
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Karena kata-kata tidak pernah bisa menjadi jaminan untuk hubungan yang kuat bertahan. Karena walaupun hari ini kau bahagia karena gombalannya, esok kau bisa tidak terima karena sikapnya....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alvin mengendarai mobilnya sendiri. Ia meminta Marvel untuk beberapa hari ini tidak menyetir untuknya. Alvin menarik rem tangan sambil melepaskan napas panjang. Ia memilih turun dan melangkah menuju apartemennya.
CEKLEK!
Pintu terbuka. "Heh..." Alvin terkejut saat melihat ayahnya sudah berdiri tegap di ruangan apartemennya.
"Ayah?"
Lukas membalikkan badannya, menarik napas singkat memandang ke arah Alvin.
"Ayah datang dan tidak mengabariku? dimana ibu?" tanya Alvin mengedarkan pandangannya mencari sosok ibunya. Ia melangkah berjalan ke arah Lukas.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Alvin lagi. Ia tersenyum seperti tidak ada masalah.
"Hmm." Jawab Lukas bergumam.
"Kenapa tidak menghubungiku? aku bisa pulang cepat dari kantor." Ucap Alvin tersenyum. Ia mengajak Lukas duduk di sofa.
Lukas tidak menjawab, ia hanya menarik napasnya dengan berat. Mencoba tetap tenang. Setelah melakukan ritualnya, Ia pun duduk di sofa tanpa ekspresi.
"Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan minuman untuk ayah." Alvin berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan sesuatu kepada ayahnya.
"Tidak perlu repot-repot," Ucap Lukas setengah berteriak. Ia masih bingung dengan sikap Alvin, seumur hidup ia tidak pernah seperti ini. Apalagi menyiapkan minum, Alvin tak pernah melakukan itu.
"Tidak repot kok ayah." Sahutnya dari dapur sambil tersenyum kecil.
"Kenapa tidak ajak ibu?" Alvin muncul dan membawakan wine dan cemilan kecil untuk mereka nikmati.
Lukas menarik napasnya lagi saat melihat Alvin bersikap biasa saja tanpa memikirkan Allura. Ia menggeleng tak percaya.
"Ibu di rumah. Ayah baru bertemu dengan teman dan langsung ke sini." jawab Lukas.
"Ibu akan mencarimu?" Bisik Alvin terkekeh. Lukas hanya tersenyum samar.
Lagi-lagi dahinya mengerut saat melihat Alvin menuang wine ke gelas cantik berkaki itu, Lukas langsung menolaknya. "Ayah hari ini tidak minum."
Alvin mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. "Baiklah, ayah makan ini saja." Alvin membuka cemilan itu.
Alvin dikenal, lelaki keras kepala dan tak pernah memikirkan perasaan orang. Namun, dalam hal bekerja ia mempunyai kepribadian pemikir yang mengutamakan kesempurnaan, ciri khasnya rapi, teratur, terstruktur dan terjadwal, serta teliti dalam menganalisa sesuatu. Kondisi ini membuat Alvin sering kali terbawa perasaan sehingga cenderung negatif thinking sama orang. Alvin juga sulit menerima kritik jika ia masih di posisi benar.
Lukas mendesah dan menatap langsung ke mata Alvin. "Alvin?"
Alvin menghentikan aktivitasnya dan duduk di depan Lukas. Ia membalas tatapan ayahnya. Walau Alvin tahu, maksud dan tujuan ayahnya datang ke sini.
"Sejak acara ulang tahun Allura, kau tidak pernah kembali ke rumah dengan alasan keluar kota. Kau bahkan tidak menanyakan kabar istrimu." ucap Lukas to the point. Ia sudah tak bisa membiarkan Alvin mengabaikan istrinya. Apalagi saat ini Allura tengah mengandung. Tentu saja Lukas tidak bisa diam.
Mendengar itu, Alvin menarik napas singkat untuk menguatkan hatinya. Ia menatap ayahnya tanpa ekspresi.
"Apa kau masih memikirkan gadis itu?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Ele. Jadi ayah jangan membawa Ele dalam pembicaraan kita."
"Jadi apa yang membuatmu seperti ini? Allura sering menangis karena kau mengabaikan panggilannya. Dimana hati nuranimu sebagai seorang lelaki." Suara Lukas mulai meninggi. Ia tak tahan dengan sikap santai Alvin.
Alvin menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba untuk meredam amarah ayahnya yang mulai tersulut. Alvin tidak ingin masalah ini semakin keruh. Ia hanya ingin perlahan-lahan memberitahukan seperti apa Allura yang sebenarnya. Allura juga bukannya orang yang mudah dihadapi. Ia tidak akan mudah menyerah. Walau rasanya tidak enak karena akan membuat energi, emosi dan tenaga juga terkuras.
"Jawab aku, Alvin! Dimana hati nuranimu. Apakah hatimu sudah beku karena wanita sialan itu?"
__ADS_1
Tangan Alvin mengepal saat nama Ele dibawa-bawa lagi. "Hati nurani apa maksud ayah? bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu?"
Wajah lukas berubah. Sudut matanya mengerut bingung. "Apa maksudmu?"
"Sampai kapan kalian akan membohongiku ayah?" Alvin mencoba tenang walau rahangnya mengencang. Ingatan kecelakaan itu seakan berputar acak di dalam pikirannya lagi. Menghubungkan kembali pada kejadian-kejadian yang tak ingin diingatnya. Jantung Alvin berdetak kencang, menahan napasnya karena orang tuanya telah membohonginya.
Lukas semakin tidak mengerti, ia menatap nanar dan kembali bicara. "Apa ada yang salah, kebohongan apa maksudmu?" ucap Lukas mencoba tetap bersabar.
Alvin menguatkan hatinya, bibirnya mengulas senyum tipis. "Sejak kapan aku menikah dengan Allura?"
DEG!
Jantung Lukas berdetak kencang di dalam rongga dadanya. Matanya lurus menatap ke arah Alvin. "A-apa maksudmu? Kalian sudah menikah, bagaimana mungkin kamu tidak mengingatnya." Lukas mencoba menyangkalnya.
Alvin tersenyum smirk. "Ingatanku sudah kembali ayah. Aku tidak pernah menikah dengan Allura."
Waktu terasa berhenti sejenak. Suasana seakan melingkupi atmosfer ruangan itu. Hening, Lukas tak juga bicara. Hanya terdengar di sana, suara detak jantung Lukas yang bergemuruh di dalam rongga dadanya.
"Kau sudah ingat semuanya. Kapan itu?" Lukas tak bisa menutupi rasa terkejutnya.
"Aku tidak datang ke acara ulang tahun Allura, karena saat itu aku sudah tahu kebenarannya."
"Aa-apa?" Lukas mengepalkan kedua tangannya. "Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?"
Alvin menarik napasnya dalam-dalam, mengunci pandangan kepada ayahnya yang nampak begitu terkejut saat ia mengatakan kebenaran. "Aku butuh waktu untuk menenangkan diri."
Lukas mendesah panjang. "Maafkan kami. Memang benar, kalian belum menikah. Tapi karena apa? Karena kau tiba-tiba menghilang."
"Tapi kenapa foto pernikahan bisa dipajang dimana-mana? Apa aku terlihat bodoh, ayah?"
"Bukan seperti itu Alvin." Lukas mencoba memberi pengertian. "Semua itu kami lakukan demi anak yang dikandung Allura."
Alvin memalingkan wajahnya. "Anak itu bukan anakku, ayah."
"Apa???"
"Aku meninggalkan Allura, karena ia mengandung anak orang lain." Alvin mempertegas ucapannya.
"Tidak mungkin, Allura jelas-jelas mengatakan itu adalah anakmu. Jangan bohong kamu Alvin, apa karena wanita itu, kau tidak mengakui darah dagingmu sendiri?"
"Aku sudah bilang, jangan membawa nama Ele di sini. Dia tidak tahu apa-apa, ayah." Emosi Alvin mulai tersulut. Ia menatap tajam ke arah ayahnya.
Wajah Lukas menegang kaku. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar oleh keterkejutannya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. ia terdiam dan terus menatap Alvin. "Aku masih belum percaya dengan semua ini."
Alvin tersenyum sambil membuang wajahnya. "Itu kenyataan ayah. Allura memanfaatkan keadaan di saat aku hilang ingatan. Dia wanita licik yang tidak punya hati." Kata Alvin menahan geram.
"Allura baik, dia tidak seperti itu." Lukas menggeleng.
"Ayah tidak tahu seperti apa Allura. Jadi beri aku kesempatan untuk membuktikannya."
Lukas menarik napasnya yang semakin berat. Bagaimana mungkin Allura tega membohongi mereka. "Jadi anak itu, anak siapa?"
"Aku masih mencari tahu."
"Jadi, apa karena itu kau pergi?"
"Hmmm. Aku tidak akan memaafkan orang yang telah membohongiku ayah."
"Apa kau merencanakan sesuatu?"
"Aku menyerahkan semuanya kepada Marvel."
"Heuh? Jadi Marvel juga sudah tahu semua ini?"
"Iya, ayah. Marvel sudah tahu bahwa ingatanku sudah kembali."
Lukas mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih tak percaya dengan semua ini.
"Untuk saat ini, ayah tetaplah bersikap biasa saja. Aku hanya menunggu waktu yang baik untuk membongkar kejahatan Allura dan lelaki itu."
"Siapa itu?"
__ADS_1
"Aku masih kurang yakin ayah. Ingatanku belum sepenuhnya kembali. Tapi semoga yang aku pikirkan tidak terbukti."
"Baiklah. Ayah serahkan kepadamu."
Alvin mengangguk, ia menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan perasaannya. Mereka kembali larut dalam pemikiran masing-masing.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Saat kepergian ayahnya. Tiba-tiba kepala Alvin terasa sakit. Ia duduk di sofa dan memegang kepalanya dengan erat. Trauma akan kecelakaan itu kembali menyeruak. Alvin menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Ia meletakkan tangan ke dahinya dan memejamkan mata.
"Heeeehhh." Alvin bernapas dari mulutnya. Mencoba memasukkan sebanyak mungkin oksigen ke paru-parunya. Tubuh Alvin hampir saja kalah dengan jiwa. Ia tak bisa membendung rasa rindunya.
"Aku sangat merindukan Ele, tapi tunggu waktunya tiba. Aku akan membawamu ke sini."
Tiba-tiba handphone yang ia letakkan di atas nakas berdering.
Dddrrrttt.... dddrrrttt....!
Alvin dengan cepat meraih ponselnya dari atas meja, melihat layar handphonenya, ternyata panggilan itu dari Marvel. Ia melihat sekilas jam yang ada di dinding ruangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Alvin menghela napas panjang, lalu memilih untuk menjawabnya.
"Hmm, ada apa Marvel?" ucap Alvin sambil mengusap wajah dengan kasar.
"Saya sudah reservasi restorannya tuan."
"Restoran itu harus sepi tidak ada pengunjung lain. Saya hanya ingin bicara berdua di sana."
"Seperti yang anda minta, saya sudah mem-booking restoran itu untuk tiga jam, tuan. Semuanya pasti aman."
"Baiklah, jam berapa?" tanya Alvin menunduk sambil memijit pelipisnya.
"Jam tujuh malam tuan."
"Oke, nanti aku langsung ke sana."
"Apa saya langsung ke sana menjemput anda tuan?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Baik tuan."
"Bagaimana pertemuan dengan pak Bram tadi. Apa semua berjalan lancar?"
Marvel tersenyum saat mendengar itu. Disaat bosnya sedang frustasi. Beliau masih bisa memikirkan pekerjaan.
"Semuanya berjalan lancar tuan. Apalagi tamu dari Filipina bisa menggunakan bahasa kita. Semuanya aman dan menyetujui banding profit yang kita ajukan."
Alvin menarik napasnya dan tersenyum kecil di ujung telepon. "Baguslah jika seperti itu. Aku bersyukur pihak dari mereka menyetujuinya dengan cepat. Karena yang kita tahu mereka sangat sulit untuk itu."
"Benar tuan."
"Bagaimana soal penandatanganan kontrak?"
"Mereka langsung melakukannya saat itu juga. Mereka tidak bisa berlama-lama di sini tuan. Karena Pak Bram ingin berkunjung ke tempat wisata di kota A."
"Benarkah?" Alvin mengangguk lagi. "Baiklah terima kasih atas informasinya, Marvel."
"Sama-sama tuan,"
TIT
Panggilan langsung terputus. Alvin meletakkan kembali handphonenya. Ia tersenyum kecil saat mengetahui kerja sama dengan perusahaan Filipina, bisa berjalan secepat itu. Sekarang ia memikirkan pertemuannya dengan Allura.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1