LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
BERTINDAK SEMAUNYA.


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Kata โ€œAku Mencintaimuโ€ yang terucap dan terdengar lebih seperti dongeng atau kutukan dibanding janji indah. Pemaksaan ini hanya akan membuat hubungan menjadi hambar....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Setelah kunjungan terakhirnya ke kediaman Smith. Allura tak diizinkan membawa mobil sendiri. Maria mengirimkan supir pribadi untuknya. Tentu saja membuat Allura tak nyaman. Walau bagaimana pun ia harus tetap menjaga sikap di depan aunty Maria.


"Apa anda tidak ingin memenuhi permintaan nyonya Smith?" Tanya Sebastian memulai pembicaraan.


Allura mengembuskan napas singkatnya. Menatap sendu ke arah kaca spion tengah yang memantulkan wajah Sebastian. "Hmm," Jawabnya dengan gumaman singkat.


"Padahal nyonya Smith sangat berharap anda tinggal bersama mereka."


Allura tersenyum tipis, lalu menggeleng lemah. "Saya juga berharap seperti itu. Tapi saya lebih nyaman tinggal di apartemen."


Sebastian mengangguk dan kemudian berbicara. "Saya dengar-dengar apartemen itu pemberian tuan Alvin."


"Hmm." Allura mengangguk tersenyum. "Apartemen itu memiliki banyak kenangan pak, berat rasanya meninggalkannya." Kata Allura diikuti dengan helaan napas panjang.


"Maaf, saya membuat anda sedih, nona."


Allura duduk di ujung, menopang dagunya dan menarik napas dalam-dalam. "Tidak apa-apa pak, saya senang kok. Aku seperti berada di dekatnya. Mengingat kembali kenangan bersamanya."


"Sudah tahu sedih, masih aja banyak bicara, dasar supir brengsek!" Allura mengumpat dalam hati. Sudut bibirnya membentuk seringai tipis. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


"Hmm, anda juga tak perlu takut lagi nona. Jika ada perlu bantuan saya, anda bisa langsung menghubungi saya. Saya siap membantu anda."


"Cih... percaya diri sekali dia. Jika bukan karena aunty, saya tidak mau mempunyai supir pribadi seperti kamu. Yang ada aku tidak bebas. Sialan!"


"Terima kasih pak,"


"Saya sangat berharap tuan Alvin kembali lagi." Raut wajah Sebastian berubah. "Maaf. Sebelumnya saya pernah mendengar rumor beliau kecelakaan dan mayatnya dibuang karena tidak diketahui identitasnya."


"Aku berharap rumor itu benar. Jika dia mati, kemungkinan kekayaan Smith jatuh ke tangan anakku."


"Saya mengerti apa yang anda rasakan. Semoga nona Allura kuat melalui semua ini."


"Astagaaa... dia mengguruiku?"


"Dan yang saya lihat anda kuat." kata Sebastian menimpali.


Allura lagi-lagi tersenyum palsu. "Saya kuat menghadapi semua ini pak, saya sudah pernah melalui lebih dari ini. Apa pun akan saya lakukan, demi anak yang saya kandung."


"Benar. Anda memang harus semangat." Sebastian mengepalkan tangannya untuk menyemangati Allura. "Semangat nona!" Ucapnya lagi. Ia percaya gadis cantik ini bisa melalui cobaan berat ini. Dia wanita kuat dan tangguh. Sebastian kembali tersenyum. Wajahnya kembali fokus pada kemudi dan jalanan.


Allura tersenyum simpul penuh arti." Iya, pak. Waktu berlalu begitu cepat. Terlalu cepat, hingga kita tidak menyadari banyak hal yang kita sesali setelah terjadi seperti ini. Tapi kita tak perlu melihat ke belakang lagi. Karena aku percaya, masih ada masa depan yang lebih indah di depan saya. Saya bisa melihat Alvin kedua dalam anak ini."


"Anda sudah seperti nyonya Smith. Bahkan aku yakin, nona bisa lebih hebat dari beliau. Nyonya Smith bahkan masih bisa tersenyum, sementara Alvin adalah anak tunggal mereka."

__ADS_1


"Lama-lama buat kesal nih lelaki, ceramahnya panjang banget." Allura memakinya dalam hati sambil melemparkan tatapannya ke arah jalanan.


Tapi Allura tetap bisa memasang wajah sendu, ia tidak ingin Sebastian tahu seperti apa dia. Allura melengkungkan bibirnya lagi sambil menarik napas dalam. "Terima kasih pak Sebastian. Aku bahagia, setidaknya aku masih dikelilingi orang-orang baik."


Sebastian tersenyum saat mendengarnya. Ia menutup pembicaraan singkat itu. Ia kembali memacu gasnya membelah keheningan malam. Sementara Allura menatap keluar jendela dengan pandangan tak terbaca. Sudut bibirnya melengkung ke atas. Setidaknya ia sudah menang satu langkah. Sekarang tinggal menunggu kekayaan Smith jatuh ke tangannya. Anak ini akan mengendalikan itu semua nantinya.


Mereka membelok dan memasuki apartemen mewah.


"Turunkan saya di sini pak,"


"Di sini?" Lirik Sebastian bingung. "Tapi apartemen anda masih jauh ke depan."


"Ah," Allura tersenyum. "Saya ingin berjalan kaki sebentar sampai ke apartemen."


"Oh, begitu." Sebastian mengangguk paham. "Suasana malam di tempat ini memang sangat menyejukkan nona. Baiklah, saya akan menepi."


Sebastian pun menepikan mobilnya. Jarak tersebut masih cukup jauh. Sekitar 300 meter dari apartemen.


Allura pun turun dari mobil. "Terima kasih pak,"


"Sama-sama nona, besok saya akan kembali menjemput anda."


"Jemput lagi? sampai kapan? ini benar-benar membosankan."


Allura tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan mobil sedan hitam itu meninggalkannya. Ia pun berjalan menuju apartemennya. Langkah-langkahnya begitu pelan sambil menikmati suasana malam.


"Kau memang wanita keras kepala yang tak bisa di mengerti." Tiba-tiba terdengar suara bariton dari seorang lelaki tepat di belakangnya. Suara itu begitu tegas dan terdengar berat.


Allura terkejut saat mendengar suara itu. Ia segera membalikkan badannya dan melihat Arlo di sana dengan tangan bersedekap. Posisinya sangat santai sambil menyilangkan kakinya. Ia bersandar di depan mobil sedan hitam miliknya. Allura tersenyum kecut, menatap sinis ke arah lelaki itu.


Arlo berjalan dan mendekat ke arah Allura. "Itu tidak akan terjadi, bahkan untuk memikirkannya saja aku tidak mau. Kau tidak bisa jauh dariku."


Allura tertawa hambar. Kalimat itu terlalu menggelikan menurutnya. "Kau siapa? kekasih bukan, saudara bukan, teman juga bukan. Apa hakmu mengatakan itu?"


"Apa?" Arlo menaikkan alisnya setengah. Menatap tajam ke arah Allura.


Allura tidak perduli, ia berjalan sambil menyikut lengan Arlo. Arlo tampak kesal dengan sikap Allura yang selalu mengabaikannya.


"Apa maksudmu Allura? Aku bukan siapa-siapa? Cinta satu malam itu apa artinya?"


Allura menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah Arlo yang menurutnya terlalu naif. "Itu hanya kesalahan dan kau tidak perlu memikirkannya."


"Tapi aku tidak!" Arlo meninggikan suaranya. "Aku tidak bisa melupakan malam itu. Kenangan itu berarti untukku dan aku sudah pernah mengatakan, aku mencintaimu."


Allura memasang tampang datar dan dingin. "Tapi aku tidak pernah mencintaimu."


DEG!


"Apa?" Kata Arlo tak suka. "Setidaknya kau bisa merasakan bagaimana tulusnya cintaku, Allura."


"Kau terlalu banyak drama, aku tidak butuh cinta." Kata Allura meninggalkan Arlo. Ia melangkah cepat. Namun Arlo kembali mengikutinya. Arlo memang lemah dengan cinta. Ia bisa saja melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta.


"Jangan ikuti aku!" Bentak Allura menoleh sekilas ke arah Arlo.


Namun Arlo tak perduli, ia hanya diam di sana dan terus mengikuti langkah Allura. Rahangnya mengencang kuat menahan amarah. Hingga sampai di apartemennya. Allura memperlambat langkahnya saat melihat lima pria sudah berjaga di depan pintu apartemennya. Allura membuang napas kesal. Ia mempercepat langkahnya, membuka pintu dan segera menutupnya. Namun sebelum itu terjadi Arlo menahannya dan mendorong pintu itu hingga Allura terhuyung ke belakang.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Allura karena begitu terkejut. Untung saja ia tidak terjatuh. "Sebelum aku teriak, sekarang kau keluar!!!!" perkataan Allura begitu tegas, ia tidak takut sama sekali.

__ADS_1


Habis kesabaran, Arlo mencengkram rahang Allura cukup keras dan mendorongnya hingga terduduk ke sofa. Allura mengerjap dan sangat terkejut.


"Lepaskan!" Allura berontak dan berusaha melepas cengkraman tangan Arlo.


Namun Arlo menahan lengannya dan semakin mencengkram dengan erat. Arlo sengaja melumpuhkan pergerakan Allura yang tidak berarti dibandingkan dengan kekuatannya.


"Jangan pernah bermain-main denganku. Aku sudah katakan, aku mencintaimu."


"Eeeh....Eeeggghhhh..." Allura merasa kesakitan saat jari-jari Arlo menekan kuat sisi rahang bawahnya. Ia bahkan mengangkat wajah Allura ke atas.


"Jika kau menurutiku, aku tidak akan berbuat kasar kepadamu."


"Lepaskan aku," Allura mencoba bersabar dengan tindakan Arlo. "Aku tidak pernah mencintaimu. Aku mencintai Alvin."


"Kau pikir aku bodoh, kau tidak pernah mencintai Alvin. Kau hanya menyukai hartanya."


"Terserah! yang jelas, kau tidak bisa memaksaku untuk mencintaimu."


"Tidak, aku akan membuatmu mencintaiku. Kau harus sadar Alvin sudah mati!" Arlo tersenyum sinis. Rahangnya mengeras. Ia menatap Allura dengan tajam.


"Eeeggghhhh...." Rahangnya semakin dicengkram kuat. "Le-lepaskan!" Allura semakin kesakitan.


"Aku mencintaimu, Allura." Arlo memegang ke dua tangan Allura dan membaringkannya dengan paksa. Mata Allura melotot sempurna dan berusaha melakukan perlawanan.


"Aku sangat mencintaimu. Kau harus sadar itu." Arlo dengan cepat Mlumat kasar bibir Allura.


"Mmmmpppp" Allura menggeleng ke kiri dan kanan. Berusaha menghindari ciuman itu. Allura juga takut anaknya terjepit karena tubuhnya yang besar.


Namun Arlo tetap berusaha mendapatkan bibir Allura. "Aku mencintaimu Allura. Aku lebih dulu mencintaimu dari Alvin." Mata Arlo berkabut, tatapannya menginginkan Allura.


Kaki Allura meronta-ronta. Namun Arlo menindih kakinya dengan kaki Arlo. Ia semakin kesulitan melepaskan diri.


"Malam itu kita saling menginginkan dan wajahmu tidak bisa berbohong."


"Kamu harus sadar, kau yang membuatku mabuk Arlo." Allura mencoba melepaskan diri. Ciuman menjijikkan ini sama sekali tidak diinginkannya.


Arlo tak perduli, ia kembali melahap bibir Allura dengan rakus lalu menariknya dengan paksa. Dengan susah payah Allura mencoba melawan.


"Katakan kau mencintaiku."


Allura menggeleng, Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menunggu, Arlo menyelesaikan aksi bejatnya. Dia hanya pasrah, tubuhnya tak lagi menegang. Saat melihat Allura tidak melakukan perlawanan lagi. Arlo mengerutkan keningnya. Ia menarik tubuhnya menjauh dari Allura.


"Kau sudah puas?" ucap Allura dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf, aku tidak bermaksud bersikap kasar kepadamu." Ucap Arlo masih berada di atas Allura. Ia menahan tangannya agar tidak menindih tubuh Allura.


Allura tak menjawab, ia memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Arlo. Lelaki keras kepala yang selalu bertindak semaunya itu.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2