendengar suara Allura lagi. Ia langsung melangkah keluar dari ruangannya, tanpa didampingi Mark.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^