LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MENIKMATI MOMEN INDAH


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Aku yakin telah menemukan cinta sejatiku. Karena itu, aku nggak akan melepaskanmu, apa pun yang terjadi....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Setelah puas menikmati olahan dengan cream dan cake yang lembut, yogurt dan susu, berbahan dari strawberry atau pun yang dicampur dengan strawberry. Alvin dan Ele melangkah menyusuri perkebunan strawberry. Entah sudah berapa ton strawberry yang dihasilkan perkebunan ini. Ele tak bisa menghitungnya lagi.


Ele tersenyum sendiri. Karena kecelakaan itulah awal pertemuannya dengan Alvin. Seandainya ia tidak membuka cafe strawberry di desa ini, mungkin saja Ele tidak akan bertemu dengan Alvin. Apakah strawberry ini memiliki makna yang begitu dalam atas perjalanan cinta mereka?


Baik Alvin da Ele, sama-sama mempunyai kenangan pedih yang akan teringat jika mengingat strawberry. Namun, semua itu menjadi ditutup dengan kenangan indah hari ini. Hal yang bahagia, dan Ele berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada hubungan mereka. Sebelum atau setelahnya, perkebunan strawberry akan menjadi kenangan indah, menjadi kenangan manis untuk nanti. Beriringan dan berdampingan, semua menjadi bagian hidup.


Dinginnya angin bertiup, membuat Alvin merangkul Ele semakin dekat. Ia melihat ke arah Ele dan tertarik pada rona merah di bibir ranum itu, aliran darah di sana membuatnya nampak hangat. Dan mereka sama-sama butuh kehangatan. Alvin menarik pelan dagu Ele. Tersenyum melihat wajah cantik itu, lalu mencium Ele dengan lembut, menyalurkan kehangatan di sana. Ciuman mereka begitu manis, saling memiliki dan saling mendamba. Hingga akhirnya ditutup dengan senyuman lebar. Beradu senyum, siapa yang paling manis. Dahi saling bersentuhan penuh kasih. Saling mengusap lengan dan saling berpelukan erat. Seakan dunia milik mereka berdua.


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Hari itu berlalu, matahari sudah mau tenggelam, cahaya oranye melingkupi sebagian langit biru. Ele berpamitan kepada karyawannya dan mereka kembali ke mobil mewah milik Alvin. Alvin menyetir dengan perasaan bahagia. Kali ini, Alvin ingin membawa Ele ke pantai yang tak jauh dari lokasi perkebunan Ele. Butuh waktu tiga puluh menit ke sana.


"Ele?"


"Iya, sayang?"


"Terima kasih untuk hari ini. Ini hari yang terindah untukku. Kita dipertemukan kembali dan kau juga bersedia membuatkan kue enak untuk aku nikmati."


Ele tersenyum. "Aku juga bahagia dan aku sangat tersanjung jika kau menyukai kue buatanku."


"Kau chef hebat. Aku mencintaimu."


Ele terkekeh. "Terima kasih atas pujiannya, tuan tampan."


Tak segan-segan lagi Alvin menarik kepala Ele dan mengecupnya. Ia tersenyum. Tidak mau balik ke posisi sebelumnya, Ele malah melingkarkan tangan dan bersandar pada bahu Alvin. Lengan kekar dan bahu itu terlalu menggoda untuk di sia-siakan. Apalagi dalam keadaan lelah. Bahu dan lengan Alvin dua kali lipat lebih nyaman.


Alvin pun memberikan kesempatan kepada Ele bergelayut manja di sana, mengusap-usap lengan kekarnya. Alvin turut sesekali memiringkan pipinya hanya untuk disentuh puncak kepala Ele. Bergesekan dengan puncak kepala yang disayang.


"Apa kamu langsung ke hotel?" tanya Ele.


"Tidak. Aku ingin membawamu menikmati senja di pantai desa Mulia."


"Pantai desa Mulia, Emang ada?"

__ADS_1


"Kamu tidak pernah tahu, di desa ini ada pantai yang begitu indah."


"Benarkah?" Ujar Ele tersenyum penuh antusias sambil membuka kaca mobil. Ia mengeluarkan tangannya, merasakan udara pegunungan kembali.


"Tempatnya benar-benar indah, kau akan menyukainya. Kebetulan dari perkebunan strawberry, hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja. Kau tidak lelahkan?" Alvin melirik Ele sekilas dan kembali fokus ke jalan.


"Aku justru menyukainya, sudah lama aku tidak bisa menikmati liburanku semenjak aku membuka cafe." Kata Ele tersenyum.


"Kita akan sering melakukan itu."


Ele tersenyum sumringah, ia kembali melihat pemandangan.


Mereka kembali menikmati jalanan pegunungan yang sepi dengan pemandangan pepohonan hijau yang sejuk, membuat Ele menikmati dengan baik. Ia kembali menatap keluar jendela dengan pandangan sendu.


"Ayah, ibu. Sekarang aku tidak bersedih lagi. Kini aku menemukan cintaku untuk tempatku berlindung. Ele berjanji tidak akan menangis lagi. Tidak akan bersedih lagi. Berbahagialah di sana ayah, ibu. Jagai Ele selalu, di mana pun Ele berada." ucap Ele berbisik di dalam hatinya dan kembali melihat Alvin dengan tatapan teduh.


Alvin menghentikan mobilnya tepat di titik GPS yang di-setting Alvin sebelum berangkat.


"Tempatnya di sini?" tanya Ele menatap keluar. Mereka sekarang berada di pantai. Ia tidak pernah datang ke tempat ini.


"Hmm," Alvin mengangguk sambil tersenyum. "Sekarang kita turun." Kata Alvin turun lebih dulu di susul Ele.


Alvin menelusupkan tangannya ke samping dan meraih tangan Ele. Menggenggam tangan Ele dengan posesif. Layaknya pasangan normal mereka saling melempar senyum. Menikmati setiap sudut keindahan alam yang di sajikan. Begitu menyejukkan mata. Mengistirahatkan sejenak dari kepenatan masalah kantor. Alvin tersenyum sesekali mencium tangan Ele. Merangkul pinggang kekasihnya dan mengecup pelipisnya. Menyatakan rasa sayang lewat sentuhan-sentuhannya.


Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan jembatan menuju rumah pantai. Pemandangan yang indah dan menakjubkan yang berpadu dengan antara biru laut. Ombak terus menerus menyapu pesisir pantai. Pemandangan sang matahari semakin lama semakin tenggelam oleh gelombang ombak dan akan tergantikan oleh gelapnya malam. Menandakan harmonisnya pergantian dalam hidup ini. Terlihat sebuah ranting dedaunan kelapa yang melambai-lambai di terpa oleh angin. Menandakan begitu indahnya suasana pantai di sore hari.


"Wah indah sekali, sayang." Ucap Ele tersenyum sumringah dengan tatapan berbinar sambil memegang kedua pipinya karena begitu bahagia. Pasir yang putih, air laut yang jernih begitu menyejukkan mata. Ia berjalan sambil memutar tubuhnya. Menengadah ke atas menikmati alam indah. Ia berlari kecil memeluk Alvin dan memberikan bibirnya untuk segera di sentuh. Alvin terkekeh, ia mengecup singkat bibir Ele.


"Kamu menyukainya?"


"Hmmm..." Ele mengangguk dengan pelan. "Indah sekali." Ia tersenyum bahagia menatap ke arah Alvin. Tubuh mungilnya didekap hangat oleh tubuh Alvin. Hatinya begitu tenang dan damai.


Alvin melepaskan pelukannya dan mengajak Ele menikmati alam yang indah dari rumah panggung yang ada di sana. Ele sangat menyukai senja.


Dari rumah panggung. Ele langsung disungguhkan dengan pemandangan panorama alam yang indah. Pancaran cahaya senja yang cahayanya berkilau orange keemasan meneduhkan hatinya. Ele langsung melepaskan tangannya dari Alvin. Ia bersandar pada pagarnya. Ele membuka kedua tangannya, membiarkan angin menerpa wajahnya. Udara pantai benar-benar berbeda.


Alvin mendekat dan memeluknya dari belakang. "Apa kita menginap di sini saja?" Tanya Alvin tersenyum lembut sambil mengeratkan pelukannya.


"Hari ini kau sudah menyerahkan tugasmu kepada Marvel, bisa-bisa perusahaan Smith bangkrut, karena kau mengabaikan tugas penting sebagai direktur utama Smith."


"Tidak masalah, perusahaan Smith tidak akan rugi jika aku tidak bekerja hanya beberapa hari saja."


"Dasar sombong kamu," Ele mencubit pelan lengan Alvin dan saat itu tawa mereka lepas. Alvin kembali mendekap tubuh Ele.


"Tempat ini sungguh indah dan membuatku bahagia, apalagi itu bersamamu." Kata Ele, merasakan pelukan Alvin terasa menggetarkan hatinya. Ia memejamkan matanya menikmati momen kebersamaan ini. "Tapi bukan berarti kita harus menginap di sini. Dua jam cukup untuk menikmati ciptaan Tuhan."


Hati Alvin seketika berubah hangat. "Tetaplah bahagia seperti ini, sayang. Berjanjilah kepadaku."

__ADS_1


Ele membalikkan badannya dan mengalungkan tangannya dileher Alvin.


Tatapan mereka kembali bertemu, Ia menatap Alvin sambil menaikkan alisnya setengah.


"Berjanji apa?"


"Jangan pernah meninggalkanku, apa pun yang terjadi, Ele. Aku tidak ingin kejadian terakhir kali terulang lagi. Hatiku sakit, sampai bernapas saja aku tidak sanggup, jika mengingat itu."


Alvin tertegun lalu ia tersenyum lembut. Ia mengambil telapak tangan Alvin dan menaruh ke pipinya.


"Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu? Aku mencintaimu melebihi apapun selain dari ayah dan ibuku. Jadi jangan pikirkan jika aku meninggalkanmu, berarti itu sama artinya melukai perasaanku."


"Benarkah, sungguh kau tidak akan melakukan itu?"


"Hmmm, tentu saja. Buktinya aku tidak pernah menempatkan lelaki lain di hatiku." Ele memindahkan tangan Alvin dan meletakkan di dadanya. Ia tersenyum penuh arti sambil menaikkan kedua alisnya. "Sekarang, di hati ini hanya ada Alvin Smith."


"Aku juga seperti itu, aku bertahan dan tidak mencintai wanita mana pun karena aku sangat mencintaimu. Sampai sekarang aku tidak membiarkan wanita mana pun memasuki hatiku. Kamu paham itu sayang? " kata Alvin tidak mau kalah.


"Ya, aku mempercayaimu tuan tampan." ucap Ele terkekeh.


Alvin kembali memeluk Ele. "Aku juga mempercayaimu, Eleku. Terima kasih karena tetap menungguku." Alvin semakin mengeratkan pelukannya, ia mencium puncak kepala Ele dengan sayang. Lalu turun ke bibir. Memberikan Lmatan singkat. Mata Ele terpejam dan kemudian membukanya lagi. Ele semakin menyukai ciuman yang memabukkan itu. Ia tersenyum sayu memandang Alvin.


Mereka saling menatap sendu. "Sebentar, aku ke toilet dulu." Kata Alvin mengecup kembali puncak kepala Ele.


Ele hanya mengangguk dan tersenyum. Memandang punggung Alvin yang semakin menjauh. Ia mengambil handphonenya untuk mengambil beberapa foto untuk mengabadikannya.


Dua orang pelayan langsung datang membawakan daftar menu. "Permisi nona, saya membawakan daftar menu. Anda bisa cacat menu yang di inginkan. Nanti pelayan akan datang untuk mengambil catatan ini." ujar pelayan dengan sopan.


"Baiklah, Terima kasih." ucap Ele dengan senyuman.


Ele kembali duduk untuk memesan beberapa makanan untuk mereka. Ia mencacat pesanannya dan langsung memberikannya kepada pelayan yang berdiri dipojok.


"Pesanan anda akan datang secepatnya nona." ucap pria itu dengan sopan, membungkukkan badannya, lalu pergi.


Ele tersenyum sambil menikmati pemandangan yang terhampar indah di hadapannya. Menyejukkan mata. Ia seakan merekam dan menyimpan di dalam memorinya, agar menjadi kenangan.


Nada dering Alvin tiba-tiba berbunyi. Ele sekilas memandang handphone itu. Awalnya ia mengabaikannya. Nada dering itu kembali berbunyi lagi.


"Mungkin penting." batin Ele mengambilnya dari atas meja.


Ia menatap layar pipih itu saat melihat nomor tidak dikenal. Ele mencoba mengangkatnya dan ingin mengatakan jika Alvin sedang di toilet. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya. Dalam hitungan detik, handphone itu terjatuh dari tangannya. Jantungnya berdetak kuat. Tatapan matanya berubah kosong. Ia mengenal suara itu.


BERSAMBUNG


^_^


๐Ÿ”ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜

__ADS_1


๐Ÿ”ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2