LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
STRAWBERRY CAFE


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Berbahagialah bukan hanya karena segala sesuatunya baik, tetapi karena kamu masih mampu melihat hal baik dari segala sesuatu yang ada....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Sampai di cafe, Ele langsung mengikuti briefing pagi dengan team untuk membagi target penjualan, sekaligus mereview berapa pencapaian target bulanan hingga hari ini. Di meja, layar yang ia nyalakan langsung memampang angka. Trend penjualan beberapa bulan ini, warna merah yang jadi alarm pencapaian team yang selalu memberinya support. Setumpuk laporan berdesakan di kiri meja. Grafik, pie chart dan deretan angka terpampang di atasnya.


Ketika semua team penjualan sudah kembali ke peraduan, Ele masih saja berkutat dengan angka. Menjumlahkan pemasukan masing-masing area. Membandingkan dengan target, dengan pencapaian bulan sebelumnya. Suara pesan masuk di handphonenya memberikan sedikit jeda. Ele melihat sekilas ke layar, rupanya itu dari temannya Raymond yang bertanya kapan ia pulang. Segera Ele membalas pesan itu.


"Sebentar lagi Ray. Aku sedang mabuk angka." tak lupa Ele membuat gambar emoji wajah dengan stiker tertawa.


Kemudian Ele meletakkan kembali handphonenya. Tak ada balasan lagi. Ia kembali berkutat di depan layar komputernya. Ele tahu betul bagaimana perjuangannya hingga sampai ke titik ini. Ia memanfaatkan uang tabungannya dari hasil penjualan rumah dan perkebunan strawberry. Menjadi bukti bahwa Ele memang ngotot untuk membuka cafe sesuai dengan impiannya.


Ele menamakannya Strawberry cafe sebagai tanda bukti cintanya kepada Alvin. Dia di dukung oleh dua suster yang telah menyelamatkannya. Lokasi tempatnya cocok, terletak di dataran tinggi dengan suhu yang sangat dingin dan sejuk.


Saat memasuki pintu utama, para pengunjung akan disambut dengan konsep terbuka. Di depan cafe tersedia dua meja berderet tepat berada di bawah rimbunnya pohon. Dan di belakang cafe hamparan perkebunan strawberry inilah yang menjadi daya tarik di strawberry cafe. Sebuah impian bisa bersantai saat memetik buah strawberry. Dan pengunjung bisa meminta kepada pelayan cafe untuk menyajikan kue dari olahan strawberry yang dipetik langsung. Cafe ini benar-benar menjadi tempat peneduh alami, bagi siapa saja yang datang.


Untuk mengukuhkan strawberry cafe sebagai tempat bersantai yang baik, konsepnya pun dibuat sedemikian rupa sehingga menyenangkan bagi berbagai usia dan latar belakang. Beberapa permainan masa kecil disediakan untuk menemani pelanggan.


Strawberry cafe bukan hanya menjadi sebuah tempat untuk berkumpul, ngopi dan makan-makan tetapi juga bisa menuangkan ide melalui distro tempat untuk membuat kaos custom sesuai selera dan beragam merchandise. Konsep inilah yang membuat Strawberry kafe berbeda dengan tempat makan lain yang ada. Dan sampai sekarang cafe ini banyak dikunjungi dari beberapa daerah.


Ele tersenyum melepaskan lamunannya. Ia tak menyadari hari telah berganti malam. Hari cukup panjang, ia masih bergelut dengan pekerjaan yang bisa dikejarnya. Pekerjaannya benar-benar menumpuk dan sedikit demi sedikit bisa diselesaikan. Ele bahkan melupakan teh yang telah disediakan untuknya.


Ele menarik napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya dengan tangan. Ia merenggangkan otot-ototnya, dengan rasa letih yang menggunung, punggungnya terasa pegal dan pinggang rasanya mau copot. Ele menatap langit-langit ruangannya. Mencoba untuk melupakan bayang-bayang Alvin. Namun ia tak bisa melupakan itu dengan mudah.


Huuuuffft! Ele membuang napas panjang. Ia mencoba untuk tenang. Ele menyudahi pekerjaannya. Mungkin ia harus mengecek pekerjaan karyawannya terlebih dahulu, sebelum Ele pulang.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Sementara di sisi lain. Para pelayan strawberry cafe itu sedang sibuk mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk bos mereka. Mereka mendekorasi cafe sebagus mungkin agar bos mereka senang. Tak bisa mereka bayangkan, bagaimana ekspresi bosnya saat menerima kejutan ini.


"Bos bentar lagi keluar, cepat selesaikan!" titah manager cafe bernama Oliv.


Para pelayan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka menambah kecepatan tangan, dan kaki mereka.


"Semuanya sudah selesai, bu Oliv," ucap waiters wanita bernama Angel.


"Bagus, sekarang matikan semua lampu, aku yakin bos akan keluar dari ruangannya." ucap Oliv tak sabaran.


"Baik, bu Oliv." balas Angel.


Lima menit kemudian ....


CEKLEK!


Terdengar pintu tertutup dan para waiters yakin bahwa itu adalah bos mereka. Ele melangkah anggun di koridor cafe. Matanya memicing saat lampu tidak menyala.


"Kenapa lampu mati? Apa mereka sudah pulang?" Batin Ele, ia masih tak percaya. Ini masih pukul tujuh, cafenya sudah di tutup oleh karyawannya.


"Oliv! Oliv!" Panggil Ele sambil melangkah untuk menghidupkan lampu.


Dan tiba-tiba.


"SELAMAT ULANG TAHUN, IBU ELE, BOS TERBAIK DAN PENGERTIAN!" Ucap mereka bersamaan.


Hamburan pita dari konfeti yang berwarna warni mengkilap memeriahkan tempat itu dibarengi dengan sorak-sorai dari pelayan-pelayan yang bekerja di sana, yang ikut meramaikan acara ulang tahun Ele.

__ADS_1


Karena kejutan itu berhasil membuat Ele tercengang, Ia terkejut dan sangat terkejut. Mulutnya membulat sempurna dan ia tersenyum bahagia. Matanya berkaca-kaca penuh haru saat momen ini pernah juga ia terima dari Alvin dan sahabatnya Amira.


"Kalian....?" Ele tak dapat melanjutkan kalimatnya.


Semuanya tertawa bahagia termaksud Oliv dan semua pelayan cafe yang ikut merencanakan kejutan ini. Soal berantakan urusan nanti, yang penting bahagia dulu.


"Kapan kalian menyiapkan ini?" Ele menahan haru, hampir saja ia ingin menangis. Ele tak bisa melukiskan perasannya saat ini.


Oliv melangkah mendekat ke arah Ele. "Kami menyiapkannya saat ibu sibuk di ruangan kerja." Oliv terkekeh saat melihat ekspresi terkejut dari Ele. Kemudian wajahnya berubah sendu. "Selamat ulang tahun ibu Ele. Bahagia selalu dan semoga cepat dapat jodoh. " Oliv memeluk Ele beberapa detik dan kemudian melepaskannya.


"Ini untuk, ibu." Ucap Oliv menyodorkan hadiah yang dibungkusnya dalam kotak.


Wajah Ele mengerucut menahan tangisannya, Ia mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah boneka lucu dan tentunya bukan hanya itu saja. Boneka itu bisa bicara.


"Ini bagus sekali, Oliv. Terima kasih." Ele langsung memeluk Oliv lagi.


"Sekarang, giliranku!" Ucap Angel membawa kotak persegi panjang pipih dan memberikan kepada Ele.


"Ini untukku?"


"Hmm. Bukalah, bu!" Kata Angel tersenyum.


Ele pun membuka kotak persegi panjang pipih itu. Isinya sebuah foto-foto selama mereka mengadon kue, memetik buah strawberry, kegiatan sabtu bersih, bahkan kegiatan hari Minggu makan bersama dengan seluruh karyawan di cafe itu. Semua momen bahagia bersama orang-orang yang ikut andil membangun cafe ini untuk lebih baik lagi.


Ele tersenyum haru saat melihat foto-foto itu. Dan tiba-tiba suasana berubah hening. Lagu favorit Ele A million dreams terdengar mengalun indah dan membuat semuanya ikut menikmati lagu itu.


'Cause every night I lie in bed.


The brightest colors fill my head.


A million dreams are keeping me awake.


I think of what the world could be.


A vision of the one I see.


A million dreams for the world we're gonna make.


Ele lagi-lagi terharu, ketika yang memutar lagu itu adalah Liliana. Lagu ini sangat berarti bagi dirinya yang selalu mengiringi perjalanan hidupnya. Lagu ini seakan mengandung motivasi yang kuat. Bahwa ia tetap harus yakin dan semangat. Bahwa suatu hari nanti hidupnya lebih baik lagi. Sampai detik ini Ele percaya dengan itu. Tekad dan semangatnya lah menghantarkannya ke titik ini.


Acara perayaan ulang tahun Ele pun berjalan dengan lancar.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Bar dan barbeque resto.


"Bersulang untuk ibu Ele!!!" Teriak Angel antusias saat mengangkat gelas birnya dengan wajah tersenyum ceria.


Ele dengan yang lainnya langsung ikut mengangkat gelas birnya ke tengah meja dan bersulang.


"Ceeerrrrsssss,"


TING! TING! TING!


Bunyi permukaan gelas yang saling bersentuhan terdengar begitu nyaring di sana. Mereka langsung meminumnya dengan tegukan mantap bersama-sama.


"Ahhhhh..." D*sah Ele langsung mengelap bibirnya.


Oliv dan yang lainnya juga ikut m*ndesah bersama. "Aaahhhh..."


Mereka kembali tersenyum dan tertawa. Tidak ada jarak antara bos dan karyawannya. Ele menganggap mereka adalah keluarganya. Liliana mulai sibuk memasang kompor gas di tengah meja dan menaruh olesan mentega ke atas pan grill. Aroma wangi mentega yang lumer menyerbak, menggoda hidung bagi siapa saja yang menciumnya. Oliv pun bersiap menaruh irisan daging sapi tipis di atas pan yang sudah panas itu.


Oliv tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ele.


"Oya, ibu Ele?" Panggil Oliv.

__ADS_1


"Hmm?" Ele mengangkat alis merespon panggilan Oliv dengan sambil tersenyum.


"Anda mengundang teman anda yang tampan itu juga, kan? kalian terlihat begitu dekat? apa kalian pacaran?"


"Uhukkkkk.... uhukkkkk...." Ele tiba-tiba batuk.


"Ibu Ele, anda tidak apa-apa?" Ucap Oliv dengan nada khawatir.


"Ah, aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa." Ele menatap ke arah Oliv.


"Jadi benar, ibu Ele pacaran dengan dia?"


"Aku dengan Raymond tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas teman."


"Benarkah? bisa jodohkan ke saya, bu?"


"Mana mangkukmu, manager Oliv? sebentar lagi dagingnya masak." Liliana mengalihkan pembicaraan.


"Ah, iya." Oliv langsung mengangkat mangkuknya ke arah Liliana. Menyambut daging yang sudah dijepit Liliana untuknya.


"Mangkuk ibu Ele," tanya Liliana menjepit kembali daging matang yang masih mengepulkan asap dan aroma khas yang menggugah selera.


Ele pun langsung mengangkat mangkuk nasinya ke arah Liliana sambil tersenyum manis. "Terima kasih, Liliana."


TOK TOK TOK!


Raymond mengintip di ujung pintu.


"Selamat malam, maaf aku terlambat."


"Eh! Raymond," Sapa Ele sambil tersenyum. "Ayo, duduk, Ray! Kita baru saja mulai."


Raymond mendekat ke arah Ele dan memberikan kotak hadiah yang sudah disiapkannya. "Selamat ulang tahun, Ele."


Ele menyambut kotak itu. "Ini untukku?"


Raymond mengangguk, menggeser kursinya dan duduk di samping Ele.


"Terima kasih Ray, harusnya kamu gak usah repot-repot."


"Tidak masalah Ele,"


Ele meletakkan kotak hadiah itu disampingnya.


"Ini, Ray. Ambil punyaku. Kamu makanlah!" ucap Ele mendorong mangkuk miliknya ke depan Raymond.


"Ah...." Raymond tersenyum sambil menunduk. "Terima kasih, Ele."


Ele membalas dengan senyuman lebar. Ia kembali menyeduk nasi dan di masukkan ke dalam mangkuk lain untuk dirinya sendiri.


"Kenapa lama sekali tuan tampan, apa jalanan macet?" tanya Oliv sambil memasukkan potongan irisan daging ke mulutnya.


Raymond tersenyum sambil menggeleng. "Tidak juga. Aku bertemu teman satu sekolah dulu, yang kebetulan menginap di hotel ini."


"Kenapa tidak membawanya sekalian?"


Ele menatap ke arah Oliv. "Makanlah dulu, setelah ini kita ke karaoke. Pelayanan di hotel ini lengkap, kita bisa langsung ke ruang karaoke."


Raymond dan yang lainnya mengangguk antusias. Mereka menikmati makanannya sambil berbincang-bincang kecil.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2