
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
...Kebahagiaan dimulai dari sini. Cinta adalah ketika kamu memiliki sepotong kue yang menggiurkan, dan itu adalah potongan terakhir, tetapi kamu membiarkan orang yang kamu cintai memilikinya....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Dimana sayang?"
"Aku masih meninjau lokasi proyek bu."
"Belum kelar juga ya?" Tanya Maria dari seberang.
"Hmm. Kemungkinan besok bisa pulang. Ada apa bu?"
"Allura sayang, sudah tiga hari gak mau makan. Kau bisa langsung melihatnya, kan?"
DEG!
Jantung Ele berdetak kencang di dalam rongga dadanya. Matanya lurus menatap ke jalanan. Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Ele hanya diam. Yang bisa dilakukannya hanya menarik napasnya yang terasa berat. Alvin mengeratkan genggaman tangannya. Ia tahu bagaimana perasaan Ele saat ini.
"Sayang, apa kau masih di sana?"
"Hmm,"
Terdengar d*sahan napas singkat diujung telepon. "Ibu sudah pernah bilang, Allura tidak mau makan jika kamu tidak datang. Seharusnya kamu mengerti hal itu, Alvin."
Saat itu juga Ele menarik tangannya dari Alvin. Alvin terkesiap menatap ke arah Ele. Namun, Ele memalingkan wajahnya, menatap ke arah jalanan.
Alvin mengembuskan napas lesu. "Ibu khusus menghubungiku untuk mengatakan itu?"
"Tentu saja."
"Ibu jangan membahas Allura lagi, aku tahu ibu sayang dengan dia. Tapi bukan berarti aku harus memperhatikannya dalam 24 jam. Aku sibuk dan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di sini."
"Ibu mengerti sayang, maksud ibu bukan seperti itu...."
"Jika ibu mengerti jangan bahas itu lagi." potong Alvin dengan cepat.
"Maafkan ibu." Maria berucap pelan di ujung telepon.
Alvin lagi-lagi menarik napas panjang karena Ele tak juga memalingkan wajahnya menatap ke arahnya. "Aku ingin memperkenalkan seseorang kepada ayah dan ibu." Akhirnya ucapan itu berhasil membuat Ele melihat ke arah Alvin.
"Memperkenalkan seseorang? siapa sayang?" Kejar Maria di sana.
"Nanti ayah dan ibu akan tahu."
"Apa dia kekasihmu?" Tebak Maria.
"Hmm."
"Kekasihmu? Kamu serius, Alvin?" Maria sedikit terkejut.
__ADS_1
"Tentu saja ibu, apa pernah aku bermain dengan ucapanku?"
"Iya, tapi siapa, apa ibu mengenalnya?"
"Aku sudah bilang, nanti ibu tahu sendiri. Biarkan ini menjadi kejutan untuk ayah dan ibu." Alvin tersenyum, menatap Ele dengan sayang. Alvin kembali menarik tangan Ele dan menggenggamnya dengan erat.
"Kau membuat ibu penasaran."
"Tunggu saja ibu. Besok aku kembali."
"Oke sayang. Sampai bertemu di rumah. Jangan lupa dengan pesan ibu."
Alvin tidak menjawab.
"Sayang?"
"Kenapa ibu membahas itu lagi." Alvin mendengkus kesal.
"Kamu cukup melihatnya sebentar saja, Allura pasti senang melihat kedatanganmu."
"Aku tutup bu." Alvin langsung memutuskan panggilan, tak perduli jika ibunya masih ingin bicara di sana. Ia mengambil handphone yang ia letakkan di car holder.
Ele memalingkan wajahnya, melihat ke arah Alvin yang fokus dengan stir mobilnya walau hanya dengan menggunakan tangan satunya. Ia tetap memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum.
"Sepertinya aunty begitu menyukai Allura. Aku ragu, apa aku akan diterima keluargamu?" Ucap Ele menunduk menatap tangannya yang dipegang erat oleh Alvin. Entah mengapa perasannya tidak enak semenjak pembicaraan Alvin dan ibunya itu.
"Kenapa tidak terima? ini adalah kehidupanku. Kau cukup percaya denganku. Aku mencintaimu dan selamanya akan tetap mencintaimu."
Ele mengangguk dan tersenyum lagi. Walau hatinya tak bisa berbohong. Perasannya benar-benar tidak enak. Apa memang Ele yang terlalu percaya diri bahwa keadaaan akan baik-baik saja. Tapi dari pembicaraan mereka, ibu Alvin sangat menyukai Allura. Ele menarik napasnya dan memutuskan untuk tidak memikirkan itu. Ia memilih percaya kepada Alvin. Cinta mereka dipertemukan kembali itu artinya Ele tidak akan melepaskan genggaman tangan Alvin lagi.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Alvin dan Ele hanya diam menikmati suasana perjalanan yang tenang di desa Mulia. Alvin memegang tangan Ele, setiap kali sebelah tangannya tak diperlukan dalam kemudi. Bahkan untuk memindahkan persneling mobil, Alvin mengajak tangan Ele ikut bersama. Berpindah-pindah ke tuas itu.
"Alvin, minggu depan aku ingi berkunjung ke makam orang tuaku, apa kau ingin ikut?" ucap Ele tidak ingin larut dalam kebisuan.
Alvin memandang sekilas ke samping. "Hmm, sekalian aku ingin memperkenalkan diriku." ucapnya dengan senyuman singkat.
"Ya. Aku yakin ayah dan ibuku senang melihatmu. Ia juga pasti bahagia melihatku menemukan pria baik seperti kamu, Alvin." ucap Ele dengan tatapan sendu.
Alvin tidak menjawab, ia hanya menarik tangan Ele dan menciumnya. Ele tersenyum tipis, sambil menundukkan kepalanya. Ia memandang tangan Alvin yang memegang tangannya dengan posesif. Seakan Ele mau lari saja atau melompat dari mobil.
Ban mobil terus berputar, mereka melaju menyusuri jalan.
"Kita mau kemana, Alvin?" Tanya Ele sambil menatap Alvin.
"Sebentar lagi kau juga tahu, walau tidak kujelaskan," jawab Alvin datar dengan senyum smrik. Dan sialnya senyuman itu terlihat elegan dan memimpin. Ditambah tatapannya yang fokus pada kemudi, satu tangannya dengan steer kemudi, sesekali meremas seperti memainkan pedal gas motor. Kakinya sedikit membuka santai, menekan gas seperlunya. Semua gestur prianya itu membuat Ele mengulum senyum syukur karena bisa mendapatkan laki-laki yang pastinya didamba banyak wanita ini. Kharismatik dan menawan meski tidak sedang duduk tegak.
Beberapa puluh menit berlalu, mereka sampai ditempat area yang asri. Ele mengerutkan keningnya, karena jalan ini menuju arah cafenya.
"Sudah bisa menebak?" tanya Alvin tersenyum.
"Kita mau ke cafe strawberry?"
"Hmm. Tentu saja, aku ingin mencicip kue olahan dari pemilik cafe ini sendiri. Apakah anda mengizinkannya nona cantik?"
Ele melepaskan tawanya. "Tentu saja tuan tampan, aku akan menyiapkan semua yang anda inginkan."
"Sepertinya saya diistimewakan di sini." Alvin terkekeh.
__ADS_1
"Apa yang tidak buat anda."
Alvin melepaskan genggaman tangannya dan membelai belakang kepala Ele dengan lembut. "Aku tahu pasti yang kamu lalui itu berat Ele. Semua perkebunan strawberry dan rumah impianmu terjual tanpa sisa. Tapi kau mewujudkan mimpi itu dengan nyata. Maafkan aku, Ele. Untuk waktu itu," Tambah Alvin. "Maafkan aku karena aku tidak ada di saat-saat kau melaluinya dengan berat."
Mata Ele berbinar berkaca-kaca. Ia tidak menyahut, ia menutup mata dan mengambil tangan Alvin. Mencium tangan telapak tangan itu dengan lembut dan lama, lalu meletakkannya di pipi. Ele tidak membantah, tidak juga menjawab dengan kata-kata 'Tidak apa-apa'. Saat itu Ele memang sakit, bohong jika ia mengatakan baik-baik saja. Ia memilih berdamai dengan rasa sakit yang pernah dilaluinya. Ia merasakan hangat tangan Alvin di pipinya. Dengan penuh perasaan berucap. "Aku mencintaimu, Alvin."
Alvin langsung tersenyum dan mengusap pipi Ele. Dibandingkan mengucap aku tidak apa-apa. Kalimat aku mencintaimu yang paling tepat untuk diutarakan.
Alvin merasakan energi itu. Ia semakin tersenyum lebar. "Aku juga mencintaimu Ele."
Mereka akhirnya tiba di depan cafe strawberry milik Ele. Alvin menghentikan mobilnya tepat di depan pagar kokoh itu. Ele sudah melepaskan sabuk pengamannya dan mereka turun bersamaan.
Tiba-tiba Ele menarik tangan Alvin. Alvin tersenyum mengikuti langkah Ele yang begitu semangat. Ya, kebahagiaan bisa muncul bukan dari sesuatu yang direncanakan, tapi tercipta dari hal kecil dan spontan.
Saat mereka masuk, para pegawai sudah berjejer dan berbaris rapi termaksud itu Oliv dan Angel. Mereka saling berpandangan penuh tanya. Tapi Ele pura-pura tak melihat, ia tersenyum menatap ke arah Alvin.
"Kita langsung ke dapur."
Alvin hanya mengangguk. Tangan mereka baru terlepas ketika tiba di dalam ruangan beraroma kue itu. Semerbak harum selai nanas, keju, vanilla, moka menyatu memenuhi ruangan. Membuat Alvin ingin menarik napas dalam-dalam dan perlahanโฆ menikmatinya.
Ele berbisik ke telinga Alvin dari belakang. "Pastikan kau menyicip semuanya."
Alvin tersenyum riang. Oven berukuran besar berdesing mengeluarkan uap. Ada meja di tengah ruangan yang dipenuhi tepung dan bahan pembuat kue lain. Ele membuka laci tempat ditaruhnya celemek bersih berwarna hitam polos. Ia memakai celemek tersebut dan menarik talinya ke belakang dan mencoba mengikatnya.
Kitchen set yang nampak mewah dengan desain marmer yang hitam yang elegan memenuhi ruangan dapur itu. Peralatan masak telah tersedia lengkap di dalam lemari dan sebagian menggantung juga. Siapapun akan nyaman melakukan aktivitas membuat kue jika dapurnya semewah ini.
"Kamu suka kue apa? Biar kita membuatnya."
Tampak kebahagiaan terpancar dari bola matanya yang jenaka.
"Aku ingin menikmati olahan dari cream yang lembut semua berbahan strawberry atau pun yang dicampur strawberry."
Ele berkedip tanda setuju. Ia memilih bahan di atas meja. Tangannya begitu cekatan mulai mencampur adonan dalam baskom stainless yang besar.
"Boleh membantuku membersihkan strawberry?"
Telunjuk Ele mengarah ke sudut ruangan. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Sambil mencampur adonan.
"Aku tak pernah tahu, kau suka masak kue. Ele. Apa kau mengikuti kursus membuat kue?"
Pandangan Ele beralih sebentar ke arah Alvin. "Tiap tanganku bersatu dengan tepung, ada kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa aku jabarkan lewat kata-kata. Begitu kue buatanku masak, aku seperti seorang ibu yang baru saja melahirkan. Bahagia tak terkira."
Tawa Alvin pecah menyadari perkataan Ele yang sedikit konyol itu. Kue dari olahan strawberry buatan Ele selesai juga dicetak. Alvin memasukkannya ke dalam oven.
Ele sedang membersihkan tangannya di wastafel. Sembari menunggu kue itu matang, Ele mengambil kue yang sudah lebih dulu masak dan memberikannya kepada Alvin.
Alvin dan Ele menikmati waktu mereka berdua. Tersenyum dan saling menyuap sesekali. Seperti pasangan ABG yang baru pertama kali keluar untuk kencan. Tak mau menyia-nyiakan waktu dengan tak saling menatap. Saling mencuri pandang. Mengangumi keindahan lekuk wajah dan binar mata satu sama lain. Saling mengelap bibir masing-masing dengan lembut. Mereka menikmati pagi dengan mengisi kue saja.
Alvin mengeluarkan handphonenya, dan mengarahkan kamera selfi. Ia mengangkat handphonenya mengarahkan ke arah Ele.
"Cekrek! cekrek! cekrek!"
Alvin mengambil beberapa foto mereka sambil berganti pose tertawa bersama, kecupan di pipi dan saling menyuapi. Semua foto itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar bahagia.
BERSAMBUNG
^_^
๐ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐
__ADS_1
๐ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^