
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
...Takdir yang tak bisa ia lukis. Seiring berjalannya waktu semua itu menjauh perlahan. Semakin jauh dan cahayanya semakin menghilang....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Alvin benar-benar mantap ingin menemui Ele di London. Hari ini ia menggunakan coat mantel berukuran panjang dengan bahan tebal dan padat untuk membuat tubuhnya hangat dan nyaman. Karena saat ini kota London masih sangat dingin.
Semenjak tahu keberadaan Eleanor. Alvin seperti mendapatkan kekuatan baru. Ia tidak perlu lagi minta izin dari ayah dan ibunya. Alvin benar-benar mempersiapkan semuanya dengan sendiri. Dari tiket pesawat dan pasport juga. Tak ada yang terlewatkan. Alvin berangkat menggunakan taksi menuju Airport. Ia berjalan santai dan tidak terburu-buru memasuki Airport.
Alvin berdiri mengantri mengunakan kacamata hitam di pemeriksaan pintu keberangkatan. Lalu ia memberikan tiketnya pada petugas pemeriksa melakukan check in dan menunggu di gerbang keberangkatan.
Setelah melalui tahap itu, Ia tidak memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Alvin akan memasukkannya ke dalam kabin pesawat. Karena, Ia tidak mau menunggu lama jika sudah mendarat di London.
Alvin melangkahkan kakinya masuk menuju pesawat. Ia duduk di kelas bisnis. Alvin menarik napasnya dalam-dalam. Semoga pertemuannya dengan Ele berjalan mulus. Ia sudah tidak sanggup menahan rindu ini. Alvin tersenyum haru. Menatap lurus ke depan,
"Tunggu aku sayang," Bibirnya melengkung senyum bahagia. Ia memejamkan matanya ketika pesawat lepas landas dan bergerak di atas permukaan, menjadi terbang di udara.
Setelah penerbangan yang cukup panjang kurang lebih selama dua belas jam. Akhirnya Alvin tiba dengan selamat. Pesawat Boeing xx melakukan pendaratan di Bandar Udaraย Heathrow London. Alvin menghembuskan napas panjang lewat mulutnya. Ada rasa lega ketika penerbangan aman dan tidak kekurangan suatu apapun.
Alvin berjalan melalui pintu pesawat, ia berjalan santai dan mengedarkan pandangannya. Udara dingin langsung menembus kulitnya. Walau hari ini adalah hari terakhir musim dingin. Sebentar lagi musim semi tiba, dan bunga akan bermekaran dengan cantiknya. Salju sudah mencair di setiap jalanan. Dan hari ini adalah hari terakhir bulan februari, dan maret akan datang, begitu juga dengan musim semi. Alvin tersenyum, ia melangkah dengan semangat.
Karena penerbangan luar negeri. Ia harus melalui proses pemeriksaan imigrasi. Setelah memberikan pasport dan dari form imigrasi yang di isinya dari pesawat tadi. Alvin langsung keluar dari pintu kedatangan dan mendorong kopernya.
"Permisi Tuan.."
Alvin berpaling ke arah orang yang memanggilnya. " Hmmmm, ya? "
"Saya utusan dari Mr Orlando, apakah benar, anda benar Alvin Smith?" tanya pria itu dengan sopan.
"Ya, benar saya sendiri." Jawab Alvin dengan wajah berkerut.
"Perkenalkan nama saya Aiden, tuan." Pria itu mengulurkan tangannya menjabat tangan Alvin. "Selama anda disini, saya yang akan menjadi supir anda dan siap mengantar anda kemana pun."
Alvin tersenyum canggung. Ia tidak menerima begitu saja. Bisa saja pria ini penipu menggunakan nama ayahnya. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Alvin kembali bertanya. "Kalau bisa saya tahu, siapa Mr Orlando?"
Aiden melepas senyumnya. "Mr Orlando adalah sahabat dari ayah anda. Bisa dikatakan mereka seperti keluarga. Senang bertemu dengan anda tuan! " Kata Aiden membungkukkan badannya untuk memberi hormat, ia tersenyum ramah.
"Terima kasih." jawab Alvin singkat.
"Silahkan ikut saya Tuan, saya akan mengantar anda langsung ke hotel."
"Maaf Aiden, bisakah anda langsung mengantar saya ke alamat ini?" Alvin memberikan kertas berisi alamat apartemen Ele yang diberikan ibunya.
Aiden menerima kertas itu, ia tersenyum mengangguk. "Dengan senang hati tuan, kita bisa langsung ke sana."
"Terima kasih, Aiden."
__ADS_1
"Sama-sama, tuan." Sahut Aiden dengan senyum ramahnya.
Alvin berjalan mengikuti pria itu dan mereka melangkah meninggalkan bandara dan menuju mobil yang akan membawanya langsung menuju apartemen Ele.
"Apakah anda baru pertama kali ke London tuan?" Tanya Aiden setelah meninggalkan Airport.
"Ya, saya baru pertama kali ke sini. Beruntung saya dipertemukan dengan orang baik seperti anda, Aiden."
Aiden tersenyum. "Mr Orlando dan Mr Smith sudah berteman cukup lama. Jika Ayah anda berkunjung dalam urusan bisnis di sini, Mr Smith akan menghubungi Mr Orlando. Hari ini, beliau langsung memerintahkan saya membawa anda kemana pun. Dan inilah London. Selamat datang di kota London, Tuan."
"Terima kasih atas kesediaannya Aiden. Dengan senang hati, saya pasti menghubungi anda." Alvin tersenyum lebar.
"Jangan sungkan-sungkan jika ingin memerlukan bantuan saya, tuan." Aiden mengingatkan.
Alvin hanya tersenyum menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Aiden. "
Tidak ada pembicaraan lagi, Alvin hanya bisa diam menikmati perjalanannya. Terlihat jembatan bentuknya melengkung dengan latar belakang bangunan tinggi khas London. Ia juga dapat melihat sungai Thames yang menarik. Bangunan yang fantastis yaitu bangunan kontemporer dan bersejarah yang terkadang banyak yang menikmati kenyamanannya dengan duduk-duduk atau pun kegiatan lain.
Semua itu menciptakan bentuk geometris dan bayangan yang benar-benar Indah. Seperti menemukan jati diri. Di tempat yang luar biasa ini membuatnya mendapatkan gambar asimetris yang indah, dan dimana setiap orang akan senang melakukannya. Pagi hari yang begitu dingin membuat pejalan kaki memeluk dirinya, namun mereka tetap semangat menjalankan aktifitasnya. ย
"Apa kabarmu, Ele sayang?" Alvin tersenyum sendiri ketika pertanyaan itu terlintas di pikirannya.
Suasana pagi yang berbeda, Alvin kini berada di London. Ia menarik napasnya dalam-dalam, hatinya bergetar mengingat bagaimana pertemuannya nanti dengan Ele. Ia sampai memejamkan matanya, merasakan debaran-debaran yang tercipta dari detak jantungnya.
"Kita sudah sampai tuan." Kata Aiden menatap Alvin dari spion yang ada di tengah mobilnya. Alvin membuka matanya. Melihat ke arah apartemen yang menjulang tinggi. Apartemen itu terlihat sederhana.
"Apakah ini tempatnya?"
"Benar tuan, kita sudah sampai di depan apartemen sesuai dengan alamat yang anda berikan."
"Baiklah, saya turun Aiden."
Alvin mengangguk, lalu keluar dari mobil. Ia berjalan memasuki lobby apartemen. Alvin berulang kali mengembuskan napas lewat pipi yang menggembung. Ia melangkah masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya sampai di depan apartemen milik Ele. Tak beberapa lama.
TING! Pintu lift terbuka.
Deg deg deg
Langkahnya semakin lambat saat ia sudah berada di depan apartemen dengan angka 108 yang tertulis di pintunya. Alvin bergeming. Terdiam menatap pintu itu cukup lama.
Sebelum menekan bel, ia menarik napas dalam-dalam. Setelah cukup yakin, Alvin menyentuh bel yang di pasang di dekat pintu itu.
Ting nong!
Ting nong!
Belum ada respon, pikirannya mulai berkecamuk. Takut Ele tidak ada. Karena belum ada respon, Alvin kembali menekan bel itu. Pintu mulai terbuka pelan dan saat itu jantung Alvin terpukul kencang. Ia mulai merasa gugup. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya sekaligus. Pintu terbuka sempurna. Dahi Alvin mengerut saat yang membuka pintu bukan Ele, melainkan seorang wanita paruh baya.
"Selamat pagi," Sapa Alvin dengan ramah.
"Iya, Selamat pagi." Wajah wanita itu datar. Tidak ada senyum di wajahnya. "Anda mencari siapa?"
"Saya mencari pemilik apartemen ini."
"Heuh? Pemilik apartemen ini saya sendiri." Jawab wanita itu ketus.
__ADS_1
Alvin bingung. Dahinya mengerut tanda tanya. Ia melihat kembali alamat yang diberikan ibunya. "Apakah alamat ini benar dengan alamat apartemen ini?" Tangan Alvin mengulur dan memberikan secarik kertas kepada wanita itu.
Wanita itu melihatnya sekilas, lalu menatap Alvin tanpa ekspresi. "Iya, benar."
"Maaf sebelumnya, jika saya mengganggu waktu anda. Bisakah saya bertemu dengan Ele?"
"Siapa lagi Ele?"
"Bukan, maksud saya Eleanor Gea."
"Oooo, kamu mencari Gea?" Wanita itu memutar bola matanya, berdecak tidak suka.
"Bisa saya bertemu dengannya?" ucap Alvin lagi.
"Gea tidak tinggal di sini lagi."
"Heuh???"
Wanita itu tersenyum angkuh sambil melipat tangannya di depan dada. "Wanita itu bermasalah. Ia dipermalukan beberapa hari yang lalu."
Deg!
Alvin semakin mengerutkan dahi bingung, mencoba mengerti maksud perkataan Wanita itu. Tapi jantungnya tak bisa berbohong. Ia berusaha mengatur debaran jantungnya yang semakin terpukul kencang. Jari-jari tangannya terasa dingin. Hatinya sakit saat mendengar itu. "Kenapa Gea dipermalukan?"
"Saya tidak tahu kejadiannya. Tapi yang saya dengar. Dia menolak menandatangani kontrak kerja dengan seorang lelaki kaya." Wanita itu menggeram diujung kalimatnya. Ia mendekat ke arah Alvin dan berbisik.
"Wanita itu bodoh, coba saja ia menandatanganinya, hidupnya tidak akan serumit ini. Sekarang, hidupnya tak tentu arah. Gea berhenti kuliah dan tak bisa bekerja lagi."
Wanita itu mengembuskan napas singkat, lalu melanjutkan kalimatnya. "Dia pikir hidup di sini, mudah? Cih .."
Jantung Alvin terpukul kencang. Napasnya ikut tertahan di dada. Ia semakin sulit bernapas. Alvin masih mencerna kata-kata itu kembali. Ia tidak percaya dengan semua ini. Tangannya gemetar mengepal kuat. Kepedihan terlihat jelas di wajahnya. Bibirnya masih tak sanggup untuk berbicara. Bagaimana mungkin nasib Ele bisa seperti ini?
"Semenjak kejadian itu, Gea tidak diizinkan tinggal di sini. Ia diusir dan tidak bisa bekerja. Kecuali Gea mau menandatangani kontrak itu. Pria itu, mau menerimanya kapan saja."
"Jadi, ibu tahu dimana, Gea?"
Wanita itu mengangkat kedua bahunya. "Saya tidak tahu. Sekarang pergilah! jangan menggangguku lagi."
Brakkkk!
Pintu dibanting cukup keras. Alvin menutup mata sambil melepaskan napas dengan mulut terbuka. Ia terdiam kaku, mematung di sana. Napasnya cepat berganti, menarik dan mengembuskannya dengan pola yang tidak normal.
Rasanya ingin menangis. Tapi Alvin menahannya. Ia hanya mampu menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu. Alvin pun melangkah meninggalkan apartemen itu. Ia tidak sanggup untuk membendung rasa perih di dada.
Alvin tidak langsung menemui Aiden. Ia duduk menyendiri. Mencoba berdamai dengan keadaan. Ele adalah wanita yang berhasil mengubah hatinya. Hingga ia bisa mengenal arti cinta yang sesungguhnya. Ele selalu bisa membuatnya tersenyum dan Alvin benar-benar nyaman.
Alvin mengusap wajahnya dengan kasar. hatinya hampa, Ia tidak menemukan Ele di sini.
"Apa yang harus aku lakukan? Kemana aku harus mencarimu, Ele?"
BERSAMBUNG.....
^_^
Kemana ya Ele? Apakah mereka akan dipertemukan kembali?
__ADS_1
Ikuti terus ya, salam sehat buat my readers tersayang ๐
^_^